LOGINKeempatnya saling memandang.Satu nama.Xului.Bukan nama yang pernah ada dalam percakapan apa pun yang bisa diingat oleh siapa pun dari keempat orang itu. Bukan nama sekte, bukan nama tokoh yang dikenal, bukan nama yang masuk ke dalam kategori mana pun dari hal-hal yang biasanya menjadi pertimbangan seseorang ketika memilih ke mana akan bergabung.Chen Beixing menatap Caelan dengan cara seseorang yang sedang memeriksa apakah ada lapisan lain dari kata-kata yang baru didengarnya—sesuatu yang tersembunyi di balik yang terlihat.Tapi dia tidak menemukan apa pun selain persis apa yang diucapkan.Dao Tianyue mengangkat alisnya sedikit.Lei Qinghe diam.Dan di ujung, Feng Lianhun—Sesuatu bergerak di wajahnya.Bukan keterkejutan. Bukan pengenalan yang langsung. Lebih seperti sesuatu yang ada di suatu tempat di dalam memorinya, yang jaraknya tidak dekat tapi tidak juga sangat jauh, yang butuh beberapa detik untuk ditarik ke permukaan."Xului yang kau maksud—" Suaranya keluar pelan, dengan c
Kata-kata Lei Qinghe jatuh ke arena seperti batu ke dalam air.Dan ripple-nya menyebar ke segala arah. Ke tribun, ke paviliun-paviliun, ke semua yang berdiri dan duduk dan masih memproses apa yang baru saja disaksikannya dalam dua menit terakhir.Bergabung ke salah satu sekte dari Lima Sekte Agung?!Kalimat itu bukan kalimat yang bisa diterima begitu saja. Ini kalimat yang perlu ditarik keluar dari telinga dan dipegang di depan mata untuk diperiksa sekali lagi—karena jenis kalimat seperti ini tidak sering keluar, tidak pernah keluar tanpa alasan yang sangat besar, dan tidak pernah ditujukan kepada seseorang yang hari ini baru saja muncul dari sekte yang tidak ada dalam daftar nama-nama yang diperhitungkan siapa pun.Di tribun, keterkejutan itu ada, tapi tidak sendiri.Ada sesuatu di baliknya yang lebih pekat, yang tidak punya nama yang menyenangkan tapi sangat nyata. Rasa iri yang tidak bisa ditekan bahkan ketika seseorang tahu bahwa menekannya adalah yang seharusnya dilakukan.Bergab
Caelan menatap lebih dari dua puluh orang yang bergerak ke arahnya.Dari berbagai sudut—dengan senjata yang berbeda-beda, dengan energi spiritual yang berbeda-beda intensitasnya, dengan kalkulasi yang sama di kepala masing-masing.Wajah-wajah yang tidak menyembunyikan apa yang mereka pikirkan karena tidak perlu menyembunyikannya ketika angka di pihak mereka terasa sangat masuk akal.Caelan mengambil napas satu kali.Lalu menghilang.Tidak melompat. Tidak berlari. Tidak ada transisi yang bisa direkonstruksi dari posisi terakhir yang terlihat ke posisi berikutnya. Hanya ada posisi terakhir yang terlihat, dan kemudian tidak ada lagi yang terlihat di sana.Hilangnya Caelan yang tiba-tiba membuat semua serangan itu menghantam udara.Benar-benar udara. Tidak ada tubuh, tidak ada jubah, tidak ada resistensi dari apa pun yang seharusnya ada di sana.Kapak yang diayunkan melewati tempat yang sudah kosong. Pedang yang ditikamkan menemukan lantai batu. Pukulan yang dikerahkan dengan energi spiri
Satu detik.Dua.Lalu tribun meledak.Bukan bertahap—ini ledakan yang sudah menunggu sejak Li Mingzhi menabrak array pelindung, yang tertahan selama dua detik oleh keterkejutan kolektif dari dua puluh ribu orang yang semuanya membutuhkan waktu yang hampir sama untuk memproses apa yang baru saja terjadi di depan mata mereka."LUAR BIASA!""BELUM PERNAH AKU MELIHAT PERTARUNGAN SEPERTI INI SEUMUR HIDUPKU!""DUA BELAS TEBASAN—DUA BELAS!—DAN TIDAK SATU PUN YANG MENDARAT!""DIA MENGALAHKAN LI MINGZHI! LI MINGZHI!"Suara-suara itu tidak teratur, tidak terkoordinasi, tidak punya satu sumber yang bisa ditunjuk. Ini suara dari ribuan orang yang masing-masing berbicara pada saat yang sama tentang hal yang sama dengan cara yang berbeda-beda—sorak sorai yang bercampur dengan teriakan yang bercampur dengan seruan yang kesemuanya menghasilkan kebisingan yang mengisi seluruh arena dari tribun paling bawah sampai ke tribun paling atas.Beberapa berdiri—tanpa sadar, dengan cara kaki yang sudah membuat
Di tribun, tidak ada yang bersuara.Karena apa yang mereka saksikan tidak punya kata yang mudah untuk mendeskripsikannya.Dua belas tebasan yang masing-masingnya sudah cukup untuk mengakhiri pertarungan, yang tidak satu pun menyentuh targetnya bukan karena targetnya berlari tapi karena targetnya selalu berada di satu tempat lebih cepat dari tebasan itu sampai ke tempat di mana targetnya seharusnya masih ada.Ketujuh, kedelapan, kesembilan—Masih tidak ada yang mendarat.Frustrasi di wajah Li Mingzhi bukan sesuatu yang bisa disembunyikan lebih lagi. Teknik terbaiknya, yang tidak pernah gagal dalam ratusan pertarungan sebelumnya, yang memerlukan sebagian besar dari yang dia miliki untuk dikeluarkan, dan tidak satu pun tebasannya menyentuh kulit jubah pria di seberangnya.Kesepuluh, kesebelas—Lalu—Tebasan keduabelas.Yang terakhir.Yang terkuat.Seluruh energi spiritual yang tersisa dari sebelas tebasan sebelumnya—yang masing-masingnya sudah mengeluarkan sebagian kecil—sekarang dialirk
Li Mingzhi berdiri.Satu tarikan napas—panjang, terkontrol, dengan cara seseorang yang sedang mengumpulkan sesuatu dari tempat yang tidak dangkal. Tangan kirinya turun dari dadanya. Ekspresi yang tadi menunjukkan sesuatu yang baru kembali ke ekspresi yang sudah lebih terlatih.Dia mengepalkan gagang pedangnya.Di dalam kepalanya, kalkulasi sudah selesai.Pertarungan selama ini sudah cukup untuk memberikan satu kesimpulan yang tidak bisa dihindari: pria di seberangnya terlalu kuat untuk dikalahkan dengan cara biasa.Semua yang sudah Li Mingzhi keluarkan—kecepatan, presisi, teknik yang sudah menghabiskan bertahun-tahun untuk dibangun—tidak cukup untuk menembus pertahanan yang tidak pernah terlihat seperti pertahanan karena tidak ada yang perlu dipertahankan ketika serangan tidak pernah sampai.Ada satu teknik yang belum dikeluarkannya.Bukan karena tidak ingin, tapi karena teknik itu punya biaya yang tidak kecil, dan mengeluarkannya terlalu awal dalam turnamen ini berarti memasuki babak
Kembali ke Aurelian Hospital Velmont, Caelan sudah menuju pintu keluar di lobby ketika suara itu menghentikannya."Tunggu, Dokter."Dia berbalik dan menemukan Dorian melangkah cepat, seperti seseorang yang takut kehilangan sesuatu."Ada hal lain yang kau butuhkan?" tanya Caelan.Dorian berhenti di
Caelan menatap Dorian sembari jatuh ke dalam pikirannya. Keluarga Ashford adalah salah satu keluarga paling berpengaruh di Kota Velmont. Seharusnya mereka bisa membantunya, bukan?"Satu hal saja." kata Caelan akhirnya. "Bantu saya mendapatkan kembali lisensi praktik saya dan posisi sebagai dokter d
Kurang dari sepuluh menit, perawat itu kembali.Nampan steril diletakkan di sisi meja. Lima jarum akupuntur berkilau di bawah lampu operasi. Di sampingnya, tiga bahan tersusun rapi—vial ekstrak Danshen berwarna merah tua, bubuk Huanglian kuning pekat, dan cangkir seduhan Maidong yang masih mengepul
Lima belas menit berlalu tepat waktu.Pria itu muncul dari lift dengan langkah santai yang tidak terburu-buru. Usianya sekitar empat puluhan, rambut sedikit beruban di pelipis, wajahnya hangat dengan kerutan tawa di sudut matanya. Bukan wajah birokrat. Lebih mirip wajah seseorang yang benar-benar m







