LOGINDi kursinya, Wuhen Lianhun duduk dengan tenang.Tidak ada yang berubah dari caranya—kedua tangan bertumpu ringan di atas lutut, punggung tegak tanpa terlihat kaku, mata menghadap arena dengan cara seseorang yang sudah menyaksikan cukup banyak pertarungan untuk tidak perlu memiringkan kepala agar bisa membacanya.Dia menatap dua orang yang berdiri berhadapan di bawah sana.Pedang sudah di tangan masing-masing. Jarak sudah diukur. Tidak ada yang tersisa selain izin."Pertarungan ini sederhana." Suaranya menjangkau seluruh arena tanpa perlu dinaikkan. "Siapa pun yang mengaku kalah, pingsan, atau terluka terlalu parah sehingga tidak bisa melanjutkan pertarungan—adalah pihak yang kalah."Diam sebentar.Lalu, sudut bibirnya bergerak—satu gerakan kecil yang tidak punya kegembiraan di dalamnya, tapi punya sesuatu yang lain. Sesuatu yang dekat ke seseorang yang sedang menonton sesuatu yang sudah diketahui hasilnya tapi tetap mau melihatnya sampai selesai."Sekarang—"Matanya menyapu arena satu
Feng Lianhun duduk dengan kedua tangan di lutut, postur yang sama persis dengan cara dia berdiri—tidak menunjukkan upaya, tidak menunjukkan persiapan. Wajahnya menghadap arena tapi matanya tidak memilih satu titik untuk difokuskan, seolah sedang menunggu sesuatu yang sudah diketahui hasilnya dan hanya perlu waktu untuk tiba.Tetua berjanggut itu tidak suka dengan ekspresi itu."Jika Tetua Feng ternyata hanya sedang bercanda—" Suaranya keluar dengan nada yang dipilih secara hati-hati untuk terdengar seperti peringatan tanpa terdengar seperti ancaman, karena mereka satu sekte dan yang satu berbicara kepada yang lain. "—aku tidak akan memaafkannya."Feng Lianhun tidak berpaling ke arahnya.Tidak langsung.Ada jeda singkat—jeda dari seseorang yang sedang mempertimbangkan apakah kalimat yang baru dia dengar layak untuk direspons dengan menggerakkan kepalanya—sebelum akhirnya dia berpaling.Ekspresinya tidak berubah.Tenang, acuh tak acuh, dengan cara yang tidak menunjukkan bahwa dia baru s
Arena pertarungan Sekte Jiwa Hitam tidak pernah dirancang untuk terlihat megah.Tidak ada ukiran di dinding pembatasnya, tidak ada tribun dengan atap bergaya, tidak ada ornamen yang menunjukkan bahwa tempat ini punya sejarah. Hanya batu, hanya ruang, hanya lantai yang sudah cukup lama menerima tapak kaki kultivator untuk tahu bahwa fungsinya bukan untuk dilihat tapi untuk digunakan.Sekarang ruang itu sudah bersih.Bekas pertarungan sebelumnya sudah tidak ada—retakan yang tadi ada di beberapa titik lantai sudah dibenahi, debu dan jejak energi residual sudah dibersihkan oleh beberapa kultivator yang melakukannya tanpa banyak bicara. Yang tersisa hanya lantai abu-abu yang datar dan dua orang yang berdiri di atasnya dengan jarak yang cukup untuk saling membaca, tidak cukup untuk saling mengabaikan.Caelan di satu sisi.Shen di sisi lain.Keduanya menarik pedang mereka dari sarungnya dalam waktu yang hampir bersamaan. Bukan karena saling meniru, tapi karena keduanya sudah sampai di titik
Di halaman Sekte Jiwa Hitam, reaksi terhadap kata-kata Wuhen Lianhun tidak satu macam.Ada yang langsung bereaksi—cara berdiri yang berubah, cara mata yang bergeser ke Caelan dengan ekspresi yang berbeda dari sebelumnya.Lima Pahlawan?!Pria yang baru saja dibawa dari sekte rendahan itu bisa menjadi salah satu dari Lima Pahlawan?!Apakah Tetua Feng sedang bercanda?!Sungguh sebuah lelucon yang tidak lucu!Shen yang berdiri di baris depan—yang cara berdirinya sudah berubah setelah Wuhen Lianhun keluar tapi belum sepenuhnya kehilangan sesuatu yang ada di postur itu sebelumnya—merasakan sesuatu di dadanya yang tidak nyaman.Lima Pahlawan?Dua kata yang tidak pernah diucapkan sembarangan. Dua kata yang punya berat yang tidak bisa diukur dengan cara mengukur berat biasa.Dan Tetua Feng menilai pria ini layak untuk jadi salah satunya?Mustahil!Tetua Feng terlalu, terlalu menilai tinggi pria ini.Tapi—Shen mencoba merekonstruksi apa yang baru saja terjadi. Auranya yang sudah setengah kapas
Matanya bergerak ke halaman dengan cara seseorang yang sudah terbiasa membaca situasi sebelum membaca orang di dalamnya—ke semua yang berlutut, ke retakan kecil di lantai batu yang menjadi bekas aura Shen, ke dua orang yang tidak berlutut.Lalu berhenti di sana.Dia diam selama dua detik—dua detik yang terasa lebih panjang dari yang seharusnya, dengan cara keheningan yang diisi oleh kesadaran semua orang bahwa ada yang sedang dinilai dan tidak ada yang tahu hasilnya."Jangan lukai tamu kita, Shen."Kalimat itu keluar dengan nada yang tidak marah, tapi justru itu yang membuatnya berat. Kemarahan bisa diukur, bisa diantisipasi. Tapi kalimat yang diucapkan dengan cara seperti ini—datar, tanpa tekanan—tidak memberikan informasi tentang di mana batasnya, dan tidak memberikan informasi itu kepada siapa pun termasuk Shen.Shen yang masih berlutut tidak mengangkat kepalanya."Maafkan aku, Pemimpin Sekte."Wuhen Lianhun tidak merespons itu.Matanya kembali ke Caelan.Dan di sana, Caelan merasa
Lima orang itu berhenti di jarak yang tidak memberikan kesan bahwa ini kunjungan ramah.Yang paling depan—pria dengan rambut panjang ikal yang jatuh ke bahu tanpa aturan yang jelas, dengan mata besar yang cara bukanya sudah punya tekanan di dalamnya sebelum dia membuka mulutnya—menatap Caelan dari atas ke bawah dengan cara seseorang yang sudah mengambil kesimpulan sebelum melihat.Empat orang di belakangnya tidak berbeda. Cara berdiri mereka sudah menyampaikan sesuatu sebelum satu kata pun keluar. Bahu yang sedikit ke depan, kaki yang menyebar lebih lebar dari jarak berdiri santai, tangan yang ada di sisi tubuh tapi tidak sepenuhnya tenang di sana."Siapa kau?" Suaranya tidak kasar secara teknis, tapi ada nada di dalamnya yang mengecilkan apa pun yang akan dijawab sebelum jawaban itu keluar. "Dari mana kau berasal?"Caelan menatap balik.Tidak dengan cara yang memilih intimidasi sebagai balasan. Hanya menatap dengan cara normalnya, yang justru karena tidak ada perubahan di dalamnya, m
Kembali ke Aurelian Hospital Velmont, Caelan sudah menuju pintu keluar di lobby ketika suara itu menghentikannya."Tunggu, Dokter."Dia berbalik dan menemukan Dorian melangkah cepat, seperti seseorang yang takut kehilangan sesuatu."Ada hal lain yang kau butuhkan?" tanya Caelan.Dorian berhenti di
Aldric tidak perlu berpikir panjang. Jika dia bisa membuat Keluarga Ashford berhutang budi padanya, hidupnya akan berubah selamanya.Dia mengabaikan Caelan begitu saja dan melangkah maju dengan senyum profesional yang sudah dia latih bertahun-tahun."Tuan Dorian." Suaranya hangat, penuh wibawa. "Sa
Caelan berhenti di ujung jalan, membelakangi rumah yang tidak lagi menjadi miliknya dalam pengertian apa pun.Empat tahun dia percaya bahwa ada orang-orang yang akan menunggunya. Bahwa pengorbanan itu tidak sia-sia. Bahwa ketika dia kembali, setidaknya ada yang masih menganggapnya keluarga.Ternyat
Empat tahun Caelan Voss mendekam di balik jeruji untuk sesuatu yang bukan kesalahannya. Malam itu bukan dia yang mabuk, bukan dia yang memegang setir. Tapi ketika Serena berdiri gemetar di depannya dan berkata, "Tolong aku, Cael, karirku akan hancur jika aku masuk penjara." Caelan menyerahkan dirin







