LOGINTujuh hari berikutnya berjalan dengan ritme yang sama.Fajar, meditasi di bawah pohon raksasa. Siang, latihan teknik bersama Wuhen Lianhun di lapangan batu di belakang aula utama. Malam, kembali bermeditasi bersama Rex hingga bintang bergeser jauh dari tempatnya.Hari pertama latihan, Wuhen berdiri di hadapan Caelan dengan pedang di tangan."Aku akan mengajarkan dua teknik puncak sekte ini," katanya. "Belenggu Jiwa Seribu Bayangan dan Kutukan Kegelapan Abadi. Murid terbaik kami butuh bertahun-tahun untuk menguasai salah satunya. Jadi jangan kecewa kalau satu bulan ini kau hanya mendapat dasarnya."Caelan mengangguk. "Aku mengerti."Wuhen mengayunkan pedangnya.SRAKK.Satu tebasan, dan bayangan perak tertinggal di udara. Tebasan kedua, bayangan kedua. Dalam beberapa tarikan napas, belasan jejak pedang melayang di sekeliling Wuhen, berdenyut pelan seperti makhluk hidup yang menunggu perintah."Rahasianya bukan pada pedang," ujar Wuhen. "Tapi pada niat yang kau tinggalkan di setiap tebas
Caelan membuka matanya.Pelan, dan untuk sesaat dia tidak bergerak sama sekali.Ada sesuatu di dalam dirinya.Bukan sekadar sisa kehangatan dari batu tadi. Ini sesuatu yang besar, padat, dan hidup, bergolak di dalam dantiannya seperti samudra yang baru dibangunkan. Dia mengepalkan tangan, dan udara di sekitar kepalan itu bergetar tipis. Dia menarik napas, dan angin malam seakan ikut tertarik masuk bersamanya.Kekuatannya meningkat.Pesat. Jauh lebih pesat dari apa pun yang pernah dia rasakan dalam satu malam.Dan di ujung semua itu, dia merasakan sesuatu yang lain. Sebuah batas. Tipis, nyaris tembus, seperti dinding kaca yang tinggal menunggu satu ketukan terakhir.Hanya selangkah lagi.Selangkah lagi menuju tingkat yang lebih tinggi.Dada Caelan berdesir.Apakah itu... Ranah Abadi?Dia tidak tahu. Dia belum pernah berdiri di sana, jadi tidak ada yang bisa dijadikan pembanding. Tapi instingnya berkata sama, berulang-ulang, dengan keyakinan yang tidak bisa diabaikan: pintu itu sudah sa
"Apa itu, Pemimpin Sekte?" tanya Caelan.Wuhen Lianhun tidak menjawab dengan kata-kata. Dia melangkah mendekat, berhenti di hadapan mereka, lalu membuka tutup kotak kayu gelap itu dengan satu gerakan pelan.Cahaya biru memancar keluar.Lembut, tapi cukup terang untuk menerangi wajah mereka bertiga di tengah gelapnya taman. Di dalam kotak, di atas alas kain hitam, terletak sebuah batu sebesar ibu jari. Permukaannya halus dan bening seperti kristal, dan di dalamnya cahaya biru berdenyut pelan, naik turun seperti napas makhluk hidup."Ini disebut batu spiritual," kata Wuhen.Kolam di dekat mereka bergetar tipis. Energi spiritual di sekitar taman, yang tadi mengalir pelan, kini seolah menoleh ke arah kotak itu."Di dalamnya tersimpan energi spiritual yang sudah dipadatkan. Ukurannya memang kecil, tapi isinya setara dengan puluhan tahun pengumpulan energi biasa. Dan kualitasnya..." Wuhen berhenti sebentar. "Jauh melampaui apa pun yang bisa kau serap dari udara di Dunia Bawah."Caelan menat
Siang di Sekte Jiwa Hitam berbeda dari siang di tempat-tempat lain yang pernah Caelan singgahi.Bukan karena mataharinya berbeda, bukan karena udaranya lebih hangat atau lebih dingin. Tapi ada sesuatu yang tidak terlihat di sini—sesuatu yang baru bisa dirasakan ketika seseorang berhenti bergerak dan membiarkan dirinya hadir sepenuhnya di satu tempat.Energi spiritual.Di sini, energi itu bukan sesuatu yang harus dicari atau ditarik. Ia ada di mana-mana, seperti udara yang lebih penuh dari biasanya—mengalir pelan di antara bebatuan, menempel di batang pohon, bergerak di permukaan tanah dengan cara yang hampir bisa dirasakan dengan telapak tangan biasa pun.Mereka memilih tempat di taman belakang sekte. Bukan taman dalam arti halaman yang dirapikan, tapi hamparan yang dibiarkan tumbuh dengan caranya sendiri selama ratusan bahkan ribuan tahun.Pohon-pohon di sini sudah terlalu tua untuk diukur usianya dengan cara biasa, batangnya lebih lebar dari dua orang dewasa yang merentangkan tangan
Caelan dan Rex saling menatap.Tidak lama—hanya sepersekian detik, waktu yang cukup untuk dua orang yang sudah cukup lama bersama untuk menyampaikan sesuatu tanpa kata-kata.Lalu keduanya mengangguk."Itu hal yang mudah," kata Caelan.Tidak ada pertimbangan panjang, tidak ada negosiasi, tidak ada syarat balik. Hanya pernyataan dari seseorang yang mendengar sebuah permintaan dan tidak melihat alasan untuk membuatnya lebih rumit dari yang perlu.Sepanjang meja, sesuatu yang sudah tegang sejak pertanyaan itu diucapkan akhirnya melunak. Wuhen Lianhun mengangguk dengan cara yang berbeda dari semua anggukannya hari ini—lebih lega, lebih hangat. Para Tetua yang tadinya menahan napas tanpa disadari melepaskannya. Bahkan Tetua berjanggut, yang sudah menghabiskan sebagian besar hari ini dalam kondisi yang tidak nyaman, tersenyum dengan cara yang terlihat seperti asli.Aula Perjamuan Langit itu, untuk pertama kalinya sejak jamuan dimulai, terasa seperti ruangan yang berisi orang-orang yang senan
Wuhen menatap Rex minum."Bagaimana rasanya?" tanyanya. "Sapi-sapi kami dipelihara di padang belakang sekte, di tanah yang sudah diresapi energi spiritual selama lebih dari tiga ratus tahun. Mereka tidak pernah bergerak jauh, tidak pernah bekerja keras, tidak pernah diberi makanan yang sama dua hari berturut-turut. Ada yang ditugaskan khusus untuk memastikan itu." Dia berhenti sebentar. "Aku rasa tidak banyak tempat di Dunia Bawah ini yang menghasilkan susu dengan kualitas seperti itu."Rex tidak menjawab.Dia masih minum.Cangkir perak itu terangkat, isinya berkurang sedikit demi sedikit dengan cara yang sangat serius—cara anak kecil yang sedang menyelesaikan sesuatu yang penting dan tidak mau terganggu di tengah jalan.Kemudian cangkir itu turun.Rex meletakkannya di meja dengan bunyi kecil yang tipis, dan menatap Wuhen Lianhun dengan ekspresi yang sudah mempertimbangkan pertanyaan itu dari awal sampai akhir."Ini susu terbaik yang pernah kuminum."Wuhen Lianhun mengangguk, dengan c
Caelan berhenti di ujung jalan, membelakangi rumah yang tidak lagi menjadi miliknya dalam pengertian apa pun.Empat tahun dia percaya bahwa ada orang-orang yang akan menunggunya. Bahwa pengorbanan itu tidak sia-sia. Bahwa ketika dia kembali, setidaknya ada yang masih menganggapnya keluarga.Ternyat
Empat tahun Caelan Voss mendekam di balik jeruji untuk sesuatu yang bukan kesalahannya. Malam itu bukan dia yang mabuk, bukan dia yang memegang setir. Tapi ketika Serena berdiri gemetar di depannya dan berkata, "Tolong aku, Cael, karirku akan hancur jika aku masuk penjara." Caelan menyerahkan dirin
Kembali ke Aurelian Hospital Velmont, Caelan sudah menuju pintu keluar di lobby ketika suara itu menghentikannya."Tunggu, Dokter."Dia berbalik dan menemukan Dorian melangkah cepat, seperti seseorang yang takut kehilangan sesuatu."Ada hal lain yang kau butuhkan?" tanya Caelan.Dorian berhenti di
Caelan menatap Dorian sembari jatuh ke dalam pikirannya. Keluarga Ashford adalah salah satu keluarga paling berpengaruh di Kota Velmont. Seharusnya mereka bisa membantunya, bukan?"Satu hal saja." kata Caelan akhirnya. "Bantu saya mendapatkan kembali lisensi praktik saya dan posisi sebagai dokter d







