LOGINDari ketinggian ini, hutan itu tidak punya ujung.Itu yang pertama kali Caelan sadari ketika mereka sudah terbang cukup tinggi untuk bisa melihat ke segala arah sekaligus.Bukan hutan yang bisa dikelilingi dalam satu hari, bukan hutan yang bisa dipandang dari satu titik dan terlihat batasnya di kejauhan. Ini hamparan hijau yang meluas ke semua arah tanpa tanda bahwa ada sesuatu yang lain di baliknya—tidak ada garis horison yang berubah warna, tidak ada titik di mana kanopi tidak lagi ada.Hanya hijau, dan lebih banyak hijau, dan di balik lebih banyak hijau itu, masih lebih banyak hijau lagi.Caelan terbang ke arah barat, Rex di sisinya.Satu jam berlalu.Di bawah mereka, hutan itu tidak berubah dengan cara yang signifikan. Pohon-pohon yang sama besarnya, kanopi yang sama rapatnya, kabut yang sama tipisnya.Sesekali ada celah di antara kanopi yang memperlihatkan tanah di bawahnya—tanah yang gelap, subur, dengan vegetasi di bawah pohon-pohon besar yang punya ukurannya sendiri yang tidak
Dan itu bukan angka yang berlebihan. Bukan perbandingan yang menggunakan keterkejutan sebagai ukuran. Ini perbandingan yang terasa sangat konkret—seperti perbedaan antara minum seteguk air dan berdiri di dalam sungai yang mengalir deras dari semua arah sekaligus.Setiap tarikan napas membawa sesuatu yang lebih dari sekadar udara. Setiap hembusan membuang sesuatu yang jauh lebih sedikit dari yang masuk. Seperti tubuh sendiri mulai mengakumulasi sesuatu yang tidak perlu diusahakan untuk dikumpulkan—sesuatu yang ada di mana-mana dan tidak punya keberatan untuk mengalir ke dalam siapa pun yang ada di sini.Caelan menatap sekeliling dengan mata yang tidak bisa memilih satu titik untuk difokuskan karena setiap titik memberikan sesuatu yang layak untuk diperhatikan.Takjub.Tapi di balik takjub itu, ada sesuatu yang lain—sesuatu yang datang dari tempat yang lebih dalam, dari bagian yang sudah terlalu lama bertahan hidup di bawah tekanan untuk tidak memiliki insting tentang kapan sesuatu yang
Tarikan itu tidak memberi peringatan.Satu detik mereka masih berdiri di antara dua pohon tanpa daun itu, dengan tanah Pegunungan Vorthaan yang masih terasa padat di bawah kaki mereka—dan detik berikutnya, sesuatu yang tidak punya nama yang tepat untuk mendeskripsikannya menarik keduanya dari segala arah sekaligus.Sesuatu itu membawa mereka ke dalam sesuatu yang lain yang tidak punya dimensi yang bisa diidentifikasi, yang tidak memberikan waktu untuk bertanya ke mana atau mengapa atau apakah ini keputusan yang bisa dibatalkan.Caelan mencoba menggerakkan kakinya.Tidak bisa.Mencoba mengangkat tangannya.Tidak bisa.Satu-satunya hal yang bisa dilakukannya adalah merasakan—merasakan tarikan itu yang semakin kuat dari detik ke detik, yang semakin tidak mungkin dilawan dari detik ke detik, sampai pada titik di mana melawan bukan lagi pilihan yang tersedia melainkan sesuatu yang tidak relevan untuk dipertimbangkan.Di sebelahnya, Rex tidak bergerak juga.Tapi wajah Rex tidak punya kepani
Sore hari membawa perubahan pada vegetasi.Semakin tinggi mereka naik, semakin rapat berganti menjadi semakin terbuka—pohon-pohon yang lebih besar, lebih berjauhan, dengan kanopi yang tidak lagi membentuk atap yang rapat di atas kepala mereka. Cahaya sore masuk lebih bebas, mewarnai segala sesuatu dengan nuansa oranye keemasan yang berbeda dari cara cahaya matahari di tempat lain bekerja.Dan energi spiritual di sini—Berbeda lagi dari siang tadi.Lebih padat. Bukan dalam cara yang menekan, tapi dalam cara yang membuat setiap tarikan napas terasa seperti mengambil sesuatu yang lebih dari sekadar udara.Rex memperlambat langkahnya.Caelan merasakannya juga, tapi tidak berhenti—hanya memperlambat, mengikuti ritme yang baru tanpa kehilangan ritme itu sendiri.Mereka berbelok di balik satu pohon besar yang batangnya lebih lebar dari rentang tangan keduanya digabung—pohon yang sudah ada jauh sebelum siapa pun yang ada di sini sekarang dilahirkan, dengan akar yang mencuat dari tanah dan mem
Pagi di Pegunungan Vorthaan tidak memberikan petunjuk tentang ke mana harus memulai.Itu yang pertama kali Caelan sadari ketika keluar dari tenda. Tidak ada jalur yang jelas, tidak ada penanda yang bisa diikuti, tidak ada arah yang menawarkan dirinya sebagai pilihan yang lebih baik dari arah lainnya. Yang ada hanyalah pohon-pohon yang rapat, kabut tipis yang belum sepenuhnya pergi dari malam, dan energi spiritual yang padat di mana-mana tanpa sumber yang bisa ditunjuk.Mencari seseorang di sini yang tidak ingin ditemukan, kata Bhang Si, bukan sesuatu yang bisa dijanjikan hasilnya.Caelan melipat tendanya, menyimpannya ke dalam tas.Di sebelahnya, Rex sudah selesai dengan cangkir stainless-nya—susu pagi, dengan cara Rex memulai setiap paginya—dan berdiri dengan tangan di sisi tubuhnya, menatap ke arah pepohonan yang belum punya cahaya matahari langsung di dalamnya."Kita mulai dari mana, Papa?""Ke dalam." Caelan mengangkat tasnya. "Dan kita baca."Rex mengangguk.Mereka masuk.---Dua
Pagi di Pegunungan Ciren datang dengan cara yang berbeda dari tempat-tempat lain yang sudah pernah dikunjungi Caelan. Lebih lembut, dengan kabut yang tidak gelap seperti di Draethos tapi lebih tipis dan hampir transparan, bergerak mengikuti angin yang turun dari puncak-puncak di atas yang menyerupai aliran sungai yang ada di bawahnya.Di depan gerbang giok, Bhang Si berdiri.Di sisinya, Du Shei."Semoga kau menemukan seseorang yang kau cari di sana, Caelan. Aku berharap perjalananmu tidak sia-sia." Suara Bhang Si terdengar hangat dan penuh harapan."Ya, aku berharap begitu." Caelan mengangguk. "Dan terima kasih untuk semuanya, Bhang Si. Aku benar-benar menghargai itu."Du Shei menatap Caelan dengan cara yang sangat dijaga agar tidak menampilkan lebih dari yang perlu ditampilkan, tapi tetap tidak berhasil sepenuhnya."Hati-hati di jalan, Pemimpin Agung Sekte Naga Hitam Abadi."Caelan tersenyum ke arahnya."Terima kasih."Lalu keduanya melangkah menuju lereng yang akan membawa mereka tu
Caelan berhenti di ujung jalan, membelakangi rumah yang tidak lagi menjadi miliknya dalam pengertian apa pun.Empat tahun dia percaya bahwa ada orang-orang yang akan menunggunya. Bahwa pengorbanan itu tidak sia-sia. Bahwa ketika dia kembali, setidaknya ada yang masih menganggapnya keluarga.Ternyat
Empat tahun Caelan Voss mendekam di balik jeruji untuk sesuatu yang bukan kesalahannya. Malam itu bukan dia yang mabuk, bukan dia yang memegang setir. Tapi ketika Serena berdiri gemetar di depannya dan berkata, "Tolong aku, Cael, karirku akan hancur jika aku masuk penjara." Caelan menyerahkan dirin
Kembali ke Aurelian Hospital Velmont, Caelan sudah menuju pintu keluar di lobby ketika suara itu menghentikannya."Tunggu, Dokter."Dia berbalik dan menemukan Dorian melangkah cepat, seperti seseorang yang takut kehilangan sesuatu."Ada hal lain yang kau butuhkan?" tanya Caelan.Dorian berhenti di
Caelan menatap Dorian sembari jatuh ke dalam pikirannya. Keluarga Ashford adalah salah satu keluarga paling berpengaruh di Kota Velmont. Seharusnya mereka bisa membantunya, bukan?"Satu hal saja." kata Caelan akhirnya. "Bantu saya mendapatkan kembali lisensi praktik saya dan posisi sebagai dokter d







