MasukDan ketika Baraha mengirim Baruga ke sana, tujuannya bukan untuk membunuh. Tujuannya adalah untuk memberi sinyal—sinyal bahwa Sekte Pedang Suci tahu siapa yang duduk di kursi itu sekarang, dan sekte ini tidak terkesan olehnya.Tapi yang terjadi adalah sebaliknya.Bajingan itu tidak hanya tidak ciut—dia mematahkan tangan kanan Baruga. Tangan yang digunakan untuk menggunakan pedang. Tangan dominan Baruga!Dan itu dilakukan di depan semua orang, di depan tiga sekte besar lainnya.Baraha merasakan sesuatu bergerak di dalam dadanya yang jarang bergerak dengan cara seperti ini—bukan panik, bukan kekhawatiran. Ini kemarahan yang bersih, yang tahu ke mana harus pergi.Kau ingin perang?Baik.Aku tidak peduli dengan tiga sekte yang lain dan aturan yang mereka jaga bersama. Mereka ingin damai—bagus untuk mereka. Tapi kau yang memulai ini, dan satu-satunya cara ini berakhir adalah ketika salah satu dari kita benar-benar hancur!Sekte Naga Hitam Abadi tidak akan punya batu bata yang bisa berdiri
Wajahnya menampilkan usia delapan puluhan—garis-garis yang tidak bisa disangkal, rambut yang sudah sepenuhnya putih. Tapi caranya berdiri bukan cara orang yang berusia delapan puluhan.Ini cara seseorang yang tubuhnya sudah lama berhenti mengikuti aturan usia yang berlaku untuk orang lain. Jubahnya putih bersih dengan tepi biru yang mengeluarkan kilap emas sangat tipis di bawah cahaya ruangan—kilap yang bukan dari logam atau ornamen tambahan, tapi dari sesuatu yang sudah menyatu dengan kain itu sendiri selama bertahun-tahun pemakaian oleh seseorang yang tingkat energi spiritualnya merembes ke apa pun yang sering bersentuhan dengannya.Jubah dengan kualitas seperti itu tidak dibuat. Ia terbentuk—dari waktu dan dari siapa yang memakainya.Baraha berdiri di depan meja perawatan.Matanya turun ke tangan kanan cucunya.Tangan itu sudah dirawat sebagian—tulang yang dipatahkan mulai distabilkan oleh tabib yang bekerja cepat—tapi kondisi awalnya masih terbaca dari posisi yang sudah mulai dipe
Makan malam selesai.Satu per satu, perwakilan dari tiga sekte itu meninggalkan paviliun—dengan cara yang jauh lebih hati-hati dari cara mereka masuk beberapa jam lalu. Tidak ada yang pergi dengan terburu-buru, tapi tidak ada juga yang mencari alasan untuk berlama-lama.Caelan berdiri di dekat pintu paviliun, menyaksikan kepergian mereka sampai bayangan terakhir menghilang di lorong yang mengarah ke gerbang.Rex berdiri di sisinya."Rex.""Ya, Papa?""Kita menetap di sini beberapa hari dulu."Rex menoleh, satu alis terangkat sedikit."Kau yakin Pemimpin Agung Sekte Pedang Suci akan datang ke sini?"Caelan menatap kegelapan di ujung lorong yang sudah kosong itu."Tentu saja." Suaranya keluar dengan nada seseorang yang sudah selesai dengan kalkulasinya sebelum pertanyaan diajukan. "Melihat tempramen Baruga, kakeknya pasti tidak jauh berbeda. Dan melihat kondisi cucunya seperti itu—tangan patah, dipermalukan di depan orang-orang dari empat sekte berbeda—dia tidak akan diam. Ini kesempata
Pertanyaan yang keluar tidak terdengar seperti ancaman, tidak terdengar seperti ujian—hanya pertanyaan biasa, dengan cara seseorang yang memang ingin tahu jawabannya.Tapi sembilan orang di depannya tidak bisa menerima apa pun yang keluar dari mulut pria itu sebagai sesuatu yang biasa malam ini.Mereka saling menatap satu sama lain.Xului?Nama itu tidak perlu pengantar panjang di dunia kultivasi—bukan karena semua orang tahu banyak tentangnya, tapi justru karena semua orang tahu sangat sedikit, dan sedikit itu sudah cukup untuk membuat nama itu terasa berbeda dari nama-nama lain yang disebutkan dalam catatan sejarah kultivasi.Diduga sebagai kultivator pertama. Tidak ada yang tahu asal muasalnya. Tidak ada yang bisa mengkonfirmasi apakah dia masih ada atau sudah lama tidak ada. Nama yang lebih banyak hidup di dalam buku daripada di dalam percakapan.Pria tua berambut putih panjang dari Sekte Awan Putih meletakkan sumpitnya pelan di sisi mangkuknya."Dalam seluruh hidupku," katanya, d
Di luar pintu paviliun, enam orang berdiri.Bai Li. Tiga Tetua biasa. Dua Tetua Agung.Tidak ada yang bersuara selama beberapa detik setelah pintu tertutup.Lalu, satu per satu, senyum muncul di wajah-wajah itu.Bukan senyum kecil yang ditahan. Ini senyum dari orang-orang yang baru saja menyaksikan sesuatu yang sudah sangat lama ingin mereka saksikan, yang datang dalam momen yang tidak pernah mereka perkirakan akan terjadi hari ini.Baruga.Cucu kesayangan Pemimpin Agung Sekte Pedang Suci. Calon pemimpin masa depan mereka. Pria yang namanya sudah cukup membuat anggota sekte lain mundur satu langkah sebelum bicara, baru saja dipermalukan di depan perwakilan tiga sekte lain, tangan kanannya yang selalu menjadi kebanggaannya dipatahkan dengan cara yang mengerikan, mulutnya disegel, pedangnya tergeletak di lantai.Dan itu dilakukan dengan sangat mudah oleh Pemimpin Agung mereka.Bai Li mengusap bibirnya dengan punggung tangan, berusaha menyembunyikan senyumnya.Perlu dipahami bahwa hubung
"Pergi," kata Caelan, "dan sampaikan kepada Pemimpin Agung-mu bahwa dia bisa datang kapan saja untuk meminta pertanggungjawaban." Matanya tidak beranjak dari Tamashi. "Aku akan menunggu di sini.""Sombong sekali." Tamashi menggertakkan giginya. "Hanya karena sedikit kuat kau merasa menjadi yang terhebat. Kau akan menyesal.""Kita lihat nanti." Satu jeda, singkat. "Dan sampaikan juga ini—aku merasa terhina. Sekte Pedang Suci hanya mengirim dua orang lemah sebagai perwakilan ke sini, dan salah satunya bahkan tidak tahu cara bersikap sopan santun di ruangan orang lain. Jika Pemimpin Agung-mu ingin menyelesaikan ini, aku akan dengan senang hati menyambutnya."Tamashi tidak menjawab.Tidak karena tidak ada yang ingin dikatakan—tapi karena sudah sangat jelas bahwa tidak ada kata-kata yang bisa keluar dari mulutnya malam ini yang akan mengubah posisinya di ruangan ini menjadi lebih baik dari yang sudah ada.Dia kemudian membantu Baruga berdiri, membawanya ke arah pintu, dan mereka keluar.Ta
Kurang dari sepuluh menit, perawat itu kembali.Nampan steril diletakkan di sisi meja. Lima jarum akupuntur berkilau di bawah lampu operasi. Di sampingnya, tiga bahan tersusun rapi—vial ekstrak Danshen berwarna merah tua, bubuk Huanglian kuning pekat, dan cangkir seduhan Maidong yang masih mengepul
Lima belas menit berlalu tepat waktu.Pria itu muncul dari lift dengan langkah santai yang tidak terburu-buru. Usianya sekitar empat puluhan, rambut sedikit beruban di pelipis, wajahnya hangat dengan kerutan tawa di sudut matanya. Bukan wajah birokrat. Lebih mirip wajah seseorang yang benar-benar m
Aldric tidak perlu berpikir panjang. Jika dia bisa membuat Keluarga Ashford berhutang budi padanya, hidupnya akan berubah selamanya.Dia mengabaikan Caelan begitu saja dan melangkah maju dengan senyum profesional yang sudah dia latih bertahun-tahun."Tuan Dorian." Suaranya hangat, penuh wibawa. "Sa
Caelan berhenti di ujung jalan, membelakangi rumah yang tidak lagi menjadi miliknya dalam pengertian apa pun.Empat tahun dia percaya bahwa ada orang-orang yang akan menunggunya. Bahwa pengorbanan itu tidak sia-sia. Bahwa ketika dia kembali, setidaknya ada yang masih menganggapnya keluarga.Ternyat







