Share

Bab 3

Penulis: Olif S
last update Tanggal publikasi: 2026-06-17 22:07:11

Lisa telah berusaha memikirkannya berulang kali. Cara terbaik dan paling aman untuk melepaskan diri dari ikatan pernikahannya. Benar bahwa dia tidak memiliki bukti, tapi dia memiliki saksi mata atas kecelakaan yang menimpanya.

Satu-satunya cara yang terpikirkan olehnya saat ini hanyalah meminta agar seseorang itu mengatakan kejadian sebenarnya pada papa Lisa. Dengan harapan papanya akan percaya dan mengijinkan perceraiannya.

Tentu saja Lisa tahu siapa pria bertubuh tinggi, besar, dengan sepasang mata elang itu. Dia adalah Reyhan Dharmawangsa, saudara sepupu Saka Adhitama, putra dari adik perempuan ayah Saka.

Selama ini Rey ditugaskan untuk mengurus anak perusahaan di AS. Namun, karena tiga bulan lagi Kakek Adhitama pensiun dan akan menurunkan posisi ketua pada salah seorang cucunya, kakek meminta Rey untuk pulang dan memimpin salah satu anak perusahaan dalam negeri.

RD Investment. Perusahaan yang bergerak dalam bidang investasi di bawah naungan Adhitama Group.

Lisa paham, dia tidak akan bisa lepas dari Saka dengan mudah. Hubungan keluarga Wijaya dan Adhitama tidak bisa diputus begitu saja. Setidaknya dia butuh bukti dan alasan kuat agar Papanya percaya dan membelanya. Dengan begitu dia bisa menggugat cerai Saka.

Dan Lisa tahu siapa yang bisa dia mintai tolong saat ini. Maka, kesinilah Lisa pergi pagi ini. Ke gedung perusahaan Adhitama Group. Dia akan menemui Rey di kantornya.

Begitu kakinya melangkah masuk di lobby gedung, para staf perusahaan Adhitama Group yang melihatnya otomatis tersenyum dan sedikit membungkukkan badannya, memberi hormat.

Semua staf mengenalnya sebagai desainer utama perusahaan yang koleksi pakaiannya menguasai pasar dalam negeri bahkan sampai pasar Eropa.

Lisa balas mengangguk, tersenyum menyapa. Namun, hatinya meringis menahan tangis. Di perusahaan dia begitu dihormati, namun di hadapan suaminya dia tidak lebih dari sekedar aset yang harus dimiliki.

Lisa hendak melangkahkan kaki menuju lift saat dia mendengar sebuah suara memanggilnya.

“Kak Lisa ....”.

Lisa menoleh. Rika, gadis itu tampak tersenyum lebar, melambaikan tangan ke arahnya. Pantas saja banyak wartawan yang berjaga di depan gedung. Ternyata selebritas itu sedang ada di sini. Mungkin menemui Saka atau sedang ada pemotretan.

Lisa meremas jemari. Mendengus kesal, perutnya mendadak mual melihat senyuman lebar wanita itu. Namun dia harus menahan diri, banyak mata dan kamera yang menyorotinya. Lisa memaksakan diri untuk balas melambaikan tangan, tersenyum lebar ke arah Rika.

Rika berjalan anggun ke arahnya. Diikuti manajer dan asisten pribadinya.

“Aduh Kak Lisa, kebetulan sekali kita bertemu di sini.” Rika tersenyum lebar memeluknya lengannya. Seolah dia benar-benar senang bertemu dengannya. “Aku baru saja hendak menjenguk kakak di rumah. Maaf karena tidak sempat menjenguk ke rumah sakit. Kakak baik-baik saja?”

Lisa mengeratkan kepalan tangannya. Rahangnya mengeras. Andai saja dia bisa menjambak rambut panjang wanita di hadapannya ini.

“Ya, aku baik-baik saja. Terima kasih telah mengkhawatirkanku.” Lisa menjawab datar.

“Astaga, Kak Lisa. Tentu saja aku khawatir, kita sudah seperti saudara, bukan?” Rika menatapnya polos dengan mata lebarnya. Lisa tahu Rika sedang mengejeknya habis-habisan.

Lisa menatapnya tajam, rahangnya bergemeletuk menahan amarah. “Hhh, saudara katamu?” bisiknya lirih.

Rika mendekatkan bibirnya pada telinga Lisa, pura-pura memeluknya.

“Jangan berlagak sombong di depanku, Lisa. Kau sudah kalah telak” bisiknya tajam.  “Jangan bertindak bodoh. Ada banyak pasang mata dan wartawan yang melihat kita. Tersenyumlah.” 

Rika menyeringai tipis. Melepaskan pelukannya, mundur selangkah, memberi jarak pada tubuh Lisa yang menegang.

Lisa mengedarkan pandangannya. Benar saja, semua pasang mata mengarah pada mereka. Berbisik-bisik, tertawa kecil sambil mengarahkan kamera ponselnya.

“Kak Lisa, sepertinya aku tidak bisa berlama-lama. Akan ada syuting setelah ini. Lain kali aku akan mentraktir kakak makanan enak.” Rika menatapnya sedih, seolah dia benar-benar kecewa.

Lisa menyeringai tipis. Pantas saja wanita ini menjadi selebritis papan atas. Aktingnya benar-benar layak dipuji. “Yeah, tentu saja.” Lisa memaksakan bibirnya untuk tersenyum.

Nafasnya mendengus kasar setelah Rika pergi dari hadapannya. Saat itulah matanya menangkap sosok yang ingin di temuinya. Rey baru saja keluar dari lift. Bersama seorang pria di belakangnya. Mungkin sekretarisnya.

Lisa mengesampingkan seluruh rasa kesalnya. Dia melangkah cepat ke arah Rey. Matanya sempat melihat beberapa staf perempuan yang menatap terpesona ke arah Rey. Sembunyi-sembunyi mengarahkan kameranya.

Rey hanya melihat Lisa sekilas. Lantas tanpa memedulikannya, melewatinya begitu saja.

“Kita harus bicara.” Lisa sedikit berteriak untuk menghentikan langkah Rey.

Benar saja. Rey menghentikan langkahnya, menoleh ke arah Lisa. Dia hanya memicingkan matanya tanpa benar-benar menjawabnya dengan kalimat.

Lisa kembali meremas jemari. Pria ini benar-benar menyebalkan. “Kita harus bicara” ulangnya. “Saya tahu kamu ada di sana saat saya kecelakaan.”

Rey menoleh ke arah pria di sampingnya. Memberikan kode. Lantas tanpa menjawab Lisa, dia kembali meneruskan langkahnya.

Pria yang bersama Rey mendekati Lisa. “Tuan Rey ada rapat penting saat ini. Jika Nona berkenan, silakan tunggu di ruang CEO. Ini ID card saya untuk mengakses ke ruangannya.” Pria itu menyerahkan sebuah ID card kepadanya. “Mungkin akan membutuhkan waktu sedikit lama.”

Lisa mengangguk, menerima ID card tersebut. “Terima kasih” ucapnya pelan. Pria itu tersenyum singkat, membalikkan badannya dan segera berlari kecil untuk mengejar langkah Rey.

Lisa membaca ID card di tangannya setelah pria itu pergi. Juna. Ketua Tim Perencanaan Strategis.

***

Omong kosong membutuhkan waktu sedikit lama. Hampir lima jam Lisa menunggu Rey di ruang CEO. Entah sudah berapa puluh kali dia mondar-mandir. Berdiri, duduk, lalu berdiri lagi.

Rey membuka pintu ketika Lisa sedang melihat-lihat koleksi piagam penghargaan milik Rey di lemari kaca.

Rey melonggarkan dasinya, menatapnya sekilas. Rambut tebalnya terlihat sedikit berantakan, namun malah semakin menambah kesan maskulinnya. “Anda masih di sini rupanya” ucapnya datar tanpa merasa bersalah. Dia berjalan menuju kursinya. Duduk menyilangkan kaki sambil menatap Lisa yang mendengus kesal.

Apa yang barusan pria ini katakan? Anda masih di sini? Astaga, Lisa bahkan melewatkan makan siang untuk menunggunya. Perutnya kini keroncongan menahan lapar dan pria ini melewatinya begitu saja?

Jika bukan karena membutuhkannya Lisa tidak akan sudi untuk bertemu dengannya lagi. Lisa menarik nafas dalam. Mencoba mengendalikan emosinya.

“Ya. Saya menunggu Anda selama lima jam. Saya bahkan melewatkan makan siang.” Lisa menatapnya tajam.

“Ouwh.” Rey hanya mengucapkan oh pelan, sedikit pun tak peduli. “Baiklah. Tentu Anda tidak sabar untuk segera makan siang. Jadi, langsung saja katakan apa yang ingin Anda sampaikan.”

Lisa meremas jemari, menahan nafasnya. “Saya tahu Anda ada di sana saat saya kecelakaan” ucapnya datar.

Rey menatapnya sambil mengerutkan kening. “Lantas?”

“Tolong saya. Saya harus lepas dari suami saya. Bantu saya untuk membuat Papa saya percaya dan mengijinkan saya bercerai dari Saka.” Lisa berhasil mengatakannya dengan lancar. Meski suaranya terdengar bergetar. Dia tidak bisa mengelak bahwa tatapan Rey mampu membuat nyalinya menciut.

“Kamu punya buktinya?” Rey bertanya dingin.

Lisa meremas ujung kemejanya. Tentu saja dia tidak memiliki bukti. Jika ada untuk apa dia harus meminta tolong pada pria arogan ini.

Rey tertawa, lebih seperti sebuah ejekan. “Kamu pikir jika aku tiba-tiba datang dan mengatakannya pada Papamu dia akan langsung percaya begitu saja?” Rey berdiri dari tempatnya. Berjalan perlahan mendekati Lisa. Tatapannya terlihat mengintimidasi. “Apa kau bodoh?” ucapnya tepat di depan wajah Lisa.

Lisa menahan nafas. Memalingkan wajahnya. Jantungnya berdegup kencang menahan marah. Pria ini benar-benar sombong dan menyebalkan.

“Silakan keluar dari ruangan saya jika hanya itu yang hendak Anda katakan.” Rey menunjuk pintu keluar.

Lisa yakin saat ini wajahnya yang terasa panas tampak merah padam. Dia meremas kuat jemarinya. Merasa sangat dipermalukan. Pria ini sama berengseknya dengan suaminya.

Tidak ada gunanya mengamuk di depan pria ini, dia hanya akan terlihat semakin bodoh dan menyedihkan. Maka, tanpa mengatakan apa-apa lagi dia membalikkan badan. Melangkah kesal meninggalkan ruangan.

“Saranku jangan bertindak gegabah dengan coba-coba melawan Saka.” Rey berkata datar tepat ketika Lisa bersiap menarik gagang pintu ruangan.

Lisa menghentikan gerakannya dan menoleh ke arah pria itu. Rey tampak tidak peduli, dia sibuk dengan layar ponselnya.

Aaaaarrrrrggghhhh.

Sungguh, saat ini Lisa ingin berteriak dan melemparkan sepatu hak tingginya mengenai kepala pria itu.

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Setelah Dendam Usai, Aku Melupakanmu   Bab 31

    Sinar matahari pagi masuk melewati kaca jendela ruang kerja Saka Adhitama di gedung lantai 40. Cahayanya berpendar hangat membasahi wajah Saka yang tampak berbinar senang. Bagaimana tidak? Hari ini ia akan resmi meneken kontrak pembangunan hotel mewah di pusat kota bersama Wijaya Group. Ia sudah membayangkan namanya akan tertulis di berbagai media, disertai dengan berbagai pujian atas keberhasilannya.Dewan direksi pasti juga akan memberikan dukungan kepadanya dalam suksesi kepemimpinan selanjutnya. Meneruskan jabatan Kakeknya yang akan segera pensiun sebagai Ketua Adhitama Group.Saka Adhitama yang tengah duduk di kursi kerjanya menyeringai lebar. Menatap sebuah kartu yang berisi username dan password sebuah akun kripto berisi empat ratus juta dolar dengan jantung berdebar. Tadi malam saat Sekretaris Andra menyerahkannya, ia menahan diri, tidak langsung membukanya. Lebih memilih lebih dulu merayakannya dengan berpesta dan bersenang-senang bersama Rika. Pagi ini Saka berniat mengak

  • Setelah Dendam Usai, Aku Melupakanmu   Bab 30

    Bab 30Bugh!Juna melayangkan pukulan telak. Preman terakhir akhirnya tersungkur, tak mampu bangkit lagi.Setelah Hana datang membantu, pertahanan Juna kembali kuat. Serangannya lebih buas. Mereka berhasil menaklukan lima belas preman dalam waktu lima menit.Hana juga sama lincah dan kuatnya. Ia berhasil menumbangkan lima preman dengan pukulannya.Juna melangkah pelan, mendekati seorang preman yang tampak seperti pemimpinnya. Ia berjongkok, membisikkan sesuatu di telinga preman tersebut.Seketika wajah preman itu berubah. Ia buru-buru bangkit berdiri dengan tertatih. Meneriaki anak buahnya agar segera kembali ke mobil van mereka.Mobil van tersebut langsung meninggalkan parkiran.“Ssshh.” Juna mendesis lirih. Memegang perutnya yang terkena tusukan. Darah mengalir, merembes membuat kemeja putihnya berubah warna.“Pak Juna, Anda berdarah cukup banyak.” Hana berseru tertahan. Matanya menampakkan kekhawatiran. Ia melangkah mendekat, melepas jas miliknya.Juna tak menjawab. Pria itu berusa

  • Setelah Dendam Usai, Aku Melupakanmu   Bab 29

    “Pak Juna, apa yang harus kita lakukan?” Hana menoleh ke arah Juna, berbisik pelan. Ia terlihat gelisah. Sejak tadi ujung sepatunya mengetuk-ngetuk lantai.Di sebelahnya, Juna masih duduk tenang. Namun matanya sejak tadi sibuk mengawasi sekitar. Menghitung langkah yang akan mereka lakukan. “Tenanglah, Nona Hana. Kecemasanmu sama sekali tidak membantu.”Mereka sedang duduk di ruang tunggu keberangkatan bandara. Terpisah beberapa bangku di belakang istri dan anak-anak Sekretaris Andra.Ting.Notifikasi pesan masuk. Juna melirik ponselnya.(Amankan istri dan anak-anak Sekretaris Andra, Juna)Perintah baru diterima. Juna bangkit dari duduknya. “Mulai ke langkah selanjutnya, Nona Hana. Antar mereka ke tempat aman.”Hana mengerti, ia ikut berdiri. Mengikuti langkah Juna yang telah berjalan menuju tempat duduk istri Sekretaris Andra.“Permisi, Nyonya.” Juna menyapa pelan.Istri Sekretaris Andra mendongak ke arahnya. Raut wajahnya tampak pucat, keringat dingin tampak mengalir di pelipisnya. J

  • Setelah Dendam Usai, Aku Melupakanmu   Bab 28

    Beberapa jam sebelumnya.Ting. (Sekretaris Andra baru saja keluar dari kantornya).Rey melirik ponselnya. Pesan singkat dari Juna baru saja masuk, mengonfirmasi pergerakan Sekretaris Andra. Ia menoleh pada Lisa yang duduk tegang di kursi penumpang. “Sekretaris Andra mulai bergerak. Kau sudah siap, Lisa?”Lisa balas menatapnya. Mengangguk mantap. Ia sudah siap sejak tadi.Rey balas mengangguk. Jemarinya dengan cekatan mengirim pesan balasan kepada Juna.(Aku dan Lisa segera berangkat. Kalian juga segera bergegas ke bandara. Jalankan sesuai rencana).Mobil Sekretaris Andra terlihat keluar dari tempat parkir. Tanpa menunggu lagi, Rey juga menghidupkan mesin mobilnya, bergerak mengikuti mobil Sekretaris Andra.***Empat puluh lima menit. Mobil yang dikemudikan Rey mulai meninggalkan pusat kota. Melewati jalanan sepi di tepi sungai. Tidak ada kendaraan lain yang tampak melintas.. “Lisa, berpegangan yang erat.” Rey menginjak pedal gasnya dalam-dalam. Mobilnya melaju lebih kencang, menyali

  • Setelah Dendam Usai, Aku Melupakanmu   Bab 27

    “Kau yakin harus mencurinya, Lisa?” Rey bertanya pelan, sekali lagi memastikan keputusan Lisa.Lisa menatap Rey datar, tidak ada raut keraguan di wajahnya. Ia sangat serius.“Aku yakin, Rey. Saka telah kehilangan kendali atas Adhitama Gallery. Posisinya di grup melemah, mau tak mau dia harus segera mengeksekusi proyek pembangunan hotel mewah di pusat kota agar tidak kehilangan dukungan dari dewan direksi.”Lisa mengatakannya tanpa berkedip. Rahangnya tampak mengeras dibalik paras cantiknya.Rey menatapanya lembut. Mendengarkan tanpa menyela ucapan Lisa.Lisa menarik napasnya, mengembuskannya perlahan. “Proyek itu akan dikerjakan bersama Wijaya Group. Aku akan mencuri dana gelap Saka, dengan begitu Saka tidak akan memiliki dana untuk mendanai proyeknya. Dan Adhitama Group akan mengambil alih. Hanya itu cara agar Papa mengizinkan aku bercerai dengan Saka.”Rey mengangguk paham, tersenyum lembut, menatap Lisa penuh empati. “Baiklah, Lisa. Jika itu keputusanmu, maka kita akan mencuri dana

  • Setelah Dendam Usai, Aku Melupakanmu   Bab 26

    Bab 26“Adhitama Gallery.” Lisa berkata mantap, menatap Ketua Adhitama tanpa keraguan. “Berikan kewanangan penuh kepada Lisa atas kendali manajemennya,” sambungnya.Suasana meja makan seketika berubah tegang. Semua mata menatap Lisa terperangah. Sama sekali tidak menyangka Lisa akan meminta hal sebesar itu.“Lisa! Apa-apaan kamu?!”Saka tiba-tiba berdiri kasar hingga kursi jati yang didudukinya terdorong ke belakang. Wajahnya memerah padam, matanya melotot tajam menatap istrinya.“Kau gila, hah?!” bentak Saka dengan suara memburu. “Adhitama Gallery itu anak perusahaan di bawah naungan Adhitama Group! Bagaimana mungkin kamu dengan lancangnya meminta unit bisnis sebesar itu hanya untuk dirimu sendiri?!”Ibu Saka tidak tinggal diam. Wanita itu ikut berdiri, menatap Ketua Adhitama. “Tidak bisa, Ayah. Adhitama Gallery itu milik Saka. Ayah telah berjanji akan mewariskannya pada Saka.” seru Sinta tak terima.Tentu Saka dan ibunya menentang habis-habisan permintaan Lisa. Adhitama Gallery adal

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status