INICIAR SESIÓNLisa telah berusaha memikirkannya berulang kali. Cara terbaik dan paling aman untuk melepaskan diri dari ikatan pernikahannya. Benar bahwa dia tidak memiliki bukti, tapi dia memiliki saksi mata atas kecelakaan yang menimpanya.
Satu-satunya cara yang terpikirkan olehnya saat ini hanyalah meminta agar seseorang itu mengatakan kejadian sebenarnya pada papa Lisa. Dengan harapan papanya akan percaya dan mengijinkan perceraiannya.
Tentu saja Lisa tahu siapa pria bertubuh tinggi, besar, dengan sepasang mata elang itu. Dia adalah Reyhan Dharmawangsa, saudara sepupu Saka Adhitama, putra dari adik perempuan ayah Saka.
Selama ini Rey ditugaskan untuk mengurus anak perusahaan di AS. Namun, karena tiga bulan lagi Kakek Adhitama pensiun dan akan menurunkan posisi ketua pada salah seorang cucunya, kakek meminta Rey untuk pulang dan memimpin salah satu anak perusahaan dalam negeri.
RD Investment. Perusahaan yang bergerak dalam bidang investasi di bawah naungan Adhitama Group.
Lisa paham, dia tidak akan bisa lepas dari Saka dengan mudah. Hubungan keluarga Wijaya dan Adhitama tidak bisa diputus begitu saja. Setidaknya dia butuh bukti dan alasan kuat agar Papanya percaya dan membelanya. Dengan begitu dia bisa menggugat cerai Saka.
Dan Lisa tahu siapa yang bisa dia mintai tolong saat ini. Maka, kesinilah Lisa pergi pagi ini. Ke gedung perusahaan Adhitama Group. Dia akan menemui Rey di kantornya.
Begitu kakinya melangkah masuk di lobby gedung, para staf perusahaan Adhitama Group yang melihatnya otomatis tersenyum dan sedikit membungkukkan badannya, memberi hormat.
Semua staf mengenalnya sebagai desainer utama perusahaan yang koleksi pakaiannya menguasai pasar dalam negeri bahkan sampai pasar Eropa.
Lisa balas mengangguk, tersenyum menyapa. Namun, hatinya meringis menahan tangis. Di perusahaan dia begitu dihormati, namun di hadapan suaminya dia tidak lebih dari sekedar aset yang harus dimiliki.
Lisa hendak melangkahkan kaki menuju lift saat dia mendengar sebuah suara memanggilnya.
“Kak Lisa ....”.
Lisa menoleh. Rika, gadis itu tampak tersenyum lebar, melambaikan tangan ke arahnya. Pantas saja banyak wartawan yang berjaga di depan gedung. Ternyata selebritas itu sedang ada di sini. Mungkin menemui Saka atau sedang ada pemotretan.
Lisa meremas jemari. Mendengus kesal, perutnya mendadak mual melihat senyuman lebar wanita itu. Namun dia harus menahan diri, banyak mata dan kamera yang menyorotinya. Lisa memaksakan diri untuk balas melambaikan tangan, tersenyum lebar ke arah Rika.
Rika berjalan anggun ke arahnya. Diikuti manajer dan asisten pribadinya.
“Aduh Kak Lisa, kebetulan sekali kita bertemu di sini.” Rika tersenyum lebar memeluknya lengannya. Seolah dia benar-benar senang bertemu dengannya. “Aku baru saja hendak menjenguk kakak di rumah. Maaf karena tidak sempat menjenguk ke rumah sakit. Kakak baik-baik saja?”
Lisa mengeratkan kepalan tangannya. Rahangnya mengeras. Andai saja dia bisa menjambak rambut panjang wanita di hadapannya ini.
“Ya, aku baik-baik saja. Terima kasih telah mengkhawatirkanku.” Lisa menjawab datar.
“Astaga, Kak Lisa. Tentu saja aku khawatir, kita sudah seperti saudara, bukan?” Rika menatapnya polos dengan mata lebarnya. Lisa tahu Rika sedang mengejeknya habis-habisan.
Lisa menatapnya tajam, rahangnya bergemeletuk menahan amarah. “Hhh, saudara katamu?” bisiknya lirih.
Rika mendekatkan bibirnya pada telinga Lisa, pura-pura memeluknya.
“Jangan berlagak sombong di depanku, Lisa. Kau sudah kalah telak” bisiknya tajam. “Jangan bertindak bodoh. Ada banyak pasang mata dan wartawan yang melihat kita. Tersenyumlah.”
Rika menyeringai tipis. Melepaskan pelukannya, mundur selangkah, memberi jarak pada tubuh Lisa yang menegang.
Lisa mengedarkan pandangannya. Benar saja, semua pasang mata mengarah pada mereka. Berbisik-bisik, tertawa kecil sambil mengarahkan kamera ponselnya.
“Kak Lisa, sepertinya aku tidak bisa berlama-lama. Akan ada syuting setelah ini. Lain kali aku akan mentraktir kakak makanan enak.” Rika menatapnya sedih, seolah dia benar-benar kecewa.
Lisa menyeringai tipis. Pantas saja wanita ini menjadi selebritis papan atas. Aktingnya benar-benar layak dipuji. “Yeah, tentu saja.” Lisa memaksakan bibirnya untuk tersenyum.
Nafasnya mendengus kasar setelah Rika pergi dari hadapannya. Saat itulah matanya menangkap sosok yang ingin di temuinya. Rey baru saja keluar dari lift. Bersama seorang pria di belakangnya. Mungkin sekretarisnya.
Lisa mengesampingkan seluruh rasa kesalnya. Dia melangkah cepat ke arah Rey. Matanya sempat melihat beberapa staf perempuan yang menatap terpesona ke arah Rey. Sembunyi-sembunyi mengarahkan kameranya.
Rey hanya melihat Lisa sekilas. Lantas tanpa memedulikannya, melewatinya begitu saja.
“Kita harus bicara.” Lisa sedikit berteriak untuk menghentikan langkah Rey.
Benar saja. Rey menghentikan langkahnya, menoleh ke arah Lisa. Dia hanya memicingkan matanya tanpa benar-benar menjawabnya dengan kalimat.
Lisa kembali meremas jemari. Pria ini benar-benar menyebalkan. “Kita harus bicara” ulangnya. “Saya tahu kamu ada di sana saat saya kecelakaan.”
Rey menoleh ke arah pria di sampingnya. Memberikan kode. Lantas tanpa menjawab Lisa, dia kembali meneruskan langkahnya.
Pria yang bersama Rey mendekati Lisa. “Tuan Rey ada rapat penting saat ini. Jika Nona berkenan, silakan tunggu di ruang CEO. Ini ID card saya untuk mengakses ke ruangannya.” Pria itu menyerahkan sebuah ID card kepadanya. “Mungkin akan membutuhkan waktu sedikit lama.”
Lisa mengangguk, menerima ID card tersebut. “Terima kasih” ucapnya pelan. Pria itu tersenyum singkat, membalikkan badannya dan segera berlari kecil untuk mengejar langkah Rey.
Lisa membaca ID card di tangannya setelah pria itu pergi. Juna. Ketua Tim Perencanaan Strategis.
***
Omong kosong membutuhkan waktu sedikit lama. Hampir lima jam Lisa menunggu Rey di ruang CEO. Entah sudah berapa puluh kali dia mondar-mandir. Berdiri, duduk, lalu berdiri lagi.
Rey membuka pintu ketika Lisa sedang melihat-lihat koleksi piagam penghargaan milik Rey di lemari kaca.
Rey melonggarkan dasinya, menatapnya sekilas. Rambut tebalnya terlihat sedikit berantakan, namun malah semakin menambah kesan maskulinnya. “Anda masih di sini rupanya” ucapnya datar tanpa merasa bersalah. Dia berjalan menuju kursinya. Duduk menyilangkan kaki sambil menatap Lisa yang mendengus kesal.
Apa yang barusan pria ini katakan? Anda masih di sini? Astaga, Lisa bahkan melewatkan makan siang untuk menunggunya. Perutnya kini keroncongan menahan lapar dan pria ini melewatinya begitu saja?
Jika bukan karena membutuhkannya Lisa tidak akan sudi untuk bertemu dengannya lagi. Lisa menarik nafas dalam. Mencoba mengendalikan emosinya.
“Ya. Saya menunggu Anda selama lima jam. Saya bahkan melewatkan makan siang.” Lisa menatapnya tajam.
“Ouwh.” Rey hanya mengucapkan oh pelan, sedikit pun tak peduli. “Baiklah. Tentu Anda tidak sabar untuk segera makan siang. Jadi, langsung saja katakan apa yang ingin Anda sampaikan.”
Lisa meremas jemari, menahan nafasnya. “Saya tahu Anda ada di sana saat saya kecelakaan” ucapnya datar.
Rey menatapnya sambil mengerutkan kening. “Lantas?”
“Tolong saya. Saya harus lepas dari suami saya. Bantu saya untuk membuat Papa saya percaya dan mengijinkan saya bercerai dari Saka.” Lisa berhasil mengatakannya dengan lancar. Meski suaranya terdengar bergetar. Dia tidak bisa mengelak bahwa tatapan Rey mampu membuat nyalinya menciut.
“Kamu punya buktinya?” Rey bertanya dingin.
Lisa meremas ujung kemejanya. Tentu saja dia tidak memiliki bukti. Jika ada untuk apa dia harus meminta tolong pada pria arogan ini.
Rey tertawa, lebih seperti sebuah ejekan. “Kamu pikir jika aku tiba-tiba datang dan mengatakannya pada Papamu dia akan langsung percaya begitu saja?” Rey berdiri dari tempatnya. Berjalan perlahan mendekati Lisa. Tatapannya terlihat mengintimidasi. “Apa kau bodoh?” ucapnya tepat di depan wajah Lisa.
Lisa menahan nafas. Memalingkan wajahnya. Jantungnya berdegup kencang menahan marah. Pria ini benar-benar sombong dan menyebalkan.
“Silakan keluar dari ruangan saya jika hanya itu yang hendak Anda katakan.” Rey menunjuk pintu keluar.
Lisa yakin saat ini wajahnya yang terasa panas tampak merah padam. Dia meremas kuat jemarinya. Merasa sangat dipermalukan. Pria ini sama berengseknya dengan suaminya.
Tidak ada gunanya mengamuk di depan pria ini, dia hanya akan terlihat semakin bodoh dan menyedihkan. Maka, tanpa mengatakan apa-apa lagi dia membalikkan badan. Melangkah kesal meninggalkan ruangan.
“Saranku jangan bertindak gegabah dengan coba-coba melawan Saka.” Rey berkata datar tepat ketika Lisa bersiap menarik gagang pintu ruangan.
Lisa menghentikan gerakannya dan menoleh ke arah pria itu. Rey tampak tidak peduli, dia sibuk dengan layar ponselnya.
Aaaaarrrrrggghhhh.
Sungguh, saat ini Lisa ingin berteriak dan melemparkan sepatu hak tingginya mengenai kepala pria itu.
Bab 27Ruang kerja pribadi milik Rey yang tersembunyi di balik perpustakaan apartemennya menjadi markas operasi senyap malam itu. Tirai tebal tertutup rapat, membendung pendar cahaya kota. Di atas meja kaca berukuran besar, tiga buah laptop canggih menyala terang, memancarkan pendar biru yang menerangi wajah empat orang yang sedang berkumpul mengelilinginya: Lisa, Rey, Juna, dan Hana.“Aku sudah menceritakan semuanya,” ujar Lisa, memecah keheningan yang tegang. Matanya menatap Juna dan Hana secara bergantian dengan pendar ketegasan yang dingin. “Kakek memilih untuk membungkam kejahatan Saka demi menjaga nama baik Adhitama Group. Jadi, kita tidak punya pilihan lain. Kita tidak bisa lagi berharap pada keadilan korporasi. Kita akan mencuri seluruh dana gelap milik Saka sebelum dia sempat menggunakannya.”Hana menyandarkan punggungnya di kursi, menyilangkan tangan di dada. Mula-mula dahi wanita itu mengernyit, namun senyum tipis yang sarat akan ide gila perlahan terukir di bibirnya. “Ide
Bab 26“Adhitama Gallery.” Lisa berkata mantap, menatap Ketua Adhitama tanpa keraguan. “Berikan kewanangan penuh kepada Lisa atas kendali manajemennya,” sambungnya.Suasana meja makan seketika berubah tegang. Semua mata menatap Lisa terperangah. Sama sekali tidak menyangka Lisa akan meminta hal sebesar itu.“Lisa! Apa-apaan kamu?!”Saka tiba-tiba berdiri kasar hingga kursi jati yang didudukinya terdorong ke belakang. Wajahnya memerah padam, matanya melotot tajam menatap istrinya.“Kau gila, hah?!” bentak Saka dengan suara memburu. “Adhitama Gallery itu anak perusahaan di bawah naungan Adhitama Group! Bagaimana mungkin kamu dengan lancangnya meminta unit bisnis sebesar itu hanya untuk dirimu sendiri?!”Ibu Saka tidak tinggal diam. Wanita itu ikut berdiri, menatap Ketua Adhitama. “Tidak bisa, Ayah. Adhitama Gallery itu milik Saka. Ayah telah berjanji akan mewariskannya pada Saka.” seru Sinta tak terima.Tentu Saka dan ibunya menentang habis-habisan permintaan Lisa. Adhitama Gallery adal
Pameran itu benar-benar sukses besar. Semua stok koleksi produk fashion Adhitama Gallery langsung terjual habis begitu dirilis. Antrean panjang mengular di setiap cabang butik yang tersebar di berbagai kota besar.Nama Adhitama Gallery terus menjadi perbincangan hangat di dunia mode internasional. Wajah Jess sebagai brand ambassador muncul di halaman terdepan majalah mode, sosial media, spanduk-spanduk, hingga layar megatron yang terpasang di gedung-gedung pencakar langit.Pesan berisi berbagai tawaran kerja sama tak henti-hentinya masuk ke surel resmi Adhitama Gallery. Nilai saham bahkan naik hingga lima kali lipat, jauh lebih besar dari perkiraan awal.Papa Lisa tertawa lebar saat menelponnya, mengucapkan selamat dan memujinya. Mamanya juga ikut senang, ribut meminta Lisa untuk mempertemukannya lagi dengan Jess, Rose, dan Jenny. Lisa hanya balas tertawa lebar, menjelaskan bahwa mereka sudah kembali sibuk dengan urusan masing-masing.Foto Lisa bersama Jenny, Rose, dan Jess di acara pa
Tepat pukul 10.00 a.m., Pameran Privat Adhitama Gallery resmi dimulai.Lisa duduk di barisan kursi VIP bersama keluarganya, di dampingi Rey, Juna, dan Hana. Ia menahan napas, mengedarkan pandangannya ke sekeliling ruangan.Tamu yang hadir bukan orang sembarangan. Mulai dari investor besar kelas internasional, pengusaha korporasi multinasional, hingga para pesohor papan atas. Wajah-wajah mereka tidak asing, biasa mengisi halaman majalah-majalah bisnis dengan kisah suksesnya.Ting!Lampu hall diredupkan. Musik pengiring mulai diputar.Seluruh pandangan tamu undangan seketika tertuju pada panggung. Decak kagum dan tatapan terpesona seketika memenuhi ruangan begitu model pertama melangkah anggun di atas catwalk.Pameran berlangsung dengan lancar hingga akhir acara, kemudian dilanjutkan dengan pesta perayaan.Para tamu tertawa puas, menyalami Lisa, serta mengucapkan selamat dan berbagai kalimat pujian. Bahkan tidak sedikit yang langsung menawarkan kerja sama dengan Adhitama Gallery. Lisa m
Hari-H Pameran Privat Adhitama GalleryKesibukan telah dimulai sejak pagi buta. Bahkan, ada beberapa kru yang belum sempat tidur dan beristirahat sejak gladi bersih kemarin. Petugas keamanan acara telah bersiap di berbagai titik krusial dengan setelan jas dan celana hitam, lengkap dengan earpiece yang terpasang di telinga mereka.Begitu pula dengan Lisa. Raut wajahnya tampak sangat serius saat melangkah cepat di lorong Grand Hotel menuju ballroom tempat pameran diadakan. Hana juga tak kalah seriusnya, tangannya menggenggam erat sebuah tablet seraya berjalan cepat mengimbangi Lisa.Sesekali mereka berpapasan dengan satu dua kru yang juga tengah mempersiapkan detail acara. Mereka mngangguk kecil, tersenyum tipis menyapa Lisa. Lisa balas tersenyum tipis.“Semua kru telah bersiap di posisinya, Bu Lisa. Para model juga telah selesai di-makeup,” ujar Hana seraya memeriksa layar tabletnya. “Media sudah berdatangan sejak kemarin malam. Saat ini mereka tengah bersiap di ballroom.”Lisa mengang
H-1 Pameran Privat Adhitama Gallery.Ballroom megah Adhitama Grand Hotel telah disulap menjadi area pameran privat bernuansa musim panas. Videotron raksasa di latar panggung menampilkan pemandangan pantai yang hangat, dipadukan dengan sorotan warm spotlight yang memancar tepat di atas area catwalk. Rangkaian bunga segar tersusun rapi di sekeliling panggung, menghadirkan kesan indah dan elegan yang memikat.Di kanan kiri panggung, kursi-kursi di susun rapi, berbaris memanjang mengelilingi panggung. Papa Lisa telah hadir bersama mamanya, duduk di kursi VIP. Begitu juga Ketua Adhitama Group dan kedua mertua Lisa, mereka duduk bersisian.Saka belum terlihat batang hidungnya, entah ada dimana pria itu saat ini. Mungkin sedang mengamuk melihat persiapan gladi bersih hari ini tetap berjalan dengan semestinya tanpa adanya kepanikan.Lisa dan Hana masih sibuk, berjalan ke sana ke mari memeriksa setiap detail, memastikan semuanya sempurna.Rey dan Juna terlihat memasuki ruangan.Pandangan Rey l







