Partager

Bab 2

Auteur: Olif S
last update Date de publication: 2026-06-17 22:06:35

Lisa akhirnya diperbolehkan pulang dari rumah sakit setelah menghabiskan waktu dua hari penuh di ruang rawat inap.

Kecelakaan malam itu cukup fatal, dia sempat pingsan selama tiga jam setelah benturan keras itu terjadi. Hingga hari ini kepalanya masih dibalut dengan perban, lukanya cukup dalam.

“Seharusnya kemarin kau mendengarkan apa yang kukatakan, bukannya membantah. Lihat, kau terluka karena ulahmu sendiri. Aish, kau memang benar-benar merepotkan.”

Saka mendengus kesal, menatapnya dengan enggan. Dia berdiri di sudut ruang rawat inap Lisa, menyilangkan tangannya didepan dada. Sama sekali tidak berniat membantu Lisa yang tengah membereskan pakaiannya.

“Keluarga kita sedang menunggu di rumah. Jangan memperumit keadaan dengan coba-coba mengatakan hal aneh pada mereka. Katakan saja kau tidak sengaja terpeleset saat sedang mencariku. Lagipula kau tidak memiliki bukti apapun dan tidak ada saksi mata yang melihat kejadian sebenarnya.”

Saka bahkan sama sekali tidak perlu merasa harus meminta maaf pada Lisa. Bukannya menunjukkan rasa bersalah, dia malah melontarkan ancaman pada Lisa agar tidak memperumit keadaan. Lisa benar-benar muak mendengarnya. Dia sama sekali tidak berniat menggubris ocehan Saka.

Dokter yang merawat Lisa datang tepat ketika wanita itu selesai bersiap. Langkah sang dokter sempat berpapasan dengan Saka yang sudah melangkah lebih dulu menuju pintu keluar, tidak sabar untuk segera pergi dari sana.

“Tunggu sebentar, Pak. Ada yang harus saya laporkan terkait hasil CT scan Ibu Lisa kemarin.” Dokter itu menahan langkah Saka di depan pintu.

Saka mendengus malas, raut wajahnya tampak sangat terganggu. “Katakan saja langsung padanya. Dia sudah dewasa dan bisa mengurus dirinya sendiri.”

Tanpa menoleh lagi, Saka meneruskan langkahnya keluar. Sama sekali tidak peduli.

Dokter itu hanya mengembuskan nafas prihatin, tersenyum tipis pada Lisa yang masih terlihat pucat.

“Bagaimana hasilnya, Dok?” Lisa balas tersenyum tipis, mencoba tetap tegar.

Dokter itu melangkah mendekat, menyerahkan kertas hasil pemeriksaan laboratorium. Menarik nafas dalam sebelum mulai menjelaskan.

“Itu glioblastoma. Anda mengidap tumor glioblastoma multifocal.”

Tubuh Lisa seketika membeku mendengarnya. Detik itu juga, otaknya tiba-tiba kesulitan mencerna penjelasan sang dokter. Kamar ruang rawat itu mendadak terasa sunyi. Tangannya yang memegang kertas hasil pemeriksaan terlihat bergetar. Perlahan kepalanya terangkat, menatap wajah dokter itu. Meminta penjelasan lebih lanjut.

“Tumor itu yang membuat Anda merasa pusing dan mual akhir-akhir ini. Saya akan mencari tahu lebih banyak dengan biopsi. Tapi lokasi tumor Anda tidak bagus. Tumor Anda tumbuh cukup cepat dan terletak di dekat lobus temporal.”

Benar. Beberapa hari terakhir dia memang sering merasa pusing dan mual. Dia sempat mengira dirinya sedang hamil. Namun hari ini dia harus menelan fakta pahit.

Bukan hamil melainkan tumor? Lisa tertawa getir, menertawakan nasibnya sendiri.

“Apakah saya akan segera meninggal, dok?” tanyanya lirih.

Dokter itu menatap Lisa dengan sendu. “Melihat perkembangannya yang cukup agresif, waktu Anda mungkin tidak lebih dari tiga bulan. Tetapi kami tidak akan menyerah begitu saja dan akan berusaha semaksimal mungkin untuk menanganinya. Mungkin kita bisa mencoba tindakan operasi, meskipun harus saya katakan bahwa kemungkinan berhasilnya hanya 50:50.”

Lisa mengangguk paham. Tersenyum pahit menatap wajah sang dokter. “Terima kasih banyak, dokter. Saya mohon, tolong rahasiakan ini dari siapapun.”

Dokter itu mengerutkan keningnya, balas menatap Lisa dengan pandangan tak paham. Bukankah lebih baik jika keluarga pasien mengetahui kondisinya?

Sebuah seringai tipis terbit di bibir pucat Lisa, dia paham apa yang sedang dipikirkan oleh dokter di depannya. “Anda melihat sendiri, dok. Suami saya sendiri bahkan tidak peduli dengan keadaan saya.”

Dokter itu mengangguk paham. Merasa tidak berhak untuk ikut campur kehidupan pribadi pasiennya.

***

Lisa berjalan menyusuri lorong rumah sakit yang terasa panjang dengan pandangan kosong. Benaknya masih kesulitan memahami apa yang terjadi dalam hidupnya beberapa hari terakhir.

Perselingkuhan suaminya. Fakta bahwa dirinya hanya dimanfaatkan sebagai aset bisnis. Dan dia akan meninggal dalam tiga bulan? Hah! Humor kehidupan macam apa ini.

Lisa meremas jemarinya dengan erat, hingga buku-buku jarinya memutih. Tidak, dia tidak boleh mati begitu saja sedangkan Saka masih akan terus memanfaatkannya. Waktunya mungkin tidak banyak lagi. Tetapi dia masih bisa melepaskan diri dan mencari kebahagiannya meski hanya sebentar.

Tapi bagaimana caranya?

Papanya hanya akan menganggapnya merengek dan mengatakan omong kosong jika dia datang tanpa membawa bukti apapun. Keluarga Adhitama juga tidak akan melepaskannya begitu saja tanpa alasan yang jelas.

Lisa mendesah putus asa. Dia terus memutar otaknya, memikirkan cara apapun untuk bisa lepas dari Saka.

Tiba-tiba sekelebat ingatan samar melintas dalam pikirannya. Benar. Ada orang lain di sana. Seseorang yang tidak sengaja menyaksikan kejadian malam itu. Sepasang mata elang yang menatapnya dari luar pintu. Sebersit seringai tipis muncul dari bibirnya.

Continuez à lire ce livre gratuitement
Scanner le code pour télécharger l'application

Dernier chapitre

  • Setelah Dendam Usai, Aku Melupakanmu   Bab 27

    Bab 27Ruang kerja pribadi milik Rey yang tersembunyi di balik perpustakaan apartemennya menjadi markas operasi senyap malam itu. Tirai tebal tertutup rapat, membendung pendar cahaya kota. Di atas meja kaca berukuran besar, tiga buah laptop canggih menyala terang, memancarkan pendar biru yang menerangi wajah empat orang yang sedang berkumpul mengelilinginya: Lisa, Rey, Juna, dan Hana.“Aku sudah menceritakan semuanya,” ujar Lisa, memecah keheningan yang tegang. Matanya menatap Juna dan Hana secara bergantian dengan pendar ketegasan yang dingin. “Kakek memilih untuk membungkam kejahatan Saka demi menjaga nama baik Adhitama Group. Jadi, kita tidak punya pilihan lain. Kita tidak bisa lagi berharap pada keadilan korporasi. Kita akan mencuri seluruh dana gelap milik Saka sebelum dia sempat menggunakannya.”Hana menyandarkan punggungnya di kursi, menyilangkan tangan di dada. Mula-mula dahi wanita itu mengernyit, namun senyum tipis yang sarat akan ide gila perlahan terukir di bibirnya. “Ide

  • Setelah Dendam Usai, Aku Melupakanmu   Bab 26

    Bab 26“Adhitama Gallery.” Lisa berkata mantap, menatap Ketua Adhitama tanpa keraguan. “Berikan kewanangan penuh kepada Lisa atas kendali manajemennya,” sambungnya.Suasana meja makan seketika berubah tegang. Semua mata menatap Lisa terperangah. Sama sekali tidak menyangka Lisa akan meminta hal sebesar itu.“Lisa! Apa-apaan kamu?!”Saka tiba-tiba berdiri kasar hingga kursi jati yang didudukinya terdorong ke belakang. Wajahnya memerah padam, matanya melotot tajam menatap istrinya.“Kau gila, hah?!” bentak Saka dengan suara memburu. “Adhitama Gallery itu anak perusahaan di bawah naungan Adhitama Group! Bagaimana mungkin kamu dengan lancangnya meminta unit bisnis sebesar itu hanya untuk dirimu sendiri?!”Ibu Saka tidak tinggal diam. Wanita itu ikut berdiri, menatap Ketua Adhitama. “Tidak bisa, Ayah. Adhitama Gallery itu milik Saka. Ayah telah berjanji akan mewariskannya pada Saka.” seru Sinta tak terima.Tentu Saka dan ibunya menentang habis-habisan permintaan Lisa. Adhitama Gallery adal

  • Setelah Dendam Usai, Aku Melupakanmu   Bab 25

    Pameran itu benar-benar sukses besar. Semua stok koleksi produk fashion Adhitama Gallery langsung terjual habis begitu dirilis. Antrean panjang mengular di setiap cabang butik yang tersebar di berbagai kota besar.Nama Adhitama Gallery terus menjadi perbincangan hangat di dunia mode internasional. Wajah Jess sebagai brand ambassador muncul di halaman terdepan majalah mode, sosial media, spanduk-spanduk, hingga layar megatron yang terpasang di gedung-gedung pencakar langit.Pesan berisi berbagai tawaran kerja sama tak henti-hentinya masuk ke surel resmi Adhitama Gallery. Nilai saham bahkan naik hingga lima kali lipat, jauh lebih besar dari perkiraan awal.Papa Lisa tertawa lebar saat menelponnya, mengucapkan selamat dan memujinya. Mamanya juga ikut senang, ribut meminta Lisa untuk mempertemukannya lagi dengan Jess, Rose, dan Jenny. Lisa hanya balas tertawa lebar, menjelaskan bahwa mereka sudah kembali sibuk dengan urusan masing-masing.Foto Lisa bersama Jenny, Rose, dan Jess di acara pa

  • Setelah Dendam Usai, Aku Melupakanmu   Bab 24

    Tepat pukul 10.00 a.m., Pameran Privat Adhitama Gallery resmi dimulai.Lisa duduk di barisan kursi VIP bersama keluarganya, di dampingi Rey, Juna, dan Hana. Ia menahan napas, mengedarkan pandangannya ke sekeliling ruangan.Tamu yang hadir bukan orang sembarangan. Mulai dari investor besar kelas internasional, pengusaha korporasi multinasional, hingga para pesohor papan atas. Wajah-wajah mereka tidak asing, biasa mengisi halaman majalah-majalah bisnis dengan kisah suksesnya.Ting!Lampu hall diredupkan. Musik pengiring mulai diputar.Seluruh pandangan tamu undangan seketika tertuju pada panggung. Decak kagum dan tatapan terpesona seketika memenuhi ruangan begitu model pertama melangkah anggun di atas catwalk.Pameran berlangsung dengan lancar hingga akhir acara, kemudian dilanjutkan dengan pesta perayaan.Para tamu tertawa puas, menyalami Lisa, serta mengucapkan selamat dan berbagai kalimat pujian. Bahkan tidak sedikit yang langsung menawarkan kerja sama dengan Adhitama Gallery. Lisa m

  • Setelah Dendam Usai, Aku Melupakanmu   Bab 23

    Hari-H Pameran Privat Adhitama GalleryKesibukan telah dimulai sejak pagi buta. Bahkan, ada beberapa kru yang belum sempat tidur dan beristirahat sejak gladi bersih kemarin. Petugas keamanan acara telah bersiap di berbagai titik krusial dengan setelan jas dan celana hitam, lengkap dengan earpiece yang terpasang di telinga mereka.Begitu pula dengan Lisa. Raut wajahnya tampak sangat serius saat melangkah cepat di lorong Grand Hotel menuju ballroom tempat pameran diadakan. Hana juga tak kalah seriusnya, tangannya menggenggam erat sebuah tablet seraya berjalan cepat mengimbangi Lisa.Sesekali mereka berpapasan dengan satu dua kru yang juga tengah mempersiapkan detail acara. Mereka mngangguk kecil, tersenyum tipis menyapa Lisa. Lisa balas tersenyum tipis.“Semua kru telah bersiap di posisinya, Bu Lisa. Para model juga telah selesai di-makeup,” ujar Hana seraya memeriksa layar tabletnya. “Media sudah berdatangan sejak kemarin malam. Saat ini mereka tengah bersiap di ballroom.”Lisa mengang

  • Setelah Dendam Usai, Aku Melupakanmu   Bab 22

    H-1 Pameran Privat Adhitama Gallery.Ballroom megah Adhitama Grand Hotel telah disulap menjadi area pameran privat bernuansa musim panas. Videotron raksasa di latar panggung menampilkan pemandangan pantai yang hangat, dipadukan dengan sorotan warm spotlight yang memancar tepat di atas area catwalk. Rangkaian bunga segar tersusun rapi di sekeliling panggung, menghadirkan kesan indah dan elegan yang memikat.Di kanan kiri panggung, kursi-kursi di susun rapi, berbaris memanjang mengelilingi panggung. Papa Lisa telah hadir bersama mamanya, duduk di kursi VIP. Begitu juga Ketua Adhitama Group dan kedua mertua Lisa, mereka duduk bersisian.Saka belum terlihat batang hidungnya, entah ada dimana pria itu saat ini. Mungkin sedang mengamuk melihat persiapan gladi bersih hari ini tetap berjalan dengan semestinya tanpa adanya kepanikan.Lisa dan Hana masih sibuk, berjalan ke sana ke mari memeriksa setiap detail, memastikan semuanya sempurna.Rey dan Juna terlihat memasuki ruangan.Pandangan Rey l

Plus de chapitres
Découvrez et lisez de bons romans gratuitement
Accédez gratuitement à un grand nombre de bons romans sur GoodNovel. Téléchargez les livres que vous aimez et lisez où et quand vous voulez.
Lisez des livres gratuitement sur l'APP
Scanner le code pour lire sur l'application
DMCA.com Protection Status