LOGINLisa akhirnya diperbolehkan pulang dari rumah sakit setelah menghabiskan waktu dua hari penuh di ruang rawat inap.
Kecelakaan malam itu cukup fatal, dia sempat pingsan selama tiga jam setelah benturan keras itu terjadi. Hingga hari ini kepalanya masih dibalut dengan perban, lukanya cukup dalam.
“Seharusnya kemarin kau mendengarkan apa yang kukatakan, bukannya membantah. Lihat, kau terluka karena ulahmu sendiri. Aish, kau memang benar-benar merepotkan.”
Saka mendengus kesal, menatapnya dengan enggan. Dia berdiri di sudut ruang rawat inap Lisa, menyilangkan tangannya didepan dada. Sama sekali tidak berniat membantu Lisa yang tengah membereskan pakaiannya.
“Keluarga kita sedang menunggu di rumah. Jangan memperumit keadaan dengan coba-coba mengatakan hal aneh pada mereka. Katakan saja kau tidak sengaja terpeleset saat sedang mencariku. Lagipula kau tidak memiliki bukti apapun dan tidak ada saksi mata yang melihat kejadian sebenarnya.”
Saka bahkan sama sekali tidak perlu merasa harus meminta maaf pada Lisa. Bukannya menunjukkan rasa bersalah, dia malah melontarkan ancaman pada Lisa agar tidak memperumit keadaan. Lisa benar-benar muak mendengarnya. Dia sama sekali tidak berniat menggubris ocehan Saka.
Dokter yang merawat Lisa datang tepat ketika wanita itu selesai bersiap. Langkah sang dokter sempat berpapasan dengan Saka yang sudah melangkah lebih dulu menuju pintu keluar, tidak sabar untuk segera pergi dari sana.
“Tunggu sebentar, Pak. Ada yang harus saya laporkan terkait hasil CT scan Ibu Lisa kemarin.” Dokter itu menahan langkah Saka di depan pintu.
Saka mendengus malas, raut wajahnya tampak sangat terganggu. “Katakan saja langsung padanya. Dia sudah dewasa dan bisa mengurus dirinya sendiri.”
Tanpa menoleh lagi, Saka meneruskan langkahnya keluar. Sama sekali tidak peduli.
Dokter itu hanya mengembuskan nafas prihatin, tersenyum tipis pada Lisa yang masih terlihat pucat.
“Bagaimana hasilnya, Dok?” Lisa balas tersenyum tipis, mencoba tetap tegar.
Dokter itu melangkah mendekat, menyerahkan kertas hasil pemeriksaan laboratorium. Menarik nafas dalam sebelum mulai menjelaskan.
“Itu glioblastoma. Anda mengidap tumor glioblastoma multifocal.”
Tubuh Lisa seketika membeku mendengarnya. Detik itu juga, otaknya tiba-tiba kesulitan mencerna penjelasan sang dokter. Kamar ruang rawat itu mendadak terasa sunyi. Tangannya yang memegang kertas hasil pemeriksaan terlihat bergetar. Perlahan kepalanya terangkat, menatap wajah dokter itu. Meminta penjelasan lebih lanjut.
“Tumor itu yang membuat Anda merasa pusing dan mual akhir-akhir ini. Saya akan mencari tahu lebih banyak dengan biopsi. Tapi lokasi tumor Anda tidak bagus. Tumor Anda tumbuh cukup cepat dan terletak di dekat lobus temporal.”
Benar. Beberapa hari terakhir dia memang sering merasa pusing dan mual. Dia sempat mengira dirinya sedang hamil. Namun hari ini dia harus menelan fakta pahit.
Bukan hamil melainkan tumor? Lisa tertawa getir, menertawakan nasibnya sendiri.
“Apakah saya akan segera meninggal, dok?” tanyanya lirih.
Dokter itu menatap Lisa dengan sendu. “Melihat perkembangannya yang cukup agresif, waktu Anda mungkin tidak lebih dari tiga bulan. Tetapi kami tidak akan menyerah begitu saja dan akan berusaha semaksimal mungkin untuk menanganinya. Mungkin kita bisa mencoba tindakan operasi, meskipun harus saya katakan bahwa kemungkinan berhasilnya hanya 50:50.”
Lisa mengangguk paham. Tersenyum pahit menatap wajah sang dokter. “Terima kasih banyak, dokter. Saya mohon, tolong rahasiakan ini dari siapapun.”
Dokter itu mengerutkan keningnya, balas menatap Lisa dengan pandangan tak paham. Bukankah lebih baik jika keluarga pasien mengetahui kondisinya?
Sebuah seringai tipis terbit di bibir pucat Lisa, dia paham apa yang sedang dipikirkan oleh dokter di depannya. “Anda melihat sendiri, dok. Suami saya sendiri bahkan tidak peduli dengan keadaan saya.”
Dokter itu mengangguk paham. Merasa tidak berhak untuk ikut campur kehidupan pribadi pasiennya.
***
Lisa berjalan menyusuri lorong rumah sakit yang terasa panjang dengan pandangan kosong. Benaknya masih kesulitan memahami apa yang terjadi dalam hidupnya beberapa hari terakhir.
Perselingkuhan suaminya. Fakta bahwa dirinya hanya dimanfaatkan sebagai aset bisnis. Dan dia akan meninggal dalam tiga bulan? Hah! Humor kehidupan macam apa ini.
Lisa meremas jemarinya dengan erat, hingga buku-buku jarinya memutih. Tidak, dia tidak boleh mati begitu saja sedangkan Saka masih akan terus memanfaatkannya. Waktunya mungkin tidak banyak lagi. Tetapi dia masih bisa melepaskan diri dan mencari kebahagiannya meski hanya sebentar.
Tapi bagaimana caranya?
Papanya hanya akan menganggapnya merengek dan mengatakan omong kosong jika dia datang tanpa membawa bukti apapun. Keluarga Adhitama juga tidak akan melepaskannya begitu saja tanpa alasan yang jelas.
Lisa mendesah putus asa. Dia terus memutar otaknya, memikirkan cara apapun untuk bisa lepas dari Saka.
Tiba-tiba sekelebat ingatan samar melintas dalam pikirannya. Benar. Ada orang lain di sana. Seseorang yang tidak sengaja menyaksikan kejadian malam itu. Sepasang mata elang yang menatapnya dari luar pintu. Sebersit seringai tipis muncul dari bibirnya.
Sinar matahari pagi masuk melewati kaca jendela ruang kerja Saka Adhitama di gedung lantai 40. Cahayanya berpendar hangat membasahi wajah Saka yang tampak berbinar senang. Bagaimana tidak? Hari ini ia akan resmi meneken kontrak pembangunan hotel mewah di pusat kota bersama Wijaya Group. Ia sudah membayangkan namanya akan tertulis di berbagai media, disertai dengan berbagai pujian atas keberhasilannya.Dewan direksi pasti juga akan memberikan dukungan kepadanya dalam suksesi kepemimpinan selanjutnya. Meneruskan jabatan Kakeknya yang akan segera pensiun sebagai Ketua Adhitama Group.Saka Adhitama yang tengah duduk di kursi kerjanya menyeringai lebar. Menatap sebuah kartu yang berisi username dan password sebuah akun kripto berisi empat ratus juta dolar dengan jantung berdebar. Tadi malam saat Sekretaris Andra menyerahkannya, ia menahan diri, tidak langsung membukanya. Lebih memilih lebih dulu merayakannya dengan berpesta dan bersenang-senang bersama Rika. Pagi ini Saka berniat mengak
Bab 30Bugh!Juna melayangkan pukulan telak. Preman terakhir akhirnya tersungkur, tak mampu bangkit lagi.Setelah Hana datang membantu, pertahanan Juna kembali kuat. Serangannya lebih buas. Mereka berhasil menaklukan lima belas preman dalam waktu lima menit.Hana juga sama lincah dan kuatnya. Ia berhasil menumbangkan lima preman dengan pukulannya.Juna melangkah pelan, mendekati seorang preman yang tampak seperti pemimpinnya. Ia berjongkok, membisikkan sesuatu di telinga preman tersebut.Seketika wajah preman itu berubah. Ia buru-buru bangkit berdiri dengan tertatih. Meneriaki anak buahnya agar segera kembali ke mobil van mereka.Mobil van tersebut langsung meninggalkan parkiran.“Ssshh.” Juna mendesis lirih. Memegang perutnya yang terkena tusukan. Darah mengalir, merembes membuat kemeja putihnya berubah warna.“Pak Juna, Anda berdarah cukup banyak.” Hana berseru tertahan. Matanya menampakkan kekhawatiran. Ia melangkah mendekat, melepas jas miliknya.Juna tak menjawab. Pria itu berusa
“Pak Juna, apa yang harus kita lakukan?” Hana menoleh ke arah Juna, berbisik pelan. Ia terlihat gelisah. Sejak tadi ujung sepatunya mengetuk-ngetuk lantai.Di sebelahnya, Juna masih duduk tenang. Namun matanya sejak tadi sibuk mengawasi sekitar. Menghitung langkah yang akan mereka lakukan. “Tenanglah, Nona Hana. Kecemasanmu sama sekali tidak membantu.”Mereka sedang duduk di ruang tunggu keberangkatan bandara. Terpisah beberapa bangku di belakang istri dan anak-anak Sekretaris Andra.Ting.Notifikasi pesan masuk. Juna melirik ponselnya.(Amankan istri dan anak-anak Sekretaris Andra, Juna)Perintah baru diterima. Juna bangkit dari duduknya. “Mulai ke langkah selanjutnya, Nona Hana. Antar mereka ke tempat aman.”Hana mengerti, ia ikut berdiri. Mengikuti langkah Juna yang telah berjalan menuju tempat duduk istri Sekretaris Andra.“Permisi, Nyonya.” Juna menyapa pelan.Istri Sekretaris Andra mendongak ke arahnya. Raut wajahnya tampak pucat, keringat dingin tampak mengalir di pelipisnya. J
Beberapa jam sebelumnya.Ting. (Sekretaris Andra baru saja keluar dari kantornya).Rey melirik ponselnya. Pesan singkat dari Juna baru saja masuk, mengonfirmasi pergerakan Sekretaris Andra. Ia menoleh pada Lisa yang duduk tegang di kursi penumpang. “Sekretaris Andra mulai bergerak. Kau sudah siap, Lisa?”Lisa balas menatapnya. Mengangguk mantap. Ia sudah siap sejak tadi.Rey balas mengangguk. Jemarinya dengan cekatan mengirim pesan balasan kepada Juna.(Aku dan Lisa segera berangkat. Kalian juga segera bergegas ke bandara. Jalankan sesuai rencana).Mobil Sekretaris Andra terlihat keluar dari tempat parkir. Tanpa menunggu lagi, Rey juga menghidupkan mesin mobilnya, bergerak mengikuti mobil Sekretaris Andra.***Empat puluh lima menit. Mobil yang dikemudikan Rey mulai meninggalkan pusat kota. Melewati jalanan sepi di tepi sungai. Tidak ada kendaraan lain yang tampak melintas.. “Lisa, berpegangan yang erat.” Rey menginjak pedal gasnya dalam-dalam. Mobilnya melaju lebih kencang, menyali
“Kau yakin harus mencurinya, Lisa?” Rey bertanya pelan, sekali lagi memastikan keputusan Lisa.Lisa menatap Rey datar, tidak ada raut keraguan di wajahnya. Ia sangat serius.“Aku yakin, Rey. Saka telah kehilangan kendali atas Adhitama Gallery. Posisinya di grup melemah, mau tak mau dia harus segera mengeksekusi proyek pembangunan hotel mewah di pusat kota agar tidak kehilangan dukungan dari dewan direksi.”Lisa mengatakannya tanpa berkedip. Rahangnya tampak mengeras dibalik paras cantiknya.Rey menatapanya lembut. Mendengarkan tanpa menyela ucapan Lisa.Lisa menarik napasnya, mengembuskannya perlahan. “Proyek itu akan dikerjakan bersama Wijaya Group. Aku akan mencuri dana gelap Saka, dengan begitu Saka tidak akan memiliki dana untuk mendanai proyeknya. Dan Adhitama Group akan mengambil alih. Hanya itu cara agar Papa mengizinkan aku bercerai dengan Saka.”Rey mengangguk paham, tersenyum lembut, menatap Lisa penuh empati. “Baiklah, Lisa. Jika itu keputusanmu, maka kita akan mencuri dana
Bab 26“Adhitama Gallery.” Lisa berkata mantap, menatap Ketua Adhitama tanpa keraguan. “Berikan kewanangan penuh kepada Lisa atas kendali manajemennya,” sambungnya.Suasana meja makan seketika berubah tegang. Semua mata menatap Lisa terperangah. Sama sekali tidak menyangka Lisa akan meminta hal sebesar itu.“Lisa! Apa-apaan kamu?!”Saka tiba-tiba berdiri kasar hingga kursi jati yang didudukinya terdorong ke belakang. Wajahnya memerah padam, matanya melotot tajam menatap istrinya.“Kau gila, hah?!” bentak Saka dengan suara memburu. “Adhitama Gallery itu anak perusahaan di bawah naungan Adhitama Group! Bagaimana mungkin kamu dengan lancangnya meminta unit bisnis sebesar itu hanya untuk dirimu sendiri?!”Ibu Saka tidak tinggal diam. Wanita itu ikut berdiri, menatap Ketua Adhitama. “Tidak bisa, Ayah. Adhitama Gallery itu milik Saka. Ayah telah berjanji akan mewariskannya pada Saka.” seru Sinta tak terima.Tentu Saka dan ibunya menentang habis-habisan permintaan Lisa. Adhitama Gallery adal







