공유

29. Selisih Jalan

작가: Wahyuni SST
last update 게시일: 2023-10-03 10:37:10

"Katakan apa yang ingin kamu katakan Mala, kita bertiga ada di sini. Supaya masalahnya cepat selesai."

Bibi Ani menyingkir masuk ke dalam kamar, sementara aku semakin berjalan mendekati Mas Bima dan Mala.

"Aku tidak menyangka Mbak bisa serendah ini, padahal aku sudah pernah menemui Mbak dan meminta agar tidak terus menjadi bayangan dalam hidup Mas Bima. Dia sekarang milikku Mbak, kenapa sih Mbak tidak mencari lelaki lain saja. Kenapa juga harus berharap pada mantan yang sudah menjadi suami oran
이 작품을 무료로 읽으실 수 있습니다
QR 코드를 스캔하여 앱을 다운로드하세요
잠긴 챕터
댓글 (7)
goodnovel comment avatar
Louisa Janis
thor saya tidak tahu ujung ceritanya bagaimana menurut rencana othor tapi kenapa perempuan DAJJAL itu masih saja enak hidupnya makanya tidak ada kesadaran dalam menjalani kehidupan COBA BIKIN SI MALA JADI CACAT DAH TERPISAH DARI BIMA BIAR BIMA MAMPU JALANI HIDUP DENGAN BERSYUKUR
goodnovel comment avatar
Rania Humaira
mati ajalah kau nisa. kirain dg semua yg telah kau lalui bisa sedikit membuatmu kuat dan tegas. ternyata sama aja. sama goblok dan tololnya,menye2 juga sok2an. pantas aja kau dihina terus krn memang g layak.
goodnovel comment avatar
Suherni 123
Nisa terlalu lembek,,di hina begitu diem
댓글 더 보기

최신 챕터

  • Setelah Engkau Mendua   43. Takdir Terbaik

    Aku dan Mas Adam segera menyusul Sarah ke dalam ruang ICU."Tidak boleh berbarengan ya, Bu. Masuknya satu orang saja."Seorang suster langsung menghentikan langkah kami."Kamu saja yang masuk, mungkin Dzabir ingin melihat Papanya," ucap Mas Adam menyuruhku yang masuk sementara dia menunggu di luar. Dengan berat hati aku dan Dzabir melangkah ke dalam dan mendapati Mas Bima sudah dikerumuni banyak tenaga kesehatan dan seorang dokter. Jantung ini seketika berdegup kencang."Ada apa, Sarah?" tanyaku penuh khawatir."Tiba-tiba jantungnya lemah, Mbak. Kasihan Mas Bima, Semoga Allah memberi umur panjang," ucap Sarah dengan kedua mata berkaca-kaca."Sarah kamu pegang Dzabir ya, biar Mbak cari Mama sama Mbak Ara. Mbak takut terjadi apa-apa pada Mas Bima, sementara Mama belum sempat menjenguknya.""Iya, Mbak."Aku pun kembali keluar dari ruangan ini, Mbak Hanum ternyata sudah duduk di kursi tunggu bersama Mas Adam."Bagaimana keadaan Bima, Nis?" tanya wanita itu."Denyut jantungnya lemah, Mbak

  • Setelah Engkau Mendua   42. Pembatalan Khitbah

    "Nisa, Mbak mau bicara sama kamu. Oya, mereka siapa?"Wajahku tertuju pada Sarah dan yang lain. Sementara di dalam dada, jantung berdegup kencang. "Mereka ... adalah keluarga dari mantan suami saya, Mbak."Mbak Hanum seperti terkejut, apa Mas Adam sudah mengatakan pada beliau perihal Mas Bima? Ya Allah, kenapa perasaan ini semakin dihujam rasa bersalah."Oh jadi ini keluarga mantan suami kamu?"Kuanggukkan kepala, sementara wajah Mbak Hanum tertuju pada Mbak Ara."Perkenalkan saya Hanum, calon kakak iparnya Nisa."Pandanganku segera tertuju pada keduanya. Dua netra Mbak Ara membulat, bahkan Sarah dan mama pun sama."Jadi Nisa udah mau nikah?"Mbak Hanum tak menjawab, dia justru menatapku seolah ingin aku yang menjawab pertanyaan tersebut."Iya, Mbak," jawabku terbata. Sungguh tak dapat kugambarkan perasaan kini. Apalagi saat melihat Mama menundukkan wajahnya, bahkan menutup kedua mata. Ya Allah, tolong bantu hamba keluar dari keadaan yang sulit ini."Tapi apa kamu sempat bertemu Bima

  • Setelah Engkau Mendua   41. Arti Sebuah Penyesalan

    Dengan memendam segenap kekecewaan, Adam berjalan meninggalkan tempat dimana dia dan Nisa berbicara dari hati ke hati.Tiga tahun bukan waktu yang cepat, mencari alasan yang kuat untuk berumah tangga. Itulah yang dilakukannya selama ini pada Nisa. Berawal dari pertemuan di pasar hingga tumbuhlah benih yang kala itu ia sebut pertanda mungkin jodoh. Ia tak langsung menetapkan hati justru memilih untuk mengenal secara diam-diam.Namun kenyataannya, tiga tahun itu tak berguna sebab semua hancur setelah tahu bahwa Nisa lebih berat pada mantan suaminya.Ia pulang membawa kekecewaan. Sampai di rumah, Adam langsung masuk ke kamar, kebetulan di rumahnya ada sang Kakak yang tampak sibuk mempersiapkan beberapa hal menyangkut pernikahannya. Hanum merasa ada yang berbeda, ia segera menyusul Adam ke kamar."Habis dari mana kamu, Dam?""Habis ketemu Nisa di rumah sakit.""Siapa yang sakit?""Mantan suaminya.""Lo, mantan suami Nisa ada di kota ini?"Adam tampak mengangguk, memilih menjatuhkan tubuh

  • Setelah Engkau Mendua   40. Pilihan Hati

    Segera kugendong Dzabir dan menidurkannya di kursi tengah mobil. Lalu di malam buta ini kendaraan yang kunaiki akhirnya membelah langit kelam menuju rumah sakit. Berbagai pertanyaan tak henti menyeruak dalam dada, tentang Mas Bima yang kenapa sampai tiba-tiba koma, juga tentang pernikahanku yang tinggal menghitung hari. Apa sebenarnya yang kuinginkan, benarkah bersama Mas Adam adalah keinginan? Dalam kegundahan hati, keraguan itu semakin jelas. Hanya ribuan doa yang teriring dalam setiap tarikan napas. Berharap Allah bulatkan keinginan untuk memilih yang terbaik. Tetap bersamanya atau menyudahi. Sementara itu, kendaraan roda empat ini terus berputar hingga sampai di depan sebuah rumah sakit, putraku Dzabir ternyata terbangun dari lelapnya tidur. "Bund, kita ada dimana?" "Di rumah sakit, Nak." "Siapa yang sakit?" "Papa." Dia tampak sangat terkejut. Sambil mengecek bola mata, Dzabir bangkit ke posisi duduk bersandar. "Papa sakit apa, Bund?" "Bunda juga belum tahu Nak, kita tany

  • Setelah Engkau Mendua   39. Pada Siapa Hati Mendamba?

    Jantung ini seperti berhenti berdetak saat mendapati Mas Adam berdiri di depan kamar Mas Bima. Tatapannya kini tertuju pada mantan suamiku, membuat pandangan inipun tertoleh ke belakang. Aku membuang napas berat saat menyaksikan Mas Bima hanya memakai singlet dan memakai celana selutut serta memeluk selimut. Bayangan kejadian masa lalu terlintas begitu saja, saat lelaki itu memergokiku tengah bersama Mas Brian. Ingatan tersebut membuat dada seolah tertusuk belati tertajam. "Kata Pak Agung, Pak Bima sakit?" tanya Mas Adam membuyarkan pikiranku. "Hah, iya. Saya kurang enak badan, Pak," jawab Mas Bima terbata. "Tapi sekarang sudah sehat?" "Alhamdulillah sudah agak baikan, Pak Ustadz." "Tapi kenapa calon istri saya ada di sini?" Pandangan Mas Adam kini tertuju padaku. "Tidak baik seorang wanita berada di kamar lelaki yang bukan lagi mahramnya, sekalipun ada anak kecil diantara mereka." Aku hanya bisa menunduk, sungguh dada ini bergemuruh hebat. "Ayo kita pulang, perancang pakai

  • Setelah Engkau Mendua   38. Terluka Dengan Kenyataan

    "Cepat Pa bobok lagi, Bunda udah di luar."Jantungku semakin berdegup kencang."Sekarang jam berapa, Nak?"Dzabir melihat jam, dua netraku juga tertuju ke sana."Sepuluh," ucapnya berbisik. Bersamaan dengan itu terdengar bel kamar berbunyi."Kamu bisa buka pintunya?" tanyaku pada Dzabir."Bisa, Pa."Putraku itu langsung turun dari ranjang dan membuka pintu, dan di sini di atas ranjang jantung semakin bertabuh kencang.Aku harus memejamkan mata dan berpura-pura sakit. Kututup seluruh tubuh dengan selimut, agar berkeringat dan kelihatan benar seperti orang sakit. Dalam selimut, aku mulai membayangkan apa yang kumimpikan tadi. Mengajak Nisa pergi. Sungguh tak mungkin kulakukan sebagai seorang muslim."Bund, Papa ada si kamar, udah nggak sanggup bangun."Jantung seolah turun ke perut. Aku benar-benar gugup."Biar Bunda kasih tahu penjaga hotel, siapa tahu mereka ada stok obat."Hah, aduh gawat. Untuk apa minum obat, sakitnya saja sudah berkurang. "Nggak usah Bund, Papa udah minum obat ko

  • Setelah Engkau Mendua   28. Bertemu Bertiga

    "Bima ada di depan."Sejenak aku terdiam, masih terbayang dengan nyata diingatkan bagaimana kedatangan Mala kemarin kembali menorehkan luka."Bima minta ketemu sama anakmu.""Iya, Bi. Nisa minta tolong Bibi bawakan Dzabir kepada Mas Bima.""Baiklah Nis, biar Bibi bawakan anak ini bertemu ayahnya, kamu n

  • Setelah Engkau Mendua   27. Didatangi Mantan Madu

    Pov Mala"Serangan jantung?"Aku hampir tak percaya mendengar penuturan dokter yang menangani mama mertua, sebab selama ini Mama sudah kerap mengelabui Mas Bima demi untuk membuat lelaki itu mendengar perkataannya. Apa ini yang dimaksud karma? Ah kasihannya mama.Aku dan Mas Bima masuk ke ruangan pemer

  • Setelah Engkau Mendua   26. Diterima atau Ditolak?

    Aku terhenyak mendengar kata-kata Mas Bima. Jujur rasanya bahagia dengan kedatangannya. Meski selama sembilan bulan anakku tak pernah merasakan elusan tangan seorang ayah, atau kecupan dan bisikan sayang yang terlontar dari bibir lelaki bergelar ayah itu. Tapi ketika dia lahir ke dunia, dia dapat me

  • Setelah Engkau Mendua   25. Menikahlah Kembali Denganku

    Pandangan kami saling bertemu, untuk beberapa detik dia tak berkata apapun. Hanya menatapku dan bayi yang tidur di sebelah diri ini.Mengapa kamu kemari? Apa kamu sudah yakin bahwa yang kulahirkan ini adalah darah dagingmu, Mas?Berbagai pertanyaan hanya terucap lirih di dalam kalbu, sebab bibir ini t

더보기
좋은 소설을 무료로 찾아 읽어보세요
GoodNovel 앱에서 수많은 인기 소설을 무료로 즐기세요! 마음에 드는 작품을 다운로드하고, 언제 어디서나 편하게 읽을 수 있습니다
앱에서 작품을 무료로 읽어보세요
앱에서 읽으려면 QR 코드를 스캔하세요.
DMCA.com Protection Status