Share

Bab 4

Penulis: Mulberi Putih
Candra ikut menimpali di sampingnya, “Benar. Semua yang seharusnya menjadi milikmu, tidak akan berkurang sedikit pun.”

Aku menarik sudut bibirku, lalu menjawab dingin, “Aku mengerti.”

Setelah itu aku tak lagi peduli dengan ekspresi mereka. Aku berbalik dan langsung masuk ke dalam vila.

Di lorong, aku berpapasan dengan Santi yang memasang wajah penuh provokasi, dia berkata, “Diana, lihatlah. Semua yang dulu milikmu, sekarang sedang aku rebut sedikit demi sedikit. Kamu senang, kan?”

Aku menarik sudut bibir, terlalu malas untuk menanggapi provokasinya. Aku hanya memutar bola mata, lalu menyelinap masuk ke kamar tidurku dan mengunci pintu rapat-rapat.

Santi tidak membuat keributan lagi. Dia perlahan menuruni tangga.

Peredam suara kamar ini tidak terlalu baik. Saat berbaring di tempat tidur, aku bisa mendengar dengan jelas sorak kegembiraan Santi. “Wow! Kak Arka, bajunya cantik sekali! Benarkah ini kamu desain khusus untukku dan kamu buat sendiri?”

Sikap Santi justru membuat hati ketiga bersaudara itu terasa perih. Mereka semakin iba mengingat penderitaan Santi di masa lalu. Mereka ramai-ramai mengelilinginya, berjanji bahwa ke depannya mereka akan memperlakukan Santi jauh lebih baik dan membuatnya hidup bahagia.

Mendengar semua itu, hatiku terasa amat pahit. Dulu, kata-kata seperti itu juga pernah mereka ucapkan padaku. Namun sekarang, seluruh kebaikan itu diberikan pada orang lain. Dan anehnya, mereka masih mengatakan bahwa mereka peduli padaku.

Tiba-tiba aku merasa penasaran. Jika suatu hari nanti aku benar-benar menjalani operasi dan kehilangan ingatan, bagaimana reaksi mereka?

Saat aku keluar dari kamar tidur, vila yang luas itu telah tenggelam dalam keheningan.

Tak ada siapa pun. Hanya tersisa aku seorang diri. Aku akhirnya menghembuskan napas lega. Ketika mereka semua tidak ada, justru aku merasa jauh lebih bebas.

Dengan langkah pelan, aku mulai mengemas seluruh barang milikku. Sedikit demi sedikit, aku memindahkannya kembali ke vila yang ditinggalkan kakek dan nenek untukku. Beberapa hari terakhir, tubuhku tiba-tiba melemah drastis. Setiap melakukan pekerjaan seperti ini, aku harus berhenti dan beristirahat berkali-kali. Barang-barangku sebenarnya tidak banyak, tetapi tetap saja aku baru selesai memindahkannya menjelang tengah malam.

Tiga bersaudara Keluarga Satria dan Santi belum juga kembali. Esok hari aku masih harus pergi ke rumah sakit untuk pemeriksaan lanjutan. Aku memeluk selimut, lalu langsung tertidur begitu kepalaku menyentuh bantal.

Keesokan paginya, aku terbangun oleh bunyi notifikasi pesan yang bertubi-tubi. Dengan mata setengah terpejam menahan kantuk, aku meraih ponsel dan langsung melihat puluhan foto tiga bersaudara itu mengenakan pakaian renang. Sisa rasa kantukku lenyap seketika.

Pesan dari Santi menyusul tepat setelahnya.

[Ketiga kakak benar-benar baik. Aku bilang bahwa aku belum pernah melihat laut, dan mereka langsung membawaku ke pantai.]

[Diana, kamu sudah lama bersama tiga kakak kaya seperti ini. Bisa-bisanya kamu hanya menganggap mereka sebagai kakak. Kenapa kamu tidak belajar dariku, bagaimana cara membuat mereka bertiga jatuh ke dalam genggamanku?”]

Kata-kata menghina itu membuat dadaku langsung dipenuhi amarah. Tiga bersaudara Keluarga Satria telah memperlakukannya dengan begitu baik, namun dia sama sekali tidak tahu berterima kasih.

Aku pun memejamkan mata, memaksa diri menekan emosi yang bergejolak. Aku tahu, semua yang dia lakukan hanya untuk memancing reaksiku. Jika aku membalasnya, yang menungguku pasti hanya kemarahan tanpa ampun dari ketiga bersaudara itu.

Aku menggerakkan jariku pelan, lalu memblokir nomor Santi. Setelah itu, aku duduk tegak di tempat tidur dan meregangkan tubuh. Toh aku sudah tak bisa tidur lagi, jadi aku memutuskan langsung pergi ke rumah sakit untuk pemeriksaan.

Dokter yang sebelumnya menangani aku sedang menjalankan operasi. Yang mengantarku melakukan CT scan otak hanyalah seorang dokter magang. Tatapannya ke arahku terasa aneh. Saat kutanya ada apa, dia hanya menggeleng tanpa berkata apa pun. Dengan penuh kebingungan, aku menyelesaikan pemeriksaan. Setelah hasilnya keluar, aku langsung pulang.

Begitu turun dari mobil, kepalaku tiba-tiba terasa nyeri hebat. Tubuhku limbung, hampir terjatuh. Sebuah tangan putih pucat menopangku. Pada saat yang sama, obat khusus yang diresepkan dokter langsung direnggut dari tanganku.

Aku mendongak, dan mendapati Santi berdiri di hadapanku, menatap obat-obatan itu dengan senyum penuh ejekan. Lalu dia berkata santai, “Kak Diana, aku dengar kabar dari temanku yang magang di rumah sakit. Katanya di kepalamu tumbuh tumor yang besar sekali. Kalau tidak segera dioperasi, sebentar lagi kamu akan mati, kan?”

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Setelah Hilang Ingatan, Teman Masa Kecilku Menggila   Bab 10

    “Kamu sudah lama tahu Diana sakit. Obat yang kamu jatuhkan di depan kami hari itu adalah obat khusus untuk Diana! Santi, kami sudah memperlakukanmu sebaik itu. Kenapa kamu tega memperlakukan Diana seperti ini?”Wajah Arka dan Nando pun berubah drastis. Mereka segera merebut dan membaca berkas hasil penyelidikan itu. Setiap kali membalik satu halaman, warna wajah mereka semakin memudar. Di bagian akhir, tubuh mereka bahkan gemetar tak terkendali.Saat melakukan semua itu, mungkin mereka merasa wajar. Namun ketika semuanya dicatat dengan rinci, barulah mereka menyadari betapa dalam luka yang telah mereka torehkan padaku.Aku menatap dingin wajah mereka yang penuh penyesalan, dan hanya merasa geli. Saat masih ada kesempatan untuk menyayangi, mereka tidak menghargainya. Kalau sekarang menyesal, untuk siapa penyesalan itu?Aku pun mendorong kursi rodaku, hendak pergi. Namun Santi yang tergeletak tidak jauh dariku tiba-tiba bangkit dan menerjang ke arahku sambil berteriak histeris, “Bukankah

  • Setelah Hilang Ingatan, Teman Masa Kecilku Menggila   Bab 9

    Santi bergegas menghampiri mereka dengan wajah penuh kekhawatiran dan bertanya, “Kakak-kakak, kalian pergi ke mana saja beberapa hari ini?”“Aku benar-benar khawatir pada kalian! Apa Kak Diana sudah kembali? Di mana dia sekarang?”“Aku tahu dia marah karena kalian baik padaku, tapi pergi dari rumah tanpa sepatah kata pun seperti ini sungguh kekanak-kanakan. Kakak-kakak jangan marah, ya.”Mendengar perkataan Santi, ketiga bersaudara itu tidak lagi menunjukkan ekspresi menyalahkan seperti biasanya, malah terlihat agak marah.Santi sedikit panik, tanpa sadar memasang raut wajah menyanjung. “Lagipula Kak Diana sedang sakit, wajar kalau dia jadi agak temperamental.”Wajah Arka langsung berubah. Ia tiba-tiba mencengkeram kerah baju Santi. “Bagaimana kamu tahu Diana sakit? Apa yang sudah kamu lakukan padanya?”Ekspresi Santi sempat terdistorsi sesaat, lalu ia kembali memasang wajah menyedihkan itu.“Kak Arka, aku juga baru tahu. Temanku sedang magang di rumah sakit, dia bilang Kak Diana punya

  • Setelah Hilang Ingatan, Teman Masa Kecilku Menggila   Bab 8

    Beberapa orang itu saling tarik-menarik dengan sangat kacau, namun tetap berusaha mencari celah untuk menerobos masuk ke ruang rawat inap. Keributan yang mereka buat menarik perhatian pasien di kamar-kamar sekitar, akibatnya banyak orang keluar untuk menonton.Aku yang tidak tahan, akhirnya berkata dengan wajah dingin, “Biarkan mereka masuk.”Para pengawal pun berhenti bergerak dan melepaskan tangan mereka.Candra melotot ke arah para pengawal dan berkata dengan angkuh, “Kami ini Keluarga Satria. Siapa tahu nanti salah satu dari kami akan menikahi Diana. Kalian berani bersikap seperti ini pada kami, awas nanti dipecat!”Mendengar itu aku justru tertawa dingin karena kesal. “Pamer kuasa di depan kamarku? Aku bahkan tidak kenal kalian, atas dasar apa aku harus menikahi kalian?”Nando lebih dulu berlari ke hadapanku, mencoba menggenggam tanganku, tapi aku menghindar. Matanya jadi merah, seolah baru saja menanggung penderitaan besar.“Diana, aku sudah tanya dokter. Dokter bilang operasi in

  • Setelah Hilang Ingatan, Teman Masa Kecilku Menggila   Bab 7

    Raut wajah Nando berubah, ia langsung berdiri dan berjalan keluar. Arka dan Candra pun menyadari hal itu, lalu segera bergegas menuju bandara. Mereka harus segera berada di samping Diana, dan menemani Diana melewati masa tersulit untuk menebus dosa mereka kepadanya.…Saat kesadaranku kembali setelah operasi, waktu sudah berlalu tiga hari. Bibi mengenakan pakaian steril dan berjaga di sampingku. Begitu melihatku bangun, air matanya langsung jatuh.“Diana, sakit tidak?”Aku menyeringai sambil tersenyum. “Kalau masih bisa hidup, berarti tidak sakit.”Bibi tertawa kecil sambil menangis, lalu berkata, “Diana pasti panjang umur!”Operasinya sangat berhasil. Dokter mengatakan aku mungkin akan mengalami kehilangan ingatan, tetapi untuk sementara semua orang yang kulihat masih kukenal. Meski memang terasa ada beberapa hal yang tidak bisa kuingat, aku juga tidak berniat mengingatnya kembali. Bahkan, aku merasa melupakan semuanya justru membuatku lebih bahagia.Setelah melewati masa kritis, aku

  • Setelah Hilang Ingatan, Teman Masa Kecilku Menggila   Bab 6

    (Sudut Pandang Orang Ketiga)Operasi masih berlangsung.Di luar ruang operasi, bibi berdiri dengan cemas. Ponsel milik Diana yang ada di tangannya terus berdering tanpa henti, membuat suasana semakin menyesakkan. Melihat nama tiga bersaudara Keluarga Satria muncul berulang kali di layar, bibi akhirnya tak tahan lagi dan mengangkat telepon itu.Namun yang menyusul kemudian adalah makian tanpa ampun.“Kalian jangan menelepon lagi! Dan jangan pernah mengganggu keponakanku lagi! Dia tumbuh besar bersama kalian, demi kalian, nyawanya hampir melayang! Kalian masih punya muka untuk meneleponnya?”“Kalau hati nurani kalian belum dimakan anjing, seharusnya kalian berlutut dan bertobat setiap hari untuk menebus dosa kalian!”Usai berkata demikian, bibi langsung menutup panggilan....Di ujung telepon sana, ketiga bersaudara itu saling memandang. Wajah mereka dipenuhi kepanikan yang belum pernah ada sebelumnya. Wajah Arka pucat pasi. Dengan bibir yang kehilangan warna, dia menoleh kaku ke arah sa

  • Setelah Hilang Ingatan, Teman Masa Kecilku Menggila   Bab 5

    Aku menggertakkan gigi, menatap obat di tangannya tanpa berkedip. “Santi, kembalikan obat itu padaku!”Seolah melihat dengan jelas penderitaanku, Santi justru memutar tutup botol obat, menuangkan dua pil ke telapak tangannya, lalu mundur dua langkah. Bibirnya melengkung tipis saat dia mengeluarkan suara panggilan seperti memanggil anjing. “Diana, sini merangkak dan mohon padaku. Dengan begitu, aku akan memberikannya.”Tak ada seorang pun yang sanggup menahan provokasi semacam itu, terlebih lagi saat akal sehatku hampir sepenuhnya dilahap oleh rasa sakit. Amarah langsung meledak dari dadaku. Aku berteriak serak dan menerjang ke arahnya untuk merebut obat itu.Namun entah disengaja atau tidak, saat Santi mundur, seluruh obat milikku justru dilemparkannya ke dalam air mancur kecil di lobi rumah sakit. Dia memasang wajah menyesal, tetapi sorot matanya dipenuhi cahaya provokatif yang semakin terang.Aku tak kuasa menahan diri dan mengangkat tangan, namun sebelum sempat melakukan apa pun, se

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status