LOGINNaura sudah duduk di sudut kafe dengan secangkir kopi yang sudah lama kehilangan uapnya. Tatapannya kosong, menembus kaca jendela tanpa benar - benar melihat apa pun.
Pikirannya berputar pada satu pertanyaan yang sejak tadi tak berhenti menghantuinya. Apa kurangnya aku??? Ia menikah muda atas dasar cinta. Meninggalkan ambisi kariernya demi menjadi istri yang sepenuh hati mendampingi suami. Ia setia. Ia menjaga rumah tangga mereka baik - baik saja. Ia berusaha menjadi pasangan yang tidak menuntut. Lalu mengapa Farhan tetap berpaling? Apakah karena lima tahun pernikahan mereka belum juga dikaruniai anak? Dadanya terasa sesak setiap kali memikirkan kemungkinan itu. “Dor!!!!” Naura tersentak. “Naura! Kamu kenapa melamun sih? Awas kesambet nanti,” ujar Iris sambil tertawa kecil, lalu menarik kursi dan duduk di depannya. Naura menghela napas pelan sebelum memaksakan senyum. “Hai, Iris. Apa kabar? Kamu tuh nggak hilang - hilang kebiasaan lamamu ya, masih suka ngagetin orang.” Iris mengangkat bahu santai. “Ya ampun, refleks. Tapi serius, kamu kenapa? Mukamu beda.” “Aku baik - baik saja,” jawab Naura cepat. Iris menyipitkan mata, menatapnya tajam. “Yakin? Soalnya wajah kamu nggak kelihatan seperti orang yang baik - baik saja. Harusnya kamu lagi bahagia - bahagianya dong. Semalam kan kamu dan Mas Farhan merayakan anniversary yang kelima.” Ia tersenyum hangat. “Maaf ya aku nggak datang, ada urusan kerja mendadak.” Naura terdiam sejenak. Anniversary. Kata itu yang seharusnya terasa manis kini justru seperti ironi. “Iya nggak apa - apa,” jawabnya pelan. “Acara kecil kok.” Iris memperhatikan sorot mata sahabatnya yang tidak seterang biasanya. “Naura,” suaranya kini lebih lembut, “ada apa sebenarnya?” Naura menunduk, memainkan sendok kecil di atas piring. Tangannya gemetar tipis. “Iris.” suaranya lirih. “Menurut kamu kalau suami selingkuh itu biasanya karena apa?” Pertanyaan itu membuat Iris terdiam. “Apa?” tanyanya pelan, memastikan ia tidak salah dengar. Naura mengangkat wajahnya. Matanya sudah berkaca - kaca, tapi ia masih berusaha tersenyum. “Kalau seorang istri sudah berusaha setia, sudah meninggalkan kariernya, sudah mendampingi suaminya dari nol tapi tetap saja dia berpaling itu biasanya karena apa?” Iris langsung menggenggam tangan Naura di atas meja. “Farhan?” bisiknya hati - hati. Naura tidak langsung menjawab. Namun diamnya sudah cukup menjadi jawaban. “Kalian bertengkar?” tanya Iris lagi. Naura menggeleng pelan. “Tidak ada pertengkaran. Tidak ada suara keras. Justru itu yang aneh. Semuanya terlihat baik - baik saja.” Ia menarik napas dalam. “Tapi aku melihatnya sendiri, Iris.” Suaranya akhirnya pecah. “Semalam. Di rooftop. Dia bersama wanita lain.” Iris sangatlah membeku. Naura melanjutkan dengan suara bergetar, “Aku bahkan sempat bertanya - tanya, apa karena aku belum bisa memberinya anak? Lima tahun, Iris. Lima tahun aku berharap. Setiap bulan kecewa. Apa mungkin dia telah lelah menunggu?” Air mata yang sejak tadi ditahan akhirnya jatuh. Iris menggenggam tangannya lebih erat. “Hei. Jangan pernah menyalahkan diri sendiri atas pilihan buruk orang lain.” Naura tertawa kecil, pahit. “Tapi kalau memang ada yang kurang dariku?” “Tidak.” Iris menatapnya tegas. “Perselingkuhan itu bukan soal kurang atau lebih. Itu soal pilihan. Dan dia memilih untuk tidak setia. Itu tanggung jawabnya, bukan kegagalanmu.” Naura terdiam. Kata - kata itu terasa menenangkan, tapi luka di dadanya belum juga mereda. Untuk pertama kalinya, ia mengucapkan kebenaran itu dengan lantang pada orang lain. Suamiku mungkin sudah tidak lagi hanya milikku saja. Dan mengatakannya ternyata jauh lebih menyakitkan daripada memikirkannya sendirian. Kafe itu tetap ramai, tapi bagi Naura, dunia seolah mengecil hanya pada meja kecil tempat ia dan Iris duduk berhadapan. Iris menggeser kursinya lebih dekat. “Farhan tahu kalau kamu melihatnya?” Naura menggeleng pelan. “Tidak. Aku tanya soal telepon klien dan dia berbohong dengan tenang.” Bibirnya bergetar tipis. “Tenang sekali sampai aku hampir ingin mempercayainya.” Iris menarik napas panjang. “Sekarang dia ada di mana?” “Katanya ke luar kota. Dua hari.” Naura tersenyum hambar. “Lucunya, wanita itu semalam bilang waktunya bersama Farhan sampai lusa.” Iris langsung menegang. “Berarti besar kemungkinan mereka pergi bersama.” Kalimat itu seperti palu yang menghantam dada Naura sekali lagi. Meski ia sudah menduganya, mendengar orang lain mengucapkannya membuat semuanya terasa lebih nyata. “Aku tidak tahu harus bagaimana, Ris,” bisiknya. “Aku takut kalau aku konfrontasi, semuanya benar - benar hancur. Tapi kalau aku diam saja rasanya aku yang hancur pelan - pelan.” Iris menatapnya lekat - lekat. “Kamu masih cinta sama dia?” Pertanyaan itu membuat Naura terdiam lama. “Aku aku tidak tahu,” jawabnya jujur. “Aku cinta pria yang menikahiku lima tahun lalu. Yang menggenggam tanganku dan berjanji akan setia. Tapi pria yang sekarang.” Ia menelan ludah. “Aku tidak yakin aku mengenalnya lagi.” Iris mengangguk pelan. “Naura, kamu berhak atas kejujuran. Dan kamu juga berhak bahagia. Jangan bertahan hanya karena sudah lima tahun. Lima tahun itu bukan penjara.” Naura tersenyum tipis. “Aku takut sendirian.” “Kamu tidak sendirian.” Iris menggenggam tangannya lebih erat. “Kamu punya aku. Dan kamu punya dirimu sendiri. Itu lebih kuat dari yang kamu kira.” Naura menatap sahabatnya dengan mata berkaca - kaca. Untuk pertama kalinya sejak semalam, ia merasa tidak sepenuhnya runtuh. “Aku ingin bukti,” ucapnya pelan. “Bukan untuk marah. Tapi untuk memastikan aku tidak gila.” Iris berpikir sejenak. “Kalau memang dia ke luar kota, pasti ada tiket. Hotel. Atau sesuatu yang bisa kamu cek.” Naura teringat sesuatu. “Aku tahu password email kerjanya. Dulu dia sendiri yang memberiku.” Iris mengangkat alis. “Kamu yakin mau buka itu? Kadang kebenaran lebih menyakitkan daripada dugaan.” Naura terdiam. Menyakitkan, ya. Tapi hidup dalam kebohongan jauh lebih menakutkan. “Aku sudah melihat mereka berciuman, Ris,” katanya pelan namun tegas. “Sepertinya tidak ada lagi yang lebih menyakitkan dari itu.” Iris menghela napas. “Kalau begitu, jangan cari bukti untuk menyiksa diri. Cari untuk menentukan langkah.” Langkah. Kata itu menggema di kepala Naura. Selama ini ia selalu mengikuti langkah Farhan menikah muda karena ia siap, berhenti bekerja karena ia meminta, menunda rencana - rencana pribadinya demi rumah tangga mereka. Mungkin untuk pertama kalinya, ia harus menentukan langkahnya sendiri. Naura mengusap air matanya, lalu meraih tasnya. “Aku tidak akan membuat keputusan hari ini,” ucapnya lebih mantap. “Tapi aku juga tidak akan pura - pura tidak tahu.” Iris tersenyum bangga. “Itu Naura yang aku kenal.” Naura menatap keluar jendela. Langit siang tampak cerah, kontras dengan badai yang masih berputar di dalam dadanya. Jika benar Farhan telah memilih perempuan lain. Maka kali ini, ia tidak akan memohon untuk dipilih. Ia akan memilih dirinya sendiri. "Ngomong - ngomong kamu tahu siapa wanita itu?" "Gak soalnya semalam terlalu gelap dan tidak terlalu jelas siapa dia." "Apa mungkin sekretarisnya?" "Mana mungkin aku sudah kenal dia lama banget dan dia pasti kasih tahu aku kalau ada hal yang aneh sama mas Farhan." Naura menggeleng. “Tidak. Semalam terlalu gelap. Aku cuma bisa melihat siluetnya dan terlalu jelas melihat apa yang mereka lakukan.” Suaranya melemah di akhir kalimat. Iris mengernyit. “Kamu nggak lihat wajahnya sama sekali?” “Tidak jelas. Rambutnya panjang. Tubuhnya tinggi dan ramping. Dia terlihat percaya diri.” Ada nada getir saat Naura mengucapkan kata terakhir itu. “Seolah dia tahu dia berhak berada di sana.” Iris terdiam sejenak, lalu berkata pelan, “Apa mungkin sekretarisnya?” Naura langsung menggeleng lebih tegas. “Tidak mungkin. Aku sudah kenal dia lama sekali. Dia bahkan sering ke rumah. Kalau ada hal aneh dengan Mas Farhan, aku yakin dia tidak akan diam.” Ia berhenti sejenak, lalu menambahkan dengan ragu, “Setidaknya aku ingin percaya begitu.” Iris menatapnya tajam. “Naura, jangan terlalu cepat menaruh kepercayaan penuh pada siapa pun hanya karena kamu merasa mengenalnya.” Naura terdiam. Ada benarnya juga. “Tapi ini terasa berbeda, Ris,” lanjutnya pelan. “Wanita itu bicara seolah mereka sudah lama bersama. Bukan hubungan yang baru kemarin dimulai.” “Kamu dengar mereka bicara?” Iris makin serius. Naura mengangguk. “Dia bilang waktunya bersama Farhan sampai lusa.” Tangannya kembali mengepal di atas meja. “Kalimat itu masih terngiang - ngiang di kepalaku.” Iris menghela napas panjang. “Kalau begitu, ini bukan sesuatu yang spontan. Ini terencana.” Kata itu membuat jantung Naura berdebar lebih cepat. Terencana. Berarti bukan khilaf. Bukan salah langkah sesaat. Tapi pilihan yang diulang. “Apa selama ini kamu merasa ada yang berubah dari Farhan?” tanya Iris lembut. Naura berpikir. “Beberapa bulan terakhir dia memang sering pulang lebih malam. Katanya banyak proyek. Kadang juga lebih protektif dengan ponselnya. Tapi aku tidak pernah curiga. Aku pikir memang pekerjaannya sedang sibuk.” “Dan sekarang semuanya terasa masuk akal,” gumam Iris. Naura tersenyum pahit. “Iya. Potongan - potongan kecil yang dulu terlihat biasa saja. Sekarang seperti membentuk satu gambar besar yang tidak ingin kulihat.” Iris menyandarkan tubuhnya. “Ada kemungkinan wanita itu dari lingkaran bisnisnya. Atau seseorang yang baru ia kenal.” Naura menatap cangkir kopinya yang hampir tak tersentuh. “Yang paling menyakitkan bukan siapa dia, Ris. Tapi fakta bahwa Farhan cukup nyaman untuk berbohong di depanku.” Iris mengangguk pelan. “Kamu berencana menyelidiki lebih jauh?” Naura terdiam, lalu menjawab dengan suara lebih mantap, “Aku tidak ingin menjadi istri yang paranoid. Tapi aku juga tidak mau menjadi istri yang dibohongi tanpa tahu apa - apa.” Ia mengangkat wajahnya, sorot matanya kini tidak hanya dipenuhi luka ada tekad tipis yang mulai tumbuh. “Aku akan cari tahu. Bukan untuk merebut dia kembali.” Ia menelan ludah. “Tapi untuk tahu apakah pernikahanku masih layak diperjuangkan.” Iris tersenyum tipis, bangga sekaligus khawatir. “Kalau kamu butuh bantuan, aku di pihakmu.” Naura menggenggam tangan sahabatnya sekali lagi. Kali ini, bukan hanya sebagai istri yang terluka. Tapi sebagai perempuan yang mulai membuka mata terhadap kenyataan. Iris menatap Naura beberapa saat, seolah sedang menimbang sesuatu dalam pikirannya. “Dan, Naura.” suaranya berubah lebih serius, “coba kamu pikirkan lagi. Kalau kamu benar - benar ingin tahu seberapa busuknya Farhan dan butuh bukti perselingkuhannya aku bisa membantumu.” Naura mengangkat wajahnya perlahan. “Maksud kamu?”POV NauraMalam itu, setelah sampai di rumah, Naura langsung disambut oleh Jolina yang sedang duduk di ruang keluarga."Kamu baru pulang?""Iya, Bu."Naura meletakkan tasnya di sofa lalu duduk di samping ibunya."Bagaimana acara bisnis tadi?""Berjalan lancar.""Naura juga bertemu teman lama."Jolina tersenyum penasaran."Teman lama?""Iya.""Namanya Harsa.""Dulu teman sekelas waktu SMA."Jolina memperhatikan wajah putrinya."Harsa?""Iya.""Dia orang yang baik?"Naura berpikir sebentar."Menurutku iya.""Dia sopan, tenang, dan profesional.""Enak diajak berdiskusi."Jolina tersenyum kecil."Sudah lama Ibu tidak melihat kamu bercerita tentang seseorang tanpa terlihat sedih."Naura terdiam.Ia tahu maksud ibunya.Dulu hampir semua cerita dalam hidupnya selalu be
POV NauraHarsa menutup panggilan teleponnya, lalu kembali menghampiri Naura."Maaf membuatmu menunggu.""Tidak apa-apa."Naura tersenyum tipis."Urusan kantor?"Harsa mengangguk."Iya.""Cabang perusahaan di Singapura sedang mempersiapkan proyek baru.""Kadang perbedaan waktu membuat pekerjaan tidak bisa benar-benar ditinggalkan."Naura terkekeh pelan."Sepertinya kita senasib.""Bedanya, aku sering dimarahi Ayah kalau terlalu sibuk."Harsa ikut tertawa."Kalau aku dimarahi Mama."Mereka saling tersenyum.Suasana terasa ringan.Tidak canggung, tetapi juga tidak terlalu akrab.Tak lama kemudian, Noel berjalan menghampiri mereka."Maaf mengganggu.""Kalian sedang mengobrol?"Harsa langsung mengulurkan tangannya dengan sopan."Selamat sore, Pak Noel.""Saya Harsa Pratama."
POV NauraTiga hari kemudian.Ballroom sebuah hotel internasional di Jakarta tampak dipenuhi para pengusaha dari berbagai negara.Hari itu merupakan pembukaan Business Summit Asia, sebuah forum bisnis yang mempertemukan perusahaan-perusahaan besar untuk berbagi pengalaman, inovasi, dan peluang kerja sama.Naura tiba bersama Noel.Keduanya disambut oleh panitia."Selamat datang, Bu Naura. Selamat datang, Pak Noel.""Terima kasih."Setelah melakukan registrasi, mereka dipersilakan menuju ruang VIP sebelum acara dimulai.Di dalam ruangan, beberapa tokoh bisnis telah lebih dulu hadir.Noel menepuk pelan bahu putrinya."Gugup?"Naura tersenyum tipis."Sedikit.""Padahal dulu kamu berani menghadapi hakim di ruang sidang.""Sekarang malah gugup di depan para pengusaha."Naura tertawa kecil."Itu beda, Yah.""Kali ini aku membawa n
POV NauraSetelah sesi diskusi berakhir, para tamu undangan dipersilakan menikmati jamuan makan malam yang telah disiapkan oleh panitia.Suasana ballroom kembali dipenuhi obrolan hangat.Para pengusaha saling bertukar kartu nama dan membahas peluang kerja sama.Naura berdiri di dekat meja prasmanan sambil mengambil segelas jus jeruk.Baru saja ia hendak berbalik, seseorang berdiri di sampingnya."Boleh saya bergabung?"Naura menoleh.Ternyata Harsa."Tentu."Harsa mengambil segelas air mineral, lalu berdiri di samping Naura."Selamat sekali lagi atas pencapaian perusahaanmu.""Aku sempat membaca beberapa artikel tentang PT Adiguna Bangun Sejahtera.""Perkembangannya sangat pesat."Naura tersenyum sopan."Terima kasih.""Semuanya berkat kerja keras tim."Harsa terkekeh pelan."Irene benar."Naura mengernyit.
POV NauraAcara reuni pun akhirnya selesai.Satu per satu alumni mulai meninggalkan ballroom hotel.Naura berdiri di depan pintu masuk sambil menunggu mobilnya yang sedang dibawakan oleh petugas valet.Irene menghampirinya sambil membawa sebuah goodie bag berisi kenang-kenangan reuni."Nih, jangan sampai ketinggalan."Naura menerimanya sambil tersenyum."Terima kasih.""Kapan-kapan kita harus ketemu lagi, ya.""Pasti.""Tapi jangan nunggu reuni sepuluh tahun lagi."Naura terkekeh pelan."Iya, Bu Irene."Mereka kembali tertawa bersama.Tak lama kemudian, sebuah mobil sedan hitam berhenti di depan mereka.Seorang petugas turun dan menyerahkan kunci mobil kepada Naura."Terima kasih."Naura membuka pintu mobil, tetapi sebelum masuk ia kembali menoleh kepada Irene."Ren.""Hm?""Kalau nanti ketemu Harsa lagi..
POV NauraSetelah berpamitan dengan Farhan dan Nadya, Naura berjalan menuju area rooftop hotel yang memang disiapkan sebagai tempat berkumpul para alumni.Dari kejauhan terdengar suara tawa dan obrolan hangat.Beberapa teman sedang mengenang masa-masa SMA.Ada yang saling bertukar kabar, ada pula yang asyik mengabadikan momen dengan ponsel mereka.Naura tersenyum.Sudah lama sekali ia tidak merasakan suasana seperti ini.Begitu melihat Irene, ia melambaikan tangan."Irene!""Di sini!"Naura mempercepat langkahnya.Namun karena terlalu fokus melihat sahabatnya, ia tidak menyadari seseorang sedang berjalan dari arah berlawanan.Brak!"Aduh!"Naura hampir kehilangan keseimbangan.Untungnya ia sempat memegang pagar pembatas rooftop."Astaga maaf."Belum sempat ia mengangkat kepala, terdengar suara seorang pria yang terdengar kesal.
Naura tanpa sadar terlalu banyak bercerita tentang pernikahannya dengan Farhan. Dari awal mereka menikah muda, lima tahun menjalani rumah tangga bersama, hingga akhirnya Farhan ketahuan berselingkuh dan ia tetap mencoba memberikan kesempatan kedua.“Aku tidak menyangka Farhan sudah menya
Tahun pertama pernikahan mereka terasa seperti mimpi. Farhan masih sering pulang tepat waktu. Mereka makan malam bersama, tertawa pada hal-hal sederhana, dan sesekali pergi berlibur singkat ke luar kota. Semua terasa cukup. Semua terasa utuh. Naura berusaha menjadi istri yang sempurna ban
Naura menatap kosong ke arah jendela. Pikirannya melayang jauh kembali ke masa ketika semuanya belum serumit ini. Ke awal. Ke Farhan. Ia pertama kali mengenal Farhan saat masih duduk di bangku SMP. Sore itu, rumahnya lebih ramai dari biasanya. Aroma teh hangat dan kue buatan ibunya meme
“Aku kenal seseorang detektif swasta,” lanjut Iris pelan. “Dia profesional. Tidak sembarangan. Kalau memang ada sesuatu, dia pasti bisa menemukan jejaknya.” Kata detektif swasta membuat jantung Naura berdegup lebih cepat. Selama ini, perselingkuhan itu masih berupa potongan adegan di rooftop,







