Share

4. saran

last update publish date: 2026-03-30 09:59:32

“Aku kenal seseorang detektif swasta,” lanjut Iris pelan.

“Dia profesional. Tidak sembarangan. Kalau memang ada sesuatu, dia pasti bisa menemukan jejaknya.”

Kata detektif swasta membuat jantung Naura berdegup lebih cepat.

Selama ini, perselingkuhan itu masih berupa potongan adegan di rooftop, dugaan, dan kebohongan yang belum terbongkar sepenuhnya. Menggunakan jasa detektif berarti ia benar - benar siap membuka semua kemungkinan termasuk kenyataan yang mungkin lebih pahit dari yang ia bayangkan.

“Ris.” Naura menarik napas panjang. “Kalau aku melakukan itu, artinya aku sudah tidak percaya lagi padanya.”

Iris menggeleng pelan. “Bukan begitu. Artinya kamu ingin kebenaran. Dan kamu berhak atas itu.”

Naura terdiam. Tangannya kembali memainkan ujung tasnya, kebiasaan yang selalu ia lakukan saat gelisah.

“Aku takut,” akunya jujur.

“Takut karena hasilnya?” tanya Iris lembut.

Naura mengangguk. “Kalau ternyata benar aku tidak tahu apakah aku cukup kuat menghadapinya.”

Iris menggenggam tangannya. “Justru karena itu kamu perlu kepastian. Supaya kamu tidak hidup dalam prasangka dan kecemasan setiap hari. Bayangkan kalau kamu memilih diam, tapi terus curiga. Itu lebih melelahkan.”

Naura menunduk, mencerna setiap kata sahabatnya.

“Pikirkan baik - baik,” lanjut Iris. “Aku tidak memaksamu. Ini keputusan besar. Besok saja kamu kabari aku. Kalau kamu mau lanjut, aku atur pertemuannya.”

Hening sejenak menyelimuti mereka.

Naura menatap keluar jendela. Orang - orang berlalu lalang tanpa tahu bahwa di dalam dirinya sedang terjadi perang besar antara cinta dan harga diri.

“Aku tidak pernah membayangkan hidupku sampai di titik ini,” gumamnya lirih.

Iris tersenyum tipis. “Tidak ada yang menikah dengan rencana menyewa detektif untuk suaminya.”

Kalimat itu membuat Naura tersenyum kecil, meski matanya masih sembap.

“Tapi satu hal yang pasti,” lanjut Iris tegas, “apa pun keputusanmu nanti, jangan pernah merasa kamu yang kurang. Kesetiaan itu pilihan. Dan kalau Farhan memilih jalan lain, itu bukan karena kamu gagal menjadi istri.”

Naura menarik napas panjang, lalu mengangguk pelan.

“Baiklah,” ucapnya akhirnya. “Beri aku waktu sampai besok.”

Untuk pertama kalinya sejak semalam, ia merasa memiliki sedikit kendali atas hidupnya.

Besok.

Besok mungkin akan menjadi awal dari akhir atau awal dari keberanian yang selama ini ia pendam.

Malam itu, sepulang dari kafe, Naura tidak langsung menyalakan lampu ruang tamu.

Rumah terasa sunyi. Terlalu sunyi untuk rumah yang katanya dipenuhi cinta.

Ia meletakkan tasnya perlahan, lalu duduk di sofa. Matanya menatap kosong ke arah dinding tempat foto pernikahan mereka tergantung senyum lebar, janji suci, dan harapan yang dulu terasa begitu utuh.

“Lima tahun.” bisiknya pelan.

Lima tahun bukan waktu yang sebentar. Ada tawa, ada tangis, ada doa - doa panjang yang ia panjatkan setiap malam agar segera diberi keturunan. Ada pengorbanan yang tidak pernah ia hitung.

Tapi apakah semua itu cukup?

Ponselnya bergetar.

Pesan dari Farhan.

Aku sudah sampai. Rapat mungkin langsung mulai malam ini. Jangan tunggu aku tidur ya.

Naura menatap layar itu lama.

Biasanya, ia akan membalas dengan kalimat penuh perhatian. Hati - hati ya, Mas. Jangan lupa makan. Atau Semangat kerjanya.

Namun kali ini jarinya terasa berat.

Ia mengetik perlahan.

Baik. Jaga kesehatan.

Singkat. Netral. Tidak ada emotikon hati seperti biasanya.

Tak lama, centang dua biru muncul. Tapi tidak ada balasan.

Naura tersenyum tipis. Entah Farhan benar - benar sibuk atau sedang bersama seseorang.

Malam semakin larut. Ia masuk ke kamar utama kamar yang semalam terasa begitu asing. Di atas nakas, kotak jam tangan pemberiannya sudah tidak ada.

Berarti Farhan membawanya.

Ada rasa getir yang sulit dijelaskan. Hadiah itu ia berikan dengan kalimat penuh makna. Entah Farhan memahaminya atau tidak.

Naura duduk di tepi ranjang, lalu memejamkan mata.

Bayangan rooftop itu kembali muncul. Tangan Farhan di pinggang wanita itu. Bibir yang saling bertemu. Kalimat waktumu bersamaku sampai lusa.

Dadanya kembali sesak.

Ia membuka mata dan meraih ponselnya lagi. Membuka galeri. Foto - foto mereka. Liburan pertama setelah menikah. Tertawa di bawah hujan. Makan sederhana di awal karier Farhan.

Apakah semuanya palsu?

Atau cinta memang bisa berubah tanpa permisi?

Air matanya jatuh lagi, tapi kali ini ia tidak terisak. Tangisnya lebih sunyi. Lebih dewasa.

Sekitar tengah malam, ia berdiri dan berjalan menuju ruang kerja kecil di rumah. Ia duduk di depan laptop.

Tangannya menggantung di atas keyboard.

Email Farhan.

Password itu masih ia ingat.

Ini adalah batas.

Kalau ia masuk ke sana, ia tidak akan bisa kembali menjadi istri yang polos dan percaya sepenuhnya.

Naura menarik napas panjang lalu menutup laptopnya kembali.

“Besok,” bisiknya pada diri sendiri.

Ia tidak ingin membuat keputusan dalam keadaan emosi.

Pagi datang lebih cepat dari yang ia harapkan.

Sinar matahari masuk melalui tirai tipis. Naura bangun dengan perasaan yang lebih tenang bukan karena lukanya hilang, tapi karena ia sudah menerima satu hal :

Ia tidak bisa terus hidup dalam ketidakpastian.

Ponselnya bergetar.

Pesan dari Iris.

Jadi ?

Hanya satu kata. Tapi cukup membuat jantungnya berdebar.

Naura menatap layar itu lama.

Lalu ia mengetik perlahan, dengan tangan yang kini tidak lagi gemetar.

Kita temui detektif itu.

Begitu pesan terkirim, ada sesuatu dalam dirinya yang berubah.

Ia tidak lagi hanya seorang istri yang menunggu kepulangan suami.

Ia adalah perempuan yang sedang bersiap menghadapi kebenaran apa pun bentuknya.

Siang itu, Naura duduk di dalam mobil Iris dengan jantung berdebar lebih cepat dari biasanya.

Gedung yang mereka tuju tidak terlalu mencolok sebuah ruko tiga lantai di sudut jalan yang tidak terlalu ramai. Tidak ada papan nama besar, hanya plakat kecil bertuliskan:

Konsultan Investigasi & Legal

“Masih bisa mundur,” ujar Iris pelan sambil mematikan mesin mobil.

Naura menatap lurus ke depan. Tangannya menggenggam tas di pangkuannya erat - erat.

“Aku sudah terlalu jauh untuk mundur,” jawabnya akhirnya.

Mereka masuk ke dalam. Ruangannya sederhana, bersih, dengan aroma kopi yang samar. Seorang pria berusia sekitar empat puluh tahunan berdiri saat mereka masuk.

“Selamat siang. Saya Arga,” katanya tenang.

Iris mengangguk. “Ini yang tadi saya ceritakan.”

Arga mempersilakan mereka duduk. Tatapannya profesional, tidak menghakimi, tidak juga terlalu ingin tahu.

“Apa yang bisa saya bantu, Bu?”

Naura menelan ludah. Untuk pertama kalinya ia harus mengucapkan kecurigaannya secara resmi, bukan hanya pada sahabatnya.

“Saya ingin memastikan apakah suami saya berselingkuh.”

Kalimat itu keluar lebih mantap dari yang ia kira.

Arga mengangguk pelan, seolah kalimat seperti itu bukan hal baru baginya. “Apakah Ibu memiliki alasan kuat untuk mencurigainya?”

Naura menceritakan semuanya. Tentang rooftop. Tentang kebohongan perjalanan luar kota. Tentang kalimat sampai lusa.

Arga mencatat beberapa poin penting.

“Perjalanan dua hari, ya? Kota tujuan yang disebutkan?”

“Bandung,” jawab Naura singkat.

“Baik. Kami bisa mulai dengan verifikasi penerbangan, hotel, dan pergerakan beliau. Biasanya dalam 24 sampai 48 jam sudah ada gambaran awal.”

Jantung Naura kembali bergetar.

“Kalau memang benar?” tanyanya pelan.

Arga menatapnya dengan nada profesional namun empati. “Kami hanya menyajikan fakta, Bu. Keputusan tetap di tangan Ibu.”

Hening beberapa detik.

“Lakukan,” ucap Naura akhirnya.

Satu kata. Tapi terasa seperti pintu yang ia buka menuju kenyataan yang tak bisa ia hindari lagi.

Malam itu, Naura berada sendirian di rumah.

Farhan mengirim pesan singkat.

Rapat selesai larut. Capek sekali hari ini.

Naura membacanya tanpa ekspresi.

Ia tidak membalas.

Bukan karena ingin berperang. Tapi karena ia sedang menunggu sesuatu yang jauh lebih penting daripada percakapan basa - basi.

Pukul sebelas malam.

Ponselnya bergetar.

Pesan dari nomor tak dikenal.

Selamat malam, Bu Naura. Ini Arga. Kami sudah mendapatkan informasi awal. Apakah Ibu bisa menerima panggilan sekarang?

Dunia seakan berhenti sepersekian detik.

Tangannya terasa dingin.

Ia menatap foto pernikahannya yang tergantung di dinding.

Lima tahun.

Satu panggilan bisa mengubah arti semuanya.

Dengan napas yang tidak lagi stabil, Naura menekan tombol panggil.

“Selamat malam, Bu,” suara Arga terdengar tenang dari seberang sana.

“Iya.” suara Naura hampir tak terdengar.

“Ada sedikit perbedaan data yang perlu Ibu ketahui. Suami Ibu memang memesan tiket. Namun bukan ke Bandung.”

Jantungnya seperti jatuh ke dasar yang tak terlihat.

“Lalu ke mana?” tanyanya dengan suara gemetar.

Hening sepersekian detik sebelum Arga menjawab.

“Ke Bali, Bu. Dan tiketnya untuk dua orang.”

Dunia Naura runtuh bukan dengan suara keras, tapi dengan sunyi yang memekakkan.

Untuk beberapa detik, Naura tidak bisa berbicara.

Ia mendengar suaranya sendiri bernapas di ujung telepon. Pendek. Tidak teratur.

“Dua orang?” ulangnya lirih, seolah berharap ia salah dengar.

“Ya, Bu,” jawab Arga tenang. “Keberangkatan pagi ini. Nama penumpang kedua seorang perempuan. Tiket dibeli bersamaan, menggunakan kartu yang sama.”

Naura memejamkan mata.

Bali.

Bukan Bandung. Bukan perjalanan kerja mendadak. Bukan rapat sampai larut.

Liburan. Dengan perempuan lain.

“Apa ada data hotel?” tanyanya, suaranya lebih stabil dari hatinya.

“Ada, Bu. Reservasi atas nama beliau. Satu kamar. Check-in siang tadi.”

Satu kamar.

Kalimat itu seperti palu terakhir yang menghantam sisa harapannya.

“Baik,” ucap Naura pelan. “Kirimkan semua detailnya ke email saya.”

“Baik, Bu. Jika Ibu membutuhkan dokumentasi lebih lanjut, tim kami bisa melakukan observasi langsung.”

Naura terdiam sejenak. Dulu, mungkin ia akan berkata tidak. Dulu ia masih ingin melindungi bayangan suaminya.

Sekarang?

“Lanjutkan,” jawabnya singkat.

Telepon berakhir.

Rumah kembali sunyi.

Namun kali ini, kesunyian itu tidak lagi dipenuhi tanda tanya. Ia sudah mendapatkan jawaban.

Naura berdiri perlahan. Kakinya terasa lemas, tapi ia tidak jatuh. Ia berjalan menuju foto pernikahan mereka dan menatapnya lama.

“Kamu memilihnya,” bisiknya.

Air mata jatuh, tapi tidak lagi deras seperti kemarin. Tangisnya kini berbeda. Bukan karena tidak percaya.

Melainkan karena akhirnya ia tahu kebenarannya.

Ponselnya kembali bergetar.

Pesan dari Farhan.

Sudah makan belum? Jangan begadang.

Naura menatap layar itu lama sekali.

Betapa ironisnya.

Pria yang sedang berada di Bali bersama perempuan lain masih sempat - sempatnya memainkan peran suami yang sangat perhatian.

Tangannya bergerak pelan.

Sudah.

Hanya satu kata.

Tak lama, balasan datang.

Bagus. Aku kangen.

Naura tertawa kecil. Suara tawanya kosong.

Kangen?

Kangen siapa?

Ia membuka email yang baru saja masuk. File reservasi hotel. Salinan tiket. Nama perempuan itu tercetak jelas.

Nadya Pramesti.

Naura mengulang nama itu dalam hati.

Bukan sekretarisnya. Bukan orang yang ia kenal.

Seseorang yang benar - benar baru.

Dadanya terasa sangat sesak, tapi kali ini ada sesuatu yang lain di dalamnya bukan hanya sebuah luka.

Ada amarah yang perlahan tumbuh.

Lima tahun ia setia. Lima tahun ia menunggu anak yang tak kunjung datang tanpa pernah menyalahkan siapa pun. Lima tahun ia percaya.

Dan Farhan membalasnya dengan kebohongan yang rapi.

Naura menghapus air matanya.

Ia tidak akan menelepon Farhan malam ini.

Ia tidak akan berteriak.

Ia tidak akan memohon.

Ia akan menunggu.

Menunggu Farhan pulang.

Menunggu lelaki itu berdiri di hadapannya dan mengulang kebohongan dengan wajah tenang.

Dan kali ini Naura tidak akan menjadi istri yang hanya bertanya.

Ia akan menjadi perempuan yang sudah memegang bukti.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Setelah Kau Selingkuhi Aku   57

    Setelah Iris berpamitan kembali ke kantor, rumah kembali terasa tenang.Naura duduk di ruang keluarga sambil memandangi map berisi beberapa dokumen yang sempat diberikan Gibran.Tak lama kemudian, ponselnya berdering.Nama Gibran muncul di layar.Naura segera mengangkat panggilan itu."Halo, Pak Gibran.""Selamat siang, Bu Naura. Maaf mengganggu waktunya.""Tidak apa-apa.""Saya hanya ingin menanyakan apakah Ibu sudah benar-benar mantap dengan keputusan yang kemarin disampaikan."Naura menarik napas panjang."Saya sudah memikirkannya dengan matang.""Saya ingin mengajukan gugatan cerai terhadap Farhan."Gibran terdiam beberapa saat sebelum menjawab,"Baik. Kalau itu memang keputusan Ibu, saya akan mulai menyiapkan seluruh berkas yang diperlukan."Naura kemudian berkata dengan nada yang lebih tegas."Pak Gibran, saya ingin fokus pada satu hal terlebih

  • Setelah Kau Selingkuhi Aku   56

    Keesokan paginya, suasana rumah Jolina terasa lebih tenang.Sinar matahari masuk melalui jendela ruang makan. Naura sedang menikmati secangkir teh hangat ketika bel rumah berbunyi."Ting tong."Jolina yang berada di dapur segera berjalan menuju pintu."Iris?" ucapnya sambil tersenyum."Selamat pagi, Tante.""Pagi juga, Iris. Masuk, Nak."Iris melangkah masuk dengan membawa beberapa kantong buah dan camilan."Ini, Tante. Sedikit buah buat Naura.""Aduh, kamu tidak perlu repot-repot.""Enggak apa-apa, Tante."Iris kemudian menoleh ke arah Naura yang sudah berdiri menyambutnya."Hai."Naura tersenyum tipis."Hai."Jolina mempersilakan Iris duduk."Kamu sudah sarapan belum?""Aku belum, Tante.""Kalau begitu, makan dulu. Tante sudah masak.""Wah, terima kasih, Tante.""Tante tinggal sebentar, ya. Mau membantu

  • Setelah Kau Selingkuhi Aku   55

    Hari mulai beranjak malam.Audit akhirnya selesai untuk hari pertama.Farhan mengantar tim auditor hingga ke lobi perusahaan sebelum kembali ke ruang kerjanya.Ia menjatuhkan tubuhnya ke kursi.Kepalanya terasa berat.Sejak pagi hingga malam, ia terus menjawab berbagai pertanyaan mengenai laporan keuangan perusahaan, proyek, hingga kejadian yang menggemparkan acara peluncuran kemarin.Belum sempat beristirahat, ponselnya kembali berdering.Nama yang muncul di layar membuatnya langsung mengangkat panggilan itu."Diah.""Farhan." Suara ibunya terdengar lemah. "Kapan kamu pulang?""Nanti malam, Ma.""Mama sendirian di rumah. Papa masih berada di kantor bersama tim pengacara."Farhan mengembuskan napas pelan."Baik, sebentar lagi Farhan pulang."Setelah menutup telepon, ia segera mengambil jasnya dan berjalan menuju parkiran.---Sekitar satu ja

  • Setelah Kau Selingkuhi Aku   54

    Gibran membuka map yang sejak tadi dibawanya. Ia mengeluarkan beberapa lembar dokumen dan meletakkannya di atas meja. "Bu Naura, sebelum kita melangkah lebih jauh, ada beberapa hal yang perlu saya jelaskan." Naura mengangguk. "Silakan." "Untuk perkara perceraian, saya akan menyiapkan seluruh berkas yang diperlukan. Namun, saya membutuhkan beberapa dokumen pribadi, seperti buku nikah, salinan kartu identitas, dan dokumen lain yang berkaitan dengan pernikahan Ibu." "Baik." "Sedangkan mengenai perusahaan, kita tidak boleh terburu-buru menyimpulkan bahwa semua tuduhan yang beredar itu benar." Naura memahami maksud ucapan Gibran. Video yang beredar memang membuat banyak orang percaya begitu saja. Namun, sebagai langkah hukum, mereka memerlukan bukti yang sah dan dapat dipertanggungjawabkan. "Kita harus memisahkan antara infor

  • Setelah Kau Selingkuhi Aku   53

    Setelah Mahendra dan Gibran meninggalkannya seorang diri di teras, Naura tetap duduk mematung.Tatapannya kosong mengarah ke taman, tetapi pikirannya kembali pada kejadian sehari sebelumnya.Semua terasa begitu nyata, sekaligus seperti mimpi buruk yang tidak pernah ia bayangkan.Ia memejamkan mata.Dalam benaknya, suara tepuk tangan para tamu kembali terdengar.Farhan baru saja mengakhiri pidatonya dengan penuh percaya diri.Kemudian ia memberikan isyarat kepada Nadya untuk naik ke atas panggung dan melanjutkan sambutan.Saat Nadya baru mengucapkan beberapa kata pembuka.Tiba - tiba layar LED raksasa berkedip.Ruangan yang semula dipenuhi tepuk tangan mendadak hening.Kemudian muncul sebuah judul besar dengan latar hitam dan tulisan merah menyala."PERSELINGKUHAN SEORANG KOMISARIS, TOMI, DENGAN WANITA SIMPANANNYA HINGGA HAMIL."Setelah judul itu muncul, satu per satu foto dan

  • Setelah Kau Selingkuhi Aku   52

    Sinar matahari yang masuk melalui jendela membuat Naura perlahan membuka matanya. Beberapa saat ia hanya menatap langit-langit kamar tamu, berusaha mengingat apa yang terjadi semalam. Lalu semua kejadian itu kembali berputar di kepalanya. Acara peluncuran proyek. Tayangan di layar LED. Tatapan para tamu. Dan rasa sakit yang selama ini berusaha ia pendam. Naura mengembuskan napas panjang sebelum akhirnya bangkit dari tempat tidur. Di sisi ranjang telah tersedia satu set pakaian ganti, lengkap dengan perlengkapan mandi dan sandal. Di atasnya terdapat secarik kertas kecil. «Silakan dipakai. Semoga ukurannya pas. Kalau ada yang kurang, beri tahu ART. Mahendra» Naura tersenyum tipis. "Terima kasih." gumamnya pelan. Ia pun segera membersihkan diri dan berganti pakaian. Setelah merasa sedikit lebih segar, Naura keluar dari kamar dan menuruni tangga. Dari ruang keluarga, ia melihat Mahendra sedang duduk di depan laptop. Beberapa dokumen terbuka di layar, sementa

  • Setelah Kau Selingkuhi Aku   48

    Mobil yang dikendarai Farhan akhirnya memasuki area lokasi acara.Sejak tiba di gerbang utama, suasana sudah terlihat sangat ramai. Para tamu undangan, rekan bisnis, investor, dan awak media mulai berdatangan.Farhan turun lebih dulu, lalu membukakan pintu untuk Naura.

  • Setelah Kau Selingkuhi Aku   47

    Pagi hari yang menjadi hari pelaksanaan proyek akhirnya tiba.Sinar matahari menembus tirai kamar tamu yang sejak dua minggu terakhir menjadi tempat tidur Naura.Baru saja ia selesai mandi, ponselnya bergetar.Sebuah pesan masuk dari Mahendra.«Selamat pagi, Na

  • Setelah Kau Selingkuhi Aku   43

    Keesokan paginya, Farhan bangun lebih awal dari biasanya.Untuk pertama kalinya setelah sekian lama, ia berniat mengantar Naura ke kampus.Meski hubungan mereka sedang tidak baik-baik saja, setidaknya ia ingin mencoba memperbaiki sedikit demi sedikit apa yang telah rusak.

  • Setelah Kau Selingkuhi Aku   42

    "Farhan, apa kamu tidak akan menginap lagi?"Nadya menatap Farhan yang mulai membereskan berkas-berkas di atas meja.Farhan menghentikan pekerjaannya sejenak."Aku harus pulang."Nadya mengernyit."Pulang?""Iya.""Kamu serius?"

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status