LOGINWanita itu sudah menghilang.
"Sayang, kamu ke mana saja dari tadi? Aku mencarimu," tanya Farhan sambil mendekat, nadanya terdengar wajar. Naura menatapnya lekat - lekat. Wajah yang ia hafal setiap garisnya. Wajah yang baru saja ia lihat mencium wanita lain. "Aku dari tadi di sini," jawabnya tenang, meski dadanya terasa sesak. "Kamu sendiri yang menghilang dari acara kita." Farhan terdiam sepersekian detik, lalu tersenyum kecil. "Maaf, tadi ada telepon dari klien. Katanya besok aku harus ke luar kota. Mendadak sekali." Ke luar kota. Kalimat itu seperti pisau kedua yang menancap di hatinya. Bukankah tadi wanita itu berkata waktumu bersamaku sampai lusa? "Oh ya?" suara Naura tetap lembut. Terlalu lembut untuk seseorang yang hatinya baru saja dihancurkan. "Tidak apa - apa. Pekerjaan memang penting." Ia tersenyum. Senyum yang ia paksakan agar tak seorang pun membaca luka di baliknya. "Ayo kita tutup acaranya. Sudah malam sekali," lanjutnya. "Kasihan para tamu juga pasti lelah." "Iya," jawab Farhan singkat. Naura melangkah lebih dulu ke tengah ruangan, mengucapkan terima kasih pada para tamu dengan sikap anggun seperti tuan rumah yang sempurna. Tak ada yang tahu bahwa setiap kata yang keluar dari bibirnya terasa berat. Tak ada yang tahu bahwa di balik gaun indah dan riasan flawless itu, hatinya sedang berantakan. "Iya, kamu ingin menghabiskan waktu bersama wanitamu," bisiknya dalam hati, getir. Satu per satu tamu berpamitan. Lampu - lampu mulai dimatikan. Musik dihentikan. Bunga - bunga yang tadi menjadi simbol cinta kini hanya menjadi dekorasi kosong tanpa makna. Akhirnya rumah itu kembali sunyi. Naura dan Farhan berdiri berdampingan di ruang tamu yang kini terasa asing. Jarak mereka hanya beberapa sentimeter namun untuk pertama kalinya dalam lima tahun pernikahan, Naura merasa mereka terpisah sangat jauh. Farhan menggenggam tangannya sebentar. "Terima kasih ya, sudah menyiapkan semua ini. Kamu memang istri yang luar biasa." Kalimat itu hampir membuat Naura tertawa pahit. Istri yang luar biasa, tapi tidak cukup untuk membuatmu setia. Ia menatap tangan mereka yang saling bersentuhan, lalu perlahan melepaskannya. "Malam sudah larut. Istirahatlah," ucapnya pelan. Dan malam itu, saat pintu kamar tertutup dan lampu dipadamkan, bukan hanya pesta yang berakhir. melainkan juga kepercayaan yang selama lima tahun ia jaga dengan sepenuh jiwa. Kamar mereka terasa berbeda malam itu. Tempat tidur king size yang dulu menjadi saksi tawa, bisikan, dan mimpi - mimpi masa depan kini terasa seperti ruang asing. Naura duduk di tepi ranjang, membelakangi Farhan yang sedang membuka jasnya. Suasana hening. Terlalu hening. "Kamu marah, ya?" tanya Farhan akhirnya, mencoba memecah kesunyian. Naura tersenyum kecil tanpa menoleh. "Harusnya aku yang marah?" Pertanyaan itu menggantung di udara. Farhan mendesah pelan. "Kalau karena aku sempat menghilang tadi, aku sudah minta maaf. Pekerjaan memang tidak bisa ditunda." Naura akhirnya berdiri dan berbalik menghadapnya. Tatapannya tenang, tapi matanya tak lagi memancarkan kelembutan seperti biasanya. "Mas," ucapnya pelan, "kalau aku bertanya sesuatu, kamu akan jujur?" Farhan terlihat sedikit kaget. "Tentu saja." Naura melangkah mendekat. Jarak mereka kini hanya satu langkah. Ia bisa mencium aroma parfum yang tadi juga tercium di rooftop aroma yang kini terasa asing. "Kamu benar - benar menerima telepon klien di rooftop kan?" Pertanyaan itu membuat Farhan terdiam sepersekian detik terlalu lama. "Ya," jawabnya akhirnya. "Kenapa memangnya?" Naura menatapnya lekat - lekat, mencoba mencari sisa kejujuran di wajah lelaki yang ia cintai lima tahun terakhir. Namun yang ia lihat hanyalah pertahanan. "Tidak apa - apa sih," katanya pelan. "Aku hanya ingin memastikan." Ia berbalik, berjalan menuju lemari, lalu membuka laci kecil tempat ia menyimpan kotak beludru tadi. Jam tangan itu masih ada di dalamnya. Dengan langkah perlahan, ia kembali dan menyerahkannya pada Farhan. "Ini hadiahku untuk kamu,mas Farhan," ucapnya. "Aku ingin kamu selalu mengingat waktu. Waktu yang sudah kita lewati dan waktu yang sedang kamu pilih untuk habiskan." Farhan menerima kotak itu dengan wajah bingung. "Maksud kamu apa?" Naura tersenyum tipis. "Tidak ada." Ia lalu berjalan ke sisi ranjang dan mengambil bantal serta selimut tambahan. "Kamu mau ke mana?" tanya Farhan. "Aku hanya lelah. Aku ingin tidur di kamar tamu malam ini." Farhan langsung berdiri. "Kenapa harus di kamar tamu? Kita baik - baik saja, bukan?" Naura berhenti di ambang pintu. Punggungnya masih menghadap Farhan. "Kadang," ucapnya lirih, "yang terlihat baik - baik saja justru yang paling rapuh." Ia membuka pintu. "Oh ya, Mas," tambahnya tanpa menoleh, "kalau besok kamu benar - benar ke luar kota. hati - hati di jalan. Atau mungkin hati - hati agar tidak salah menyebut nama." Pintu tertutup pelan. Dan untuk pertama kalinya sejak menikah, Naura memilih menjauh bukan karena tidak cinta, tetapi karena hatinya sedang belajar menerima kenyataan bahwa cinta saja tidak cukup untuk membuat seseorang tetap setia. Di balik pintu kamar tamu, air mata yang sejak tadi ia tahan akhirnya jatuh tanpa suara. Malam itu, Naura tidak lagi menangis karena terkejut. Ia menangis karena akhirnya sadar. bahwa suaminya mungkin masih pulang ke rumah yang sama, tetapi hatinya sudah lama tinggal di tempat yang lain. *** Pagi datang tanpa benar - benar membawa terang. Naura terbangun di kamar tamu dengan mata sembap dan kepala berat. Untuk beberapa detik, ia berharap semua yang terjadi semalam hanyalah mimpi buruk. Namun ketika ia menatap langit - langit asing kamar itu, sebuah kenyataan kembali menamparnya pelan. Namun ini nyata. Ia bangkit, merapikan rambutnya, lalu menatap pantulan dirinya di cermin. Wajahnya masih cantik, masih sama seperti kemarin namun ada sesuatu yang berbeda di sorot matanya. Ada luka yang tak bisa ditutupi riasan apa pun. Dari luar kamar, terdengar suara langkah dan derit koper diseret. Farhan. Naura membuka pintu perlahan. Farhan sudah berpakaian rapi, kemeja abu - abu dan jas gelap melekat sempurna di tubuhnya. Seolah ia benar - benar akan melakukan perjalanan bisnis penting. "Kamu sudah bangun?" tanyanya datar. "Iya," jawab Naura singkat. Hening lagi. "Aku berangkat sekarang. Penerbanganku jam sembilan," ujar Farhan sambil meraih koper. Naura menatap koper itu. Besok sampai lusa, kata wanita itu semalam. "Perjalanan berapa hari?" tanyanya tenang. "Mungkin dua hari. Tergantung urusan di sana," jawab Farhan cepat. Naura mengangguk pelan. Tidak ada pertanyaan lanjutan. Tidak ada adegan dramatis. Justru ketenangannya itulah yang membuat Farhan terlihat semakin tidak nyaman. "Naura." panggilnya pelan, seolah ada yang ingin ia sampaikan, namun ragu. Naura lebih dulu angkat bicara. Suaranya lembut terlalu lembut untuk suasana yang sesungguhnya sudah retak. "Mas." Farhan menatapnya. "Baik - baik ya di sana. Jangan lupa kabari kalau sudah sampai," ucapnya tenang. "Istirahat yang cukup. Jangan terlalu memforsir pekerjaan. nanti kamu bisa sakit." Kalimat - kalimat itu terdengar seperti perhatian seorang istri pada umumnya. Tidak ada nada sindiran. Tidak ada tuduhan. Justru itu yang membuat hati Farhan terasa semakin tidak nyaman. "Oh ya," lanjut Naura pelan, memberi jalan di dekat pintu, "sebaiknya berangkat sekarang. Nanti ketinggalan pesawat." Farhan terdiam sejenak, meneliti wajah istrinya. Ia seperti mencari sesuatu amarah, air mata, atau setidaknya pertanyaan. Namun yang ia temukan hanya ketenangan yang sulit ditebak. Akhirnya ia mengangguk kecil. "Aku kabari nanti." Ia melangkah mendekat, lalu mengecup kening Naura seperti kebiasaan yang sudah lima tahun ia lakukan sebelum bepergian. Namun kali ini, tak ada kehangatan yang tertinggal. Pintu terbuka. Suara koper diseret menjauh. Lalu klik. Pintu tertutup. Naura tetap berdiri di tempatnya beberapa detik setelah kepergian itu. Rumah kembali sunyi, terlalu sunyi. Ia menarik napas panjang, berusaha menegakkan tubuhnya yang terasa lemah. Bukan kepergiannya yang membuatnya hancur. Melainkan kenyataan bahwa ia tidak lagi tahu apakah suaminya benar - benar pergi untuk bekerja atau untuk seseorang yang lainnya. Dan pagi itu, untuk pertama kalinya, Naura tidak menunggu pesan "aku sudah sampai." Ia hanya menunggu keberanian dalam dirinya sendiri untuk menghadapi apa pun kebenaran yang akan datang.Tiga hari terasa jauh lebih lama bagi Naura.Padahal sebelumnya ia tidak pernah menghitung berapa lama seseorang pergi.Namun kali ini berbeda.Setiap pagi, tanpa sadar ia membuka ponselnya.Setiap kali ada notifikasi, matanya langsung melihat layar.Dan setiap kali bukan nama Harsa yang muncul, ia kembali meletakkan ponselnya.Naura mulai menyadari bahwa dirinya sedang menunggu.Bukan karena kewajiban.Bukan karena pekerjaan.Tetapi karena ia ingin Harsa kembali.---Pagi itu, Irish masuk ke ruangan Naura sambil membawa dua cangkir kopi.“Aku bawakan kopi.”“Terima kasih.”Irish meletakkan satu cangkir di meja.Kemudian ia memperhatikan Naura.“Kamu masih menunggu?”Naura menatapnya.“Menunggu apa?”“Harsa.”Naura terdiam.Irish tersenyum.“Tidak perlu menyangkal.”“Aku tidak me
Pesan itu sudah terkirim.Naura menatap layar ponselnya.Naura:Harsa, kapan kamu pulang?Tidak ada balasan.Satu menit.Lima menit.Sepuluh menit.Naura mencoba meletakkan ponselnya di atas meja.Namun, beberapa detik kemudian tangannya kembali meraihnya.Tidak ada pesan baru.Naura menghela napas.“Kenapa aku menunggu?”Ia menggeleng pelan.Dulu, ia pernah berada di posisi yang sama.Menunggu seseorang membalas pesan.Menunggu seseorang pulang.Menunggu seseorang memilihnya.Dan pengalaman itu membuatnya takut.Tetapi kali ini berbeda.Ia bukan sedang menunggu suaminya.Ia sedang menunggu seseorang yang bahkan belum menjadi apa-apa dalam hidupnya.Namun, kenapa rasanya begitu penting?---Di kamar hotel, ponsel Harsa akhirnya bergetar.Ia melihat layar.Na
Sejak kejadian di proyek itu, hubungan Naura dan Harsa perlahan berubah.Tidak ada pertengkaran.Tidak ada kata-kata kasar.Namun, justru karena tidak ada pertengkaran itulah semuanya terasa lebih berat.Harsa yang biasanya mengirim pesan setiap pagi mulai mengurangi kebiasaannya.Tidak ada lagi pesan sederhana seperti menanyakan apakah Naura sudah sarapan.Tidak ada lagi ajakan makan siang secara tiba-tiba.Tidak ada lagi pesan malam yang hanya berisi kalimat sederhana.Aku sedikit memikirkan kamu.Naura menyadari perubahan itu.Awalnya ia mencoba menganggapnya biasa.Mungkin Harsa sedang sibuk.Mungkin ada pekerjaan.Mungkin dirinya terlalu memikirkan sesuatu yang sebenarnya tidak ada.Tetapi hari demi hari berlalu.Dan jarak itu semakin terasa.---Pagi itu Naura duduk di ruangannya sambil membaca laporan.Irish masuk me
Keenan melangkahkan kakinya memasuki gedung perkantoran bersama sekretarisnya. Baru beberapa langkah, seorang pria yang terlihat terburu-buru tidak sengaja bersenggolan dengannya.“Maafkan saya, Pak Keenan. Saya sedang terburu-buru.”Keenan menahan langkahnya dan memperhatikan pria tersebut.“Kamu bukannya orang pabrik? Ada masalah?”“Iya, Pak. Ada kerusakan pada alat yang mau dipakai.”Keenan mengernyitkan kening.“Bukannya yang harus melihat itu perwakilan dari perusahaan Harsa?”“Iya, Pak. Tapi sampai sekarang mereka belum datang. Katanya perwakilannya masih ada urusan di kantor.”Keenan terdiam beberapa saat.“Alat itu akan digunakan untuk proyek kita, kan?”“Iya, Pak.”“Kalau begitu, antarkan saya ke sana.”Pria itu terlihat ragu.“Tapi, Pak Keenan, bukankah Bapak ada jadwal bertemu dengan Bu Naura?”Keenan tersenyum tipis.“Pertemuan itu masih
Pagi itu, Naura datang ke kantor lebih awal.Ia baru saja duduk di kursinya ketika sekretarisnya masuk dengan wajah sedikit tegang.“Nona Naura.”“Ya?”“Ada dua orang yang ingin bertemu dengan Anda.”Naura mengangkat wajah.“Siapa?”“Pak Harsa dan Pak Keenan.”Naura langsung terdiam.“Bersamaan?”Sekretarisnya mengangguk.“Iya.”Naura memejamkan mata sebentar.“Suruh mereka masuk.”Beberapa saat kemudian, pintu terbuka.Harsa masuk lebih dahulu.Keenan menyusul di belakangnya.Keduanya kembali saling menatap.Naura menunjuk dua kursi di depannya.“Duduk.”Mereka duduk.“Ada apa?”Harsa membuka sebuah map.“Aku ingin membahas kontrak kerja sama yang kemarin.”Keenan juga meletakkan map di atas meja.“Aku juga.”Naura menghela napas.“Baik. Kita
Pagi itu, Naura sedang bersiap berangkat ke kampus ketika sebuah pesan masuk.Keenan:My lady, kamu ada waktu sore ini?Naura membaca pesan itu sambil merapikan rambutnya.Ia mengetik:Ada apa?Balasan Keenan datang tidak lama kemudian.Keenan:Aku menemukan sesuatu yang mungkin ingin kamu lihat.Naura mengerutkan kening.Sesuatu apa?Keenan tidak langsung menjawab.Beberapa detik kemudian, sebuah foto dikirim.Naura membukanya.Matanya langsung membesar.Foto itu adalah foto lama.Foto dirinya dan Keenan ketika masih duduk di bangku sekolah.Naura menatap layar cukup lama.Ia hampir lupa bahwa foto itu pernah ada.Keenan:Aku menemukan album lama ketika membereskan barang-barang di rumah.Naura tersenyum kecil.Kenapa baru sekarang kamu kirim?Keenan:Karena aku baru sadar ternyata aku mas
Naura telah mempersiapkan malam itu jauh - jauh hari. Perayaan lima tahun pernikahannya dengan Farhan bukan hanya sekedar sebuah acara makan malam biasa ini adalah simbol perjalanan cinta mereka, bukti bahwa badai kecil yang pernah datang tak mampu meruntuhkan rumah tangga yang ia bangun sepenuh ha
Naura tanpa sadar terlalu banyak bercerita tentang pernikahannya dengan Farhan. Dari awal mereka menikah muda, lima tahun menjalani rumah tangga bersama, hingga akhirnya Farhan ketahuan berselingkuh dan ia tetap mencoba memberikan kesempatan kedua.“Aku tidak menyangka Farhan sudah menya
“Aku kenal seseorang detektif swasta,” lanjut Iris pelan. “Dia profesional. Tidak sembarangan. Kalau memang ada sesuatu, dia pasti bisa menemukan jejaknya.” Kata detektif swasta membuat jantung Naura berdegup lebih cepat. Selama ini, perselingkuhan itu masih berupa potongan adegan di rooftop,
Naura sudah duduk di sudut kafe dengan secangkir kopi yang sudah lama kehilangan uapnya. Tatapannya kosong, menembus kaca jendela tanpa benar - benar melihat apa pun. Pikirannya berputar pada satu pertanyaan yang sejak tadi tak berhenti menghantuinya. Apa kurangnya aku??? Ia menikah muda atas







