Compartilhar

2.

last update Data de publicação: 2026-03-30 09:59:14

Wanita itu sudah menghilang.

"Sayang, kamu ke mana saja dari tadi? Aku mencarimu," tanya Farhan sambil mendekat, nadanya terdengar wajar.

Naura menatapnya lekat - lekat. Wajah yang ia hafal setiap garisnya. Wajah yang baru saja ia lihat mencium wanita lain.

"Aku dari tadi di sini," jawabnya tenang, meski dadanya terasa sesak. "Kamu sendiri yang menghilang dari acara kita."

Farhan terdiam sepersekian detik, lalu tersenyum kecil. "Maaf, tadi ada telepon dari klien. Katanya besok aku harus ke luar kota. Mendadak sekali."

Ke luar kota.

Kalimat itu seperti pisau kedua yang menancap di hatinya. Bukankah tadi wanita itu berkata waktumu bersamaku sampai lusa?

"Oh ya?" suara Naura tetap lembut. Terlalu lembut untuk seseorang yang hatinya baru saja dihancurkan. "Tidak apa - apa. Pekerjaan memang penting."

Ia tersenyum. Senyum yang ia paksakan agar tak seorang pun membaca luka di baliknya.

"Ayo kita tutup acaranya. Sudah malam sekali," lanjutnya. "Kasihan para tamu juga pasti lelah."

"Iya," jawab Farhan singkat.

Naura melangkah lebih dulu ke tengah ruangan, mengucapkan terima kasih pada para tamu dengan sikap anggun seperti tuan rumah yang sempurna. Tak ada yang tahu bahwa setiap kata yang keluar dari bibirnya terasa berat. Tak ada yang tahu bahwa di balik gaun indah dan riasan flawless itu, hatinya sedang berantakan.

"Iya, kamu ingin menghabiskan waktu bersama wanitamu," bisiknya dalam hati, getir.

Satu per satu tamu berpamitan. Lampu - lampu mulai dimatikan. Musik dihentikan. Bunga - bunga yang tadi menjadi simbol cinta kini hanya menjadi dekorasi kosong tanpa makna.

Akhirnya rumah itu kembali sunyi.

Naura dan Farhan berdiri berdampingan di ruang tamu yang kini terasa asing. Jarak mereka hanya beberapa sentimeter namun untuk pertama kalinya dalam lima tahun pernikahan, Naura merasa mereka terpisah sangat jauh.

Farhan menggenggam tangannya sebentar. "Terima kasih ya, sudah menyiapkan semua ini. Kamu memang istri yang luar biasa."

Kalimat itu hampir membuat Naura tertawa pahit.

Istri yang luar biasa, tapi tidak cukup untuk membuatmu setia.

Ia menatap tangan mereka yang saling bersentuhan, lalu perlahan melepaskannya.

"Malam sudah larut. Istirahatlah," ucapnya pelan.

Dan malam itu, saat pintu kamar tertutup dan lampu dipadamkan, bukan hanya pesta yang berakhir.

melainkan juga kepercayaan yang selama lima tahun ia jaga dengan sepenuh jiwa.

Kamar mereka terasa berbeda malam itu.

Tempat tidur king size yang dulu menjadi saksi tawa, bisikan, dan mimpi - mimpi masa depan kini terasa seperti ruang asing. Naura duduk di tepi ranjang, membelakangi Farhan yang sedang membuka jasnya.

Suasana hening. Terlalu hening.

"Kamu marah, ya?" tanya Farhan akhirnya, mencoba memecah kesunyian.

Naura tersenyum kecil tanpa menoleh. "Harusnya aku yang marah?"

Pertanyaan itu menggantung di udara.

Farhan mendesah pelan. "Kalau karena aku sempat menghilang tadi, aku sudah minta maaf. Pekerjaan memang tidak bisa ditunda."

Naura akhirnya berdiri dan berbalik menghadapnya. Tatapannya tenang, tapi matanya tak lagi memancarkan kelembutan seperti biasanya.

"Mas," ucapnya pelan, "kalau aku bertanya sesuatu, kamu akan jujur?"

Farhan terlihat sedikit kaget. "Tentu saja."

Naura melangkah mendekat. Jarak mereka kini hanya satu langkah. Ia bisa mencium aroma parfum yang tadi juga tercium di rooftop aroma yang kini terasa asing.

"Kamu benar - benar menerima telepon klien di rooftop kan?"

Pertanyaan itu membuat Farhan terdiam sepersekian detik terlalu lama.

"Ya," jawabnya akhirnya. "Kenapa memangnya?"

Naura menatapnya lekat - lekat, mencoba mencari sisa kejujuran di wajah lelaki yang ia cintai lima tahun terakhir. Namun yang ia lihat hanyalah pertahanan.

"Tidak apa - apa sih," katanya pelan. "Aku hanya ingin memastikan."

Ia berbalik, berjalan menuju lemari, lalu membuka laci kecil tempat ia menyimpan kotak beludru tadi. Jam tangan itu masih ada di dalamnya.

Dengan langkah perlahan, ia kembali dan menyerahkannya pada Farhan.

"Ini hadiahku untuk kamu,mas Farhan," ucapnya. "Aku ingin kamu selalu mengingat waktu. Waktu yang sudah kita lewati dan waktu yang sedang kamu pilih untuk habiskan."

Farhan menerima kotak itu dengan wajah bingung. "Maksud kamu apa?"

Naura tersenyum tipis. "Tidak ada."

Ia lalu berjalan ke sisi ranjang dan mengambil bantal serta selimut tambahan.

"Kamu mau ke mana?" tanya Farhan.

"Aku hanya lelah. Aku ingin tidur di kamar tamu malam ini."

Farhan langsung berdiri. "Kenapa harus di kamar tamu? Kita baik - baik saja, bukan?"

Naura berhenti di ambang pintu. Punggungnya masih menghadap Farhan.

"Kadang," ucapnya lirih, "yang terlihat baik - baik saja justru yang paling rapuh."

Ia membuka pintu.

"Oh ya, Mas," tambahnya tanpa menoleh, "kalau besok kamu benar - benar ke luar kota. hati - hati di jalan. Atau mungkin hati - hati agar tidak salah menyebut nama."

Pintu tertutup pelan.

Dan untuk pertama kalinya sejak menikah, Naura memilih menjauh bukan karena tidak cinta, tetapi karena hatinya sedang belajar menerima kenyataan bahwa cinta saja tidak cukup untuk membuat seseorang tetap setia.

Di balik pintu kamar tamu, air mata yang sejak tadi ia tahan akhirnya jatuh tanpa suara.

Malam itu, Naura tidak lagi menangis karena terkejut.

Ia menangis karena akhirnya sadar.

bahwa suaminya mungkin masih pulang ke rumah yang sama,

tetapi hatinya sudah lama tinggal di tempat yang lain.

***

Pagi datang tanpa benar - benar membawa terang.

Naura terbangun di kamar tamu dengan mata sembap dan kepala berat. Untuk beberapa detik, ia berharap semua yang terjadi semalam hanyalah mimpi buruk. Namun ketika ia menatap langit - langit asing kamar itu, sebuah kenyataan kembali menamparnya pelan. Namun ini nyata.

Ia bangkit, merapikan rambutnya, lalu menatap pantulan dirinya di cermin. Wajahnya masih cantik, masih sama seperti kemarin namun ada sesuatu yang berbeda di sorot matanya. Ada luka yang tak bisa ditutupi riasan apa pun.

Dari luar kamar, terdengar suara langkah dan derit koper diseret.

Farhan.

Naura membuka pintu perlahan. Farhan sudah berpakaian rapi, kemeja abu - abu dan jas gelap melekat sempurna di tubuhnya. Seolah ia benar - benar akan melakukan perjalanan bisnis penting.

"Kamu sudah bangun?" tanyanya datar.

"Iya," jawab Naura singkat.

Hening lagi.

"Aku berangkat sekarang. Penerbanganku jam sembilan," ujar Farhan sambil meraih koper.

Naura menatap koper itu. Besok sampai lusa, kata wanita itu semalam.

"Perjalanan berapa hari?" tanyanya tenang.

"Mungkin dua hari. Tergantung urusan di sana," jawab Farhan cepat.

Naura mengangguk pelan. Tidak ada pertanyaan lanjutan. Tidak ada adegan dramatis. Justru ketenangannya itulah yang membuat Farhan terlihat semakin tidak nyaman.

"Naura." panggilnya pelan, seolah ada yang ingin ia sampaikan, namun ragu.

Naura lebih dulu angkat bicara. Suaranya lembut terlalu lembut untuk suasana yang sesungguhnya sudah retak.

"Mas."

Farhan menatapnya.

"Baik - baik ya di sana. Jangan lupa kabari kalau sudah sampai," ucapnya tenang. "Istirahat yang cukup. Jangan terlalu memforsir pekerjaan. nanti kamu bisa sakit."

Kalimat - kalimat itu terdengar seperti perhatian seorang istri pada umumnya. Tidak ada nada sindiran. Tidak ada tuduhan. Justru itu yang membuat hati Farhan terasa semakin tidak nyaman.

"Oh ya," lanjut Naura pelan, memberi jalan di dekat pintu, "sebaiknya berangkat sekarang. Nanti ketinggalan pesawat."

Farhan terdiam sejenak, meneliti wajah istrinya. Ia seperti mencari sesuatu amarah, air mata, atau setidaknya pertanyaan. Namun yang ia temukan hanya ketenangan yang sulit ditebak.

Akhirnya ia mengangguk kecil. "Aku kabari nanti."

Ia melangkah mendekat, lalu mengecup kening Naura seperti kebiasaan yang sudah lima tahun ia lakukan sebelum bepergian.

Namun kali ini, tak ada kehangatan yang tertinggal.

Pintu terbuka. Suara koper diseret menjauh.

Lalu klik.

Pintu tertutup.

Naura tetap berdiri di tempatnya beberapa detik setelah kepergian itu. Rumah kembali sunyi, terlalu sunyi. Ia menarik napas panjang, berusaha menegakkan tubuhnya yang terasa lemah.

Bukan kepergiannya yang membuatnya hancur.

Melainkan kenyataan bahwa ia tidak lagi tahu apakah suaminya benar - benar pergi untuk bekerja atau untuk seseorang yang lainnya.

Dan pagi itu, untuk pertama kalinya, Naura tidak menunggu pesan "aku sudah sampai."

Ia hanya menunggu keberanian dalam dirinya sendiri untuk menghadapi apa pun kebenaran yang akan datang.

Continue a ler este livro gratuitamente
Escaneie o código para baixar o App

Último capítulo

  • Setelah Kau Selingkuhi Aku   Bab 11 goyah

    Naura pikir, setelah satu minggu memberikan kesempatan kedua untuk Farhan dan diizinkan kembali kuliah setelah menjalani pernikahan muda, hidupnya akan sedikit berubah. Selama lima tahun pernikahan mereka, Naura hanya menjadi ibu rumah tangga.Namun, yang ia dapatkan justru pengkhianatan dalam rumah tangga.Sejujurnya, Naura sudah menyerah. Tetapi setelah memikirkannya lagi, ia bertanya pada dirinya sendiri, kenapa tidak mencoba memberikan kesempatan kedua untuk Farhan?Sekarang, Naura melihat Farhan sedang duduk satu meja bersama Nadya, wanita selingkuhannya. Apakah ia terlalu berekspektasi tinggi kepada suaminya itu?"Sayang, kenapa kamu ada di sini? Bagaimana dengan kuliahmu?""Aku baru selesai kelas, dan karena sudah tidak ada mata kuliah lagi, aku ingin me time sebelum pulang ke rumah. Tapi ternyata aku salah, ya." Naura tersenyum tipis."Jangan berpikir macam-macam. Aku dan Nadya sedang meeting proyek kerja sama dengan peru

  • Setelah Kau Selingkuhi Aku   10

    Malam itu, sebelum tidur, Farhan berbisik pelan, “Terima kasih sudah memilih tinggal.” Naura menatapnya dalam gelap. “Aku tidak tinggal,” jawabnya lembut. “Aku memilih. Dan aku akan terus memilih, selama kamu juga begitu.” Sunyi mengisi kamar. Lampu sudah dimatikan. Hanya cahaya tipis dari jendela yang jatuh di dinding. Jarak di antara mereka tidak jauh, tapi juga belum sepenuhnya dekat. Naura menarik napas pelan. “Mas.” “Iya?” “Aku mau bilang sesuatu. Dan aku tidak mau kamu salah paham.” Farhan sedikit menegang. “Apa?” Naura memiringkan tubuhnya, mencoba melihat wajahnya dalam remang. “Aku mau kita pisah kamar dulu.” Kalimat itu jatuh pelan. Tenang. Tanpa emosi berlebih. Namun cukup untuk mengubah udara di antara mereka. Farhan tidak langsung menjawab. “Karena kamu marah?” tanyanya hati-hati. “Bukan.” “Karena kamu belum percaya?” Naura terdiam sejenak. Lalu mengangguk kecil. “Sebagian karena itu. Dan sebagian lagi karena aku ingin kita memban

  • Setelah Kau Selingkuhi Aku   9

    Beberapa hari setelah percakapan itu, Farhan benar - benar menepati ucapannya. Ia mulai terapi sesuai anjuran dokter. Vitamin, perubahan pola makan, berhenti begadang, berhenti merokok diam - diam yang selama ini ia sembunyikan dari Naura. Untuk pertama kalinya, ia tidak melakukannya demi membuktikan diri pada siapa pun melainkan untuk bertanggung jawab. Sementara itu, Naura mengurus pendaftaran kuliahnya. Ia memilih jurusan yang dulu pernah ia tinggalkan demi menikah. Saat mengisi formulir online, tangannya sempat gemetar. Bukan karena ragu pada pilihannya, tapi karena ia sadar ini adalah versi dirinya yang lama tertunda. Malam itu Farhan datang ke rumah ibu Naura. Bukan untuk menjemput. Bukan untuk memaksa pulang. Ia datang untuk berbicara. Dengan sopan. Dengan rendah hati. “Aku ingin minta izin,” katanya pada ibu Naura, “untuk mendukung Naura kuliah lagi. Dan aku ingin memperbaiki diri.” Ibunya menatapnya lama. Tatapan seorang ibu yang sudah melihat banyak jenis l

  • Setelah Kau Selingkuhi Aku   8

    Pagi datang lebih cepat dari yang Naura harapkan. Ia terbangun karena aroma bawang goreng dan nasi hangat yang mengepul dari dapur. Sejenak ia lupa semuanya tidak ada Farhan, tidak ada Nadya, tidak ada kata kasihan. Hanya ia dan rumah kecil tempat ia tumbuh. Ia menoleh. Ibunya sudah tidak di sampingnya. Naura bangkit, merapikan rambut seadanya, lalu melangkah ke dapur. Ibunya sedang menggoreng telur. “Kamu bangun juga,” ucapnya ringan, seolah malam tadi tak ada air mata. Naura memeluknya dari belakang. “Terima kasih, Bu.” “Untuk apa?” “Untuk tidak bertanya terlalu banyak.” Ibunya tersenyum kecil. “Nanti juga kamu akan cerita kalau sudah siap.” Mereka sarapan bersama. Sederhana, hangat. Namun ketenangan itu tidak bertahan lama. Ponsel Naura bergetar di atas meja. Nama Farhan muncul lagi. Kali ini disertai beberapa pesan masuk bertubi-tubi. Farhan : Angkat teleponnya. Kita harus bicara. Jangan ke mana - mana dulu. Disusul satu pesan lagi: Ib

  • Setelah Kau Selingkuhi Aku   7 yang tidak bisa lagi di sembunyikan

    “Sebenarnya apa yang ingin Mama bicarakan?” tanya Naura pelan. Diah menatapnya tajam. “Kamu sudah ada tanda - tanda hamil belum?” Pertanyaan itu datang tanpa jeda. Seperti pisau lama yang kembali diputar di luka yang sama. “Belum, Ma.” “Sudah lima tahun, Naura.” Nada suara Diah meninggi. “Anak teman Mama baru menikah setahun sudah hamil. Kamu ini bagaimana?” Naura menarik napas perlahan. “Saya sudah berusaha, Ma. Ke dokter, program, vitamin mungkin memang belum rezekinya.” “Rezeki?” Diah mendengus. “Atau memang ada yang kurang?” Kalimat itu tidak perlu dijelaskan. Arah tuduhannya jelas. --- Naura menunduk sejenak. Lalu, dengan keberanian yang ia kumpulkan sejak pagi, ia berkata pelan, “Ma bolehkah saya bicara jujur tentang Mas Farhan?” Diah langsung menegakkan badan. “Kenapa dengan Farhan?” Naura menatap lurus. “Mungkin Mas Farhan punya wanita lain.” Sunyi. Lalu “Jangan sembarangan menuduh!” bentak Diah. “Putraku tidak mungkin melakukan hal

  • Setelah Kau Selingkuhi Aku   6. Retakan yang tak terlihat

    Tahun pertama pernikahan mereka terasa seperti mimpi. Farhan masih sering pulang tepat waktu. Mereka makan malam bersama, tertawa pada hal-hal sederhana, dan sesekali pergi berlibur singkat ke luar kota. Semua terasa cukup. Semua terasa utuh. Naura berusaha menjadi istri yang sempurna bangun lebih pagi, menyiapkan sarapan hangat, memastikan rumah selalu rapi sebelum Farhan berangkat kerja. Ia ingin pernikahannya berbeda. Berbeda dari rumah yang dulu ia tinggalkan. Ia ingin kesetiaan yang tidak retak. Memasuki tahun kedua, pertanyaan mulai berdatangan. “Sudah isi belum?” “Lagi program, ya?” “Kapan kami digendong cucu?” Naura hanya tersenyum. Farhan pun masih santai. “Kita nikmati dulu saja,” katanya ringan. Dan Naura percaya waktu akan menjawab semuanya. Namun tahun ketiga datang dengan kenyataan yang lebih dingin. Hasil tes yang selalu negatif. Harapan yang terus dipatahkan pelan-pelan. Naura mulai berjuang sendiri. Rutin ke dokter. Mengh

Mais capítulos
Explore e leia bons romances gratuitamente
Acesso gratuito a um vasto número de bons romances no app GoodNovel. Baixe os livros que você gosta e leia em qualquer lugar e a qualquer hora.
Leia livros gratuitamente no app
ESCANEIE O CÓDIGO PARA LER NO APP
DMCA.com Protection Status