Share

Bab 2

Author: Bibi
Setelah kembali ke paviliun tempat tinggalnya, Suci baru saja hendak menyuruh para pelayan mengemasi barang-barang. Namun, pintu paviliun tiba-tiba didorong terbuka.

Puspa masuk dengan membawa sekelompok pelayan. Langkahnya penuh amarah.

Dia mengenakan busana istana berwarna merah terang sebagai seorang putri mahkota. Riasannya begitu sempurna, dengan alis dan mata yang indah bak lukisan. Namun, tatapan sinis dan sombong itu merusak kecantikannya.

Puspa berjalan lurus ke depan ranjang, lalu memandang Suci dari atas ke bawah. Dia berkata, "Dalam lima tahun ini, kamu melahirkan lima anak. Suci, apa kamu tahu kesalahanmu?"

Suci menunduk dan menjawab dengan patuh, "Saya tahu kesalahan saya."

"Di mana letak kesalahanmu?" Suara Puspa terdengar menusuk telinga.

Suci memahami maksudnya. Wanita ini ingin dirinya mengakui semua rumor buruk yang beredar tentangnya.

Dengan hati yang sudah mati rasa, dia menjawab, "Saya menggunakan segala cara untuk menggoda Putra Mahkota. Saya nggak punya rasa malu."

Puspa menarik sudut bibirnya, memperlihatkan senyum mengejek. "Sepertinya kamu bukan cuma nggak menganggapnya memalukan, malah menganggapnya sebagai sesuatu yang membanggakan."

"Suci, kuberi tahu kamu, di hati Putra Mahkota cuma ada aku! Kalau Ibu nggak mengancamnya dengan nyawaku, dia nggak akan menikahimu!"

"Dia memiliki begitu banyak anak denganmu bukan karena benar-benar tergoda olehmu, melainkan karena tekanan untuk memiliki keturunan dan menyelesaikan tugas! Kamu cuma alat untuk melahirkan anak!"

"Ya, saya mengerti." Nada bicara Suci tetap datar. "Orang yang dicintai Putra Mahkota hanyalah Putri Mahkota. Saya nggak berani memiliki angan-angan apa pun."

Dia hanya ingin segera mengakhiri penghinaan yang membosankan ini dan mengusir si sumber malapetaka ini dari sini.

Namun, amarah Puspa hari ini tampaknya jauh lebih besar dari biasanya.

Mungkin karena mendengar bahwa Rendra memberikan cukup banyak tonik dan obat-obatan berharga kepadanya, jadi dia merasa iri. Atau mungkin dia merasa kesal melihat Suci yang selalu menerima perlakuan apa pun tanpa melawan, tetapi tetap terlihat begitu cantik dan anggun.

Tiba-tiba Puspa mengangkat tangan dan melayangkan tamparan keras ke wajah Suci.

Kepala Suci terempas ke samping akibat tamparan itu. Pipinya membengkak dan memerah, sementara darah merembes dari sudut bibirnya. Dia tidak bersuara, hanya perlahan memutar kembali kepalanya dan menatap Puspa.

"Menurutku, kamu sama sekali nggak merasa menyesal!" Puspa mencibir. "Pelayan! Suci sudah berperilaku nggak pantas, menggoda Putra Mahkota, bahkan berani membantahku! Beri dia 20 tamparan! Biar dia mengingat baik-baik kedudukan dan kewajibannya!"

Dua orang pelayan bertubuh besar segera maju dan mencengkeram kedua lengan Suci dari kiri dan kanan.

"Putri! Jangan!" Pelayan pribadi Suci, Raras, langsung berlutut dan menangis sambil bersujud. "Nyonya baru saja melahirkan. Tubuhnya masih lemah dan nggak akan sanggup menerima hukuman! Mohon berbelaskasihan!"

Puspa bahkan tidak melirik Raras. Dia menendang dada Raras dengan keras. "Budak rendahan! Sejak kapan kamu berhak bicara di sini? Seret dia keluar dan pukul sampai mati!"

Raras menjerit kesakitan akibat tendangan itu dan meringkuk di lantai. Dia tidak memedulikan rasa sakit yang menjalar di wajahnya dan berusaha menatap Puspa.

"Putri! Ini salah saya. Raras nggak bersalah, mohon ampuni dia. Asalkan Putri bersedia melepaskan Raras, saya rela menerima tamparan sampai amarah Putri mereda."

Dibandingkan menghukum Raras, Puspa tentu lebih senang menyiksa Suci dengan tangannya sendiri.

Dia mendengus. "Ternyata hubungan kalian cukup dekat ya. Baik, akan kuberi kamu kesempatan ini. Pukul sampai aku menyuruh kalian berhenti!"

"Nyonya! Jangan! Hamba nggak takut mati! Nyonya!" Raras diseret hingga ke pintu. Tangisannya terdengar memilukan.

Plak! Plak! Plak! Satu demi satu tamparan jatuh ke wajah Suci tanpa ampun. Awalnya hanya terasa perih, tetapi kemudian berubah menjadi rasa sakit yang tumpul. Mulutnya dipenuhi bau amis darah.

Pandangan Suci mulai kabur. Dengungan di telinganya semakin keras. Kesadarannya pun perlahan menjadi kabur.

Dalam keadaan setengah sadar, dia seakan melihat di luar pintu kamar, di dalam bayangan koridor, berdiri sosok tinggi yang sangat dikenalnya. Ujung jubah hitam dengan sulaman emas, tubuh tinggi tegap ....

Itu Rendra.

Dia berdiri di sana, diam-diam menyaksikan. Menyaksikan dirinya ditampar, menyaksikan dirinya memohon, menyaksikan Puspa bertindak semena-mena terhadapnya.

Namun, dia tidak masuk, tidak menghentikan.

Tamparan terakhir mendarat. Suci tiba-tiba memuntahkan darah. Pandangannya menghitam. Dia sepenuhnya kehilangan kesadaran.

Ketika kembali sadar, hari sudah gelap. Dalam keadaan setengah sadar, Suci merasakan seseorang sedang mengoleskan obat ke wajahnya. Salep itu terasa dingin dan meredakan rasa perih yang membakar. Dia tak mampu membuka mata, tetapi masih bisa mendengar suara orang berbicara.

Itu suara Rendra dan kasim kepala yang berada di sisinya, Dion.

"Pangeran sudah berjaga di sini sepanjang malam. Tabib istana bilang kondisi Nyonya sudah aman. Sebaiknya Pangeran kembali beristirahat."

"Nggak perlu." Suara Rendra terdengar agak serak, membawa kelelahan. "Aku akan menunggunya sadar."

Dion tampak ragu sejenak sebelum merendahkan suaranya lebih jauh. "Pangeran, izinkan hamba mengatakan satu hal .... Waktu itu Pangeran berdiri di luar pintu dan melihat Putri Mahkota memperlakukan Nyonya seperti itu. Kalau memang nggak tega, kenapa nggak maju menghentikannya?"

Sosok yang berdiri di luar pintu itu ternyata benar-benar Rendra. Jantung Suci seolah dicengkeram erat oleh tangan yang dingin.

Ya, kenapa?

Waktu itu, dia berada tepat di luar, menyaksikan dirinya dipukuli, menyaksikan dirinya muntah darah dan pingsan. Lantas, kenapa dia tidak mengatakan sepatah kata pun?

Sesaat kemudian, dia mendengar jawaban Rendra. Suaranya rendah dan tenang, tetapi setiap katanya terasa seperti duri yang menusuk.

"Aku pernah berjanji pada Puspa bahwa dalam hidup ini hanya akan ada dia seorang dan aku nggak akan pernah berpaling. Menerima Suci di kediaman ini berarti aku sudah mengingkari janjiku dan membuatnya menderita."

"Dia menyimpan amarah di dalam hati. Kalau aku nggak membiarkannya melampiaskannya, semua itu justru akan terpendam dan merusak kesehatannya. Jadi, aku hanya bisa pura-pura nggak melihat."

Saat ini, Suci hanya merasa seluruh tubuhnya menjadi dingin. Hawa dingin itu seakan merembes keluar dari celah-celah tulangnya dan menyebar ke seluruh tubuh.

Hanya karena tidak ingin Puspa bersedih, dia tega menyaksikan Puspa memukulinya yang masih lemah setelah melahirkan hingga dirinya muntah darah dan pingsan?

Ternyata, mencintai seseorang benar-benar bisa membuat kita memanjakannya tanpa batas. Sampai mampu mengabaikan benar dan salah, mengabaikan luka yang ditimbulkan, bahkan mengabaikan nyawa dan harga diri orang lain!

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Setelah Melahirkan Anak Kelima, Selir Meminta Kebebasan   Bab 24

    Tabib istana terkejut dan segera berlutut."Yang Mulia! Jangan! Tubuh Yang Mulia sangat berharga dan ini menyangkut keberlangsungan negara! Cara sesat seperti ini akan membahayakan tubuh Yang Mulia. Hamba rela mati berkali-kali, tapi nggak berani melakukannya!""Aku bilang, pakai darahku." Rendra mengulanginya dengan nada tegas. "Nggak perlu banyak bicara. Segera persiapkan semua. Kalau dia nggak berhasil diselamatkan, kamu akan dikubur bersamanya. Kalau satu kata saja bocor, seluruh keluargamu akan dihukum mati."Wajah tabib istana seketika pucat pasi, lalu tubuhnya lunglai di lantai.Selama tujuh hari berikutnya, Rendra menutup diri dengan alasan sedang menjalani pertapaan dan tidak menemui siapa pun.Setiap hari, dengan tangan gemetar ketakutan, tabib istana mengambil semangkuk penuh darah hangat dari jantungnya.Setiap kali darah diambil, rasanya seperti berjalan melewati gerbang kematian. Rasa sakit yang luar biasa, tubuh yang semakin lemah, hawa dingin yang menusuk, kesadaran yan

  • Setelah Melahirkan Anak Kelima, Selir Meminta Kebebasan   Bab 23

    Tak lama kemudian, kabar datang dari kota perbatasan.Di sebuah kediaman jenderal yang sederhana tetapi hangat di perbatasan, Suci dan Wira melangsungkan upacara pernikahan.Saat upacara selesai, salju tipis yang jarang turun di perbatasan mulai berjatuhan. Kepingan salju beterbangan, jatuh di gaun pengantin dan rambut Suci.Dia mendongak, memandangi salju yang memenuhi langit. Dalam keadaan linglung, dia seakan kembali melihat sosok Putra Mahkota yang ditemuinya bertahun-tahun lalu di Istana Timur, berdiri di tengah aula megah dan memandangnya dengan dingin dan penuh keangkuhan.Dia sempat tertegun, tetapi segera tersenyum lega.Segala yang telah berlalu, cinta dan kebencian yang berbelit, perjuangan yang penuh penderitaan, perpisahan dan kematian, semuanya ikut jatuh bersama salju di perbatasan ini, mencair, lalu meresap ke dalam tanah.Kaisar baru naik takhta. Keadaan pemerintahan perlahan kian kokoh.Para pejabat dan panglima perang berkali-kali mengajukan petisi, meminta agar ista

  • Setelah Melahirkan Anak Kelima, Selir Meminta Kebebasan   Bab 22

    Suci berdiri terpaku, menatap mulut prajurit yang bergerak membuka dan menutup untuk menyampaikan kabar itu. Telinganya berdenging, membuatnya tak mampu mendengar apa pun dengan jelas.Hanya beberapa kata seperti "jatuh dari tebing" dan "hidup atau mati belum diketahui" yang terus menghantam gendang telinganya berulang kali.Dia perlahan duduk, tepat di tengah kekacauan itu, lalu diam tak bergerak. Dari siang hingga larut malam, dari larut malam hingga fajar.Pada petang hari ketiga, Wira kembali ke perkemahan utama dengan tubuh penuh luka dan kelelahan.Dia menemukan Rendra tersangkut di sebatang pohon kering di pertengahan tebing. Seluruh tubuh Rendra berlumuran darah, beberapa tulangnya patah, dan napasnya begitu lemah hingga nyaris tak terasa.Namun di tangannya, dia menggenggam erat sebuah tusuk konde giok yang berlumuran darah.Wira mengenalinya. Itu milik Suci.Dengan perasaan yang rumit, Wira menyelamatkan Rendra dan kemudian mengutus orang untuk mempertaruhkan nyawa mengambil

  • Setelah Melahirkan Anak Kelima, Selir Meminta Kebebasan   Bab 21

    Demam tinggi membuat pandangannya kabur, tetapi pendengarannya justru menjadi jauh lebih tajam.Dari tenda di sebelah, samar-samar terdengar suara yang tertahan. Isak tangis lirih seorang wanita, napas berat seorang pria, serta suara ranjang yang bergoyang pelan ....Semua itu seperti pisau-pisau membara yang mengiris gendang telinga dan jantungnya perlahan.Dia menggigit bibir bawahnya erat-erat hingga bau amis darah menyebar di dalam mulut. Kukunya mencengkeram erat kasur di bawah tubuhnya. Dia nyaris melukai telapak tangannya sendiri.Dia ingin menerjang ke sana, ingin berteriak, ingin membunuh. Namun, seluruh tubuhnya terasa luar biasa sakit. Demam tinggi membuatnya tak berdaya, bahkan menggerakkan satu jari pun terasa begitu sulit.Dengan mata merah menyala, dia hanya bisa terbaring di sana, mendengarkan suara yang menandakan bahwa dirinya sudah kehilangan segalanya, mendengarkan wanita yang dicintainya menikmati tubuh pria lain.Sepanjang malam, dia seolah disiksa di dalam kuali

  • Setelah Melahirkan Anak Kelima, Selir Meminta Kebebasan   Bab 20

    Amarah yang tak jelas asalnya bercampur dengan kekhawatiran yang begitu kuat. Keduanya pun seketika membara di hati Rendra. Tanpa berpikir panjang, dia langsung memacu kudanya ke arah Suci, berniat menariknya dari sana dan mengantarkannya ke tempat yang aman di garis belakang.Namun, tepat ketika dia memacu kudanya ke depan, sesuatu yang tak terduga terjadi.Sebuah anak panah yang dilepaskan dari sudut yang sulit ditebak memelesat dari tengah pasukan yang kacau di sisi medan perang. Anak panah itu langsung mengarah ke punggung Wira.Wira sedang mengerahkan seluruh tenaganya menghadapi beberapa pasukan berkuda musuh di depannya dan sama sekali tidak menyadarinya."Wira!" Pupil mata Suci menyempit. Dia berteriak panik dan berlari sekuat tenaga ke depan, tetapi terhalang oleh kerumunan yang kacau.Dalam sekejap, sesosok berpakaian hitam tiba-tiba menerjang dari samping dan menghantam Wira dengan keras, menjatuhkannya dari punggung kuda.Jleb! Suara anak panah yang menembus daging terdenga

  • Setelah Melahirkan Anak Kelima, Selir Meminta Kebebasan   Bab 19

    Rendra perlahan mengangkat kepala dan menatapnya. Di bawah cahaya lilin, wajah Suci tampak tenang, dingin, bahkan menyiratkan sedikit rasa muak.Di sana, tidak ada lagi kelembutan dan kesabaran yang dulu selalu ditunjukkannya. Terlebih lagi, tidak ada cinta yang selama ini Rendra kira diam-diam tersimpan di hati Suci.Yang tersisa hanyalah ketidakpedulian yang sepenuhnya dingin.Akhirnya, dia menyadari dengan sangat jelas, dia sudah kehilangan Suci untuk selamanya.Dengan berpegangan pada tepi ranjang, dia terhuyung bangkit. Untuk terakhir kalinya, dia menatap Suci dalam-dalam, seolah ingin mengukir wajahnya jauh ke dalam jiwa.Kemudian, dia berbalik. Seperti tubuh kosong yang sudah kehilangan jiwanya, dia berjalan sempoyongan meninggalkan kamar dan menyatu dalam kegelapan yang terbentang tanpa batas.Malam itu, Rendra berjalan tanpa tujuan di jalanan dingin daerah perbatasan. Pada akhirnya, dia masuk ke sebuah kedai arak sederhana yang belum tutup. Dia mengeluarkan semua barang berhar

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status