Share

Setelah Melahirkan Anak Kelima, Selir Meminta Kebebasan
Setelah Melahirkan Anak Kelima, Selir Meminta Kebebasan
Author: Bibi

Bab 1

Author: Bibi
Gerakan Suci sangat ringan, tetapi mengandung ketegasan yang tak tergoyahkan.

"Lalu ... bagaimana dengan kelima anakmu? Mereka semua darah dagingmu. Apa kamu nggak merasa berat hati berpisah dengan mereka?"

Anak-anak .... Dada Suci tiba-tiba terasa sesak, seolah diremas kuat-kuat oleh tangan tak kasatmata. Rasa sakitnya begitu hebat hingga hampir membuatnya tak mampu bernapas.

Mereka adalah anak-anak yang dikandungnya selama sembilan bulan dan dilahirkannya dengan mempertaruhkan nyawa.

Anak pertama, diam-diam dia menyimpan baju kecil miliknya. Anak kedua, dia menyimpan sehelai rambut bayinya. Sedangkan anak ketiga .... Dia tidak berani membayangkan wajah anak-anaknya. Dia takut, jika terus memikirkannya, hatinya akan luluh dan dia tidak akan sanggup melepaskan mereka.

Namun, mereka semua tidak berada di sisinya. Mereka diasuh oleh Puspa dan hanya memanggil Suci "Ibu Selir".

Sebagai seorang ibu kandung, mungkin dia justru sosok yang tidak terlalu penting dalam hidup mereka.

"Anak-anak ... semuanya sudah dibawa pergi oleh Putra Mahkota. Mereka sudah punya ibu yang penuh kasih untuk mengasuh mereka, mereka hidup dengan aman dan terhormat. Saya bisa tenang."

Permaisuri memandang keteguhan hatinya dan tahu dirinya tak mungkin lagi bisa menahan. "Ya sudah. Tugasmu memang sudah selesai. Aku bisa mengizinkanmu pergi. Tapi, tubuhmu sekarang terlalu lemah."

"Selesaikan dulu masa pemulihan beberapa hari ini. Setelah itu, datanglah kemari untuk mengambil tanda pengenal agar bisa keluar dari istana. Mulai sekarang, kamu bukan lagi selir pendamping Putra Mahkota. Kamu sudah bebas."

Kamu sudah bebas .... Tiga kata itu bagaikan cahaya yang menyibak kabut tebal di hati Suci, sekaligus seperti mata air yang mengalir ke tanah yang kering dan retak.

Rasa bahagia dan lega yang begitu besar seketika memenuhi hatinya, membuat semua kepahitan dan kepasrahan yang selama lima tahun dipendamnya runtuh dalam sekejap.

Dia hampir terhuyung saat kembali berlutut memberi hormat. Suaranya pun tercekat oleh tangis. "Terima kasih atas kemurahan hati Ibu!"

Saat keluar dari Istana Foniks, langit sudah mulai gelap. Jalanan di istana begitu panjang. Sambil berpegangan pada dinding, dia melangkah perlahan. Pikirannya kembali ke lima tahun lalu.

Saat itu, seluruh ibu kota tahu bahwa Putra Mahkota dan putri sulung Keluarga Jayengrat, Puspa, adalah sepasang kekasih masa kecil dan pasangan yang sangat serasi.

Bahkan pada hari pernikahan mereka, Rendra mengucapkan janji di hadapan seluruh pejabat dan perwira perang, "Seumur hidup, hanya satu pasangan."

Namun, setelah tiga tahun Puspa memasuki Istana Timur, dia tak kunjung menunjukkan tanda-tanda kehamilan.

Permaisuri sangat cemas. Dia mengkhawatirkan keturunan keluarga kekaisaran, apalagi kedudukan Rendra sebagai putra mahkota. Pada akhirnya, Permaisuri menggunakan nyawa Puspa sebagai ancaman dan memaksa Rendra menerima seorang selir pendamping.

Rendra pernah menentang, pernah bertengkar dengan ibunya, tetapi pada akhirnya dia mengalah.

Di antara tumpukan lukisan putri-putri para pejabat yang sudah dipersiapkan dengan saksama, dia sembarangan menunjuk gadis yang paling tidak mencolok dan memiliki latar keluarga paling biasa. Gadis itu adalah Suci, putri Wakil Menteri Pembangunan.

Ketika Permaisuri memanggil Suci ke istana, Suci berlutut di lantai dan berkata, "Saya nggak ingin menikah."

Dia sudah memiliki seseorang yang disukainya. Pria itu adalah Wira, Jenderal Muda dari kediaman Jenderal Utara. Mereka tumbuh bersama sejak kecil dan bahkan sudah saling bertukar tanda pengikat cinta. Mereka hanya menunggu persetujuan sang ayah untuk melangsungkan pertunangan.

Permaisuri tidak terburu-buru. Sambil perlahan menyesap teh, dia berkata, "Kudengar Jenderal Wira akan pergi ke perbatasan untuk menjalani latihan bulan depan. Di tempat seperti itu, pedang dan senjata nggak punya mata. Kalau terjadi sesuatu yang nggak diinginkan ...."

Suci sontak mendongak.

"Asalkan kamu masuk ke Istana Timur, melahirkan lima anak, dan memastikan keluarga kekaisaran memiliki penerus ...," Permaisuri meletakkan cangkir tehnya. "Aku akan membiarkanmu pergi. Setelah itu, siapa pun yang ingin kamu nikahi, aku nggak akan menghalangimu."

Suci menggigit bibir. Kukunya menancap ke telapak tangannya.

"Kalau kamu menolak ...," tambah Permaisuri, "sekarang juga aku bisa mengubah surat perintah militer Wira, lalu membuatnya mati di perbatasan."

"Suci, jangan salahkan aku. Rendra begitu memanjakan Putri Mahkota. Sekarang dia akhirnya memilihmu. Demi keturunan keluarga kekaisaran, kamu harus masuk ke Istana Timur."

Suci berlutut di lantai. Seluruh tubuhnya terasa dingin. Dia tahu, ini bukanlah sebuah perundingan, melainkan perintah.

Dia harus mengorbankan pernikahan dan beberapa tahun hidupnya demi keselamatan orang yang dicintainya.

Dia memejamkan mata sejenak. Ketika membukanya kembali, yang tersisa di matanya hanyalah kepatuhan dan kehampaan. "Saya ... akan mematuhi perintah."

Suci menikah. Demi menyelesaikan tugas secepat mungkin, dia terpaksa menggunakan segala cara untuk menarik perhatian Rendra dan tidur bersamanya.

Perlahan, kabar pun tersebar di istana bahwa selir pendamping yang baru datang adalah perempuan penggoda dan sangat tergila-gila kepada Putra Mahkota. Demi merebut perhatian Putra Mahkota, dia sanggup menggunakan segala cara, bahkan tidak memedulikan lagi kehormatan dan harga dirinya.

Suci tidak bisa menjelaskan penderitaannya kepada siapa pun. Dia tidak punya tempat untuk mengadu.

Untungnya, dia cepat mengandung. Entah karena Rendra memang memiliki vitalitas yang kuat atau karena tubuh Suci mudah hamil, tak lama kemudian Suci pun mengandung anak pertama.

Pada hari persalinan, Rendra datang, tetapi hanya berdiri di luar pintu.

Anak itu lahir dengan tangisan nyaring, seorang bayi laki-laki yang sehat. Sebelum dia sempat menggendongnya, Rendra sudah masuk dan berkata kepada dirinya yang sedang lemah, "Puspa kesepian karena nggak punya anak. Dia selalu ingin punya seorang anak. Biarkan anak ini diasuh olehnya."

Suci terbaring di tengah noda darah, memandangnya dan para pelayan istana di belakang yang membawa pergi bedong kecil itu. Bahkan sepatah kata penolakan pun tidak mampu dia ucapkan.

Anak kedua juga laki-laki.

Kali ini, alasan Rendra adalah, "Puspa ingin memberikan teman untuk si anak sulung. Biarkan anak ini juga diasuh olehnya."

Anak ketiga dan keempat juga begitu. Alasannya berbeda-beda, tetapi hasilnya selalu sama.

Setelah lahir, bahkan sebelum tangisan bayinya berhenti, anak itu sudah dibawa pergi dan dikirim ke kediaman sang Putri Mahkota.

Hingga kali ini, anak kelima adalah seorang perempuan. Rendra juga hendak membawanya pergi.

Sebelum pergi, dia melihat Suci yang terbaring di ranjang dengan wajah pucat dan tatapan kosong. Untuk pertama kalinya, muncul sedikit emosi yang nyaris menyerupai rasa iba di dalam hatinya.

Sambil menggendong bayi itu, dia sempat ragu sejenak, lalu meninggalkan sebuah janji. "Bersabar sedikit lagi. Aku pasti akan membiarkanmu mengasuh anak yang berikutnya."

Suci perlahan mengangkat pandangan dan menatapnya.

Rendra memiliki paras yang sangat tampan. Alisnya tegas, matanya cerah, batang hidungnya tinggi, auranya mulia. Saat ini, dengan bayi dalam pelukannya, garis wajahnya tampak sedikit lebih lembut.

Namun, hati Suci tak bergejolak sedikit pun. Karena tidak akan ada lagi anak berikutnya. Tugasnya sudah selesai.

Segala sesuatu di Istana Timur ini, aula yang dingin ini, suami yang acuh tak acuh ini, anak-anak kandung yang tak mampu diakuinya ... tidak ada satu pun yang menjadi miliknya.

Jenderal muda yang dicintainya masih menunggunya di perbatasan. Dia harus meninggalkan tempat ini, meninggalkan semuanya untuk selamanya.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Setelah Melahirkan Anak Kelima, Selir Meminta Kebebasan   Bab 24

    Tabib istana terkejut dan segera berlutut."Yang Mulia! Jangan! Tubuh Yang Mulia sangat berharga dan ini menyangkut keberlangsungan negara! Cara sesat seperti ini akan membahayakan tubuh Yang Mulia. Hamba rela mati berkali-kali, tapi nggak berani melakukannya!""Aku bilang, pakai darahku." Rendra mengulanginya dengan nada tegas. "Nggak perlu banyak bicara. Segera persiapkan semua. Kalau dia nggak berhasil diselamatkan, kamu akan dikubur bersamanya. Kalau satu kata saja bocor, seluruh keluargamu akan dihukum mati."Wajah tabib istana seketika pucat pasi, lalu tubuhnya lunglai di lantai.Selama tujuh hari berikutnya, Rendra menutup diri dengan alasan sedang menjalani pertapaan dan tidak menemui siapa pun.Setiap hari, dengan tangan gemetar ketakutan, tabib istana mengambil semangkuk penuh darah hangat dari jantungnya.Setiap kali darah diambil, rasanya seperti berjalan melewati gerbang kematian. Rasa sakit yang luar biasa, tubuh yang semakin lemah, hawa dingin yang menusuk, kesadaran yan

  • Setelah Melahirkan Anak Kelima, Selir Meminta Kebebasan   Bab 23

    Tak lama kemudian, kabar datang dari kota perbatasan.Di sebuah kediaman jenderal yang sederhana tetapi hangat di perbatasan, Suci dan Wira melangsungkan upacara pernikahan.Saat upacara selesai, salju tipis yang jarang turun di perbatasan mulai berjatuhan. Kepingan salju beterbangan, jatuh di gaun pengantin dan rambut Suci.Dia mendongak, memandangi salju yang memenuhi langit. Dalam keadaan linglung, dia seakan kembali melihat sosok Putra Mahkota yang ditemuinya bertahun-tahun lalu di Istana Timur, berdiri di tengah aula megah dan memandangnya dengan dingin dan penuh keangkuhan.Dia sempat tertegun, tetapi segera tersenyum lega.Segala yang telah berlalu, cinta dan kebencian yang berbelit, perjuangan yang penuh penderitaan, perpisahan dan kematian, semuanya ikut jatuh bersama salju di perbatasan ini, mencair, lalu meresap ke dalam tanah.Kaisar baru naik takhta. Keadaan pemerintahan perlahan kian kokoh.Para pejabat dan panglima perang berkali-kali mengajukan petisi, meminta agar ista

  • Setelah Melahirkan Anak Kelima, Selir Meminta Kebebasan   Bab 22

    Suci berdiri terpaku, menatap mulut prajurit yang bergerak membuka dan menutup untuk menyampaikan kabar itu. Telinganya berdenging, membuatnya tak mampu mendengar apa pun dengan jelas.Hanya beberapa kata seperti "jatuh dari tebing" dan "hidup atau mati belum diketahui" yang terus menghantam gendang telinganya berulang kali.Dia perlahan duduk, tepat di tengah kekacauan itu, lalu diam tak bergerak. Dari siang hingga larut malam, dari larut malam hingga fajar.Pada petang hari ketiga, Wira kembali ke perkemahan utama dengan tubuh penuh luka dan kelelahan.Dia menemukan Rendra tersangkut di sebatang pohon kering di pertengahan tebing. Seluruh tubuh Rendra berlumuran darah, beberapa tulangnya patah, dan napasnya begitu lemah hingga nyaris tak terasa.Namun di tangannya, dia menggenggam erat sebuah tusuk konde giok yang berlumuran darah.Wira mengenalinya. Itu milik Suci.Dengan perasaan yang rumit, Wira menyelamatkan Rendra dan kemudian mengutus orang untuk mempertaruhkan nyawa mengambil

  • Setelah Melahirkan Anak Kelima, Selir Meminta Kebebasan   Bab 21

    Demam tinggi membuat pandangannya kabur, tetapi pendengarannya justru menjadi jauh lebih tajam.Dari tenda di sebelah, samar-samar terdengar suara yang tertahan. Isak tangis lirih seorang wanita, napas berat seorang pria, serta suara ranjang yang bergoyang pelan ....Semua itu seperti pisau-pisau membara yang mengiris gendang telinga dan jantungnya perlahan.Dia menggigit bibir bawahnya erat-erat hingga bau amis darah menyebar di dalam mulut. Kukunya mencengkeram erat kasur di bawah tubuhnya. Dia nyaris melukai telapak tangannya sendiri.Dia ingin menerjang ke sana, ingin berteriak, ingin membunuh. Namun, seluruh tubuhnya terasa luar biasa sakit. Demam tinggi membuatnya tak berdaya, bahkan menggerakkan satu jari pun terasa begitu sulit.Dengan mata merah menyala, dia hanya bisa terbaring di sana, mendengarkan suara yang menandakan bahwa dirinya sudah kehilangan segalanya, mendengarkan wanita yang dicintainya menikmati tubuh pria lain.Sepanjang malam, dia seolah disiksa di dalam kuali

  • Setelah Melahirkan Anak Kelima, Selir Meminta Kebebasan   Bab 20

    Amarah yang tak jelas asalnya bercampur dengan kekhawatiran yang begitu kuat. Keduanya pun seketika membara di hati Rendra. Tanpa berpikir panjang, dia langsung memacu kudanya ke arah Suci, berniat menariknya dari sana dan mengantarkannya ke tempat yang aman di garis belakang.Namun, tepat ketika dia memacu kudanya ke depan, sesuatu yang tak terduga terjadi.Sebuah anak panah yang dilepaskan dari sudut yang sulit ditebak memelesat dari tengah pasukan yang kacau di sisi medan perang. Anak panah itu langsung mengarah ke punggung Wira.Wira sedang mengerahkan seluruh tenaganya menghadapi beberapa pasukan berkuda musuh di depannya dan sama sekali tidak menyadarinya."Wira!" Pupil mata Suci menyempit. Dia berteriak panik dan berlari sekuat tenaga ke depan, tetapi terhalang oleh kerumunan yang kacau.Dalam sekejap, sesosok berpakaian hitam tiba-tiba menerjang dari samping dan menghantam Wira dengan keras, menjatuhkannya dari punggung kuda.Jleb! Suara anak panah yang menembus daging terdenga

  • Setelah Melahirkan Anak Kelima, Selir Meminta Kebebasan   Bab 19

    Rendra perlahan mengangkat kepala dan menatapnya. Di bawah cahaya lilin, wajah Suci tampak tenang, dingin, bahkan menyiratkan sedikit rasa muak.Di sana, tidak ada lagi kelembutan dan kesabaran yang dulu selalu ditunjukkannya. Terlebih lagi, tidak ada cinta yang selama ini Rendra kira diam-diam tersimpan di hati Suci.Yang tersisa hanyalah ketidakpedulian yang sepenuhnya dingin.Akhirnya, dia menyadari dengan sangat jelas, dia sudah kehilangan Suci untuk selamanya.Dengan berpegangan pada tepi ranjang, dia terhuyung bangkit. Untuk terakhir kalinya, dia menatap Suci dalam-dalam, seolah ingin mengukir wajahnya jauh ke dalam jiwa.Kemudian, dia berbalik. Seperti tubuh kosong yang sudah kehilangan jiwanya, dia berjalan sempoyongan meninggalkan kamar dan menyatu dalam kegelapan yang terbentang tanpa batas.Malam itu, Rendra berjalan tanpa tujuan di jalanan dingin daerah perbatasan. Pada akhirnya, dia masuk ke sebuah kedai arak sederhana yang belum tutup. Dia mengeluarkan semua barang berhar

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status