Share

Bab 3

Author: Ohne
Aku tersenyum tipis.

Raut wajah Elen pun terlihat jauh lebih tenang.

“Ke depannya, kamu sama Gery sudah jadi suami istri. Kita juga sudah satu keluarga. Soal cicilan rumah, siapa pun yang bayar, toh sama saja.”

Gery ikut tersenyum. “Iya. Kita sudah satu keluarga. Jangan mempermasalahkan hal-hal seperti ini sampai segitunya.”

“Lagipula, soal Haydar, sudahlah. Kamu juga sudah lama nggak tahan karena dia terus mengatur hidupmu. Sekarang dia sudah meninggal. Seharusnya kamu senang, ‘kan? Setidaknya, sekarang nggak ada lagi yang bisa menghalangi kita untuk bersama.”

[Istrinya malah pakai uang sendiri buat menghidupi pria lain. Mantan suaminya pasti naik darah.]

[Sudah, lebih baik kamu jangan cari mati lagi. Cepat usir mereka berdua.]

“Sudah selesai bicaranya?”

Gery tertegun sejenak, lalu mengangguk.

Detik berikutnya, tanganku melayang dan sebuah tamparan keras mendarat di wajahnya.

Elen langsung menjerit kaget. Begitu dia hendak bicara, satu tamparan kembali mendarat di wajahnya.

“Kalian memang sudah menemaniku melewati masa kelam setelah kehilangan suamiku. Tapi apa pun yang terjadi, kalian nggak seharusnya menghina dia. Aku selalu mencintainya, dan aku nggak pernah membencinya!”

“Elen, kamu sudah berkali-kali mengarang cerita. Kalau orang lain dengar, mereka pasti mengira Haydar masih ada di sini dan kamu sengaja mengatakannya biar dia membenciku.”

Mata Elen bergetar. Keringat dingin membasahi dahinya.

“Haydar sudah meninggal. Mana mungkin dia masih ada di sini?”

“Lagipula, kamu memang pernah bilang begitu. Cuma ... cuma mungkin kamu sudah lupa.”

Aku tidak ingin terus berdebat dengannya. Semakin banyak bicara, semakin banyak pula kesalahan yang bisa dibuat. Jika Haydar benar-benar masih berada di sisiku, perkataan mereka pasti akan menyakitinya.

Aku berbalik dan pergi.

Gery berkata dengan marah di belakangku,

“Denisha Madelief! Aku sudah beri tahu kerabat dari kedua keluarga kita. Undangannya juga sudah disebarkan. Pernikahan kita tinggal dua hari lagi. Pulanglah dan tenangkan dirimu.”

“Tante lagi nggak enak badan. Jangan sampai dia ikut mengkhawatirkan masalah ini.”

Aku kembali ke rumah mewah tempat aku dan Haydar tinggal setelah menikah.

Semua pelayan berada di lantai satu. Di lantai dua hanya ada aku seorang. Begitu berbaring di tempat tidur, aku selalu merasa seluruh ruangan begitu dingin dan menusuk.

[Mantan suamimu terus mengawasimu.]

Melihat deretan komentar itu, aku semakin panik.

Aku buru-buru mengambil fotonya dan memeluknya erat-erat, lalu dengan gugup berkata,

“Sayang, sampai kapan pun, satu-satunya orang yang kucintai itu cuma kamu.”

Dalam keadaan setengah sadar, aku akhirnya tertidur. Namun, dalam mimpi, aku bertemu dengan Haydar.

Pupil matanya yang hitam pekat menatapku tanpa berkedip. Tangannya yang dingin mencengkeram daguku.

Berkali-kali mengulang kalimat yang sama.

“Kamu membohongiku.”

Bibirku gemetar, hendak menjelaskan, tetapi tiba-tiba dia mencengkeram leherku erat-erat.

“Ah!”

Aku membuka mata dengan ketakutan. Keringat dingin membasahi seluruh wajahku saat aku berlari ke depan cermin.

Tidak ada bekas apa pun di leherku, tetapi rasa sesak seperti tercekik itu masih terasa begitu nyata.

Tidak mungkin.

Aku tidak menerima cincin dari Gery. Haydar tidak mungkin mencekikku sampai mati.

Aku membasuh wajah dengan air dingin untuk menenangkan diri.

Gery tidak hanya mengirimkan undangan kepada kerabat dari kedua keluarga kami, tetapi juga kepada orang-orang di sekolahnya. Bahkan, banyak warganet yang mengikuti aku dan Haydar di internet juga menerima undangan darinya.

[Suaminya baru meninggal tiga bulan, sudah mencari pasangan baru.]

Para warganet yakin Haydar terkena jebakan kencan yang berujung pemerasan. Mereka berbondong-bondong menyerbu akunku dan memakiku sebagai perempuan pembawa sial yang menikah hanya demi harta suaminya.

Aku begitu marah hingga seluruh tubuhku gemetar.

Aku mengunggah video untuk memberikan klarifikasi, mengatakan bahwa seumur hidup ini aku tidak akan menikah lagi. Namun, tidak ada yang percaya.

Demi bisa tidur lebih tenang, aku pulang ke rumah orang tuaku.

Ibu sudah menyiapkan hidangan lezat satu meja penuh. Tepat ketika aku memegang sumpit dan hendak mengambil makanan ... deretan komentar kembali bermunculan.

[Ibumu marah karena kamu punya uang, tapi nggak mau memberikan uang untuk biaya pernikahan adikmu. Jadi, dia menjualmu. Makanan itu sudah dicampur obat penenang. Setelah kamu memakannya, dia akan membawamu menikah dengan Gery.]

[Gery sudah memberikan mahar sebesar satu miliar rupiah. Kali ini, meskipun kamu nggak mau menikah, kamu tetap harus menikah. Mantan suamimu benar-benar akan berubah menjadi lebih kejam.]

Tanganku terhenti di udara.

Aku tidak memberikan uang itu karena pacar adik laki-lakiku adalah seorang penipu. Aku tidak ingin seluruh keluarga kami dipermainkan olehnya.

Lagipula, selama bertahun-tahun kami menikah, Haydar sudah berkali-kali memberikan uang kepada keluargaku.

Selama ini, dia selalu bilang bahwa dia bisa menggantikanku berbakti kepada orang tuaku, sehingga aku tak perlu lagi mengkhawatirkan hal ini.

Namun pada akhirnya, ibuku justru menjualku demi satu miliar rupiah.

“Bu, aku nggak akan menikah dengan Gery.”

Wajah Ibu seketika berubah. Dia begitu marah hingga memegangi dadanya sambil terengah-engah.

Hatiku langsung mencelos. Baru saja hendak berbicara, aku sudah mendengar Ibu berkata,

“Kalau kamu nggak menikah dengannya, terus mau menikah dengan siapa? Opini publik di internet sekarang sudah jelek. Semua orang bilang kamu pembawa sial bagi suamimu. Kalau kamu nggak menikah dengan Gery, nanti siapa yang mau menerimamu?”

“Lagipula, tempat pesta pernikahan sudah ditentukan dan undangan juga sudah disebarkan. Sekarang kamu bilang nggak mau menikah, nanti orang-orang mau bilang apa? Mereka pasti menertawakan kita, dan bilang nggak ada yang mau menikahi anak kita.”

“Urusan menikah itu dari dulu orang tua yang tentukan. Kalau Ibu sudah menyuruhmu menikah, ya kamu harus menikah!”

Aku mencengkeram sumpit erat-erat, hati terasa semakin dingin.

“Aku pulang dulu.”

Tepat ketika aku berdiri, pandanganku tiba-tiba gelap. Tubuhku langsung ambruk ke lantai.

“Untung saja aku juga sudah memasukkan sedikit ke dalam pengharum ruangan.” Ibu tertawa puas.

Dia mengurungku di loteng selama dua hari penuh.

Anehnya, selama dua hari itu aku tidak lagi melihat deretan komentar.

Hingga akhirnya, Ibu membawaku ke pesta pernikahan.

Di tengah kerumunan yang berdesakan, aku langsung melihat sosok yang seumur hidup tak akan pernah kulupakan.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Setelah Memutuskan Menikah Lagi   Bab 8

    “Aku percaya padamu.”Tiga kata sederhana itu akhirnya membuat ketegangan yang sejak tadi kurasakan mereda.Seluruh tubuhku seakan kehilangan tenaga. Aku terhuyung lalu berpegangan pada dinding, seperti orang yang baru saja diangkat dari dalam air.Elen dan Gery benar-benar putus asa.Mereka masih ingin mengatakan sesuatu untuk membela diri, tetapi Haydar tidak memberi mereka kesempatan.“Buang saja mereka ke pegunungan.”Gery begitu ketakutan sampai wajahnya pucat pasi. Dia merangkak dengan panik dan berlutut di hadapan Haydar.“Pak Haydar, Elen yang menyuruhku. Dia yang menyuruhku menjebak Denisha. Aku nggak ada hubungannya dengan semua ini!”Elen menjerit sambil menarik-narik Gery.“Diam! Aku nggak melakukan apa-apa!”Demi menyelamatkan nyawanya sendiri, Gery memilih mengorbankan cintanya.Dia menceritakan semuanya tanpa menyembunyikan apa pun.“Pak Haydar, ampuni aku. Tolong ampuni aku!”Melihat Haydar tetap diam, Gery kembali berlutut di hadapanku dan berkali-kali membenturkan kep

  • Setelah Memutuskan Menikah Lagi   Bab 7

    Aku tahu selama tiga bulan ini, dia terus berada di sisiku dan hatinya pasti sudah terluka.Sekali kepercayaan hancur, tidak mudah untuk mendapatkannya kembali.Tetapi aku tidak punya pilihan lain selain mengambil risiko.Dan untungnya, kali ini aku berhasil.Dia menyuruh asistennya mengantarku ke rumah mewah. Sementara itu, dia sendiri pergi ke toko kue.Toko kue itu dilengkapi kamera pengawas. Rekamannya masih mungkin dipulihkan. Aku juga sudah memberi tahu Haydar bahwa aku baru mengenal Gery setelah kematiannya. Sekalian, aku meminta Haydar menyelidiki Gery.Setengah jam kemudian, Elen kembali datang.Dia membawa sebuah koper dan menyodorkannya ke tanganku.“Aku sudah mengalihkan perhatian kepala pelayan dan para pengawal. Denisha, aku tahu kamu sengaja batalkan pernikahan karena setelah melihat Haydar hidup kembali, kamu takut dia akan menyakitimu.”“Orang yang selama ini kamu cintai adalah Gery. Di dalam koper ini ada uang yang sudah kukumpulkan selama bertahun-tahun, juga beberap

  • Setelah Memutuskan Menikah Lagi   Bab 6

    “Diam!”Aku meninggikan suara dengan gemetar.Gery menyeringai, lalu tanpa tahu diri melanjutkan, “Pak Haydar, bagaimanapun juga, aku dan Denisha baru saling kenal. Jelas nggak bisa dibandingkan dengan hubungan kalian yang sudah terjalin sejak kecil.”“Kalau ada yang belum kupahami, mungkin Pak Haydar bisa mengajariku.”“Haydar, aku juga nggak tahu kenapa aku bisa hamil. Tapi kamu harus percaya sama aku, aku benar-benar nggak pernah ....”Aku buru-buru mendekati Haydar untuk menjelaskan semuanya.Namun, begitu dia mundur selangkah, hatiku seakan tertusuk.“Waktu pergi dinas, aku meneleponmu sampai enam kali, tapi kamu nggak mengangkatnya. Katamu waktu itu kamu sudah tidur.”Gery terkekeh.“Oh, waktu itu aku dengar. Cuma kami berdua memang nggak mengangkatnya.”“Gery, kamu sebegitu percaya dirinya?”Aku menatapnya dengan sinis.“Memangnya apa yang kamu punya sampai merasa bisa menandingi Haydar? Kamu nggak setampan dia, nggak sekaya dia. Bahkan waktu mau beli rumah mewah saja, kamu samp

  • Setelah Memutuskan Menikah Lagi   Bab 5

    “Apa kamu bilang?”Haydar tiba-tiba melepaskan tangannya.Aku terjatuh sambil memegangi tenggorokan yang terasa sakit, terus terbatuk-batuk, bahkan belum sempat mengatakan apa-apa.Gery langsung menghampiri dan membentakku.“Jangan asal bicara! Hari ini pernikahan kita, ada begitu banyak kerabat di sini!”“Gery, memang apa yang kamu takuti?”Aku menunjuk Elen.“Yang sudah kamu dan dia lakukan itu, memangnya kalian pikir nggak akan pernah ketahuan?”Sekilas, mata Elen menunjukkan sedikit rasa tersakiti.“Denisha, kamu bicara apa sih? Sebanyak apa pun yang aku dan Gery lakukan, itu semua demi kebaikanmu.”Aku bangkit berdiri dan berkata dengan tegas, kata demi kata.“Sudah ku bilang, itu hasil USG Elen!”“Selama dua hari ini aku terus dikurung ibuku di loteng. Aku sampai harus mencongkel kunci dengan kawat supaya bisa keluar. Lihat, bahkan masih ada darahku di sini. Aku juga sama sekali nggak pernah pergi ke rumah sakit.”Aku mengulurkan telapak tanganku yang dipenuhi luka.Elen mendadak

  • Setelah Memutuskan Menikah Lagi   Bab 4

    Ternyata Haydar benar-benar hidup kembali!Semua yang dikatakan deretan komentar itu benar!Mengingat tiga bulan terakhir, Elen dan Gery telah bersekongkol mempermainkanku, membuatku seperti orang bodoh yang terus mereka permainkan.Aku tidak kuasa menahan rasa perih di mataku.Tanpa sadar, kakiku melangkah menuju Haydar.“Denisha!”Gery menarik tanganku lalu memaksakan jemarinya bertaut dengan jemariku.Di mata orang lain, kami benar-benar terlihat seperti pasangan suami istri yang begitu mesra.“Aku sudah tahu kamu pasti akan datang. Kamu masih mencintaiku.”Aku menatap mata Haydar.Gigiku bergemeletuk menahan gemetar, tetapi aku sama sekali tidak punya tenaga untuk melepaskan diri dari cengkeraman Gery.“Gery, kamu sudah gila, ya? Aku sama sekali nggak pernah menyetujui ....”Dia mencengkeram bahuku begitu kuat sampai rasanya tulangku hampir remuk. Namun, dia tetap tersenyum.Dia benar-benar terlihat seperti seorang suami lembut yang sedang berbisik mesra kepada istrinya.“Sudahlah,

  • Setelah Memutuskan Menikah Lagi   Bab 3

    Aku tersenyum tipis.Raut wajah Elen pun terlihat jauh lebih tenang.“Ke depannya, kamu sama Gery sudah jadi suami istri. Kita juga sudah satu keluarga. Soal cicilan rumah, siapa pun yang bayar, toh sama saja.”Gery ikut tersenyum. “Iya. Kita sudah satu keluarga. Jangan mempermasalahkan hal-hal seperti ini sampai segitunya.”“Lagipula, soal Haydar, sudahlah. Kamu juga sudah lama nggak tahan karena dia terus mengatur hidupmu. Sekarang dia sudah meninggal. Seharusnya kamu senang, ‘kan? Setidaknya, sekarang nggak ada lagi yang bisa menghalangi kita untuk bersama.”[Istrinya malah pakai uang sendiri buat menghidupi pria lain. Mantan suaminya pasti naik darah.][Sudah, lebih baik kamu jangan cari mati lagi. Cepat usir mereka berdua.]“Sudah selesai bicaranya?”Gery tertegun sejenak, lalu mengangguk.Detik berikutnya, tanganku melayang dan sebuah tamparan keras mendarat di wajahnya.Elen langsung menjerit kaget. Begitu dia hendak bicara, satu tamparan kembali mendarat di wajahnya.“Kalian me

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status