เข้าสู่ระบบ“Aku percaya padamu.”Tiga kata sederhana itu akhirnya membuat ketegangan yang sejak tadi kurasakan mereda.Seluruh tubuhku seakan kehilangan tenaga. Aku terhuyung lalu berpegangan pada dinding, seperti orang yang baru saja diangkat dari dalam air.Elen dan Gery benar-benar putus asa.Mereka masih ingin mengatakan sesuatu untuk membela diri, tetapi Haydar tidak memberi mereka kesempatan.“Buang saja mereka ke pegunungan.”Gery begitu ketakutan sampai wajahnya pucat pasi. Dia merangkak dengan panik dan berlutut di hadapan Haydar.“Pak Haydar, Elen yang menyuruhku. Dia yang menyuruhku menjebak Denisha. Aku nggak ada hubungannya dengan semua ini!”Elen menjerit sambil menarik-narik Gery.“Diam! Aku nggak melakukan apa-apa!”Demi menyelamatkan nyawanya sendiri, Gery memilih mengorbankan cintanya.Dia menceritakan semuanya tanpa menyembunyikan apa pun.“Pak Haydar, ampuni aku. Tolong ampuni aku!”Melihat Haydar tetap diam, Gery kembali berlutut di hadapanku dan berkali-kali membenturkan kep
Aku tahu selama tiga bulan ini, dia terus berada di sisiku dan hatinya pasti sudah terluka.Sekali kepercayaan hancur, tidak mudah untuk mendapatkannya kembali.Tetapi aku tidak punya pilihan lain selain mengambil risiko.Dan untungnya, kali ini aku berhasil.Dia menyuruh asistennya mengantarku ke rumah mewah. Sementara itu, dia sendiri pergi ke toko kue.Toko kue itu dilengkapi kamera pengawas. Rekamannya masih mungkin dipulihkan. Aku juga sudah memberi tahu Haydar bahwa aku baru mengenal Gery setelah kematiannya. Sekalian, aku meminta Haydar menyelidiki Gery.Setengah jam kemudian, Elen kembali datang.Dia membawa sebuah koper dan menyodorkannya ke tanganku.“Aku sudah mengalihkan perhatian kepala pelayan dan para pengawal. Denisha, aku tahu kamu sengaja batalkan pernikahan karena setelah melihat Haydar hidup kembali, kamu takut dia akan menyakitimu.”“Orang yang selama ini kamu cintai adalah Gery. Di dalam koper ini ada uang yang sudah kukumpulkan selama bertahun-tahun, juga beberap
“Diam!”Aku meninggikan suara dengan gemetar.Gery menyeringai, lalu tanpa tahu diri melanjutkan, “Pak Haydar, bagaimanapun juga, aku dan Denisha baru saling kenal. Jelas nggak bisa dibandingkan dengan hubungan kalian yang sudah terjalin sejak kecil.”“Kalau ada yang belum kupahami, mungkin Pak Haydar bisa mengajariku.”“Haydar, aku juga nggak tahu kenapa aku bisa hamil. Tapi kamu harus percaya sama aku, aku benar-benar nggak pernah ....”Aku buru-buru mendekati Haydar untuk menjelaskan semuanya.Namun, begitu dia mundur selangkah, hatiku seakan tertusuk.“Waktu pergi dinas, aku meneleponmu sampai enam kali, tapi kamu nggak mengangkatnya. Katamu waktu itu kamu sudah tidur.”Gery terkekeh.“Oh, waktu itu aku dengar. Cuma kami berdua memang nggak mengangkatnya.”“Gery, kamu sebegitu percaya dirinya?”Aku menatapnya dengan sinis.“Memangnya apa yang kamu punya sampai merasa bisa menandingi Haydar? Kamu nggak setampan dia, nggak sekaya dia. Bahkan waktu mau beli rumah mewah saja, kamu samp
“Apa kamu bilang?”Haydar tiba-tiba melepaskan tangannya.Aku terjatuh sambil memegangi tenggorokan yang terasa sakit, terus terbatuk-batuk, bahkan belum sempat mengatakan apa-apa.Gery langsung menghampiri dan membentakku.“Jangan asal bicara! Hari ini pernikahan kita, ada begitu banyak kerabat di sini!”“Gery, memang apa yang kamu takuti?”Aku menunjuk Elen.“Yang sudah kamu dan dia lakukan itu, memangnya kalian pikir nggak akan pernah ketahuan?”Sekilas, mata Elen menunjukkan sedikit rasa tersakiti.“Denisha, kamu bicara apa sih? Sebanyak apa pun yang aku dan Gery lakukan, itu semua demi kebaikanmu.”Aku bangkit berdiri dan berkata dengan tegas, kata demi kata.“Sudah ku bilang, itu hasil USG Elen!”“Selama dua hari ini aku terus dikurung ibuku di loteng. Aku sampai harus mencongkel kunci dengan kawat supaya bisa keluar. Lihat, bahkan masih ada darahku di sini. Aku juga sama sekali nggak pernah pergi ke rumah sakit.”Aku mengulurkan telapak tanganku yang dipenuhi luka.Elen mendadak
Ternyata Haydar benar-benar hidup kembali!Semua yang dikatakan deretan komentar itu benar!Mengingat tiga bulan terakhir, Elen dan Gery telah bersekongkol mempermainkanku, membuatku seperti orang bodoh yang terus mereka permainkan.Aku tidak kuasa menahan rasa perih di mataku.Tanpa sadar, kakiku melangkah menuju Haydar.“Denisha!”Gery menarik tanganku lalu memaksakan jemarinya bertaut dengan jemariku.Di mata orang lain, kami benar-benar terlihat seperti pasangan suami istri yang begitu mesra.“Aku sudah tahu kamu pasti akan datang. Kamu masih mencintaiku.”Aku menatap mata Haydar.Gigiku bergemeletuk menahan gemetar, tetapi aku sama sekali tidak punya tenaga untuk melepaskan diri dari cengkeraman Gery.“Gery, kamu sudah gila, ya? Aku sama sekali nggak pernah menyetujui ....”Dia mencengkeram bahuku begitu kuat sampai rasanya tulangku hampir remuk. Namun, dia tetap tersenyum.Dia benar-benar terlihat seperti seorang suami lembut yang sedang berbisik mesra kepada istrinya.“Sudahlah,
Aku tersenyum tipis.Raut wajah Elen pun terlihat jauh lebih tenang.“Ke depannya, kamu sama Gery sudah jadi suami istri. Kita juga sudah satu keluarga. Soal cicilan rumah, siapa pun yang bayar, toh sama saja.”Gery ikut tersenyum. “Iya. Kita sudah satu keluarga. Jangan mempermasalahkan hal-hal seperti ini sampai segitunya.”“Lagipula, soal Haydar, sudahlah. Kamu juga sudah lama nggak tahan karena dia terus mengatur hidupmu. Sekarang dia sudah meninggal. Seharusnya kamu senang, ‘kan? Setidaknya, sekarang nggak ada lagi yang bisa menghalangi kita untuk bersama.”[Istrinya malah pakai uang sendiri buat menghidupi pria lain. Mantan suaminya pasti naik darah.][Sudah, lebih baik kamu jangan cari mati lagi. Cepat usir mereka berdua.]“Sudah selesai bicaranya?”Gery tertegun sejenak, lalu mengangguk.Detik berikutnya, tanganku melayang dan sebuah tamparan keras mendarat di wajahnya.Elen langsung menjerit kaget. Begitu dia hendak bicara, satu tamparan kembali mendarat di wajahnya.“Kalian me