Share

Setelah Sang Teman Tidur Tersadar, Sang CEO Menyesal
Setelah Sang Teman Tidur Tersadar, Sang CEO Menyesal
Author: Flower

Bab 1

Author: Flower
Seketika, rona wajahku memudar, mataku memerah seolah meneteskan darah, dan aku tidak mampu mengucapkan sepatah kata pun.

Senyum di wajah pria di seberang sana makin kentara, seolah sedang mempermainkan hewan peliharaan kecil.

"Kamu kira kita ini apa? Sepasang kekasih yang saling mencintai?"

Mendengar nada bicaranya yang penuh olok-olok, aku akhirnya tidak tahan lagi dan langsung memutuskan telepon.

Kamar kembali diliputi keheningan seperti kematian yang membuatku sesak napas.

Hingga layar ponsel kembali menyala.

Daffa mengirimkan sebuah pesan berisi lokasi hotel.

Aku menatap lokasi itu dengan tatapan kosong, merasa seolah sebagian hatiku telah dicabut.

Malam itu, aku tidak tidur semalaman. Setiap kali memejamkan mata, yang terbayang adalah penghinaan Daffa barusan.

Aku mengenalnya tiga tahun lalu. Dia adalah CEO Grup Astral, sedangkan aku hanyalah seorang anak magang.

Sebenarnya, sejak awal aku tidak pernah menyangka bisa masuk ke Astral karena perusahaan itu merupakan salah satu yang terkemuka di industri ini.

Semua karyawannya merupakan lulusan universitas ternama. Dengan latar belakang pendidikan biasa, aku nyaris mengerahkan seluruh kemampuanku hanya untuk mendapatkan satu-satunya tawaran kerja yang berhasil kuraih tahun itu.

Saat itu, aku merasa menjadi orang yang paling beruntung di dunia. Namun, aku tidak menyangka bahwa setelah masuk perusahaan, keberuntungan yang lebih besar sedang menungguku.

Pria yang menjadi pujaan hati semua wanita di perusahaan itu justru mengundangku makan siang di depan semua orang.

Setelah itu, kami pulang kerja bersama, berkencan bersama, dan melewati malam-malam penuh gairah bersama.

Pada siang hari, dia adalah atasan yang elegan. Namun, pada malam hari, dia berubah menjadi sosok yang kasar dan menggila, menekanku di atas ranjang untuk melampiaskan hasratnya.

Saat mencapai puncak kenikmatan, dia akan membungkuk mendekat ke telingaku dan berulang kali mengucapkan, "Aku mencintaimu."

Setelahnya, dia akan dengan lembut membersihkan tubuhku dan mencium bekas ciuman di tubuhku.

Di mataku, semua itu adalah hal-hal yang hanya dilakukan oleh sepasang kekasih yang sangat intim.

Namun, sekarang, Daffa justru mengatakan bahwa aku ... hanya teman tidurnya?

Aku tertawa mencemooh diri sendiri, lalu mencubit pahaku. Rasa sakit itu memberitahuku bahwa semua ini bukan mimpi.

Malam itu, aku duduk di tepi ranjang untuk waktu yang lama. Baru setelah sinar matahari pertama menyinari tubuhku dan alarm di belakangku berbunyi, aku tersadar. Seperti boneka tanpa jiwa, aku berjalan ke kamar mandi untuk membersihkan diri.

Setelah keluar, aku baru menyadari bahwa entah sejak kapan Daffa sudah datang dan sedang duduk di sofa.

Dia menatapku yang terbalut handuk mandi, lalu sedikit mengangkat alis dan bertanya dengan nada datar, "Kenapa tadi malam kamu nggak datang?"

Aku terpaku di tempat. Tiba-tiba aku merasa semua ini begitu konyol. Dia datang pagi-pagi sekali hanya untuk mempertanyakan kenapa aku tidak datang?

Sebelum sempat menjawab, Daffa sudah berdiri dan mengeluarkan sebuah diska lepas dari tas kerjanya, lalu meletakkannya di atas meja. "Nggak datang juga bagus. Tadi malam, aku mencoba rasanya tanpa memakai kondom dan ternyata lebih nikmat."

"Cuma saja, karena melakukannya berkali-kali dalam satu malam, Lili terlalu kelelahan sampai hari ini sulit turun dari ranjang. Tolong kamu urus dokumen-dokumen ini untuknya."

Saat itu, aku benar-benar tidak percaya dengan apa yang baru saja kudengar.

Dia bahkan bisa dengan begitu santainya menceritakan kepadaku tentang hubungan intimnya dengan wanita lain, lalu memintaku mengurus pekerjaan untuk wanita yang kini menjadi pasangan barunya?

Mataku seketika memerah. Aku menatap kosong pria yang telah kucintai selama tiga tahun itu. "Daffa, apa kamu benar-benar sudah jatuh cinta padanya?"

Dia tertegun sejenak, lalu tertawa. Wajahnya menunjukkan sikap angkuh dan tidak peduli.

"Cinta? Aku nggak suka kata yang begitu abstrak."

"Tapi Lili memang sangat menggoda."

Dia menopang dagunya, seolah sedang mengingat sesuatu.

"Tubuhnya bagus, suaranya juga sangat merdu. Terutama rambut keriting warna pirangnya. Saat melakukannya, rasanya seperti anak kucing yang menggaruk dadaku. Selain itu ...."

"Cukup!" Aku tidak sanggup mendengarkan lebih lama. Aku langsung menggenggam diska lepas di atas meja, lalu mendorong Daffa keluar dari kamar. "Pak Daffa, aku sudah tahu apa yang harus kukerjakan. Sekarang, keluarlah."

Mendengar panggilan yang begitu dingin itu, Daffa tertegun sejenak. Namun, dia tidak marah. Sebaliknya, dia langsung menarik pergelangan tanganku dan bertanya dengan senyum samar, "Celine, kamu marah?"

Aku mendorong dadanya sekuat tenaga dan berkata kaku, "Nggak." Namun, dia langsung menekanku ke sudut dinding.

Ujung jarinya mengusap bibirku, lalu menyapu sudut mataku. Ketika menyentuh air mata, dia terkekeh pelan. "Masih bilang nggak. Jelas-jelas kamu menangis karena sedih."

"Celine, dengan ekspresimu seperti ini, rasanya seolah-olah aku yang telah mencampakkanmu. Dibandingkan melihatmu dengan wajah semuram ini, aku lebih suka melihatmu tersenyum."

Daffa mencengkeram daguku, menatap bibirku, lalu perlahan mendekat.

Tanpa sadar, aku memejamkan mata, tetapi ciuman yang kuharapkan tidak kunjung mendarat. Yang terdengar di telingaku justru suaranya yang dingin.

"Turuti saja dengan baik. Dengan begitu, aku masih bisa membiarkanmu tetap di sisiku. Kalau kamu kembali seperti tadi malam, Astral dan aku sama-sama nggak membutuhkanmu lagi."

Tidak ada sedikit pun nada main-main dalam suaranya. Aku tahu, Daffa serius saat ini.

Setelah mengatakannya, dia berjalan keluar. Namun, sesampainya di depan pintu, dia berhenti sejenak. "Oh, ya. Mulai sekarang, aku nggak bakal lagi menjemputmu buat berangkat kerja. Rumah Lili lebih jauh dari kantor."

Begitu pintu tertutup, aku tidak kuasa lagi menahan diri. Tubuhku merosot menyusuri dinding hingga terduduk di lantai, kedua tangan menutupi wajah saat tangisku pecah.

Aku pernah mengira Daffa benar-benar memiliki perasaan kepadaku. Namun, ternyata aku hanyalah teman tidur yang bisa dia tinggalkan kapan saja.

Lalu, apa sebenarnya arti cinta dan tiga tahun yang telah kami lalui?

Aku membuka telapak tangan dan menatap diska lepas di sana. Rasanya seperti baru saja ditampar seseorang dengan keras.

Aku tidak tahu sudah berapa lama menangis. Setelah akhirnya menenangkan diri, aku berjalan ke lemari dan mengenakan pakaian kerja.

Namun, ketika sampai di depan pintu, aku tiba-tiba tertegun.

Aku bahkan tidak tahu bagaimana cara menggunakan transportasi umum untuk pergi ke kantor.

Sebab, sejak aku masuk Astral, setiap hari Daffa selalu datang sendiri ke rumahku untuk menjemputku bekerja.

Dengan pikiran kosong, aku menghentikan sebuah taksi. Begitu tiba di bawah gedung kantor, hujan deras tiba-tiba mengguyur.

Aku menutupi kepala dengan tangan dan berlari menerobos hujan. Namun, tiba-tiba aku melihat Daffa berdiri di seberang jalan. Dia berjalan ke arahku sambil membawa payung.

Saat itu, perasaan yang rumit melintas di hatiku. Tanpa sadar, aku memanggil, "Daffa ...."

Dia tersenyum, tetapi senyuman itu bukan untukku.

Dia melewatiku begitu saja dan berjalan lurus menuju seorang wanita yang tidak jauh dari sana, lalu memayunginya.

Dia merangkul Lili dan berkata dengan nada menegur, tetapi penuh kasih sayang, "Bukannya sudah kubilang, hari ini kamu libur? Kenapa masih datang ke kantor?"

Lili dengan malu-malu memukul dadanya. "Aku datang karena mau bertemu Pak Daffa."

Melihat kemesraan mereka yang seolah tidak memedulikan siapa pun di sekitar, aku seketika merasa harapan yang baru saja muncul dalam diriku tadi begitu konyol.

Aku menurunkan tangan dan perlahan berjalan menuju kantor, membiarkan hujan deras membasahi seluruh tubuhku.

Daffa menatapku dengan bingung, tetapi tidak mengatakan apa-apa.

Begitu masuk ke ruang kerja, rekan-rekan kerja menatapku dengan heran karena seluruh tubuhku basah kuyup.

Aku tidak memedulikan tatapan mereka dan hanya duduk diam di meja kerjaku.

Entah sudah berapa lama berlalu, aku mengangkat kepala dan menepuk bahu rekan kerja di sebelahku. "Bianca, terakhir kali kamu bilang bisa merekomendasikan seseorang buat bekerja di Grup Meraki, 'kan?"

Dia mengangguk. "Benar, tapi aku cuma bisa merekomendasikan orang buat divisi luar negeri. Pimpinan di sana sangat ketat, dan banyak orang yang kurekomendasikan ditolak. Celine, kenapa kamu menanyakan ini?"

"Karena aku mau pergi ke sana."

Mendengar itu, Bianca Gumiwang langsung berdiri dan berseru kaget, "Kak Celine, kamu serius? Pak Daffa begitu baik padamu, dan kamu tega meninggalkannya!"

Aku segera memberi isyarat agar dia diam dan mengecilkan suara. "Pengunduran diriku nggak ada hubungannya dengan Pak Daffa. Ini cuma masalah perencanaan karier pribadi. Bianca, tolong bantu aku kali ini."

Bianca masih ingin bertanya lebih jauh, tetapi melihat sikapku yang menghindar, akhirnya dia menyetujuinya.

Bianca menghubungi cabang Grup Meraki di Negara B. Setelah menutup telepon, dia mengambil pulpen dan menuliskan sebuah alamat surel di atas kertas. "Aku sudah menghubungi mereka. Tambahkan akun surel ini, lalu urusan selanjutnya kamu hubungi sendiri."

Setelah menerima secarik kertas itu, kekhawatiran yang sejak tadi menghantuiku akhirnya sedikit mereda.

Sebenarnya, aku baru saja berbohong, atau lebih tepatnya, setengah benar dan setengah bohong.

Memang benar Daffa telah melukai hatiku, tetapi alasan pengunduran diriku juga tidak sepenuhnya karena dia.

Selama tiga tahun di Astral, aku tidak merasa bahagia.

Daffa selalu mengatakan bahwa dia merasa kasihan kepadaku, sehingga banyak pekerjaan yang kulakukan hanya sekadar formalitas.

Daripada disebut karyawan, aku lebih seperti hewan peliharaan yang menemaninya bekerja.

Hewan peliharaan?

Begitu teringat kata itu, aku kembali teringat sikap Daffa yang kini begitu dingin. Hatiku seketika terasa getir.

Kalau tuanku sudah tidak menginginkanku, aku juga tidak akan memaksakan diri.

Setelah ulang tahunku yang ke-25 berlalu, sudah waktunya bagiku mencari kebebasan yang menjadi milikku sendiri.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Setelah Sang Teman Tidur Tersadar, Sang CEO Menyesal   Bab 12

    Begitu telepon tersambung, Daffa terkekeh pelan. "Akhirnya, kamu mau juga menghubungiku, Celine.""Berita yang beredar di internet itu kamu yang menyebarkannya, 'kan?" Nada suaraku sangat dingin."Aku yang melakukannya." Nada bicara Daffa terdengar tanpa rasa bersalah. "Eric berani menyentuh wanitaku, jadi apa salahnya kalau kubuat dia rugi sedikit?" Suaranya berubah dingin. "Celine, kalau kamu menelepon buat membelanya, kuberi tahu, itu cuma bakal memperburuk keadaan. Bagaimanapun, semua ini kulakukan demi kamu.""Demi aku?" Aku seperti mendengar lelucon paling konyol di dunia. "Daffa, kamu bilang mencintaiku dan ingin kembali bersamaku, tapi sekarang kamu malah menyebarkan rumor di internet bahwa aku menjiplak karya orang lain. Kepercayaan diriku dan karier yang susah payah kudapatkan kembali, dengan mudah kamu hancurkan cuma dengan satu perkataan.""Apa? Menyebarkan rumor tentangmu?" Daffa terdengar bingung. Sesaat kemudian, dia langsung menyadari sesuatu. "Maksudmu, karya yang bela

  • Setelah Sang Teman Tidur Tersadar, Sang CEO Menyesal   Bab 11

    Aku tidak akan pernah melupakan air mata Daffa setelah aku mengucapkan kata-kata itu.Ternyata dia juga bisa merasa sedih, merasakan sakit, dan meneteskan air mata.Sayangnya, semuanya sudah terlambat.Aku membuka pintu dan memberi isyarat agar dia pergi.Daffa adalah orang yang sangat angkuh.Dia tidak lagi memaksakan diri untuk tinggal. Dia mengambil mantel di samping dan menyampirkannya ke tubuh, lalu pergi dengan langkah lebar.Namun, ketika sampai di ambang pintu, dia menghentikan langkahnya. "Aku sudah mengingat apa yang terjadi malam itu.""Celine, aku nggak bakal melepaskanmu.""Dan kita bakal punya anak lagi."Setelah meninggalkan tiga kalimat itu, dia pun pergi.Awalnya, kukira dia akan terus menggangguku. Namun, ketika masuk kerja keesokan harinya, aku tidak melihat sosoknya di bawah gedung.Bianca memberitahuku bahwa Daffa sudah kembali ke negaranya. Sepertinya, ada sesuatu yang terjadi di perusahaannya.Aku langsung merasa lega. Namun, setelah satu masalah terselesaikan, m

  • Setelah Sang Teman Tidur Tersadar, Sang CEO Menyesal   Bab 10

    Aku dan Eric berjalan keluar dari perusahaan bersama.Wajah Daffa sudah gelap gulita. Dia melirik arlojinya, lalu mencibir. "Pukul sebelas.""Celine, kamu benar-benar tahan juga. Berpura-pura lembur selama berhari-hari.""Lembur?" Aku terkekeh, lalu menggandeng lengan Eric. "Pak Daffa, kamu salah paham."Melihat tangan kami yang saling bertaut erat, tubuh Daffa langsung menegang. Dia mengernyit. "Apa maksudmu?""Maksudnya, dia nggak lagi lembur, melainkan bermesraan di kantor dengan pacarnya yang juga atasannya," kata Eric.Saat itu, Daffa hampir berteriak karena terkejut. "Apa yang kamu katakan?"Dia langsung menoleh kepadaku. "Celine! Demi menghindariku, kamu benar-benar sanggup mengarang kebohongan apa saja! Tapi aku memang meremehkanmu. Ternyata kamu bahkan bisa membujuk Eric buat membantumu."Dia menarik tanganku dengan paksa dan menyeretku menjauh dari Eric. "Ayo, sekarang juga ikut aku pulang."Namun, pada detik berikutnya, aku langsung menghempaskan tangannya dan kembali ke sis

  • Setelah Sang Teman Tidur Tersadar, Sang CEO Menyesal   Bab 9

    Aura Daffa masih sekuat dulu, tetapi kini aku tidak lagi merasa takut kepadanya.Aku memasang wajah datar dan berkata dengan tenang, "Ada apa? Pak Daffa mencariku buat urusan apa?"Mendengar nada bicaraku yang begitu berjarak, Daffa mengernyit.Namun, karena Eric masih berdiri di sampingku, dia hanya menarik tanganku dengan paksa. "Kita perlu bicara."Aku langsung berusaha melepaskan diri, tetapi tenaganya terlalu kuat, seolah-olah dia ingin meremukkan tulang pergelangan tanganku.Pada saat itu, Eric mengulurkan tangan dan memaksa tangan Daffa terlepas dariku."Daffa, sudah lama nggak bertemu. Nggak mau menyapa teman lama?"Daffa menatapnya dengan wajah muram dan berkata dengan nada tidak ramah, "Eric, minggir. Ini bukan urusanmu."Suasana seketika menegang, tetapi Eric tetap tidak melepaskan tangannya.Dia terkekeh. "Kamu mencoba membawa bawahanku pergi secara paksa di hadapanku. Bagaimana bisa ini bukan urusanku?"Melihat Daffa yang mengerutkan kening, akhirnya aku tidak tahan lagi d

  • Setelah Sang Teman Tidur Tersadar, Sang CEO Menyesal   Bab 8

    (Sudut pandang Celine)Sudah tiga hari sejak aku bergabung dengan Grup Meraki.Begitu tiba di perusahaan, aku tidak sabar untuk menghubungi Bianca dan menanyakan keadaannya.Aku sudah menyiapkan kata-kata untuk meminta maaf, juga bantuan secara finansial. Namun, Bianca justru memberitahuku bahwa Daffa telah mencabut hukumannya, menaikkan gajinya, dan mengundangnya untuk kembali bekerja.Aku masih ingat nada menyindir dalam suara Bianca ketika mengatakan hal itu.Dulu, Bianca pernah memohon-mohon kepada Daffa agar tidak memperlakukannya seperti itu, tetapi Daffa justru langsung mengusirnya dari perusahaan.Pada saat itu, kekecewaan Bianca terhadap Daffa dan Grup Astral tidak kalah dalamnya denganku.Melihatku terdiam, Bianca bertanya, "Celine, jangan-jangan kamu terharu dengan tindakannya?"Aku terkekeh. "Mana mungkin? Kalaupun sekarang Daffa berlutut di hadapanku dan memohon padaku, aku nggak bakal pernah menoleh kepadanya lagi."Tentu saja, itu juga merupakan sesuatu yang sama sekali

  • Setelah Sang Teman Tidur Tersadar, Sang CEO Menyesal   Bab 7

    (Sudut pandang orang ketiga)"Menurutku, perlakuannya terhadap wanita itu memang berbeda. Sejak Celine mengalami kecelakaan, dia selalu tampak nggak fokus, bahkan sikapnya kepadaku juga nggak seperti dulu. Tapi, sepertinya dia sendiri belum menyadarinya." Lili menggaruk kepalanya dengan kesal. "Seandainya tahu bakal begini, dulu aku bakal menjebaknya lebih parah. Seharusnya waktu itu aku menyuruh pengemudi itu langsung menabrak Celine sampai mati. Aku sudah membayarnya dalam jumlah besar, tapi nggak disangka yang berhasil 'dihilangkan' cuma seorang anak. Sekarang, kepala Daffa malah dipenuhi sama wanita itu."Tangan Daffa yang memegang gagang pintu langsung mengencang. Tubuhnya seketika membeku, lalu dia mendongak dengan tatapan tidak percaya.Setelah itu, Lili terkekeh. "Tapi setidaknya aku juga sudah membuat Daffa kehilangan sesuatu. Siapa suruh dia meremehkanku cuma karena aku salah satu wanita yang pernah bersamanya? Cepat atau lambat, bakal kubuat dia kehilangan lebih banyak lagi.

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status