Share

Bab 2

Author: Flower
Setelah kembali ke meja kerjaku, aku segera menambahkan akun surel tersebut.

Tepat saat itu, seseorang mengetuk mejaku.

Aku mengangkat kepala, ternyata itu Daffa.

Tanpa sadar, aku langsung menutup layar laptop.

Dia tertegun sejenak, lalu mengernyitkan kening. "Kenapa begitu panik? Apa ada sesuatu yang nggak boleh kulihat?"

Aku menggelengkan kepala, lalu berkata dengan nada menjaga jarak, "Aku cuma kaget karena Anda tiba-tiba muncul, Pak Daffa. Ada apa mencari saya?"

Melihat sikapku yang dingin, Daffa jelas sedikit tidak senang. Namun, karena ada rekan-rekan kerja lain di sana, dia tidak menunjukkannya secara terang-terangan. Daffa hanya berkata dengan nada yang sedikit lebih dingin, "Aku datang untuk menanyakan, sudah selesai merapikan dokumennya?"

"Masih dalam proses. Sebelum pulang kerja, saya bakal mengirimkannya ke surel Anda."

"Hmm, segerakan. Malam ini, aku masih harus makan bersama Lili, jangan sampai terlambat."

Daffa tidak mengatakan apa-apa lagi dan berbalik menuju ruangannya.

Begitu pintu tertutup, Bianca mengembuskan napas lega. "Aku sampai kaget. Wajah Pak Daffa tadi kelihatan mengerikan. Aku baru pertama kali melihatnya seperti itu."

Aku terkekeh pelan dan tidak tahan untuk bertanya, "Seperti apa?"

"Seperti seorang atasan!" Bianca merendahkan suaranya. "Kalau dia bersikap begitu kepada orang lain, itu masih bisa dimaklumi. Tapi ke Kak Celine, bukannya dia selalu lembut? Lagian, aku nggak pernah melihatnya memberi pekerjaan kepadamu. Bukannya sebelumnya pekerjaanmu selalu ...."

"Selalu kami yang mengerjakannya, bukan?" Seorang rekan kerja tiba-tiba menyela ucapan Bianca. Dia menatapku dengan wajah penuh ejekan. "Dulu, karena mengandalkan kasih sayang Pak Daffa, kami sampai harus menanggung banyak pekerjaanmu. Sekarang, Pak Daffa sudah punya mangsa baru, kamu juga akhirnya jadi budak pekerja, ya."

"Tapi Celine, kamu sudah lama nggak bekerja, apa kamu masih ingat cara menggunakan perangkat lunak kantor? Kalau nggak bisa, kamu boleh memintaku membantu, lho."

"Kamu!" Bianca menatapnya dengan marah, tetapi aku segera menahannya.

Aku menatap dingin para rekan kerja yang sengaja memprovokasiku, lalu berkata dengan penuh penekanan, "Kalau kalian nggak puas dengan pembagian pekerjaan, kalian bisa menyampaikannya ke Pak Daffa. Kalau nggak berani, aku juga bisa menyampaikannya atas nama kalian."

Begitu aku selesai berbicara, mereka saling berpandangan dan akhirnya memilih diam.

Aku tahu, mereka tidak berani mengambil risiko dengan mencari tahu apakah Daffa benar-benar sudah tidak peduli kepadaku.

Bagaimana kalau aku benar-benar mengadu? Dengan perlakuan istimewa yang dulu diberikan Daffa kepadaku, mereka mungkin bahkan tidak akan bisa mempertahankan pekerjaan mereka.

Sebab dulu, pernah ada seorang rekan kerja yang sengaja menyiramkan kopi panas ke tubuhku karena iri aku mendapatkan promosi.

Daffa langsung memecatnya di tempat, bahkan membuatnya diboikot oleh seluruh industri.

Namun, sekarang ... aku mengambil diska lepas di atas meja, tanpa sedikit pun rasa percaya diri.

Aku mengembuskan napas panjang dan mulai merapikan dokumen rapat.

Kurang dari satu jam kemudian, aku sudah mengirim dokumen itu ke surel Daffa.

Dia tampaknya terkejut dengan kecepatanku. Setelah menerimanya, dia mengirimiku sebuah pesan. [Secepat ini? Kamu mencari orang buat membantumu?]

Saat itu, semua rasa sakit hati yang kupendam akhirnya memuncak.

Meskipun semua rekan kerja mengira aku masuk ke perusahaan karena mengandalkan hubungan, Daffa adalah orang yang paling tahu bahwa aku jelas-jelas masuk berkat kemampuanku sendiri.

Aku bergegas masuk ke ruangannya, berniat menanyakan secara langsung. Namun, sebelum sempat melakukannya, aku lebih dulu mendengar percakapannya dengan Lili.

"Pak Daffa, Direktur Celine memang hebat. Dokumen yang dibuatnya terlihat sangat bagus, ya?"

Daffa mencibir. "Direktur? Kalau bukan karena aku, jangankan naik ke posisi itu, dia bahkan nggak bakal memenuhi syarat buat masuk Astral. Astral nggak pernah kekurangan orang berbakat. Yang kurang cumalah orang berbakat yang kusukai."

"Dokumen ini juga kemungkinan besar dibuat dengan bantuan rekan kerja lain."

Saat itu, aku seolah disambar petir dan tubuhku bahkan hampir tidak sanggup berdiri tegak.

Ternyata, sejak awal, aku memang tidak pernah menjadi bagian dari tempat ini.

Aku teringat saat dulu suasana hatiku terpuruk setelah diejek rekan kerja. Saat itu, Daffa datang menghiburku dan berkata bahwa aku pasti bisa membuktikan kemampuanku sendiri.

Hanya karena perkataan itu, meskipun tidak diberi pekerjaan, aku tetap terus berusaha meningkatkan kemampuan secara diam-diam.

Bukan hanya demi reputasiku sendiri, tetapi juga agar tidak mengecewakan kepercayaannya kepadaku.

Namun, siapa sangka, ternyata semua itu hanyalah kebohongan.

Aku merokok cukup lama di lorong. Setelah mematikan puntung rokok, aku keluar dan kebetulan melihat Daffa dan Lili keluar dari ruang kerja bersama-sama.

Di depan mata semua orang, dia memakaikan mantel kepada Lili.

Para rekan kerja satu per satu mengangkat kepala menatap mereka berdua, lalu memandangku dengan tatapan penuh godaan.

Aku ingin berpura-pura tidak peduli, tetapi kedua kakiku terasa kaku seperti terendam timah hingga tidak bisa bergerak. Bahkan untuk mengangkat kepala pun aku tidak sanggup.

Namun, Lili tidak mau melepaskanku begitu saja.

Dia tiba-tiba berjalan menghampiriku dan tersenyum tipis. "Kak Celine, dokumen yang kamu rapikan benar-benar bagus. Ke depannya, aku masih harus banyak belajar darimu."

Aku malas meladeninya.

Melihatku diam saja, Daffa mengernyitkan kening. "Direktur Celine, nggak dengar Sekretaris Lili lagi berbicara denganmu?"

Mendengar itu, Bianca menatapku dengan tercengang. Jelas dia tidak menyangka Daffa akan bersikap seperti ini.

Aku menekan rasa perih di hati, lalu mengangkat kepala dan menatap Lili. "Terima kasih atas pujiannya."

Lili mengangguk, lalu dengan akrab menggenggam tanganku. Senyumnya makin lebar. "Kalau begitu, bolehkah semua pekerjaanku nanti kuserahkan padamu? Bagaimanapun ...."

Dia menoleh ke Daffa dan berkata dengan nada lemah, "Akhir-akhir ini, tubuhku agak lemah, jadi aku nggak bisa bekerja."

Setiap kata yang diucapkannya terasa seperti menginjak-injak harga diriku, membuat amarah di dadaku makin membara.

Saat aku hendak menolak, aku justru mendengar suara Daffa yang tegas. "Tentu saja boleh. Memperlakukan karyawan dengan baik adalah tanggung jawab setiap atasan."

Saat itu, aku tiba-tiba kehilangan keinginan untuk membantah. Aku hanya merasa diriku benar-benar konyol.

Setelah mereka pergi, aku mengabaikan ejekan para rekan kerja, memasukkan laptop ke dalam tas, lalu bergegas meninggalkan kantor.

Begitu melangkah keluar dari pintu kantor, sesak di dadaku akhirnya sedikit mereda.

Aku terus menghibur diri sendiri, 'Tidak apa-apa. Aku cuma kehilangan seorang pria, bukan sesuatu yang perlu dibesar-besarkan.'

Tepat ketika akhirnya berhasil menenangkan diri, aku tiba-tiba melihat sebuah Porsche yang kukenal tidak jauh dari sana. Di dalamnya, sepasang pria dan wanita sedang berciuman.

Daffa menangkup wajah Lili dengan kedua tangannya. Matanya terpejam, wajahnya menunjukkan kenikmatan dan larut dalam perasaan.

Saat itu, tubuhku seketika membeku dan aku tidak mampu bergerak.

Selama tiga tahun bersama Daffa, dia pernah mencium seluruh tubuhku, tetapi satu-satunya yang tidak pernah diciumnya adalah bibirku.

Bahkan ketika aku berjinjit dan berinisiatif meminta ciuman, dia akan sengaja memalingkan wajah dan mengatakan bahwa dia tidak suka berciuman.

Ternyata, bukan karena dia tidak suka berciuman. Dia hanya tidak suka berciuman denganku.

Aku mendadak bertanya-tanya, apa aku bahkan tidak lebih berarti daripada wanita-wanita yang pernah bersamanya, atau Lili memang punya tempat yang berbeda baginya?

Apa pun jawabannya, aku tidak sanggup menerimanya.

Tiba-tiba hujan deras kembali turun dari langit. Daffa akhirnya selesai berciuman dan perlahan mengangkat kepalanya.

Sesaat sebelum pandangan kami bertemu, aku mundur beberapa langkah, lalu berlari menerobos hujan seperti seorang prajurit yang melarikan diri dari medan perang.

Dalam perjalanan pulang, aku membeli sebuah kue ulang tahun untuk diriku sendiri dan memeluknya erat-erat.

Namun, begitu masuk ke rumah, aku bahkan tidak memiliki tenaga untuk membuka kotaknya. Tubuhku langsung terjatuh ke lantai dengan suara keras.

Kue yang indah itu hancur berantakan. Sementara tubuhku terasa panas dan kepalaku pusing, bahkan untuk merangkak ke tepi ranjang pun aku tidak memiliki tenaga.

Saat itu, aku tiba-tiba teringat beberapa bulan lalu, ketika Daffa berkata kepadaku bahwa dia akan menemaniku melewati ulang tahunku yang ke-25 dengan cara yang tidak terlupakan.

Dia memang lupa ulang tahunku, tetapi ulang tahun kali ini benar-benar tidak akan terlupakan.

Aku tersenyum getir.

Entah sudah berapa lama aku terbaring di lantai, tiba-tiba sebuah notifikasi masuk ke surel ponselku. Itu adalah balasan dari Grup Meraki. [Nona, selamat! Anda telah lolos tahap seleksi awal. Wawancara akan dilaksanakan tiga hari lagi.]

Melihat pesan itu, suasana hatiku akhirnya sedikit membaik.

Bagaimanapun juga, setidaknya masih ada kabar baik.

Aku memaksakan seulas senyum, lalu terbaring di lantai yang dingin dan tertidur lelap.

Namun, ketika terbangun keesokan harinya, aku justru sudah terbaring di atas ranjang.

Pria yang menghilang selama sehari itu, Daffa, kini sedang duduk di tepi ranjang sambil mengusap keringat di dahiku.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Setelah Sang Teman Tidur Tersadar, Sang CEO Menyesal   Bab 12

    Begitu telepon tersambung, Daffa terkekeh pelan. "Akhirnya, kamu mau juga menghubungiku, Celine.""Berita yang beredar di internet itu kamu yang menyebarkannya, 'kan?" Nada suaraku sangat dingin."Aku yang melakukannya." Nada bicara Daffa terdengar tanpa rasa bersalah. "Eric berani menyentuh wanitaku, jadi apa salahnya kalau kubuat dia rugi sedikit?" Suaranya berubah dingin. "Celine, kalau kamu menelepon buat membelanya, kuberi tahu, itu cuma bakal memperburuk keadaan. Bagaimanapun, semua ini kulakukan demi kamu.""Demi aku?" Aku seperti mendengar lelucon paling konyol di dunia. "Daffa, kamu bilang mencintaiku dan ingin kembali bersamaku, tapi sekarang kamu malah menyebarkan rumor di internet bahwa aku menjiplak karya orang lain. Kepercayaan diriku dan karier yang susah payah kudapatkan kembali, dengan mudah kamu hancurkan cuma dengan satu perkataan.""Apa? Menyebarkan rumor tentangmu?" Daffa terdengar bingung. Sesaat kemudian, dia langsung menyadari sesuatu. "Maksudmu, karya yang bela

  • Setelah Sang Teman Tidur Tersadar, Sang CEO Menyesal   Bab 11

    Aku tidak akan pernah melupakan air mata Daffa setelah aku mengucapkan kata-kata itu.Ternyata dia juga bisa merasa sedih, merasakan sakit, dan meneteskan air mata.Sayangnya, semuanya sudah terlambat.Aku membuka pintu dan memberi isyarat agar dia pergi.Daffa adalah orang yang sangat angkuh.Dia tidak lagi memaksakan diri untuk tinggal. Dia mengambil mantel di samping dan menyampirkannya ke tubuh, lalu pergi dengan langkah lebar.Namun, ketika sampai di ambang pintu, dia menghentikan langkahnya. "Aku sudah mengingat apa yang terjadi malam itu.""Celine, aku nggak bakal melepaskanmu.""Dan kita bakal punya anak lagi."Setelah meninggalkan tiga kalimat itu, dia pun pergi.Awalnya, kukira dia akan terus menggangguku. Namun, ketika masuk kerja keesokan harinya, aku tidak melihat sosoknya di bawah gedung.Bianca memberitahuku bahwa Daffa sudah kembali ke negaranya. Sepertinya, ada sesuatu yang terjadi di perusahaannya.Aku langsung merasa lega. Namun, setelah satu masalah terselesaikan, m

  • Setelah Sang Teman Tidur Tersadar, Sang CEO Menyesal   Bab 10

    Aku dan Eric berjalan keluar dari perusahaan bersama.Wajah Daffa sudah gelap gulita. Dia melirik arlojinya, lalu mencibir. "Pukul sebelas.""Celine, kamu benar-benar tahan juga. Berpura-pura lembur selama berhari-hari.""Lembur?" Aku terkekeh, lalu menggandeng lengan Eric. "Pak Daffa, kamu salah paham."Melihat tangan kami yang saling bertaut erat, tubuh Daffa langsung menegang. Dia mengernyit. "Apa maksudmu?""Maksudnya, dia nggak lagi lembur, melainkan bermesraan di kantor dengan pacarnya yang juga atasannya," kata Eric.Saat itu, Daffa hampir berteriak karena terkejut. "Apa yang kamu katakan?"Dia langsung menoleh kepadaku. "Celine! Demi menghindariku, kamu benar-benar sanggup mengarang kebohongan apa saja! Tapi aku memang meremehkanmu. Ternyata kamu bahkan bisa membujuk Eric buat membantumu."Dia menarik tanganku dengan paksa dan menyeretku menjauh dari Eric. "Ayo, sekarang juga ikut aku pulang."Namun, pada detik berikutnya, aku langsung menghempaskan tangannya dan kembali ke sis

  • Setelah Sang Teman Tidur Tersadar, Sang CEO Menyesal   Bab 9

    Aura Daffa masih sekuat dulu, tetapi kini aku tidak lagi merasa takut kepadanya.Aku memasang wajah datar dan berkata dengan tenang, "Ada apa? Pak Daffa mencariku buat urusan apa?"Mendengar nada bicaraku yang begitu berjarak, Daffa mengernyit.Namun, karena Eric masih berdiri di sampingku, dia hanya menarik tanganku dengan paksa. "Kita perlu bicara."Aku langsung berusaha melepaskan diri, tetapi tenaganya terlalu kuat, seolah-olah dia ingin meremukkan tulang pergelangan tanganku.Pada saat itu, Eric mengulurkan tangan dan memaksa tangan Daffa terlepas dariku."Daffa, sudah lama nggak bertemu. Nggak mau menyapa teman lama?"Daffa menatapnya dengan wajah muram dan berkata dengan nada tidak ramah, "Eric, minggir. Ini bukan urusanmu."Suasana seketika menegang, tetapi Eric tetap tidak melepaskan tangannya.Dia terkekeh. "Kamu mencoba membawa bawahanku pergi secara paksa di hadapanku. Bagaimana bisa ini bukan urusanku?"Melihat Daffa yang mengerutkan kening, akhirnya aku tidak tahan lagi d

  • Setelah Sang Teman Tidur Tersadar, Sang CEO Menyesal   Bab 8

    (Sudut pandang Celine)Sudah tiga hari sejak aku bergabung dengan Grup Meraki.Begitu tiba di perusahaan, aku tidak sabar untuk menghubungi Bianca dan menanyakan keadaannya.Aku sudah menyiapkan kata-kata untuk meminta maaf, juga bantuan secara finansial. Namun, Bianca justru memberitahuku bahwa Daffa telah mencabut hukumannya, menaikkan gajinya, dan mengundangnya untuk kembali bekerja.Aku masih ingat nada menyindir dalam suara Bianca ketika mengatakan hal itu.Dulu, Bianca pernah memohon-mohon kepada Daffa agar tidak memperlakukannya seperti itu, tetapi Daffa justru langsung mengusirnya dari perusahaan.Pada saat itu, kekecewaan Bianca terhadap Daffa dan Grup Astral tidak kalah dalamnya denganku.Melihatku terdiam, Bianca bertanya, "Celine, jangan-jangan kamu terharu dengan tindakannya?"Aku terkekeh. "Mana mungkin? Kalaupun sekarang Daffa berlutut di hadapanku dan memohon padaku, aku nggak bakal pernah menoleh kepadanya lagi."Tentu saja, itu juga merupakan sesuatu yang sama sekali

  • Setelah Sang Teman Tidur Tersadar, Sang CEO Menyesal   Bab 7

    (Sudut pandang orang ketiga)"Menurutku, perlakuannya terhadap wanita itu memang berbeda. Sejak Celine mengalami kecelakaan, dia selalu tampak nggak fokus, bahkan sikapnya kepadaku juga nggak seperti dulu. Tapi, sepertinya dia sendiri belum menyadarinya." Lili menggaruk kepalanya dengan kesal. "Seandainya tahu bakal begini, dulu aku bakal menjebaknya lebih parah. Seharusnya waktu itu aku menyuruh pengemudi itu langsung menabrak Celine sampai mati. Aku sudah membayarnya dalam jumlah besar, tapi nggak disangka yang berhasil 'dihilangkan' cuma seorang anak. Sekarang, kepala Daffa malah dipenuhi sama wanita itu."Tangan Daffa yang memegang gagang pintu langsung mengencang. Tubuhnya seketika membeku, lalu dia mendongak dengan tatapan tidak percaya.Setelah itu, Lili terkekeh. "Tapi setidaknya aku juga sudah membuat Daffa kehilangan sesuatu. Siapa suruh dia meremehkanku cuma karena aku salah satu wanita yang pernah bersamanya? Cepat atau lambat, bakal kubuat dia kehilangan lebih banyak lagi.

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status