Short
Berhenti Menunggu Suami yang Tak Memprioritaskanku

Berhenti Menunggu Suami yang Tak Memprioritaskanku

作家:  Towa完了
言語: Bahasa_indonesia
goodnovel4goodnovel
8チャプター
3ビュー
読む
本棚に追加

共有:  

報告
あらすじ
カタログ
コードをスキャンしてアプリで読む

概要

Cinta Toxic

Plot Twist

Pilih Kasih/Egois

Munafik

Mandiri

Girl Glow Up

Karma

Pernikahan

Suamiku, Ryan, sudah terbiasa memprioritaskan hidupnya dengan jelas. Di kalender bersama, penanda warna merah berarti tidak dapat diubah, kuning berarti dapat dikoordinasikan, sedangkan abu-abu berarti dapat ditunda kapan saja. Ulang tahun ibunya berwarna merah, makan malam bersama teman berwarna kuning, dan hal-hal yang berhubungan denganku selalu berwarna abu-abu. Setelah tujuh tahun bersama, aku selalu menduduki peringkat terakhir di hatinya. Pada hari peringatan ulang tahun pernikahan kami, aku menunggu di restoran sampai lilinnya padam. Dia menunda makan malam itu sampai minggu depan dan mengirimiku pesan suara. "Nova sangat pentingkan kebersihan. Dia nggak mau petugas pindahan menyentuh barangnya. Aku akan membantu. Kamu paling pengertian. Aku akan menebusnya di lain hari." Aku menatap makanan yang sudah dingin dan tidak menanyakan apa pun. Aku hanya membuka riwayat kalender bersama. Ryan menggeser jadwal pemeriksaan gastroskopiku demi menjemput kucing Nova. Saat ayahku menjalani operasi, dia tidak hadir demi mengganti kunci rumah Nova. Bahkan di hari mendaftarkan pernikahan, dia terlebih dahulu menemani Nova memilih kasur dan meninggalkanku sendirian di Kantor Catatan Sipil sampai jam kerja berakhir. Di balik setiap jadwal dengan penanda abu-abu yang digesernya, selalu ada jadwal Nova yang berwarna merah sebagai gantinya. Hanya ada satu catatan di bawahnya. [ Prioritas tanpa syarat. ] Aku menatap kalimat itu lama sekali sebelum teringat bahwa Ryan selalu berkata, "Jadwal nggak pernah memihak, cuma bedakan mana yang lebih penting." Ternyata, dalam prioritasnya, kesehatanku, keluargaku, dan pernikahan kami masih tidak sebanding dengan kardus-kardus milik Nova. Aku menghapus kalender bersama itu, lalu mengirimkan surat kesepakatan cerai ke pengacara. Bukankah dia suka hidup sesuai rencana? Mulai hari ini, aku akan menarik diri dari semua jadwalnya selamanya.

もっと見る

第1話

Bab 1

Sesampainya di rumah, hanya ada satu lampu lantai yang menyala di ruang tamu. Ryan belum kembali. Di meja makan, ada vas yang bunganya sudah kuganti sebelum keluar pagi ini. Mawar putih di dalamnya sudah mulai layu.

Awalnya, bunga itu disiapkan untuk merayakan hari jadi kami. Sekarang, semuanya justru terlihat seperti pemakaman kecil yang digelar lebih awal untuk pernikahan ini.

Aku berdiri di dekat pintu, lalu menunduk dan melepas sepatu.

Dulu, Ryan selalu mengatakan bahwa suara kepulanganku sangat mudah dikenali. Dia mengatakan tidak peduli betapa larut pun itu, selama dia mendengar suara-suara yang kubuat, dia tahu seseorang sedang menunggunya di rumah.

Sekarang, aku baru mengerti. Yang dia sukai bukan aku, melainkan rumah yang lampunya selalu menyala dan selalu ada yang menunggunya.

Tanpa masuk ke dapur, aku langsung pergi ke ruang kerja. Dalam lemari di ujung ruang kerja, ada sebuah amplop berisi semua dokumen penting milikku. Paspor, kartu bank, rekam medis ayahku selama ini, serta sertifikat hak milik atas rumah kecil yang ditinggalkan nenekku.

Semua itu tidak ada hubungannya dengan Ryan, tetapi merupakan hal terpenting yang perlu kubawa setelah meninggalkannya.

Baru saja aku memasukkan amplop dokumen itu ke dalam koper, terdengar suara pintu dibuka. Ryan sudah pulang. Sambil mengganti sepatunya, dia menunduk untuk melihat ponselnya. Ekspresinya menunjukkan kelelahan setelah menghadapi masalah seharian.

"Barang-barang Nova sudah selesai dikemas." Ryan melempar kunci mobil ke lemari di dekat pintu, seolah-olah baru mengingatku. "Kamu sudah pulang?"

Aku menggumamkan "emm".

Dia melirik ke ruang makan, lalu gerakannya terhenti ketika melihat bunga layu di atas meja. "Masih marah?"

Dia melonggarkan dasinya dan berujar dengan nada tak berdaya, "Bukannya sudah kubilang aku akan menebusnya lain kali? Nova harus pindah sendirian dan punya banyak barang. Sebelum meninggal, Guru pernah berpesan padaku untuk menjaganya. Aku nggak bisa abaikan dia."

Aku menutup ritsleting sambil menjawab, "Kamu tentu saja boleh peduli padanya."

Ryan menatapku. Mungkin karena nada bicaraku terlalu tenang, dia justru merasa agak tidak nyaman.

"Oliv, kamu nggak seperti ini sebelumnya."

"Memangnya aku seperti apa sebelumnya?"

"Setidaknya, kamu akan dengarkan penjelasanku."

Aku memandangnya. Dalam tujuh tahun terakhir, setiap kali dia melanggar janji, dia selalu memiliki penjelasan.

Kucing Nova sedang stres, Ryan harus pergi ke rumah sakit. Pipa air di rumah Nova rusak, dia harus memeriksanya.

Pokoknya, ada saja alasannya. Nova alergi, masuk angin, pindahan, mengganti kunci rumah, insomnia, dan sebagainya. Hidupnya ibarat rumah yang selalu bocor, sedangkan Ryan selalu menjadi orang pertama yang bergegas membawa kotak peralatan ke sana untuk mengatasinya.

Sementara itu, rasa sakit karena maag bisa kutahan, hari jadi kami bisa ditebus, operasi ayahku bisa menunggu. Jika Kantor Catatan Sipil sudah tutup, kami bisa mendaftarkan pernikahan kami di lain hari.

Sebelumnya, aku selalu berpikir dia memiliki terlalu banyak tanggung jawab. Belakangan, aku baru sadar bahwa yang menjadi masalah di antara kami bukanlah tanggung jawab, melainkan keberpihakan.

Ryan mendekat dan mengulurkan tangan untuk menyentuh wajahku.

"Jangan marah, aku akan buat reservasi untuk besok malam, lalu bawa kamu ke restoran sushi favoritmu."

Aku berbalik ke samping dan menghindari sentuhan Ryan. Tangannya membeku di udara, sedangkan wajahnya menjadi sedikit muram.

"Oliv."

"Ryan, besok aku mau keluar."

"Ke mana?"

"Urus sesuatu."

Dia mengerutkan kening. "Apa yang lebih penting dari hari jadi kita?"

Kalimat itu terdengar agak konyol setelah keluar dari mulutnya.

Aku tidak menjawab, hanya menaruh amplop berisi dokumen penting ke bagian bawah koper. Ryan melihatnya dan akhirnya menyadari ada yang tidak beres.

"Untuk apa kamu berkemas?"

"Mau ambil beberapa barangku."

Dia menatap koper itu selama beberapa detik, lalu tiba-tiba tersenyum. "Sudah, jangan berakting lagi. Bukannya kamu cuma mau aku menghiburmu? Sudah kubilang aku akan menebusnya. Apa lagi yang kamu inginkan? Kalau kamu masih ngambek, kita bicarakan lagi semuanya besok."

Ketika berjalan sampai di pintu, dia menambahkan, "Oh iya, Nova mau ke rumah sakit untuk pemeriksaan lanjutan besok. Besok pagi, kamu nggak punya jadwal apa-apa, 'kan? Sekalian antar dia, ya."

Aku berdiri di tempat dan menjawab pelan, "Aku sibuk."

もっと見る
次へ
ダウンロード

最新チャプター

続きを読む

読者の皆様へ

Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.

コメントはありません
8 チャプター
無料で面白い小説を探して読んでみましょう
GoodNovel アプリで人気小説に無料で!お好きな本をダウンロードして、いつでもどこでも読みましょう!
アプリで無料で本を読む
コードをスキャンしてアプリで読む
DMCA.com Protection Status