ログインSuamiku, Ryan, sudah terbiasa memprioritaskan hidupnya dengan jelas. Di kalender bersama, penanda warna merah berarti tidak dapat diubah, kuning berarti dapat dikoordinasikan, sedangkan abu-abu berarti dapat ditunda kapan saja. Ulang tahun ibunya berwarna merah, makan malam bersama teman berwarna kuning, dan hal-hal yang berhubungan denganku selalu berwarna abu-abu. Setelah tujuh tahun bersama, aku selalu menduduki peringkat terakhir di hatinya. Pada hari peringatan ulang tahun pernikahan kami, aku menunggu di restoran sampai lilinnya padam. Dia menunda makan malam itu sampai minggu depan dan mengirimiku pesan suara. "Nova sangat pentingkan kebersihan. Dia nggak mau petugas pindahan menyentuh barangnya. Aku akan membantu. Kamu paling pengertian. Aku akan menebusnya di lain hari." Aku menatap makanan yang sudah dingin dan tidak menanyakan apa pun. Aku hanya membuka riwayat kalender bersama. Ryan menggeser jadwal pemeriksaan gastroskopiku demi menjemput kucing Nova. Saat ayahku menjalani operasi, dia tidak hadir demi mengganti kunci rumah Nova. Bahkan di hari mendaftarkan pernikahan, dia terlebih dahulu menemani Nova memilih kasur dan meninggalkanku sendirian di Kantor Catatan Sipil sampai jam kerja berakhir. Di balik setiap jadwal dengan penanda abu-abu yang digesernya, selalu ada jadwal Nova yang berwarna merah sebagai gantinya. Hanya ada satu catatan di bawahnya. [ Prioritas tanpa syarat. ] Aku menatap kalimat itu lama sekali sebelum teringat bahwa Ryan selalu berkata, "Jadwal nggak pernah memihak, cuma bedakan mana yang lebih penting." Ternyata, dalam prioritasnya, kesehatanku, keluargaku, dan pernikahan kami masih tidak sebanding dengan kardus-kardus milik Nova. Aku menghapus kalender bersama itu, lalu mengirimkan surat kesepakatan cerai ke pengacara. Bukankah dia suka hidup sesuai rencana? Mulai hari ini, aku akan menarik diri dari semua jadwalnya selamanya.
もっと見るAyahku terdiam begitu lama, baru akhirnya dia berkata, "Baguslah kalau kamu mengetahuinya."Ryan berjalan ke dalam ruang tamu. Aku sedang duduk di sofa dan tidak berdiri. Dia meletakkan map dokumen di atas meja. "Ini surat perjanjian pengalihan kepemilikan rumah."Aku mengernyit. "Apa maksudnya?""Aku akan mengalihkan rumah itu ke atas namamu.""Aku nggak mau.""Oliv, aku berutang padamu.""Ryan." Aku menatapnya. "Utangmu kepadaku bukan sebuah rumah. Yang kamu utangkan kepadaku adalah ketidakhadiranmu selama tujuh tahun. Tapi, kamu nggak bisa memberikan semua itu."Mata Ryan memerah. "Aku tahu, tapi aku nggak tahu lagi apa yang bisa kulakukan.""Kalau begitu, jangan lakukan apa-apa."Ryan tertegun.Aku melanjutkan, "Kamu nggak perlu memberiku kompensasi apa pun lagi. Kamu juga nggak perlu menggunakan rasa bersalahmu untuk membuktikan bahwa kamu menyesal. Aku pergi bukan untuk menunggu kamu menyesal. Aku hanya ingin mengembalikan diriku kepada diriku sendiri."Ryan yang sedang duduk ak
Setelah masa tunggu perceraian dimulai, Ryan mengirimiku banyak pesan. Dia tidak lagi membicarakan Nova. Sebaliknya, dia mulai membicarakan masa lalu.[ Aku menemukan jadwal perjalanan pertama yang pernah kamu buat untukku. ][ Ternyata kamu bahkan mencatat cuaca setiap kali aku pergi dinas. ][ Kamu bahkan menuliskan apakah perutku akan sakit setelah pesawatku mendarat. ]Aku tidak membalas.Sehari kemudian, Ryan kembali mengirimkan sebuah foto. Foto itu memperlihatkan laci di ruang baca rumah kami. Di dalamnya tersimpan kotak obat yang dulu pernah kurapikan untuknya. Setiap sekatnya ditempeli label.Ryan mengirimkan satu pesan. [ Kenapa dulu aku nggak pernah menyadari kalau kamu sudah melakukan sebanyak ini? ]Aku menatap foto itu, lalu menutup ruang percakapan. Tentu saja Ryan tidak menyadarinya. Sebab, ketika dia pulang ke rumah, obat-obatannya sudah disusun dengan rapi, makanan sudah dihangatkan, dan kemeja sudah disetrika. Aku melakukan semua itu dalam diam. Begitu diamnya hingga
Ryan tidak datang ke rumah orang tuaku lagi. Andre mengatakan bahwa Ryan akhirnya bersedia membahas perjanjian perceraian. Pertemuan pertama kami dijadwalkan di kantor pengacara.Saat aku tiba, Ryan sudah duduk di ruang rapat. Di hadapannya diletakkan surat perjanjian perceraian itu. Bagian tepi kertasnya tampak sedikit kusut. Sepertinya dia sudah berkali-kali membolak-baliknya.Begitu melihatku, Ryan langsung berdiri. "Oliv."Aku duduk di samping Andre. "Mulai saja."Wajah Ryan terlihat sangat muram. "Apa kamu benar-benar harus bersikap seformal ini kepadaku?""Sekarang kita memang sedang membicarakan urusan formal."Andre mendorong daftar pembagian harta ke hadapan kami. Rumah itu dibeli Ryan sebelum menikah, jadi merupakan harta pribadinya. Aku tidak mempersoalkannya.Sebagian besar perabotan di rumah dibeli olehku, tetapi aku tidak mengambilnya. Aku hanya mengambil kembali tabunganku sendiri, peralatan kerja, serta uang sebesar 240 juta yang selama bertahun-tahun ini pernah kutala
Ryan baru menemukan alamat rumah orang tuaku pada hari ketiga.Saat ibuku membuka pintu, dia berdiri di lorong. Lingkaran hitam tampak jelas di bawah matanya, kemejanya juga terlihat begitu kusut.Ryan membawa kantong buah, ada buah mangga di dalamnya.Ibuku melirik sekilas dengan raut wajah datar. "Oliv nggak makan mangga. Apa kamu nggak tahu?"Tangan Ryan seketika menjadi kaku. "Aku lupa."Ibuku tidak mengambilnya. "Kamu bukan lupa. Kamu hanya nggak peduli."Ryan berdiri di depan pintu dan terdiam cukup lama.Aku duduk di dalam ruang tamu. Ketika mendengar suara Ryan, hatiku seketika menjadi tegang. Kebiasaan selama tujuh tahun tidak mungkin menghilang dalam beberapa hari. Contohnya, ketika mendengar suara langkah kakinya, aku tanpa sadar mengangkat kepalaku, tetapi aku tidak berdiri.Ryan melihatku dari balik pintu, lalu merendahkan suaranya. "Oliv, mari kita bicara."Ibuku ingin menghentikannya.Namun, aku justru berdiri. "Ibu, nggak apa-apa."Tak banyak orang di taman kecil di baw






Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.