Short
Salju Tak Seberat Air Mata

Salju Tak Seberat Air Mata

By:  LokoCompleted
Language: Bahasa_indonesia
goodnovel4goodnovel
8Chapters
2views
Read
Add to library

Share:  

Report
Overview
Catalog
SCAN CODE TO READ ON APP

Sebelum acara pernikahan dimulai, Ibu tiba-tiba memegang dadanya dan jatuh di tempat. Aku tidak memedulikan acara pernikahan lagi dan langsung membawanya ke rumah sakit. Namun, begitu sampai di ruang IGD, muncul sebuah pesan langsung di grup keluarga. [ Clara sudah berhasil kubohongi agar pergi ke rumah sakit. Acara pernikahan bisa segera dimulai. ] Detik berikutnya, Ayah membalas. [ Tenang saja, aku sudah menggandeng Tessa berjalan di atas karpet merah. ] Abangku juga mengirim sebuah pesan. [ Tessa sudah menunggu selama sepuluh tahun. Hari ini, akhirnya dia bisa menikah dengan Anderson secara terbuka. ] Ketiga pesan itu segera dihapus. Sahabat terbaikku, Ineke, justru tanpa sengaja mengirimkan sebuah video dari lokasi pernikahan ke dalam grup. Di dalam video itu, adikku, Tessa Tanaka, sedang mengenakan gaun pengantin yang aku pilih sendiri. Anderson berdiri di ujung karpet merah. Cincin yang seharusnya menjadi milikku kini terpasang di jari manis Tessa. Teman-teman dan kerabat yang sehari sebelumnya masih memberiku ucapan selamat, kini serempak berteriak, "Cium!" Ibu yang berada di atas ranjang pasien langsung merampas ponselku. Ekspresi kesakitan di wajahnya telah menghilang. Yang tersisa hanyalah kepanikan setelah kebohongannya terbongkar. "Clara, Tessa sudah menunggu Anderson selama bertahun-tahun. Dia hanya ingin memiliki pernikahan yang benar-benar menjadi miliknya. Kamu sudah memiliki Anderson selama tujuh tahun, jadi kamu mengalah sekali ya?" Aku menatap plester EKG yang masih belum dilepas dari dadanya, lalu tiba-tiba tertawa. Ternyata, semua orang sedang memainkan peran sebagai orang baik dalam sandiwara mereka. Hanya aku seorang yang dibohongi, dijadikan bahan lelucon, dan dipermainkan sesuka hati.

View More

Chapter 1

Bab 1

Saat aku kembali ke hotel, Anderson sedang menggenggam tangan Tessa sambil mengucapkan janji pernikahan.

"Sejak hari aku bertemu denganmu, di sepanjang sisa hidupku, aku hanya ingin kamu menjadi tempat untukku pulang."

Napasku tercekat.

Janji pernikahan itu ditulis olehku. Demi merangkum rasa cinta yang telah terjalin selama tujuh tahun menjadi satu kalimat, aku menghabiskan tiga malam penuh untuk mengubahnya.

Semalam, Anderson bahkan masih memelukku sambil mengatakan bahwa kata-kata itu hanya akan dia ucapkan kepadaku di hari pernikahan kami.

Namun sekarang, dia bahkan tidak mengubah satu kata pun. Dia mengucapkannya persis seperti yang kutulis untuknya.

Begitu para tamu melihatku, suara tepuk tangan pun perlahan terhenti.

Anderson segera melepaskan tangan Tessa, lalu refleks berjalan ke sisiku. "Clara, kamu kembali ke rumah sakit dulu. Setelah upacara selesai, aku akan jelaskan kepadamu."

Aku sudah kehilangan kendali dan langsung melangkah maju untuk bertanya, "Aku mau kamu jelaskan sekarang! Kenapa dia memakai gaun pengantinku, cincin nikahku, dan berdiri di samping pengantin priaku?"

Anderson mengadang di hadapan Tessa. Terlintas sedikit rasa tidak sabar di dalam sorot matanya. "Karena sejak awal acara pernikahan ini memang dipersiapkan untuk Tessa."

Kalimat singkat itu langsung membuatku tertegun di tempat. Demi acara pernikahan ini, aku sudah sibuk selama satu tahun penuh.

Namun, Anderson malah memberitahuku bahwa sejak awal, acara pernikahan ini memang bukan milikku.

Anderson menatap kerudung pengantin yang berhias berlian di atas kepala Tessa, lalu berkata dengan nada tenang, "Tessa sudah lama menyukai kerudung ini. Dia sedang berada di luar negeri dan nggak bisa pulang untuk mencobanya, jadi aku hanya memintamu memastikan ukurannya."

Aku menatapnya lekat-lekat. "Jadi, bagaimana dengan gaun pengantin?"

"Gaun itu juga milik Tessa. Desain awal dibuat sesuai dengan ukuran Tessa."

Sekujur tubuhku terasa dingin. Pantas saja Anderson tidak memperbolehkanku untuk mengubah bagian pinggang gaun itu dan hanya menyuruhku menurunkan berat badan agar bisa menyesuaikannya.

Demi bisa mengenakan gaun itu, aku hampir tidak pernah makan malam dengan layak selama setengah tahun.

Namun, saat ini aku baru mengerti ternyata pengantin wanita yang sebenarnya bukanlah aku. Tessa merangkul lengan Anderson sambil menatapku dengan sorot mata iba. "Kak, kamu jangan salahkan Anderson. Aku yang menyuruhnya untuk mengejarmu."

"Waktu itu, aku mau berobat ke luar negeri, kemungkinan aku nggak akan kembali lagi. Saat itu, kebetulan kamu dicampakkan oleh mantan kekasihmu dan nggak bisa tidur setiap malam."

Terlihat rasa kasihan di dalam tatapan Tessa.

"Aku nggak tega melihatmu begitu kesakitan, makanya aku meminta Anderson menjagamu untuk sementara waktu. Menu sarapan yang setiap hari diantarkan ke bawah asramamu itu, aku yang menyusunnya. Restoran untuk kencan pertama kalian juga aku yang memilihnya. Bahkan kata-kata yang dia ucapkan saat menyatakan cintanya kepadamu pun, aku yang mengajarinya kata demi kata."

Tenggorokanku terasa seperti tercekat oleh sesuatu yang begitu kuat.

Anderson mengejarku selama 99 hari. Aku bahkan pernah mencatat setiap hal kecil yang terjadi selama 99 hari itu di buku harianku. Ternyata, semua hal kecil yang berkali-kali membuat hatiku berdebar itu tidak satu pun benar-benar ditujukan untukku.

Ineke juga datang sambil mengangkat gaun pengiring pengantinnya. "Clara, semua orang memang salah karena sudah menyembunyikan hal ini darimu, tapi Tessa jauh lebih menderita daripada kamu."

"Dia melihat dengan mata kepalanya sendiri orang yang disukainya menemanimu selama tujuh tahun, tapi dia nggak pernah memisahkan kalian. Dia sudah cukup baik. Kamu jangan memaksanya lagi."

Aku menatap sahabat yang sudah kukenal selama belasan tahun. "Jadi, kamu juga sudah tahu sejak awal?"

Ineke mengangguk. "Kami semua takut kamu nggak sanggup menerima kenyataan ini. Kamu itu orangnya terlalu ekstrem. Kalau sampai kamu tahu bahwa sebenarnya Anderson mencintai Tessa, entah apa yang akan kamu lakukan?"

Semua orang berdiri di sisi Tessa. Mereka menatapku dengan tatapan waspada, seolah-olah aku bukan korban yang telah ditipu selama tujuh tahun, melainkan orang gila yang bisa menghancurkan kebahagiaan Tessa kapan saja.

Tiba-tiba, ponsel di dalam tasku bergetar. Aku menerima pesan dari penanggung jawab proyek luar negeri yang memberiku tawaran tiga bulan lalu.

[ Bu Clara, batas waktu konfirmasi untuk posisi menetap di luar negeri adalah malam ini. ]

[ Kami masih menyisakan satu kursi penerbangan terakhir untukmu. ]

Expand
Next Chapter
Download

Latest chapter

More Chapters

To Readers

Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.

No Comments
8 Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status