INICIAR SESIÓN
“Lihat tuh si Farin, dekil banget ya. Emang gak diurus apa sama orang tuanya? Gitu banget wajahnya. Hih ….” Bisikan yang selalu kudengar saat aku berada di kelas. Bel istirahat baru saja berbunyi dan aku memutuskan untuk tidur di kelas sedangkan Laila sudah menghilang untuk mencari makan.
Bisikan demi bisikan selalu masuk ke telingaku sehingga aku dapat mendengar, meski samar-samar. Bohong, jika diamku adalah alasan aku tidak mendengar mereka. Aku memiliki dua telinga yang diciptakan Tuhan dengan keadaan berlubang. Bahkan saat aku tidak ingin mendengarnya sekali pun, bisikan mereka dengan santai masuk ke telingaku. Bukan karena aku tidak ingin menghentikan mereka, tapi aku sangat membenci mencari masalah dengan mereka. Selama mereka tidak menggangguku secara fisik, aku tidak akan mengusik mereka. “Rin, tidur mulu sih. Nih aku bawa minuman kesukaan kamu. Tadi aku ke KOPSIS dan tahu kamu pasti ngantuk banget, jadi aku beli ini buat kamu” kata Laila yang baru datang dan menyodorkan kopi nescafe black yang memang selalu menemaniku. Aku menerimanya dan menyodorkan uang sepuluh ribu untuk Laila. “Kamu pikir aku teman apaan? Ini tuh cuma lima ribu kok, nanti aja gantinya pakai temani aku makan di seblak biasa yah!” pintanya. “Kamu kasih ini buat aku sebagai bentuk sogokan nih, biar aku mau keluar sama kamu?” tembakku yang tepat sasaran. Wajah Laila berubah memohon padaku membuatku tidak tega untuk menolaknya. Sudah sangat sering aku menolaknya untuk keluar bersama ke mana pun tujuannya. Hari ini terpaksa aku menganggukkan kepala mengiyakan permintaannya. Dia sangat bahagia dan memelukku. Senyum tipis aku keluarkan, namun sangat tipis hingga mungkin tidak ada yang menyadari senyumanku. Sesuai janjiku, aku mau menemani Laila untuk makan di kedai seblak kesukaannya. Aku pun menyukai seblak di sini, namun aku hanya malas jika harus bergabung dengan beberapa orang lain. Aku lebih senang membeli dan membawanya pulang, meski setelahnya sudah pasti aku akan kena marah Bunda. Aku duduk di salah satu bangku yang tersedia bersama dengan Laila setelah kami memesan seblak kami dan minumannya. “Rin, kamu kenapa setiap hari selalu tidur di kelas? Ada masalah ya? Apa kamu putus cinta Rin?” tanya Laila. Dia memang sahabatku, tapi kami baru kenal sejak kelas 1 SMA dan semakin dekat dan menjadi sahabat di kelas 2 SMA ini. Aku menganggapnya sahabat karena dia mendedikasikan dirinya di depan teman-teman banyak dan mengatakan bahwa dia adalah sahabatku. “Apaan sih, La? Ngawur kamu kalau ngomong. Aku tidur, ya karena aku capek, sudah itu aja. Mana ada yang namanya putus cinta. Cowok aja gak punya,” jawabku yang masih tidak ingin menceritakan tentang diriku dan kehidupanku padanya. Bukan karena aku tidak percaya, tapi rasanya aneh menceritakan semua di saat kami baru dekat seperti ini. Biarlah semua berjalan apa adanya dan bila tiba saatnya aku akan menceritakan semua padanya. Tentunya saat aku mulai yakin. “Rin, kamu tahu anak-anak di kelas selalu lakukan apa pun?” tanyanya lagi seolah berhati-hati. Aku tahu arah pembicaraannya. Aku menatapnya datar dan tersenyum sinis. Dia menutup mulutnya saat melihat ekspresiku yang mungkin tidak bersahabat untuknya. “Emang aku harus tahu apa yang mereka lakukan? Kalau emang enggak penting buat hidup aku, apa yang harus aku korek dari kelakuan mereka. Mereka tidak memiliki kontribusi besar di hidupku,” jawabku sinis. Laila terdiam dan melihatku dengan bibir bawahnya yang di tekuk ke dalam. Pesanan kami datang dan membuat kami saling terdiam dan bergulat dengan makanan kami. Hanya bunyi sendok dan mangkuk yang beradu. Laila makan dengan menundukkan kepalanya tanpa melihat ke depan sama sekali. Setelah menghabiskan makanan kami masing-masing, aku menatapnya yang masih tidak membuka suaranya dan menunduk saat meminum minumannya. “Wajah kamu enggak akan jatuh kalau pun kamu lihat ke depan. Lagian di bawah enggak ada uang jatuh kok. Ngapain lihat bawah terus?” sindirku membuat dia mendongakkan wajahnya menatapku. “Maaf” ucapnya membuatku mengerutkan kening heran. “Aku tahu, Rin, aku bukan sahabat yang baik. Mungkin aku enggak pantas buat menyandang predikat sahabat kamu setelah ini, Rin. Aku gak pernah membela kamu bahkan saat ada orang yang menjelekkanmu di depanku,” lanjutnya membuat wajahku datar kembali. “Aku enggak butuh dibela. Mereka pantas menilai aku sesuka hati mereka, aku bukan anak kecil yang akan meminta pertolongan saat aku merasa terganggu. Enggak usah mikir aneh-aneh,” kataku. “Rin, kamu belum percaya sama aku, ya? Aku mau kok, Rin, jadi teman dengar kamu. Apa pun yang kamu rasakan, aku tahu kamu butuh satu yang seperti itu,” sahutnya. Aku berdiri dan memasang tasku ke bahu. “Ayo pulang, Bundaku pasti sudah pulang!” ajakku tidak menghiraukannya. Aku melangkah terlebih dahulu menuju motorku. Kami telah membayar makanan kami saat memesannya membuat kami bisa langsung pulang setelah makan tanpa perlu menunggu kembali untuk membayar makan kami. Laila menyusul dan menaiki motornya yang terparkir di samping motorku. Kami memasang helm kami terlebih dahulu. “La, aku duluan. Kamu hati-hati, ya.” pamitku yang menghidupkan mesin motorku terlebih dahulu dan menjalankannya meninggalkan Laila yang berada di belakang. Rumah kami berbeda arah, jadi aku tak khawatir dengan bertemu dengannya atau berjalan bersama dengannya. Jujur, aku merasa bersalah padanya karena terlalu cuek dan terlihat tidak menghargainya sebagai temanku. Tapi aku tidak siap membagi privasiku padanya. “Assalamualaikum!” Aku masuk kedalam rumah setelah memarkirkan motorku di halaman rumahku dan menutup pagarnya. Aku tersenyum sinis saat melihat keadaan rumah yang sepi. Aku ke kamarku yang berada di dekat ruang keluarga. Pintu kamarku diketuk oleh seseorang dari luar membuatku membukanya kembali dengan malas. “Bunda nganterin adik les. Kamu kalau makan, makan aja, Kak. Kamu kapan jadi lesnya Kak?” tanya Kakekku. “Harus les ya?” tanyaku dengan datar. “Kakek mau kamu juga les, Kak. Lihat nilaimu semakin turun,” katanya. Aku menghela napas pasrah dengan semua keputusan Kakekku. “Kakak ikut aja. Kakak masih capek, mau istirahat dulu,” pamitku yang masih melihat Kakek di depan pintu kamar. “Jangan lupa solat, Kak!” pesannya yang hanya ‘ku angguki. Kuhela napas berat melihat punggung kakekku menjauh dari kamarku. Aku menutup pintu kamarku dan duduk di atas kasur. Aku menenggelamkan wajahku dalam tekukan tanganku yang bertumpu pada kakiku. Seolah menjadi manusia yang menyedihkan dan sosok yang lain saat memasuki kamar itu bukan hal yang mengejutkan untukku. Aku yang tidak ingin semua orang mengetahui kelemahanku malah berbanding terbalik saat masuk ke kamarku. Aku sungguh ingin bisa menumpahkan semuanya. Sepertinya Laila benar, aku membutuhkan seseorang yang mau menerimaku bercerita. Tapi, itu justru melukai semua yang telah ‘ku jaga dengan rapi. Aku berdiri dan mengganti baju, lalu keluar kamar dan memutuskan untuk ke kamar mandi untuk membersihkan diri. **Masa awal kuliahku, kuhabiskan dengan tugas, tugas dan tugas. Bahkan hari sabtu yang biasanya aku bisa menghabiskan waktu dengan maraton drama korea, kini semakin jarang. Aku geli sendiri mengingat aku yang semakin kecanduan drama korea karena Laila. Dia sering main ke rumah karena memang dia gagal masuk ke tempat yang diinginkannya. Hari sabtu ini aku sudah muak dengan laptopku yang mengeluarkan rangkaian kalimat yang harus aku buat. Aku memilih untuk menutupnya setelah menyimpan apa yang sudah aku kerjakan. Aku keluar dari kamar dan menghidupkan TV yang mulai jarang ditonton itu. “Assalamualaikum!” Suara salam seseorang yang membuatku merutuki memilih untuk menghidupkan TV. Kubiarkan TV menyala dan menjawab salam itu sembari berjalan ke arah pintu untuk membukanya. Terlihat sepasang orang tua yang terlihat berusia 60 akhir. Aku mengerutkan keningku melihat mereka tersenyum. Wanita tua itu menarik tubuhku dan memeluknya membuatku membulatkan mataku sempurna.‘Apaan nih orang? Sok k
Pemakaman kakek berjalan lancar, Kak Dana menggandeng tanganku dan Hana untuk meninggalkan gundukan tanah yang baru itu. Aku menyeret langkahku untuk mengikuti langkah kaki Kak Dana. Hana segera masuk ke rumah setelah kami sampai. Aku duduk di depan rumah melihat tempat di mana kakek disucikan. Air mataku jatuh kembali membuat Kak Dana dengan sigap memelukku. Laila datang bersama Tia dan Jihan. Mereka melihatku masih dalam pelukan Kak Dana pun hanya terdiam.“Ada temanmu. Udah sedihnya. Kakak masuk dulu,” pamit Kak Dana. Laila duduk dan memelukku menggantikan Kak Dana. Aku terdiam dalam pelukan Laila. Bukan aku sudah tidak sedih, hanya saja aneh aku menumpahkan kesedihanku pada mereka.“Rin, yang ikhlas ya. Aku dengar dari Papi tadi waktu ujian,” kata Laila saat melepaskan pelukannya. Jihan dan Tia tersenyum memegang tanganku menguatkanku. Aku membalas senyum mereka dengan sedikit terpaksa. ***Mama menyuruhku masuk agar tidak semakin banyak ujian praktik yang harus aku susul. Bunda
Aku melalui masa baru di kelas 3 SMA. Teman sekelasku masih sama, masih ada Vedo, Balkhis dan teman-temannya, tapi juga masih ada Jihan, Tia, dan Laila yang bersamaku. Aku tetap melakukan les tambahan bersama Laila dan belajar bersama dengan Tia dan Jihan. Kakek selalu menyemangatiku dan mendukung semua keinginanku.“Kek, ini aku harus isi data buat BK. Harus isi apa ya, Kek?” tanyaku saat duduk bersama di depan tv dan kubawa lembaran data yang menyatakan jurusan dan universitas mana yang diinginkan. “Kakak mau jadi apa loh? Pertimbangkan dengan baik,” kata Kakek menyerahkan sepenuhnya padaku.“Kakak mundur dari kedokteran, kakak mau jadi dokter sejak dulu. Tapi mahal, kakak gak mau lagi. Otak kakak juga gak akan sampai,” kataku menjelaskan keadaanku. Kakek mendengarkan dengan saksama meskipun matanya masih menatap tayangan tv yang digemarinya.“Kakak mau urus tanah Kakek. Kakak mau masuk pertanian, apa kakak boleh ke IPB?” lanjutku membuat kakek menolehkan kepalanya menatapku.“IPB,
Semester telah berlalu dengan cepat dan hari ini adalah hari terakhir Kak Dana mengerjakan ujian nasional yang telah seminggu ini dijalaninya. Aku duduk di depan TV karena tidak ada kegiatan saat libur seperti ini. Aku berlibur ke rumah Kak Dana selama dia ujian nasional, aku jadi menemaninya belajar dan mendengarkan keluhannya setiap hari. Kak Dana masuk dan duduk di sampingku dengan seragam yang masih melekat di badannya. Dia semakin merebahkan tubuhnya dengan pahaku yang menjadi bantalan untuk kepalanya. “Susah Kak?” tanyaku.“Enggak juga kalau mau belajar” jawabnya.“Kamu bisa gak? Jangan bilang kamu bilang gini karena kamu gak bisa dan semalam kamu gak belajar. Iya kan?” tuduhku. Dia menatapku tajam dari bawahku membuatku takut. Aku menutup matanya dengan tanganku.“Biasa aja lihatnya, gak usah nakutin,” kataku. Dia meraih tanganku dan menyingkirkannya. “Kamu belajar dari sekarang, biar nanti gak susah. Aku bakal lanjut di luar kota, Rin. Kalau hal kaya waktu itu kembali lagi,
Lukaku sudah sembuh setelah dirawat baik oleh Kak Dana. Dia tinggal sementara karena menemaniku yang memang terkadang tidak ambil pusing dengan lukaku. Kakek juga marah melihat kondisiku sebelumnya. Balkhis diskorsing beberapa hari karena seseorang melaporkannya ke BK. “Kakak pulang kapan? Belum mau ujian?” tanyaku selama perjalanan ke sekolah. Kak Dana mengantarku dengan dalih luka di tanganku. Kak Dana memang bukan kakak kandungku, dia hanya kakak sepupuku, tapi rasa sayangnya membuatku seolah adik kandungnya. Dia memperlakukanku dan Hana dengan baik berbeda dengan sepupunya yang lain. “Kakak sudah tahu apa yang terjadi tentang ‘minggu kemarin’mu” ucapnya membuat keningku mengerut heran.“Kamu dilecehkan? Siapa orangnya? Cowok kemarin?” “Kata siapa kak? Farin baik-baik aja kok.”“Kakek. Beneran dia kayanya.” Aku terdiam, aku tidak ingin Kak Dana mendatangi Vedo dan mencari masalah dengannya. Mobil Kak Dana sudah berhenti di depan sekolah.“Farin sekolah dulu. Farin sayang kakak.
Lepas dari Vedo yang sudah berubah setelah satu minggu tidak menunjukan batang hidungnya di sekolah. Hari ini dia kembali sekolah dan tentunya sudah tidak mengusikku. Dia menyapaku seperti yang sering dilakukan oleh Tia dan Jihan. Aku dan Laila pun tak mempedulikannya. “Sok cantik! Ngaca dong kamu itu dekil kayak orang enggak mandi!” serang Balkhis membuatku dan Laila terpaksa menoleh. Laila menggandengku untuk berdiri dan meninggalkan Balkhis. Justru itu membuat Balkhis marah. Balkhis menarikku kasar dan mendorongku dengan keras. Aku merintih pelan saat ujung meja mengenai perutku. “FARIN!!!” teriak Laila terkejut melihatku terdorong.“Butuh kaca kamu? Nih!” kata Balkhis menjambrak rambutku dan menyodorkan sebuah kaca padaku. Aku tidak merespons. Dia mendorongku hingga jatuh dan menyenggol kaca itu. Benturan meja dengan kepalaku membuatku mulai pening. Dia memaksaku berdiri dan secara tidak sengaja aku memegang kaca pecah itu hingga melukai tanganku. Melihat tanganku terluka, Balkh







