Share

Setelah Semua Luka Pulang
Setelah Semua Luka Pulang
Author: Lavendulaaa

01: Prolog

Author: Lavendulaaa
last update publish date: 2026-07-17 01:04:42

“Lihat tuh si Farin, dekil banget ya. Emang gak diurus apa sama orang tuanya? Gitu banget wajahnya. Hih ….” Bisikan yang selalu kudengar saat aku berada di kelas. Bel istirahat baru saja berbunyi dan aku memutuskan untuk tidur di kelas sedangkan Laila sudah menghilang untuk mencari makan.

Bisikan demi bisikan selalu masuk ke telingaku sehingga aku dapat mendengar, meski samar-samar. Bohong, jika diamku adalah alasan aku tidak mendengar mereka. Aku memiliki dua telinga yang diciptakan Tuhan dengan keadaan berlubang. Bahkan saat aku tidak ingin mendengarnya sekali pun, bisikan mereka dengan santai masuk ke telingaku. Bukan karena aku tidak ingin menghentikan mereka, tapi aku sangat membenci mencari masalah dengan mereka. Selama mereka tidak menggangguku secara fisik, aku tidak akan mengusik mereka.

“Rin, tidur mulu sih. Nih aku bawa minuman kesukaan kamu. Tadi aku ke KOPSIS dan tahu kamu pasti ngantuk banget, jadi aku beli ini buat kamu” kata Laila yang baru datang dan menyodorkan kopi nescafe black yang memang selalu menemaniku. Aku menerimanya dan menyodorkan uang sepuluh ribu untuk Laila.

“Kamu pikir aku teman apaan? Ini tuh cuma lima ribu kok, nanti aja gantinya pakai temani aku makan di seblak biasa yah!” pintanya.

“Kamu kasih ini buat aku sebagai bentuk sogokan nih, biar aku mau keluar sama kamu?” tembakku yang tepat sasaran.

Wajah Laila berubah memohon padaku membuatku tidak tega untuk menolaknya. Sudah sangat sering aku menolaknya untuk keluar bersama ke mana pun tujuannya. Hari ini terpaksa aku menganggukkan kepala mengiyakan permintaannya. Dia sangat bahagia dan memelukku. Senyum tipis aku keluarkan, namun sangat tipis hingga mungkin tidak ada yang menyadari senyumanku.

Sesuai janjiku, aku mau menemani Laila untuk makan di kedai seblak kesukaannya. Aku pun menyukai seblak di sini, namun aku hanya malas jika harus bergabung dengan beberapa orang lain. Aku lebih senang membeli dan membawanya pulang, meski setelahnya sudah pasti aku akan kena marah Bunda. Aku duduk di salah satu bangku yang tersedia bersama dengan Laila setelah kami memesan seblak kami dan minumannya.

“Rin, kamu kenapa setiap hari selalu tidur di kelas? Ada masalah ya? Apa kamu putus cinta Rin?” tanya Laila. Dia memang sahabatku, tapi kami baru kenal sejak kelas 1 SMA dan semakin dekat dan menjadi sahabat di kelas 2 SMA ini. Aku menganggapnya sahabat karena dia mendedikasikan dirinya di depan teman-teman banyak dan mengatakan bahwa dia adalah sahabatku.

“Apaan sih, La? Ngawur kamu kalau ngomong. Aku tidur, ya karena aku capek, sudah itu aja. Mana ada yang namanya putus cinta. Cowok aja gak punya,” jawabku yang masih tidak ingin menceritakan tentang diriku dan kehidupanku padanya. Bukan karena aku tidak percaya, tapi rasanya aneh menceritakan semua di saat kami baru dekat seperti ini. Biarlah semua berjalan apa adanya dan bila tiba saatnya aku akan menceritakan semua padanya. Tentunya saat aku mulai yakin.

“Rin, kamu tahu anak-anak di kelas selalu lakukan apa pun?” tanyanya lagi seolah berhati-hati. Aku tahu arah pembicaraannya. Aku menatapnya datar dan tersenyum sinis. Dia menutup mulutnya saat melihat ekspresiku yang mungkin tidak bersahabat untuknya.

“Emang aku harus tahu apa yang mereka lakukan? Kalau emang enggak penting buat hidup aku, apa yang harus aku korek dari kelakuan mereka. Mereka tidak memiliki kontribusi besar di hidupku,” jawabku sinis.

Laila terdiam dan melihatku dengan bibir bawahnya yang di tekuk ke dalam. Pesanan kami datang dan membuat kami saling terdiam dan bergulat dengan makanan kami. Hanya bunyi sendok dan mangkuk yang beradu. Laila makan dengan menundukkan kepalanya tanpa melihat ke depan sama sekali. Setelah menghabiskan makanan kami masing-masing, aku menatapnya yang masih tidak membuka suaranya dan menunduk saat meminum minumannya.

“Wajah kamu enggak akan jatuh kalau pun kamu lihat ke depan. Lagian di bawah enggak ada uang jatuh kok. Ngapain lihat bawah terus?” sindirku membuat dia mendongakkan wajahnya menatapku.

“Maaf” ucapnya membuatku mengerutkan kening heran. “Aku tahu, Rin, aku bukan sahabat yang baik. Mungkin aku enggak pantas buat menyandang predikat sahabat kamu setelah ini, Rin. Aku gak pernah membela kamu bahkan saat ada orang yang menjelekkanmu di depanku,” lanjutnya membuat wajahku datar kembali.

“Aku enggak butuh dibela. Mereka pantas menilai aku sesuka hati mereka, aku bukan anak kecil yang akan meminta pertolongan saat aku merasa terganggu. Enggak usah mikir aneh-aneh,” kataku.

“Rin, kamu belum percaya sama aku, ya? Aku mau kok, Rin, jadi teman dengar kamu. Apa pun yang kamu rasakan, aku tahu kamu butuh satu yang seperti itu,” sahutnya. Aku berdiri dan memasang tasku ke bahu.

“Ayo pulang, Bundaku pasti sudah pulang!” ajakku tidak menghiraukannya. Aku melangkah terlebih dahulu menuju motorku. Kami telah membayar makanan kami saat memesannya membuat kami bisa langsung pulang setelah makan tanpa perlu menunggu kembali untuk membayar makan kami. Laila menyusul dan menaiki motornya yang terparkir di samping motorku. Kami memasang helm kami terlebih dahulu.

“La, aku duluan. Kamu hati-hati, ya.” pamitku yang menghidupkan mesin motorku terlebih dahulu dan menjalankannya meninggalkan Laila yang berada di belakang. Rumah kami berbeda arah, jadi aku tak khawatir dengan bertemu dengannya atau berjalan bersama dengannya. Jujur, aku merasa bersalah padanya karena terlalu cuek dan terlihat tidak menghargainya sebagai temanku. Tapi aku tidak siap membagi privasiku padanya.

“Assalamualaikum!” Aku masuk kedalam rumah setelah memarkirkan motorku di halaman rumahku dan menutup pagarnya. Aku tersenyum sinis saat melihat keadaan rumah yang sepi. Aku ke kamarku yang berada di dekat ruang keluarga. Pintu kamarku diketuk oleh seseorang dari luar membuatku membukanya kembali dengan malas.

“Bunda nganterin adik les. Kamu kalau makan, makan aja, Kak. Kamu kapan jadi lesnya Kak?” tanya Kakekku.

“Harus les ya?” tanyaku dengan datar.

“Kakek mau kamu juga les, Kak. Lihat nilaimu semakin turun,” katanya. Aku menghela napas pasrah dengan semua keputusan Kakekku.

“Kakak ikut aja. Kakak masih capek, mau istirahat dulu,” pamitku yang masih melihat Kakek di depan pintu kamar.

“Jangan lupa solat, Kak!” pesannya yang hanya ‘ku angguki. Kuhela napas berat melihat punggung kakekku menjauh dari kamarku.

Aku menutup pintu kamarku dan duduk di atas kasur. Aku menenggelamkan wajahku dalam tekukan tanganku yang bertumpu pada kakiku. Seolah menjadi manusia yang menyedihkan dan sosok yang lain saat memasuki kamar itu bukan hal yang mengejutkan untukku.

Aku yang tidak ingin semua orang mengetahui kelemahanku malah berbanding terbalik saat masuk ke kamarku. Aku sungguh ingin bisa menumpahkan semuanya. Sepertinya Laila benar, aku membutuhkan seseorang yang mau menerimaku bercerita. Tapi, itu justru melukai semua yang telah ‘ku jaga dengan rapi. Aku berdiri dan mengganti baju, lalu keluar kamar dan memutuskan untuk ke kamar mandi untuk membersihkan diri.

**

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Setelah Semua Luka Pulang   147: Raka Mau Main

    Setelah masalah rumah Tante selesai, kami tinggal menunggu kabar dari Gilang yang mengontak pihak bank untuk menanyakan masalah transaksi yang tersisa. Aku duduk di sofa kamar bersama dengan Raka yang berbaring di pahaku. Dia berceloteh dan memainkan robotnya. Mas Arlan masih menyelesaikan pekerjaan yang sudah dia telantarkan beberapa hari lalu. Raka mengajak jalan-jalan tapi terpaksa menunggu Mas Arlan menyelesaikan pekerjaannya terlebih dahulu. Aku dan Raka pun menonton TV meski mata Raka tidak menontonnya. Raka terlihat mulai bosan menunggu Papanya yang bekerja di meja belajarku. “Papa, Papa masih lama?” tanya Raka sambil tiduran di pahaku.“Sebentar lagi. Tunggu bentar ya. Habis ini kita ke kafe terus jalan deh ke mana Raka mau,” sahut Mas Arlan. “Raka pingin berenang di water park, tapi Papa lama, ini sudah siang.” Raka sudah terlihat kesal karena Papanya yang masih sibuk kerja. Raka mulai menaruh robotnya dan meminta r

  • Setelah Semua Luka Pulang   146: Menyelesaikan Masalah

    Setelah beberapa hari lalu aku menyelesaikan urusan surat wasiat Tante, aku mengunjungi Om Rafli. Suamiku menggenggam tanganku dan membalas dengan tatapan tajamnya. Dia duduk di depan Om Rafli dan tetap diam menatap tajam pria tua itu. Aku berdeham dan membuat kedua pria itu menoleh. Aku tersenyum melihat suamiku sebentar. Aku mengangguk menenangkan suamiku yang terlihat kesal. “Om, Farin cuma mau tanya. Apa Om buat Tante tersiksa karena semua yang Tante punya jatuh ke tangan Farin, meski tanpa Farin tahu?” tanyaku. “Kamu sudah tahu ternyata. Di mana surat-suratnya?” Om Rafli menanyakannya. Suamiku terlihat tenang, tapi matanya yang tajam mengawasi pergerakan Om Rafli. “Farin urus semua. Farin juga gak berpikir untuk memberikannya. Bukankah selama ini Om sudah menikmatinya? Om gak kerja dan seenaknya bawa anak tanpa ingin merawatnya. Justru Tante Farin yang rawat anak Om.”“Sekarang itu punya Farin dan Hana. Itu ada kekuatan

  • Setelah Semua Luka Pulang   145: Ayah

    Bunda terlihat lebih membaik tidak seperti kemarin. Aku masih tinggal di rumah Bunda. Suamiku pun ikut menambah cutinya hingga akhir minggu ini saat aku melakukannya. Hari ini kami mulai menyelesaikan masalah Tante, setelah kemarin aku mengurus akta kematian. Sungguh keterlaluan, tidak ada yang mengurus surat sepenting itu. Beruntung Hana tau kalau Bunda yang menyimpan berkas-berkas punya Tante. Aku pun mengurusnya dengan baik dan hari ini akan menemui Omi. Aku duduk di depan TV saat Raka menemani Lani bermain dan Hana membantu Bunda. Aku mulai menghubungi Omi melalui chat, karena ini terlalu pagi untuk menghubunginya langsung tanpa menanyakan kesibukannya. Omi meneleponku dan aku segera mengangkatnya.Aku mengatakan rencana akan menemui Omi dan seniornya untuk menyelesaikan masalah Tante. Kami pun membuat janji temu. Dia mengatakan untuk aku menemuinya jam 10 nanti. Aku mematikan panggilan setelah mengucapkan salam. Suamiku turun setelah

  • Setelah Semua Luka Pulang   144: Bunda Sehat-Sehat, Ya ....

    Aku tidak tidur dan hanya memperhatikan Bunda yang sedang terlelap. Aku sedikit lega karena Bunda tidak separah Kakek. Aku meregangkan tubuhku saat mendengar masijd telah berbunyi. Aku memperhatikan Bunda sebentar dan keluar dari kamar Bunda untuk membangunkan suamiku. Aku membuka pintu kamar dan melihatnya sudah siap.“Kamu gak tidur?” tanyaku mendekat merapikan bajunya. Dia tersenyum melihatku. “Tidur sebentar. Tadi Raka menggeliat, jadi aku bangun deh.” Aku mengangguk dan melihatnya merapikan rambut sebelum menggunakan kopiah. Aku mengecup pipinya membuatnya menggelengkan kepala.“Mau sekarang?” Dia menatapku dengan tatapan menggodanya yang selalu membuatku kesal. Aku mencubit pinggangnya. “Berangkat sana. Makin tua makin ke mana-mana pikiranmu.” Dia tertawa pelan dan menyodorkan tangannya. Aku menyalaminya dan dia mengecup keningku. “Aku berangkat. Assalamualaikum.” Dia keluar dan senyumku me

  • Setelah Semua Luka Pulang   143: Bunda Mau Ketemu Ayah

    Aku terbangun saat mendengar suara Mas Arlan yang membangunkanku. Aku melihat jam dan masih tengah malam. Aku terdiam dan melihat Mas Arlan yang berdiri di depanku. Mas Arlan memang tidak tidur menjaga Bunda yang terkadang terbangun tengah Malam sesuai laporan Hana. Setelah aku rasa siap membuka suara, aku mendongakkan kepalaku dan melihat wajah Mas Arlan yang menatapku. Aku menanyakan dengan tatapanku. Dia malah membuang napas berat melihatku. “Kamu capek ya?” tanyanya. Aku menggelengkan kepalaku sebentar.“Enggak. Aku masih ngumpulin nyawa. Kenapa?” Aku kembali menanyakan apa yang terjadi pada Mas Arlan. “Bunda bangun, untung ada Hana. Bunda mau ngomong sama kamu.” Mas Arlan mengusap rambutku.“Ke kamar mandi?” tanyaku. Mas Arlan menganggukkan kepalanya sambil tangannya masih mengusap rambutku lembut. Aku berdiri dan mencengkeram piyama Mas Arlan sambil memejamkan mataku. Jika aku terlalu banyak pikiran selal

  • Setelah Semua Luka Pulang   142: Secercah Harapan

    Aku dan suamiku berada di kamar saat Hana menyuruh kami istirahat terlebih dahulu. Raka sudah tertidur bersama Lani di tempat tidur. Hana kembali menemani Bunda. Aku memainkan HPku dan mengecek uang di beberapa rekeningku. “500 juta, selama 10 tahun. Belum tau bunganya. Gilang gak kasih tau. Bunda menggantikan menyicil hutang sejak Tante meninggal.” Perkataan Hana terus berputar. Suamiku juga melakukan apa yang aku lakukan. Aku menyandarkan kepalaku ke bahunya dan mulai menangis. Ini sungguh berat menerima kenyataan seperti ini lagi. Bukan karena besar jumlahnya, tapi keadaan Bunda terguncang. “Mas, ini terlalu besar. Kita bahkan gak tahu bunganya berapa. Apa bisa kita selesaikan semua? Aku gak mau merepotkanmu dengan masalah keluargaku yang tidak ada ujungnya. Kepalaku terasa berat, Mas. Aku terlalu takut ini baru satu yang keluar ke permukaan. Aku takut makin merepotkanmu,” tangisku.“Kamu ngomong apa sih? Kamu istriku. Ud

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status