Home / Romansa / Setelah Semua Luka Pulang / 02: Butuh Teman Dengar?

Share

02: Butuh Teman Dengar?

Author: Lavendulaaa
last update publish date: 2026-07-17 01:08:58

Aku terduduk di depan laptop. Aku menggerakkan jariku dengan santai di keyboard dan membuat bunyi khas keyboard yang sedang digunakan. Ketukan pintu membuatku mengalihkan perhatianku. Aku berdiri dari kursi dan melangkah mendekati pintu untuk membukanya.

“Ngapain aja kamu di kamar? Gak bantuin bunda buat makan malam. Sana makan!” celoteh Bunda saat kubuka pintu kamarku. 

“Lagi ngerjain tugas,” sahutku singkat.

“Sana makan sekarang!” suruhnya yang langsung pergi dari kamarku. Lagi, aku menghela napas perlahan dan mengikuti langkah kaki Bunda. Aku duduk di meja makan di mana Kakekku sudah memulai makan malamnya. Aku berdua dengan Kakek di meja makan, sedangkan Bunda makan di ruang keluarga sambil menemani Adikku yang makan sambil menonton tv. 

“Gimana sekolah, Kak?” tanya Kakekku yang mantan guru dan kepala sekolah di sekolahku. Masih ada beberapa kolega kakekku yang masih mengajarku dan belum pensiun hingga saat ini.

“Baik, palingan cuma anak-anak lain aja pada enggak suka sama pak Halik,” jawabku santai sambil menyendokkan makanan ke mulutku.

“Pak Halik guru sejarah, Kak?” tanyanya lagi yang hanya aku jawab dengan sebuah anggukan.

“Kenapa?” Kakek masih menanyakan tentang kehidupan di sekolah.

“Semua orang punya hak untuk menyukai dan membenci, Kek. Kakak gak ada hak buat tanya kenapa mereka tidak menyukai Pak Halik,” jawabku. Kakekku telah menyelesaikan makannya.

“Biar aja Kek, nanti kakak yang bawa ke belakang” lanjutku memintanya meninggalkan piring kotornya. Kakekku pun mengiyakan dan meninggalkanku terlebih dahulu. Aku menyelesaikan makan dan segera membawa piringku dan piring Kakek ke tempat cuci piring. Aku segera mencucinya dan mengembalikan ke rak piring. 

***

Hari senin selalu menjadi momok untukku. Aku harus berbaris panjang dengan orang yang dari dalam hatiku tidak aku sukai. Aku berbaris di samping Laila dan cowok manis idaman di kelas. Aku pun mengakuinya tampan, meski dingin dan cuek. Aku pernah menyukainya, mungkin hingga kini. Tapi, aku terlalu sadar diri untuk menyukainya yang hampir sempurna di mata banyak orang.

“Rin, itu Papi Hari yang jadi pembina upacara?” tanya Laila yang melihat ke arah mimbar pembina upacara. Papi Hari, panggilan sayangku dan Laila untuk guru kimia yang juga kolega Kakek dulu.

“Matamu masih bagus, kenapa masih tanya?” ketusku. Laila mengerucutkan bibirnya menatapku.

Tiba saatnya amanat pembina upacara membuat semua berbisik dengan bosan, karena biasanya amanat adalah hal yang sangat membosankan dalam rangkaian upacara.

“Assalamualaikum, salam sejahtera untuk kita semua. Selamat pagi. Rek, Rek, Arek, lek wes gak pingin sekolah. Kunu dodol bensin ae ‘kan lumayan, lungguh entuk duwit, Rek. (Nak, Nak, Anak, kalau sudah gak mau sekolah. Sana jual bensin aja ‘kan lumayan, duduk dapat uang, Nak). Sekian dari saya, bila ada kurangnya, mohon maaf sebesar-besarnya. Selamat pagi dan Wassalamualaikum wr.wb” amanat yang diberikan oleh guru kimiaku mengundang tepuk tangan anak-anak. Baru beliau yang memberi amanat begitu dan sesingkat itu.

“Rin, Papi Hari emang daebak daripada yang itu!” bisik Laila.

“Terus aja ghibah. Dosanya ngalir buat kamu,” sahutku membuat Laila berhenti mengoceh.

Pelajaran kewirausahaan hari ini sedang membahas ikan dan olahannya serta cara budidayanya. Aku hanya diam dan memperhatikan. Beberapa anak diminta maju di depan kelas menjelaskan materi tanpa persiapan.

“Farina Azzalea, sini maju!” suruh guru kewirausahaan yang tadi menjelaskan materi tentang ikan dan segala jenisnya. Aku melangkah maju dengan semangat yang menipis.

“Baca dan jelaskan slidenya ke teman-teman kamu!” lanjut guru itu membuatku mendongak menatap layar yang menampilkan gambar ikan dan kriterianya. Aku menghembuskan napas perlahan dan membalikkan badanku mengikuti perintah guruku. Aku jelaskan dan baca sepahamku tentang ikan apalah itu. Teman-temanku menertawakanku dengan bahagia. Sedikit yang diam dan menghargaiku sebagai pembicara di depan. 

‘Cih, gak sopan!’ batinku melihat gadis berkerudung dengan pagar di giginya yang menertawakanku. Aku kembali ke tempatku setelah selesai. Jam pelajaran berakhir dan aku tetap setia di mejaku. 

“Rin, kamu hebat banget! Berani langsung maju padahal aku tahu, kamu enggak tahu apapun tentang ikan-ikan itu kan?” Gadis chubby berkerudung mendekatiku mengatakannya.

“Iya Tia, aku enggak tahu tentang ikan koi atau koki itulah. Yang penting ikutin aja kata gurunya,” singkatku. 

“Halah, sok banget jadi orang!” sahut gadis berkerudung lain yang berpagar gigi. Aku hanya melihatnya sekilas dari ekor mataku. Tia membelaku karena gadis itu seolah mengataiku.

“Apaan sih, Khis? Kamu kalau kaya gitu bisa enggak? Kamu mah cuma bisa ngetawain orang dan ngejelekin orang. Malu sama kerudung, Khis. Emang kerudungmu enggak salah. Hatimu yang salah!” ujar Tia. Tia berdiri dan menggandengku keluar kelas. Aku hanya mengikuti langkah kakinya.

“Rin, kenapa kamu diam aja? Kamu berhak marah kok, Rin. Balkhis kalau didiamkan malah ngelunjak, kamu lihat tadi kan, dia udah lama tahu nyinyirin kamu!” kesal Tia. 

“Terus, kamu mau aku kaya apa, Ti? Tampar dia? Bales omongan dia? Sama aja dong aku sama dia? Selama dia enggak sentuh fisik aku sampai menyakiti fisik aku. Diam sudah jadi jalan yang baik.” Aku mencoba tetap terlihat tenang dengan nada bicara yang seperti biasanya. 

“Kamu terlalu baik. Kamu pasti butuh teman cerita kan, Rin. Aku mau jadi teman kamu, Rin. Kamu baik anaknya,” kata Tia.

“Aku jahat, Ti, Laila aja mungkin akan capek menghadapi aku. Jangan berteman karena kasihan. Aku bukan orang yang tepat, Ti.” sahutku yang langsung berlalu meninggalkannya. 

***

Kegiatan malam yang baru saja kumulai sejak hari ini adalah terlibat kelas tambahan di lembaga pembelajaran non formal. Aku duduk dan melihat seorang tentor yang sedang menjelaskan beberapa cara cepat mengerjakan soal yang akan diberikan pada kita. Sialnya adalah aku satu bimbingan belajar dengan Laila, lebih sial lagi Laila berada di kelasku dan membuatku cukup lelah mendengar celotehnya.

“La, bisa diem gak? Aku capek,” kataku membuatnya terdiam. Kami masih memperhatikan tentor itu dengan buku soal yang sangat tebal di depan kami. Aku hela nafas berat saat baru saja selesai menyelesaikan soal dari buku yang tebalnya bisa digunakan untuk bantal. Kami membahas bersama dengan tentor tersebut hasil pengerjaannya. 

Jam tangan yang melingkar di pergelangan tangan kiriku sudah menunjukkan pukul 8 malam. Alarm berakhirnya kelas akhirnya berbunyi, tentor pun keluar dari kelas. Aku langsung memasukkan buku dan semua alat tulisku kedalam tas punggungku. Aku menyampirkannya ke bahu dan berjalan terlebih dahulu. Laila menyusulku dan mencekal tanganku. Aku hanya bisa memasang wajah datar menunggu dia mengucapkan apa yang dipikirkan.

“Jam makan malam sudah lewat, kamu mau nemenin aku makan malam?” tanyanya membuatku mengerutkan keningnya. Aku tahu, Laila memang bukan tipe gadis yang akan bersusah payah diet. Dia tidak pernah masalah dipanggil gendut oleh orang lain walau kenyataannya dia tidak terlalu gendut hanya berisi saja, tapi perasaanku sedang kacau dan aku sangat lelah.

“Udah tahu jam makan malam lewat, ngapain ajak aku makan malam?” tanyaku sedikit ketus. Laila melepaskan tangannya dari tanganku dan menundukkan kepalanya.

“Pulang. Kalau lapar makan di rumah. Terlalu malam nanti kalau makan dulu,” kataku membuat dia menatapku kembali. Dia menganggukkan kepalanya dan berjalan menuju motornya. Dia pun pamit duluan pergi padaku. 

Aku berjalan ke motorku dan menghidupkannya. Aku mampir ke warung pinggir jalan untuk mengisi perut. Bukankah aku sangat jahat? Aku tahu, hanya saja terlalu berat menahan apa yang ada di hatiku saat masih tidak ingin bercerita pada siapapun yang ada di sekitarku. 

Aku membutuhkan waktu sendiri. Aku mengirim pesan ke Bunda mengatakan sejujurnya bahwa aku makan malam dulu sebelum pulang. Setelah terkirim aku masukan kembali HPku pada saku jaket yang kugunakan. Mi ayam yang kupesan baru saja datang beserta es teh yang menggugah selera makanku. Aku mengaduknya dengan pikiran yang berantakan.

‘Apa aku membutuhkan teman dengar?’ 

**

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Setelah Semua Luka Pulang   147: Raka Mau Main

    Setelah masalah rumah Tante selesai, kami tinggal menunggu kabar dari Gilang yang mengontak pihak bank untuk menanyakan masalah transaksi yang tersisa. Aku duduk di sofa kamar bersama dengan Raka yang berbaring di pahaku. Dia berceloteh dan memainkan robotnya. Mas Arlan masih menyelesaikan pekerjaan yang sudah dia telantarkan beberapa hari lalu. Raka mengajak jalan-jalan tapi terpaksa menunggu Mas Arlan menyelesaikan pekerjaannya terlebih dahulu. Aku dan Raka pun menonton TV meski mata Raka tidak menontonnya. Raka terlihat mulai bosan menunggu Papanya yang bekerja di meja belajarku. “Papa, Papa masih lama?” tanya Raka sambil tiduran di pahaku.“Sebentar lagi. Tunggu bentar ya. Habis ini kita ke kafe terus jalan deh ke mana Raka mau,” sahut Mas Arlan. “Raka pingin berenang di water park, tapi Papa lama, ini sudah siang.” Raka sudah terlihat kesal karena Papanya yang masih sibuk kerja. Raka mulai menaruh robotnya dan meminta r

  • Setelah Semua Luka Pulang   146: Menyelesaikan Masalah

    Setelah beberapa hari lalu aku menyelesaikan urusan surat wasiat Tante, aku mengunjungi Om Rafli. Suamiku menggenggam tanganku dan membalas dengan tatapan tajamnya. Dia duduk di depan Om Rafli dan tetap diam menatap tajam pria tua itu. Aku berdeham dan membuat kedua pria itu menoleh. Aku tersenyum melihat suamiku sebentar. Aku mengangguk menenangkan suamiku yang terlihat kesal. “Om, Farin cuma mau tanya. Apa Om buat Tante tersiksa karena semua yang Tante punya jatuh ke tangan Farin, meski tanpa Farin tahu?” tanyaku. “Kamu sudah tahu ternyata. Di mana surat-suratnya?” Om Rafli menanyakannya. Suamiku terlihat tenang, tapi matanya yang tajam mengawasi pergerakan Om Rafli. “Farin urus semua. Farin juga gak berpikir untuk memberikannya. Bukankah selama ini Om sudah menikmatinya? Om gak kerja dan seenaknya bawa anak tanpa ingin merawatnya. Justru Tante Farin yang rawat anak Om.”“Sekarang itu punya Farin dan Hana. Itu ada kekuatan

  • Setelah Semua Luka Pulang   145: Ayah

    Bunda terlihat lebih membaik tidak seperti kemarin. Aku masih tinggal di rumah Bunda. Suamiku pun ikut menambah cutinya hingga akhir minggu ini saat aku melakukannya. Hari ini kami mulai menyelesaikan masalah Tante, setelah kemarin aku mengurus akta kematian. Sungguh keterlaluan, tidak ada yang mengurus surat sepenting itu. Beruntung Hana tau kalau Bunda yang menyimpan berkas-berkas punya Tante. Aku pun mengurusnya dengan baik dan hari ini akan menemui Omi. Aku duduk di depan TV saat Raka menemani Lani bermain dan Hana membantu Bunda. Aku mulai menghubungi Omi melalui chat, karena ini terlalu pagi untuk menghubunginya langsung tanpa menanyakan kesibukannya. Omi meneleponku dan aku segera mengangkatnya.Aku mengatakan rencana akan menemui Omi dan seniornya untuk menyelesaikan masalah Tante. Kami pun membuat janji temu. Dia mengatakan untuk aku menemuinya jam 10 nanti. Aku mematikan panggilan setelah mengucapkan salam. Suamiku turun setelah

  • Setelah Semua Luka Pulang   144: Bunda Sehat-Sehat, Ya ....

    Aku tidak tidur dan hanya memperhatikan Bunda yang sedang terlelap. Aku sedikit lega karena Bunda tidak separah Kakek. Aku meregangkan tubuhku saat mendengar masijd telah berbunyi. Aku memperhatikan Bunda sebentar dan keluar dari kamar Bunda untuk membangunkan suamiku. Aku membuka pintu kamar dan melihatnya sudah siap.“Kamu gak tidur?” tanyaku mendekat merapikan bajunya. Dia tersenyum melihatku. “Tidur sebentar. Tadi Raka menggeliat, jadi aku bangun deh.” Aku mengangguk dan melihatnya merapikan rambut sebelum menggunakan kopiah. Aku mengecup pipinya membuatnya menggelengkan kepala.“Mau sekarang?” Dia menatapku dengan tatapan menggodanya yang selalu membuatku kesal. Aku mencubit pinggangnya. “Berangkat sana. Makin tua makin ke mana-mana pikiranmu.” Dia tertawa pelan dan menyodorkan tangannya. Aku menyalaminya dan dia mengecup keningku. “Aku berangkat. Assalamualaikum.” Dia keluar dan senyumku me

  • Setelah Semua Luka Pulang   143: Bunda Mau Ketemu Ayah

    Aku terbangun saat mendengar suara Mas Arlan yang membangunkanku. Aku melihat jam dan masih tengah malam. Aku terdiam dan melihat Mas Arlan yang berdiri di depanku. Mas Arlan memang tidak tidur menjaga Bunda yang terkadang terbangun tengah Malam sesuai laporan Hana. Setelah aku rasa siap membuka suara, aku mendongakkan kepalaku dan melihat wajah Mas Arlan yang menatapku. Aku menanyakan dengan tatapanku. Dia malah membuang napas berat melihatku. “Kamu capek ya?” tanyanya. Aku menggelengkan kepalaku sebentar.“Enggak. Aku masih ngumpulin nyawa. Kenapa?” Aku kembali menanyakan apa yang terjadi pada Mas Arlan. “Bunda bangun, untung ada Hana. Bunda mau ngomong sama kamu.” Mas Arlan mengusap rambutku.“Ke kamar mandi?” tanyaku. Mas Arlan menganggukkan kepalanya sambil tangannya masih mengusap rambutku lembut. Aku berdiri dan mencengkeram piyama Mas Arlan sambil memejamkan mataku. Jika aku terlalu banyak pikiran selal

  • Setelah Semua Luka Pulang   142: Secercah Harapan

    Aku dan suamiku berada di kamar saat Hana menyuruh kami istirahat terlebih dahulu. Raka sudah tertidur bersama Lani di tempat tidur. Hana kembali menemani Bunda. Aku memainkan HPku dan mengecek uang di beberapa rekeningku. “500 juta, selama 10 tahun. Belum tau bunganya. Gilang gak kasih tau. Bunda menggantikan menyicil hutang sejak Tante meninggal.” Perkataan Hana terus berputar. Suamiku juga melakukan apa yang aku lakukan. Aku menyandarkan kepalaku ke bahunya dan mulai menangis. Ini sungguh berat menerima kenyataan seperti ini lagi. Bukan karena besar jumlahnya, tapi keadaan Bunda terguncang. “Mas, ini terlalu besar. Kita bahkan gak tahu bunganya berapa. Apa bisa kita selesaikan semua? Aku gak mau merepotkanmu dengan masalah keluargaku yang tidak ada ujungnya. Kepalaku terasa berat, Mas. Aku terlalu takut ini baru satu yang keluar ke permukaan. Aku takut makin merepotkanmu,” tangisku.“Kamu ngomong apa sih? Kamu istriku. Ud

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status