LOGINLepas dari Vedo yang sudah berubah setelah satu minggu tidak menunjukan batang hidungnya di sekolah. Hari ini dia kembali sekolah dan tentunya sudah tidak mengusikku. Dia menyapaku seperti yang sering dilakukan oleh Tia dan Jihan. Aku dan Laila pun tak mempedulikannya.
“Sok cantik! Ngaca dong kamu itu dekil kayak orang enggak mandi!” serang Balkhis membuatku dan Laila terpaksa menoleh. Laila menggandengku untuk berdiri dan meninggalkan Balkhis. Justru itu membuat Balkhis marah. Balkhis menarikku kasar dan mendorongku dengan keras. Aku merintih pelan saat ujung meja mengenai perutku.
“FARIN!!!” teriak Laila terkejut melihatku terdorong.
“Butuh kaca kamu? Nih!” kata Balkhis menjambrak rambutku dan menyodorkan sebuah kaca padaku. Aku tidak merespons. Dia mendorongku hingga jatuh dan menyenggol kaca itu. Benturan meja dengan kepalaku membuatku mulai pening. Dia memaksaku berdiri dan secara tidak sengaja aku memegang kaca pecah itu hingga melukai tanganku. Melihat tanganku terluka, Balkhis malah menginjaknya dengan keras membuat aku merintih kesakitan. Sebuah tangan lain menarik dan membantuku. Aku melihat pemilik tangan itu, Vedo, pria menyebalkan itu menyelamatkanku.
“Khis, cukup. Aku tahu kamu temanku. Aku tahu kamu jauh lebih sempurna dari Farin. Kamu cantik, kamu kaya, kamu putih, kamu bisa membeli skincare, tapi apa pantas kamu melakukan pembullyan sekejam ini?” kata Vedo membelaku. Balkhis terlihat kesal dan akan menarikku, namun dengan cepat Vedo menyembunyikanku dibalik tubuhnya.
“Do, kamu juga pernah melakukannya. Kamu hingga melecehkannya!”
“Iya. Aku tahu, aku salah, setidaknya aku bertobat, Khis. Dia terlalu baik memaafkanku saat aku sering ikut menjelekkannya bahkan sampai melecehkannya. Dia dengan mudah memaafkanku dan membantu meringankan hukumanku. Kamu siapin dirimu berurusan dengan BK!” kata Vedo yang langsung menarikku keluar. Laila menyusulku. Vedo membawaku ke UKS dan membantuku mengobati luka. Laila menangis melihatku terluka.
“Sakit?” tanya Vedo. Aku merutuki pertanyaannya. Bukankah sudah terlihat jelas bahwa aku kesakitan?
“Menurutmu?” tanyaku membalikkan pertanyaannya.
“La, udah, gak papa. Gak usah nangis. Yang luka aku, bukan kamu,” kataku pada Laila.
“Rin, nanti kamu pulangnya gimana dong?” tanya Laila melihat lukaku.
“Kamu lupa yang aku bolos dan telepon kamu?”
“Oh iya, kamu bukan wanita tulen ya,” tuturnya membuatku ingin memukulnya, untung tanganku sedang diobati. Coba sedang lepas udah jadi bola basket kepalanya. HP-ku bergetar membuatku mengambilnya dari saku.
“Kenapa, Kak?”
“Iya, Assalamualaikum. Ada apa, Kak? Tumben.”
“Gimana?”
“Gak bisa ditunda?”
“Hem.”
“Iya, Kakak.”
“Bye!”
Sambungan kuputuskan sepihak dan menghela napas panjang setelah menerima telepon dari seseorang yang mampu membuatku bertekuk lutut.
“Kenapa, Rin?” tanya Laila. Aku memutar bola mata kesal karena Laila masih bertanya saja, sedangkan di sini ada orang lain yang sungguh menyebalkan.
“Enggak papa,” pungkasku sambil melihat perban yang baru saja terpasang indah di tanganku.
“Bakalan nyeri itu tanganmu. Yakin bisa bawa motor sendiri?” tanya Vedo.
“Meski tanganku enggak sakit juga aku enggak bisa bawa motor sendiri. Aku bisanya mengendarai motor sendiri,” sinisku.
“Kamu enggak mau berteman sama aku, Rin?”
“Buat apa? Kamu pikir, ini karena apa terjadi? Karena temanmu juga ‘kan? Udah deh, Do. Aku capek berurusan sama kamu dan teman-temanmu. Selama ini hatiku, sekarang fisikku. Habis itu apa lagi? Mau bunuh aku? Salahku apa sih, Do? Karena aku enggak cantik? Karena aku gendut? Karena aku berkulit gelap? Kenapa, Do?” rundungku pada Vedo yang tidak langsung dijawab. Vedo terdiam cukup lama membuatku dan Laila menunggu jawaban Vedo.
***
“FARIN?!” kaget seorang cowok yang berdiri di ambang pintu. Aku membulatkan mata terkejut melihat cowok itu. Cowok itu berjalan dan menggeser posisi Vedo di depanku.
“Kak Dana, ngapain di sini?” tanyaku mencoba menyembunyikan tanganku yang langsung dicegahnya. Aku memejamkan mata mencoba menerima apa yang akan terjadi setelah ini.
“Pertanyaan enggak penting. Ini apa?”
“Tangan”
“Jangan memancing emosi kakak. Siapa yang bikin luka?” tanyanya yang membuatku terdiam cukup lama. Dia menatap mataku tajam membuatku takut seketika.
“Bukan siapa-siapa, Kak. Tadi aku enggak tau kalau ada kaca pecah, jadi aku mau ambil bolpoin jatuh, eh kena kaca,” alibiku yang kuyakini dia tidak akan percaya.
“Kita kenal berapa lama, Farin?” tanyanya halus tapi menusuk jantungku.
“Kak, jangan lakuin apapun. Kamu pulang aja, nanti kita ketemu di rumah, hem?” pintaku yang langsung digelengi. Dia menatap Laila dan menanyakan siapa yang membuat luka tanganku. Laila menceritakan apa yang terjadi membuat cowok itu sedikit menarik Laila kasar untuk mengantarnya menemui siapa yang membuat luka ditanganku. Aku turun dari ranjang dengan terpaksa membuat perutku terasa sakit. Aku lupa bahwa tadi perutku terkena ujung meja. Vedo membantuku lagi. Aku menepis pelan tangannya dan berlari mengejar cowok keras kepala itu. Tanganku menahan rasa sakit di perutku.
***
Kelasku terlihat ramai dengan gerombolan anak kelas lain yang melihat ke arah kelasku. Aku memaksa masuk dan melihat Kak Dana berhadapan dengan Balkhis. Kak Dana jauh lebih jahat dariku saat ada orang yang menyentuh orang sekitarnya. Aku memeluknya dari belakang saat dia semakin mendekati Balkhis.
“Aku enggak papa, Kak. Aku enggak papa. Ini sekolahku, jangan bikin masalahku makin banyak, Kak. Pulang aja, hem,” bujukku dari balik badannya. Deru napasnya yang tidak beraturan dan jantungnya yang berpacu lebih cepat membuatku tahu dia sedang emosi.
“Kak Dana, Farin enggak papa. Please dengerin Farin!” pintaku lagi.
“Mana tempat dudukmu?” tanyanya datar. Aku menujuk mejaku dari balik tubuhnya. Dia berjalan mendekati mejaku dan memasukkan semua barangku ke tas lalu menyampirkannya ke bahunya. Aku membulatkan mataku sempurna.
“Kamu minta kakak pulang ‘kan? Sekarang kita pulang dan ke rumah sakit. Sampai ada apa-apa sama kamu, kakak enggak akan biarin dia hidup nyaman lagi,” katanya menggandeng tanganku. Aku tidak bergeming dan hanya menatap tanganku yang digandengnya.
“Motorku?” tanyaku membuat dia mengeluarkan hpnya dan menelepon seseorang dan meminta kunciku.
“Kita pakai motormu.” Dia kembali menggandengku dan memintakan surat izin pada guruku dengan alasan akan ke dokter.
***
Kami berhenti di kafe yang tidak jauh dari rumah sakit. Kami menikmati pesanan kami terlebih dahulu. Aku menyiapkan jawaban yang kemungkinan akan pria menakutkan ini tanyakan.
“Sejak kapan jadi korban bullying?” tanyanya yang sesuai dengan dugaanku.
“Lama”
“Kenapa diam aja?”
“Aku enggak bisa maksa orang suka sama aku. Aku juga gak bisa ngelarang mereka membenci aku.”
“Kamu bisa lawan.”
“Buat apa? Aku makin terpojokkan saat melawan. Minggu kemarin aku sudah melewatinya, Kak. Dan ini adalah buah hasil dari kejadian itu.”
“Apa yang terjadi?”
“Bukan apa-apa.”
“Oke, aku akan tanya Bunda”
“Kak … stop protektif buat Farin. Farin tahu Farin salah karena diam aja. Tapi Farin gak ada cara lain selain diam kak. Farin gak mau di lihat menakutkan saat Farin mengandalkan emosi Farin”
“Kakak pindah ke sekolahmu.” Ucapannya mampu membuatku terperangah.
“Kakak gila ya? Ini udah mau ujian. Sebentar lagi kakak ujian nasional. Masa pindah gitu aja. Kamu jangan aneh-aneh deh. Farin jaga diri kok. Kakak gak usah jaga Farin segitunya. Mama pasti kepikiran kalo kakak pindah gitu aja. Ini udah mau masuk semester dua kak. Farin udah gak papa. Ini kan kita mau ke dokter, Kak.” bujukku.
“Kamu pikir, kakak di sini karena siapa? Mama sama Ayah dong.”
“Mama bolehin kakak pindah?”
“Boleh.”
“Tapi kak, pasti susah.”
“Iyalah, karena susah mangkannya kakak gak mau. Ini cuma karena Mama sama Ayah ada urusan, jadi kakak sama Lia nemenin. Kamu gak usah panik, gak akan kakak datang lagi ke sekolahmu tiba-tiba. Eh, tadi gak tiba-tiba ya, kan kakak sudah telepon kamu,” ujarnya membuatku bernapas lega. Setidaknya dia tidak akan menambah masalah untukku. Bukan karena aku tidak menyukai Kak Dana bersekolah di sekolahku, hanya saja kasihan kalo harus belajar lebih lagi.
**
Setelah masalah rumah Tante selesai, kami tinggal menunggu kabar dari Gilang yang mengontak pihak bank untuk menanyakan masalah transaksi yang tersisa. Aku duduk di sofa kamar bersama dengan Raka yang berbaring di pahaku. Dia berceloteh dan memainkan robotnya. Mas Arlan masih menyelesaikan pekerjaan yang sudah dia telantarkan beberapa hari lalu. Raka mengajak jalan-jalan tapi terpaksa menunggu Mas Arlan menyelesaikan pekerjaannya terlebih dahulu. Aku dan Raka pun menonton TV meski mata Raka tidak menontonnya. Raka terlihat mulai bosan menunggu Papanya yang bekerja di meja belajarku. “Papa, Papa masih lama?” tanya Raka sambil tiduran di pahaku.“Sebentar lagi. Tunggu bentar ya. Habis ini kita ke kafe terus jalan deh ke mana Raka mau,” sahut Mas Arlan. “Raka pingin berenang di water park, tapi Papa lama, ini sudah siang.” Raka sudah terlihat kesal karena Papanya yang masih sibuk kerja. Raka mulai menaruh robotnya dan meminta r
Setelah beberapa hari lalu aku menyelesaikan urusan surat wasiat Tante, aku mengunjungi Om Rafli. Suamiku menggenggam tanganku dan membalas dengan tatapan tajamnya. Dia duduk di depan Om Rafli dan tetap diam menatap tajam pria tua itu. Aku berdeham dan membuat kedua pria itu menoleh. Aku tersenyum melihat suamiku sebentar. Aku mengangguk menenangkan suamiku yang terlihat kesal. “Om, Farin cuma mau tanya. Apa Om buat Tante tersiksa karena semua yang Tante punya jatuh ke tangan Farin, meski tanpa Farin tahu?” tanyaku. “Kamu sudah tahu ternyata. Di mana surat-suratnya?” Om Rafli menanyakannya. Suamiku terlihat tenang, tapi matanya yang tajam mengawasi pergerakan Om Rafli. “Farin urus semua. Farin juga gak berpikir untuk memberikannya. Bukankah selama ini Om sudah menikmatinya? Om gak kerja dan seenaknya bawa anak tanpa ingin merawatnya. Justru Tante Farin yang rawat anak Om.”“Sekarang itu punya Farin dan Hana. Itu ada kekuatan
Bunda terlihat lebih membaik tidak seperti kemarin. Aku masih tinggal di rumah Bunda. Suamiku pun ikut menambah cutinya hingga akhir minggu ini saat aku melakukannya. Hari ini kami mulai menyelesaikan masalah Tante, setelah kemarin aku mengurus akta kematian. Sungguh keterlaluan, tidak ada yang mengurus surat sepenting itu. Beruntung Hana tau kalau Bunda yang menyimpan berkas-berkas punya Tante. Aku pun mengurusnya dengan baik dan hari ini akan menemui Omi. Aku duduk di depan TV saat Raka menemani Lani bermain dan Hana membantu Bunda. Aku mulai menghubungi Omi melalui chat, karena ini terlalu pagi untuk menghubunginya langsung tanpa menanyakan kesibukannya. Omi meneleponku dan aku segera mengangkatnya.Aku mengatakan rencana akan menemui Omi dan seniornya untuk menyelesaikan masalah Tante. Kami pun membuat janji temu. Dia mengatakan untuk aku menemuinya jam 10 nanti. Aku mematikan panggilan setelah mengucapkan salam. Suamiku turun setelah
Aku tidak tidur dan hanya memperhatikan Bunda yang sedang terlelap. Aku sedikit lega karena Bunda tidak separah Kakek. Aku meregangkan tubuhku saat mendengar masijd telah berbunyi. Aku memperhatikan Bunda sebentar dan keluar dari kamar Bunda untuk membangunkan suamiku. Aku membuka pintu kamar dan melihatnya sudah siap.“Kamu gak tidur?” tanyaku mendekat merapikan bajunya. Dia tersenyum melihatku. “Tidur sebentar. Tadi Raka menggeliat, jadi aku bangun deh.” Aku mengangguk dan melihatnya merapikan rambut sebelum menggunakan kopiah. Aku mengecup pipinya membuatnya menggelengkan kepala.“Mau sekarang?” Dia menatapku dengan tatapan menggodanya yang selalu membuatku kesal. Aku mencubit pinggangnya. “Berangkat sana. Makin tua makin ke mana-mana pikiranmu.” Dia tertawa pelan dan menyodorkan tangannya. Aku menyalaminya dan dia mengecup keningku. “Aku berangkat. Assalamualaikum.” Dia keluar dan senyumku me
Aku terbangun saat mendengar suara Mas Arlan yang membangunkanku. Aku melihat jam dan masih tengah malam. Aku terdiam dan melihat Mas Arlan yang berdiri di depanku. Mas Arlan memang tidak tidur menjaga Bunda yang terkadang terbangun tengah Malam sesuai laporan Hana. Setelah aku rasa siap membuka suara, aku mendongakkan kepalaku dan melihat wajah Mas Arlan yang menatapku. Aku menanyakan dengan tatapanku. Dia malah membuang napas berat melihatku. “Kamu capek ya?” tanyanya. Aku menggelengkan kepalaku sebentar.“Enggak. Aku masih ngumpulin nyawa. Kenapa?” Aku kembali menanyakan apa yang terjadi pada Mas Arlan. “Bunda bangun, untung ada Hana. Bunda mau ngomong sama kamu.” Mas Arlan mengusap rambutku.“Ke kamar mandi?” tanyaku. Mas Arlan menganggukkan kepalanya sambil tangannya masih mengusap rambutku lembut. Aku berdiri dan mencengkeram piyama Mas Arlan sambil memejamkan mataku. Jika aku terlalu banyak pikiran selal
Aku dan suamiku berada di kamar saat Hana menyuruh kami istirahat terlebih dahulu. Raka sudah tertidur bersama Lani di tempat tidur. Hana kembali menemani Bunda. Aku memainkan HPku dan mengecek uang di beberapa rekeningku. “500 juta, selama 10 tahun. Belum tau bunganya. Gilang gak kasih tau. Bunda menggantikan menyicil hutang sejak Tante meninggal.” Perkataan Hana terus berputar. Suamiku juga melakukan apa yang aku lakukan. Aku menyandarkan kepalaku ke bahunya dan mulai menangis. Ini sungguh berat menerima kenyataan seperti ini lagi. Bukan karena besar jumlahnya, tapi keadaan Bunda terguncang. “Mas, ini terlalu besar. Kita bahkan gak tahu bunganya berapa. Apa bisa kita selesaikan semua? Aku gak mau merepotkanmu dengan masalah keluargaku yang tidak ada ujungnya. Kepalaku terasa berat, Mas. Aku terlalu takut ini baru satu yang keluar ke permukaan. Aku takut makin merepotkanmu,” tangisku.“Kamu ngomong apa sih? Kamu istriku. Ud







