Compartilhar

09: Bullying

Autor: Lavendulaaa
last update Data de publicação: 2026-09-09 10:36:17

Lepas dari Vedo yang sudah berubah setelah satu minggu tidak menunjukan batang hidungnya di sekolah. Hari ini dia kembali sekolah dan tentunya sudah tidak mengusikku. Dia menyapaku seperti yang sering dilakukan oleh Tia dan Jihan. Aku dan Laila pun tak mempedulikannya. 

“Sok cantik! Ngaca dong kamu itu dekil kayak orang enggak mandi!” serang Balkhis membuatku dan Laila terpaksa menoleh. Laila menggandengku untuk berdiri dan meninggalkan Balkhis. Justru itu membuat Balkhis marah. Balkhis menarikku kasar dan mendorongku dengan keras. Aku merintih pelan saat ujung meja mengenai perutku. 

“FARIN!!!” teriak Laila terkejut melihatku terdorong.

“Butuh kaca kamu? Nih!” kata Balkhis menjambrak rambutku dan menyodorkan sebuah kaca padaku. Aku tidak merespons. Dia mendorongku hingga jatuh dan menyenggol kaca itu. Benturan meja dengan kepalaku membuatku mulai pening. Dia memaksaku berdiri dan secara tidak sengaja aku memegang kaca pecah itu hingga melukai tanganku. Melihat tanganku terluka, Balkhis malah menginjaknya dengan keras membuat aku merintih kesakitan. Sebuah tangan lain menarik dan membantuku. Aku melihat pemilik tangan itu, Vedo, pria menyebalkan itu menyelamatkanku. 

“Khis, cukup. Aku tahu kamu temanku. Aku tahu kamu jauh lebih sempurna dari Farin. Kamu cantik, kamu kaya, kamu putih, kamu bisa membeli skincare, tapi apa pantas kamu melakukan pembullyan sekejam ini?” kata Vedo membelaku. Balkhis terlihat kesal dan akan menarikku, namun dengan cepat Vedo menyembunyikanku dibalik tubuhnya. 

“Do, kamu juga pernah melakukannya. Kamu hingga melecehkannya!”

“Iya. Aku tahu, aku salah, setidaknya aku bertobat, Khis. Dia terlalu baik memaafkanku saat aku sering ikut menjelekkannya bahkan sampai melecehkannya. Dia dengan mudah memaafkanku dan membantu meringankan hukumanku. Kamu siapin dirimu berurusan dengan BK!” kata Vedo yang langsung menarikku keluar. Laila menyusulku. Vedo membawaku ke UKS dan membantuku mengobati luka. Laila menangis melihatku terluka. 

“Sakit?” tanya Vedo. Aku merutuki pertanyaannya. Bukankah sudah terlihat jelas bahwa aku kesakitan?

“Menurutmu?” tanyaku membalikkan pertanyaannya.

“La, udah, gak papa. Gak usah nangis. Yang luka aku, bukan kamu,” kataku pada Laila.

“Rin, nanti kamu pulangnya gimana dong?” tanya Laila melihat lukaku.

“Kamu lupa yang aku bolos dan telepon kamu?” 

“Oh iya, kamu bukan wanita tulen ya,” tuturnya membuatku ingin memukulnya, untung tanganku sedang diobati. Coba sedang lepas udah jadi bola basket kepalanya. HP-ku bergetar membuatku mengambilnya dari saku.

“Kenapa, Kak?”

“Iya, Assalamualaikum. Ada apa, Kak? Tumben.”

“Gimana?” 

“Gak bisa ditunda?”

“Hem.”

“Iya, Kakak.”

“Bye!”

Sambungan kuputuskan sepihak dan menghela napas panjang setelah menerima telepon dari seseorang yang mampu membuatku bertekuk lutut. 

“Kenapa, Rin?” tanya Laila. Aku memutar bola mata kesal karena Laila masih bertanya saja, sedangkan di sini ada orang lain yang sungguh menyebalkan.

“Enggak papa,” pungkasku sambil melihat perban yang baru saja terpasang indah di tanganku.

“Bakalan nyeri itu tanganmu. Yakin bisa bawa motor sendiri?” tanya Vedo.

“Meski tanganku enggak sakit juga aku enggak bisa bawa motor sendiri. Aku bisanya mengendarai motor sendiri,” sinisku.

“Kamu enggak mau berteman sama aku, Rin?” 

“Buat apa? Kamu pikir, ini karena apa terjadi? Karena temanmu juga ‘kan? Udah deh, Do. Aku capek berurusan sama kamu dan teman-temanmu. Selama ini hatiku, sekarang fisikku. Habis itu apa lagi? Mau bunuh aku? Salahku apa sih, Do? Karena aku enggak cantik? Karena aku gendut? Karena aku berkulit gelap? Kenapa, Do?” rundungku pada Vedo yang tidak langsung dijawab. Vedo terdiam cukup lama membuatku dan Laila menunggu jawaban Vedo.

***

“FARIN?!” kaget seorang cowok yang berdiri di ambang pintu. Aku membulatkan mata terkejut melihat cowok itu. Cowok itu berjalan dan menggeser posisi Vedo di depanku.

“Kak Dana, ngapain di sini?” tanyaku mencoba menyembunyikan tanganku yang langsung dicegahnya. Aku memejamkan mata mencoba menerima apa yang akan terjadi setelah ini. 

“Pertanyaan enggak penting. Ini apa?” 

“Tangan”

“Jangan memancing emosi kakak. Siapa yang bikin luka?” tanyanya yang membuatku terdiam cukup lama. Dia menatap mataku tajam membuatku takut seketika.

“Bukan siapa-siapa, Kak. Tadi aku enggak tau kalau ada kaca pecah, jadi aku mau ambil bolpoin jatuh, eh kena kaca,” alibiku yang kuyakini dia tidak akan percaya.

“Kita kenal berapa lama, Farin?” tanyanya halus tapi menusuk jantungku. 

“Kak, jangan lakuin apapun. Kamu pulang aja, nanti kita ketemu di rumah, hem?” pintaku yang langsung digelengi. Dia menatap Laila dan menanyakan siapa yang membuat luka tanganku. Laila menceritakan apa yang terjadi membuat cowok itu sedikit menarik Laila kasar untuk mengantarnya menemui siapa yang membuat luka ditanganku. Aku turun dari ranjang dengan terpaksa membuat perutku terasa sakit. Aku lupa bahwa tadi perutku terkena ujung meja. Vedo membantuku lagi. Aku menepis pelan tangannya dan berlari mengejar cowok keras kepala itu. Tanganku menahan rasa sakit di perutku.

***

Kelasku terlihat ramai dengan gerombolan anak kelas lain yang melihat ke arah kelasku. Aku memaksa masuk dan melihat Kak Dana berhadapan dengan Balkhis. Kak Dana jauh lebih jahat dariku saat ada orang yang menyentuh orang sekitarnya. Aku memeluknya dari belakang saat dia semakin mendekati Balkhis.

“Aku enggak papa, Kak. Aku enggak papa. Ini sekolahku, jangan bikin masalahku makin banyak, Kak. Pulang aja, hem,” bujukku dari balik badannya. Deru napasnya yang tidak beraturan dan jantungnya yang berpacu lebih cepat membuatku tahu dia sedang emosi.

“Kak Dana, Farin enggak papa. Please dengerin Farin!” pintaku lagi.

“Mana tempat dudukmu?” tanyanya datar. Aku menujuk mejaku dari balik tubuhnya. Dia berjalan mendekati mejaku dan memasukkan semua barangku ke tas lalu menyampirkannya ke bahunya. Aku membulatkan mataku sempurna.

“Kamu minta kakak pulang ‘kan? Sekarang kita pulang dan ke rumah sakit. Sampai ada apa-apa sama kamu, kakak enggak akan biarin dia hidup nyaman lagi,” katanya menggandeng tanganku. Aku tidak bergeming dan hanya menatap tanganku yang digandengnya.

“Motorku?” tanyaku membuat dia mengeluarkan hpnya dan menelepon seseorang dan meminta kunciku.

“Kita pakai motormu.” Dia kembali menggandengku dan memintakan surat izin pada guruku dengan alasan akan ke dokter. 

***

Kami berhenti di kafe yang tidak jauh dari rumah sakit. Kami menikmati pesanan kami terlebih dahulu. Aku menyiapkan jawaban yang kemungkinan akan pria menakutkan ini tanyakan. 

“Sejak kapan jadi korban bullying?” tanyanya yang sesuai dengan dugaanku.

“Lama”

“Kenapa diam aja?”

“Aku enggak bisa maksa orang suka sama aku. Aku juga gak bisa ngelarang mereka membenci aku.” 

“Kamu bisa lawan.”

“Buat apa? Aku makin terpojokkan saat melawan. Minggu kemarin aku sudah melewatinya, Kak. Dan ini adalah buah hasil dari kejadian itu.”

“Apa yang terjadi?”

“Bukan apa-apa.”

“Oke, aku akan tanya Bunda”

“Kak … stop protektif buat Farin. Farin tahu Farin salah karena diam aja. Tapi Farin gak ada cara lain selain diam kak. Farin gak mau di lihat menakutkan saat Farin mengandalkan emosi Farin” 

“Kakak pindah ke sekolahmu.” Ucapannya mampu membuatku terperangah.

“Kakak gila ya? Ini udah mau ujian. Sebentar lagi kakak ujian nasional. Masa pindah gitu aja. Kamu jangan aneh-aneh deh. Farin jaga diri kok. Kakak gak usah jaga Farin segitunya. Mama pasti kepikiran kalo kakak pindah gitu aja. Ini udah mau masuk semester dua kak. Farin udah gak papa. Ini kan kita mau ke dokter, Kak.” bujukku.

“Kamu pikir, kakak di sini karena siapa? Mama sama Ayah dong.”

“Mama bolehin kakak pindah?” 

“Boleh.”

“Tapi kak, pasti susah.”

“Iyalah, karena susah mangkannya kakak gak mau. Ini cuma karena Mama sama Ayah ada urusan, jadi kakak sama Lia nemenin. Kamu gak usah panik, gak akan kakak datang lagi ke sekolahmu tiba-tiba. Eh, tadi gak tiba-tiba ya, kan kakak sudah telepon kamu,” ujarnya membuatku bernapas lega. Setidaknya dia tidak akan menambah masalah untukku. Bukan karena aku tidak menyukai Kak Dana bersekolah di sekolahku, hanya saja kasihan kalo harus belajar lebih lagi. 

**

Continue a ler este livro gratuitamente
Escaneie o código para baixar o App

Último capítulo

  • Setelah Semua Luka Pulang   14: Keluarga Ayah

    Masa awal kuliahku, kuhabiskan dengan tugas, tugas dan tugas. Bahkan hari sabtu yang biasanya aku bisa menghabiskan waktu dengan maraton drama korea, kini semakin jarang. Aku geli sendiri mengingat aku yang semakin kecanduan drama korea karena Laila. Dia sering main ke rumah karena memang dia gagal masuk ke tempat yang diinginkannya. Hari sabtu ini aku sudah muak dengan laptopku yang mengeluarkan rangkaian kalimat yang harus aku buat. Aku memilih untuk menutupnya setelah menyimpan apa yang sudah aku kerjakan. Aku keluar dari kamar dan menghidupkan TV yang mulai jarang ditonton itu. “Assalamualaikum!” Suara salam seseorang yang membuatku merutuki memilih untuk menghidupkan TV. Kubiarkan TV menyala dan menjawab salam itu sembari berjalan ke arah pintu untuk membukanya. Terlihat sepasang orang tua yang terlihat berusia 60 akhir. Aku mengerutkan keningku melihat mereka tersenyum. Wanita tua itu menarik tubuhku dan memeluknya membuatku membulatkan mataku sempurna.‘Apaan nih orang? Sok k

  • Setelah Semua Luka Pulang   13: Kehilangan Kakek (2)

    Pemakaman kakek berjalan lancar, Kak Dana menggandeng tanganku dan Hana untuk meninggalkan gundukan tanah yang baru itu. Aku menyeret langkahku untuk mengikuti langkah kaki Kak Dana. Hana segera masuk ke rumah setelah kami sampai. Aku duduk di depan rumah melihat tempat di mana kakek disucikan. Air mataku jatuh kembali membuat Kak Dana dengan sigap memelukku. Laila datang bersama Tia dan Jihan. Mereka melihatku masih dalam pelukan Kak Dana pun hanya terdiam.“Ada temanmu. Udah sedihnya. Kakak masuk dulu,” pamit Kak Dana. Laila duduk dan memelukku menggantikan Kak Dana. Aku terdiam dalam pelukan Laila. Bukan aku sudah tidak sedih, hanya saja aneh aku menumpahkan kesedihanku pada mereka.“Rin, yang ikhlas ya. Aku dengar dari Papi tadi waktu ujian,” kata Laila saat melepaskan pelukannya. Jihan dan Tia tersenyum memegang tanganku menguatkanku. Aku membalas senyum mereka dengan sedikit terpaksa. ***Mama menyuruhku masuk agar tidak semakin banyak ujian praktik yang harus aku susul. Bunda

  • Setelah Semua Luka Pulang   12: Kehilangan Kakek (1)

    Aku melalui masa baru di kelas 3 SMA. Teman sekelasku masih sama, masih ada Vedo, Balkhis dan teman-temannya, tapi juga masih ada Jihan, Tia, dan Laila yang bersamaku. Aku tetap melakukan les tambahan bersama Laila dan belajar bersama dengan Tia dan Jihan. Kakek selalu menyemangatiku dan mendukung semua keinginanku.“Kek, ini aku harus isi data buat BK. Harus isi apa ya, Kek?” tanyaku saat duduk bersama di depan tv dan kubawa lembaran data yang menyatakan jurusan dan universitas mana yang diinginkan. “Kakak mau jadi apa loh? Pertimbangkan dengan baik,” kata Kakek menyerahkan sepenuhnya padaku.“Kakak mundur dari kedokteran, kakak mau jadi dokter sejak dulu. Tapi mahal, kakak gak mau lagi. Otak kakak juga gak akan sampai,” kataku menjelaskan keadaanku. Kakek mendengarkan dengan saksama meskipun matanya masih menatap tayangan tv yang digemarinya.“Kakak mau urus tanah Kakek. Kakak mau masuk pertanian, apa kakak boleh ke IPB?” lanjutku membuat kakek menolehkan kepalanya menatapku.“IPB,

  • Setelah Semua Luka Pulang   11: Happy Graduation, Pria Keras Kepala!!

    Semester telah berlalu dengan cepat dan hari ini adalah hari terakhir Kak Dana mengerjakan ujian nasional yang telah seminggu ini dijalaninya. Aku duduk di depan TV karena tidak ada kegiatan saat libur seperti ini. Aku berlibur ke rumah Kak Dana selama dia ujian nasional, aku jadi menemaninya belajar dan mendengarkan keluhannya setiap hari. Kak Dana masuk dan duduk di sampingku dengan seragam yang masih melekat di badannya. Dia semakin merebahkan tubuhnya dengan pahaku yang menjadi bantalan untuk kepalanya. “Susah Kak?” tanyaku.“Enggak juga kalau mau belajar” jawabnya.“Kamu bisa gak? Jangan bilang kamu bilang gini karena kamu gak bisa dan semalam kamu gak belajar. Iya kan?” tuduhku. Dia menatapku tajam dari bawahku membuatku takut. Aku menutup matanya dengan tanganku.“Biasa aja lihatnya, gak usah nakutin,” kataku. Dia meraih tanganku dan menyingkirkannya. “Kamu belajar dari sekarang, biar nanti gak susah. Aku bakal lanjut di luar kota, Rin. Kalau hal kaya waktu itu kembali lagi,

  • Setelah Semua Luka Pulang   10: Kak Dana dan Vedo

    Lukaku sudah sembuh setelah dirawat baik oleh Kak Dana. Dia tinggal sementara karena menemaniku yang memang terkadang tidak ambil pusing dengan lukaku. Kakek juga marah melihat kondisiku sebelumnya. Balkhis diskorsing beberapa hari karena seseorang melaporkannya ke BK. “Kakak pulang kapan? Belum mau ujian?” tanyaku selama perjalanan ke sekolah. Kak Dana mengantarku dengan dalih luka di tanganku. Kak Dana memang bukan kakak kandungku, dia hanya kakak sepupuku, tapi rasa sayangnya membuatku seolah adik kandungnya. Dia memperlakukanku dan Hana dengan baik berbeda dengan sepupunya yang lain. “Kakak sudah tahu apa yang terjadi tentang ‘minggu kemarin’mu” ucapnya membuat keningku mengerut heran.“Kamu dilecehkan? Siapa orangnya? Cowok kemarin?” “Kata siapa kak? Farin baik-baik aja kok.”“Kakek. Beneran dia kayanya.” Aku terdiam, aku tidak ingin Kak Dana mendatangi Vedo dan mencari masalah dengannya. Mobil Kak Dana sudah berhenti di depan sekolah.“Farin sekolah dulu. Farin sayang kakak.

  • Setelah Semua Luka Pulang   09: Bullying

    Lepas dari Vedo yang sudah berubah setelah satu minggu tidak menunjukan batang hidungnya di sekolah. Hari ini dia kembali sekolah dan tentunya sudah tidak mengusikku. Dia menyapaku seperti yang sering dilakukan oleh Tia dan Jihan. Aku dan Laila pun tak mempedulikannya. “Sok cantik! Ngaca dong kamu itu dekil kayak orang enggak mandi!” serang Balkhis membuatku dan Laila terpaksa menoleh. Laila menggandengku untuk berdiri dan meninggalkan Balkhis. Justru itu membuat Balkhis marah. Balkhis menarikku kasar dan mendorongku dengan keras. Aku merintih pelan saat ujung meja mengenai perutku. “FARIN!!!” teriak Laila terkejut melihatku terdorong.“Butuh kaca kamu? Nih!” kata Balkhis menjambrak rambutku dan menyodorkan sebuah kaca padaku. Aku tidak merespons. Dia mendorongku hingga jatuh dan menyenggol kaca itu. Benturan meja dengan kepalaku membuatku mulai pening. Dia memaksaku berdiri dan secara tidak sengaja aku memegang kaca pecah itu hingga melukai tanganku. Melihat tanganku terluka, Balkh

Mais capítulos
Explore e leia bons romances gratuitamente
Acesso gratuito a um vasto número de bons romances no app GoodNovel. Baixe os livros que você gosta e leia em qualquer lugar e a qualquer hora.
Leia livros gratuitamente no app
ESCANEIE O CÓDIGO PARA LER NO APP
DMCA.com Protection Status