Share

23: Beautiful Pain

Author: Lavendulaaa
last update publish date: 2026-09-13 09:55:59

AUTHOR P.O.V

Sepulang kantor, Farin langsung pulang dan menunggu Febi di apartemennya. Pikiran Farin berkecamuk dengan apa yang sedang terjadi. Farin merasa ini adalah jalan terbaik untuk saling melepaskan dengan Jae, tapi ada rasa tidak rela yang menghantuinya. Febi datang dan melihat Farin yang duduk di meja makan dengan sebotol soju yang ada di depannya. Febi mengambil botol itu dan menaruhnya kemba

Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Setelah Semua Luka Pulang   23: Beautiful Pain

    AUTHOR P.O.VSepulang kantor, Farin langsung pulang dan menunggu Febi di apartemennya. Pikiran Farin berkecamuk dengan apa yang sedang terjadi. Farin merasa ini adalah jalan terbaik untuk saling melepaskan dengan Jae, tapi ada rasa tidak rela yang menghantuinya. Febi datang dan melihat Farin yang duduk di meja makan dengan sebotol soju yang ada di depannya. Febi mengambil botol itu dan menaruhnya kembali ke kulkas.“Kenapa, Rin?” tanya Febi membuat wanita di depannya itu mendongak dan memperlihatkan wajah sembabnya. Febi cukup terkejut melihatnya.“Kalian saling melepaskan?” tanya Febi seketika mengingat Jae saat Farin seperti ini.“Sepertinya akan seperti itu,” jawab Farin singka

  • Setelah Semua Luka Pulang   22: Bertemu Jae

    Seperti janjiku, hari ini adalah hari minggu, aku menelepon Jae untuk bertemu di kafe dekat apartemenku. Aku mengajak Bunda, Kak Dana, Hana, dan Lia untuk bertemu Jae. Saat kami datang, Jae sudah berada di tempat. Dia tersenyum padaku. Aku mengajak Bunda dan yang lain untuk mendekatinya.“Jae, udah lama?” tanyaku.“Belum, baru 10 menit yang lalu aku datang” jawabnya.10 menit menunggu dia bilang baru? Padahal kalau aku mah udah meronta-ronta. Aku duduk di samping Jae dan di depan Bunda. Aku mulai mengenalkan Jae pada Bunda dan begitu juga sebaliknya. Jae meyapa ramah Bunda. Aku tahu Bunda menyukai attitude Jae yang memang bagus dan sopan. Sayangnya, kami

  • Setelah Semua Luka Pulang   21: Kehidupan Bucin

    Masa kasmaran memang membuat terkadang lupa segalanya. Apalagi, jika pasangan kita selalu dekat dengan kita. Seperti ini, saat istirahat kantor, aku akan berada di kafe dekat kantor untuk makan berdua dengan Jae. Saat kami berjumpa, sikap Jae yang selalu memperlakukanku dengan baik seolah seorang tuan putri selalu membuatku lupa bahwa ada tembok tebal yang ada di tengah kami. Aku hanya ingin menikmati semua sebelum aku harus kehilangan hal yang membuatku bahagia.“Farin, nanti mau pulang sama aku?” tanyanya yang beberapa hari ini selalu kutolak. Aku menganggukkan kepalaku dan tersenyum. Enam bulan bersamanya, rasa kasmaran kami masih terus melekat. Aku selalu ingin bersamanya tapi aku tahu ini salah. Aku harus lebih mencintai Tuhan dari pada ciptaannya. Entah mengapa, aku takut untuk mengakhirinya. Ingin kubiarkan waktu menyelesaikan semua untukku.

  • Setelah Semua Luka Pulang   20: Awal Baru

    Menurut beberapa orang, hidup akan lebih bahagia jika kita dapat berdamai dengan masa lalu. Sepertinya, itu memang benar, kini aku mulai bisa menerima keberadaan Ayah yang selalu meneleponku setelah pertemuan kami. Aku baru selesai berganti baju dan meraih HPku yang ada di nakas di kamarku. Aku harus menuju bandara untuk menjemput Febi yang hari ini datang ke Korea dan akan tinggal bersamaku, karena dia juga memiliki pekerjaan di sini.Cukup lama aku menunggu hingga sosok yang kutunggu datang dan memelukku. Aku membalas pelukannya dan membantunya menggeret kopernya yang cukup besar. Kami berjalan berdua keluar dari lobi bandara. Kami segera menuju apartemenku. Hanya percakapan ringan yang terjadi di dalam taksi. Kami turun dan masuk ke gedung apartemenku. Aku mempersilakannya masuk ke unit apartemenku.“Gimana Feb?

  • Setelah Semua Luka Pulang   19: Memaafkan

    Hal paling susah untukku adalah berdamai dengan masa lalu yang pelik. Sampai hari ini pun, aku masih enggan untuk berdamai. Hatiku sangat membenci situasi di mana aku harus menangis dan merindu tanpa tahu keadaan sosok yang kurindukan. Saat dia datang seperti ini rasa marahku lebih mendominasi membuatku makin enggan berdamai dengan masa lalu, apalagi setelah dia menceritakan kronologinya. Aku cukup muak melihat dan mendengarkan suaranya.“Kak, maafin aja Ayahmu. Toh, kalo gak ada dia kamu juga gak ada, Kak,” bujuk Bunda. Aku mendesah pelan mendengar perkataan Bunda. Kenapa juga Bunda harus membujuk anaknya ini, padahal tahu sendiri anaknya aja susah buat maafin Bunda dulu.“Kakak dulu juga marah sama Bunda kan? Wajar, Kak, gak ada anak yang mau jadi korban dari rusaknya hubungan orang tuanya. Ayahmu juga sudah

  • Setelah Semua Luka Pulang   18: Ketidak Pedulianku

    Tiga teman anehku itu memilih pulang dan mengajakku hangout besok. Aku pun menyetujuinya, toh tujuanku pulang untuk liburan dan bertemu mereka. Keluarga Ayah masih setia menungguku untuk mengobrol.“Farin, lima juta itu besar loh? Kenapa gak diterima aja itu uangnya dari temanmu?” tanya nenekku yang mulai mengajakku bicara. Aku mendengkus kesal mendengar orang berkomentar tentang apa yang sudah lewat. Toh, itu memang rasa terima kasihku karena mereka masih mau berteman denganku hingga saat ini dengan semua tingkah ‘ajaib’ku.“Terus kenapa? Uang Farin juga kan? Gak ada yang nafkahin Farin juga. Uang hasil kerja keras Farin. Terserah mau Farin buat apa, selama Farin enggak ganggu orang lain. Apa ada yang terganggu

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status