LOGINAku pulang tepat saat waktu makan malam datang. Aku keluar dari mobil dan menggeret koperku masuk ke rumah sambil menenteng paperbag yang berisi baju yang kuganti tadi. Baru saja aku masuk, Bunda sudah menyambut dengan omelannya yang membuatku semakin merasa lelah. Ayah ternyata sedang berada di rumah membuatku ingat siapa yang membocorkan kepulanganku kepada keluarga da Cost
Setelah sepuluh hari cuti, akhirnya aku masuk kembali ke kantor. Aku menata sarapan yang tadi sudah aku masak di meja makan. Aku sudah siap dengan pakaian kantor dan hari ini aku berangkat bersama Arlan karena mobilku masih berada di rumah Bunda. Aku melihat Arlan turun dengan kemeja yang sungguh pas di tubuhnya dan jas yang dia bawa. “Makanlah,” kataku saat Arlan menyampirkan jas yang dibawanya di kursi sampingnya.“Baik, terima kasih Farin,” sahutnya sambil membenarkan dasinya. Aku hanya mengangguk dan menaruh piring yang sudah aku isi dengan nasi goreng dan telor yang aku sediakan.Kami pun makan dengan tenang tanpa sebuah pembicaraan berarti. Aku membersihkan meja makan terlebih dahulu dan menaruh peralatan yang tadi kami pakai. Aku segera membersihkannya dan mengembalikannya ke rak piring. Aku keluar dari dapur dan melihat Arlan masih duduk di kursinya.“Arlan, berangkat, yuk,” kataku. Dia menganggukkan kepalanya dan mula
Matahari sudah mulai melakukan kewajibannya dan aku pun mulai bergerak di dapur untuk membuat makanan. Tadi pagi sekali setelah subuh aku melihat kulkas yang sangat kosong membuatku berbelanja bersama dengan ibu-ibu kompleks yang juga berbelanja. Aku memilih sayur bayam dan menggoreng tempe-tahu yang tadi aku belanjakan. Aku masih tidak tahu makanan apa yang disukai oleh Arlan.Setelah semuanya siap, aku mulai naik kembali dan membangunkan pria itu. Aku melihatnya yang masih bergelut dengan selimutnya dan napasnya yang terlihat teratur. Aku menepuk pelan bahunya membangunkan pria di depanku ini.“Arlan, bangunlah. Aku sudah selesai masak, ini sudah mulai siang,” ujarku yang membangunkannya. Dia hanya menggeliat dan mengubah posisinya membelakangi diriku.“Arlan, bangunlah,” ucapku sekali lagi sambil menepuk bahunya sedikit keras. Dia mulai membuka matanya dan melihatku. “Masih pagi sekali, Farin,” katanya dengan suara seraknya
Aku terbangun sendiri tanpa Arlan. Aku memilih untuk ke kamar mandi sebelum keluar dari kamar. Aku melihat Arlan yang tertidur di sofa. Aku memasak makanan sebelum membangunkan Arlan. Setelah selesai memasak, aku membereskan sisa wine semalam. Aku melihat Arlan terbangun saat aku membereskan meja. Aku berjalan ke dapur untuk mencuci gelas. Aku melihat Arlan masih duduk saat mengeringkan gelas itu.“Bangunlah, makanan sudah siap,” kataku yang langsung dilakukan. Arlan keluar dengan wajah yang lebih segar. Aku memberikan air madu untuknya yang diterima dengan baik. Aku duduk di hadapannya dan menyodorkan makanan yang sudah kusiapkan. “Kamu mau pulang hari ini atau besok?” tanyanya membuatku sedikit terkejut.“Apa semua kepentinganmu sudah selesai?” tanyaku bingung.“Sudah,” jawabnya sambil memakan makanannya. Aku hanya melihatnya tidak berkomentar kembali. Aku bingung harus merespon seperti apa. Aku
Kakiku terus melangkah masuk ke sebuah store yang menjual banyak kosmetik. Arlan mengikutiku dari belakang. Dia hanya memperhatikanku memilih beberapa kosmetik mulai dari masker hingga lipstik. Terkadang dia pun penasaran dengan pilihanku. Suara bariton menyapaku membuatku dan Arlan menoleh secara bersamaan.“Farin!” seru suara itu memanggilku. Aku memperhatikan seorang pria seumuranku yang berjalan ke arahku dengan wajah bahagianya. Mataku semakin melotot saat dia memelukku di depan Arlan.“I miss you, Rin…” ucapnya. Aku terpaku mendengarnya hingga dia melepaskan pelukan itu. “Are you oke?” tanyanya membuatku tersadar.“Who are you?” tanyaku.“Astaga, kamu melupakanku Farin? Aku Arga Zanesha. Cowok tampan yang selalu menjadi sahabatmu, tapi meninggalkanmu. Aku memilih gadis yang aku pikir lebih baik, ternyata salah,” jawabnya panjang. Aku langsung beringsut mundur setelah mengetahui siapa pria itu.“Sepertinya pa
Arlan menggenggam tanganku menuju gedung apartemen setelah membayar taksi. Dia menggeret koper dan menekan tombol lift. Aku hanya memperhatikannya saja. Aku membuka apartemen dengan password yang hanya aku dan teman-temanku ketahui. Aku masuk bersama dengan Arlan.“Buka kopernya di sini. Mau aku cuci baju kotornya,” kataku. Arlan melihat aku tidak percaya. Aku tahu dia memikirkan perasaanku yang baru saja mengingat masa lalu tadi. “Aku sudah baik-baik saja, Arlan. Baju yang lain bisa ikut bau kalau kelamaan,” lanjutku. Arlan hanya menurut akhirnya dan membuka koper di depan tv. Aku menerima kantong plastik yang berisi pakaian kotor kami. Aku berjalan ke arah mesin cuci dan memasukkannya ke dalam sana. Aku juga mengambil baju kotor yang aku pakai selama di apartemen.“Di sini ada dua kamar yang ada tempat tidurnya. Terserah kamu mau tidur di kamar aku atau kamu mau pisah ranjang sama aku. Kamu istirahat dulu, kamu pasti capek kemarin kerja sampai malam. Ti
Aku makan sup pengar dan memberikan makanan yang baru saja aku masak pada Arlan yang sekarang duduk di depanku. Kami makan dalam keadaan hening dan tidak ada yang ingin memecah keheningan ini. Aku hanya menikmati makananku serta air madu yang aku buat. Aku bangkit dari duduk setelah menyelesaikan makanku. Aku memasukkan bungkus yang harus aku buang ke kantong sampah. Aku membersihkan dapur dan menata bahan makanan yang kemarin aku beli. Aku belum sempat memasaknya karena aku tidak nafsu makan hingga malam. Aku mencuci peralatan makanku serta peralatan masak yang tadi aku gunakan. Aku memastikan gas sudah aku kunci agar tidak mengalami kebocoran. Arlan menyodorkan piring kosongnya sambil mengucapkan terima kasih. “Mau balik ke hotel sekarang?” tanyaku sambil mencuci piring Arlan. Dia mengambil minum di meja makan yang sudah aku sediakan. Dia membalikkan badannya dan melihatku.“Kalau kamu mau tinggal di sini, aku gak papa. Aku akan ambil ba







