Home / Romansa / Setelah Semua Luka Pulang / 52: Kenangan Masa Lalu

Share

52: Kenangan Masa Lalu

Author: Lavendulaaa
last update publish date: 2026-09-23 11:19:53

Aku tidak bisa tidur kembali. Aku menatap kantong infus yang terus menetes. Aku melihat HPku dan membuka galeriku. Aku ingat beberapa hari lalu mengedit video yang berisi video serta fotoku dan Jae dengan tulisan percakapan yang aku ingat, gombalan juga hal-hal yang dia sukai. Aku memilih duduk dan mononton hasil editanku yang menggunakan lagu Maudy Ayunda.

“Walau masih bisa senyum, tapi tak selepas dulu. Kini aku, kesepian.” Bait itu mulai membuatku menangis. Lagu ini seo
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Setelah Semua Luka Pulang   53: Pacar Sehari

    Pekerjaanku sudah berkurang dan aku mulai bosan tidak keluar dari ruanganku. Aku minum sambil memainkan HP sebentar. Aku menonton video yang kuedit sendiri. Tanpa rasa takut ada tamu, aku meninggalkannya ke kamar mandi dengan suara yang keras.Aku ikut bersenandung mengikuti lagu yang terdengar. Aku keluar setelah mencuci tanganku. Aku berjalan santai menuju mejaku dan sungguh terkejut melihat seseorang duduk di kursiku dan menonton videoku. Aku berjalan cepat dan meraih HPku. Namun, orang itu terlebih dahulu menjauhkan HPku.“Arlan?!” kagetku. Dia hanya mengangkat sebelah alisnya melihat aku terkejut. Dia tetap menonton video itu.“Arlan matikan! Please,” pintaku. Dia tetap melihat hingga suaraku dan Jae terdengar bercanda. “Farin, Saranghae.” Suara berat Jae terdengar.“Jae…” panggilku di dalam video itu.“Farin, Saranghaeee!” teriak Jae di akhir dari video itu dan aku membalasnya.“

  • Setelah Semua Luka Pulang   52: Kenangan Masa Lalu

    Aku tidak bisa tidur kembali. Aku menatap kantong infus yang terus menetes. Aku melihat HPku dan membuka galeriku. Aku ingat beberapa hari lalu mengedit video yang berisi video serta fotoku dan Jae dengan tulisan percakapan yang aku ingat, gombalan juga hal-hal yang dia sukai. Aku memilih duduk dan mononton hasil editanku yang menggunakan lagu Maudy Ayunda. “Walau masih bisa senyum, tapi tak selepas dulu. Kini aku, kesepian.” Bait itu mulai membuatku menangis. Lagu ini seolah pesan dariku untuknya. Wajahku di dalam video itu terlihat sangat bahagia, ada video yang diambil oleh Jae yang merekamku dari belakang saat kami berada di Lavender Park. Aku yang sedang berjongkok sambil mengamati bunga Lavender di depanku. Video dan foto yang tampil di HPku terus berganti. Wajah bahagia kami selalu terekam baik. Aku ingin mengulang semua itu bersama orang yang sama, sekali lagi saja. Video ini kubuat karena satu tahun lalu dia membu

  • Setelah Semua Luka Pulang   51: Kekerasan dan Sakit

    Ruang rawat ini terlihat ramai. Aku dan Audrey hanya berdiri di samping pintu. Aku menunduk menahan tangis melihat Shania yang masih tidak menunjukkan perubahan. Orangtua Shania sudah menangis sejak melihat anaknya. Aku tidak kuat melihat usahanya mendapatkan respons dari anaknya. Aku memilih keluar saat HPku berdering. Panggilan dari Arlan masuk. Arlan menanyakan keberadaanku dan memintaku untuk menunggu dia menjemputku. Aku membuka fitur kamera dan memperhatikan leherku yang memerah. Aku memilih duduk di depan ruangan Shania. Gani keluar dan memelukku.“Maaf sudah buat kakak hampir mati di tangan Kak Reza,” ucapnya yang kubalas dengan anggukan sebelum melepaskan pelukannya. Dia menyentuh leherku membuatku terkejut.“Sakit, Kak?” tanyanya. Belum sempat kujawab, seseorang menarikku. Aku terkejut melihat wajah dingin Arlan menatap Gani.“Apanya yang sakit?” tanya Arlan.“Em … itu Mas, Kak Farin, tadi …” gugup Gani

  • Setelah Semua Luka Pulang   50: Menemui Keluarga Shania

    Dua hari berpikir tentang apa yang terjadi jika aku mengabarkan pada keluarga sahabatku itu. Aku juga masih menunggu Audrey yang memutuskan kapan aku harus mengatakan semua. Kemarin aku kembali ke rumah sakit dan seharian aku di sana. Aku menemani sahabatku dan mencoba mengajaknya berbicara, meski aku selalu mendapat respons yang sama. Diam.“Kenapa gak dimakan?” tanya Arlan yang mengejutkanku. Aku menatap piringku yang masih terdapat makanan di atasnya. Aku hanya tersenyum dan mulai memakannya. “Hari ini mau ke rumah sakit atau ke kantor?” tanya Arlan. “Kantor,” jawabku singkat. Kami makan dan segera berangkat ke kantor setelah aku membersihkan semua. Arlan memberitahu padaku bahwa asisten rumah tangga baru akan masuk besok da mereka akan tinggal bersama kami, hanya saja mereka tinggal di paviliun belakang.“Kamu masih ke pikiran sama Shania?” tanyanya membuatku menoleh.“Iya, aku bingung harus ngomong apa ke k

  • Setelah Semua Luka Pulang   49: Percobaan Bunuh Diri

    Seketika duniaku berhenti saat melihat kenyataan di depanku. Seorang wanita periang yang aku kenal, kini terdiam dan terduduk dengan pandangan kosong di brankar. Tas tanganku terjatuh, namun itu tidak mengalihkan pandangannya. Aku mendekatinya dan melihat pergelangan tangannya.“Sha, are you okay?” tanyaku, namun dia tidak meresponku. Aku menepuk pelan bahunya, tetap tidak ada respons. Aku mulai mengeluarkan bulir bening dari mataku. “Sha, kamu kenapa? Kenapa seperti ini? Apa yang membuatmu seperti ini, Sha?” tangisku yang juga tidak mendapat respon darinya.“Farin,” panggil Arlan saat berada di sampingku. Aku hanya melihatnya sebentar dengan wajahku yang sembab. “Butuh pelukan?” tanyanya yang membuatku menoleh kembali padanya. Dia hanya melihatku menunggu responku. Aku melirik sahabatku yang masih saja diam terpaku di tempat tidur rumah sakit itu. Aku memeluknya dan menangis di pelukannya.Hangat dan tenang, itu yang aku rasa

  • Setelah Semua Luka Pulang   48: Drama Hidup Farin

    Mobil sudah terparkir indah di depan kafe bunda, aku turun bersama dengan Arlan. Pria itu menyodorkan lengannya dan aku pun menerimanya. Aku memeluk lengan kiri Arlan dan berjalan masuk ke kafe milik Bunda. Aku berdiri di depan kasir bersama Arlan. Seperti biasa, bagian kasir itu masih mengantar pesanan ke belakang untuk diproses. Aku menunggu bersama Arlan dan saat karyawan itu kembali, aku tersenyum. Aku melepas lengan Arlan saat karyawan itu ada di depanku.“Bunda belum ke sini, Mbak?” tanyaku pada karyawan itu.“Tadi bilangnya sih, jam makan siang ke sini Mbak. Juga sudah bilang kok katanya ada Mbak Farin sama suaminya. Ini suaminya, Mbak?” tanya karyawan itu. Aku hanya mengangguk saja.“Mau pesan seperti biasa ya, Mbak, makan loh ya bukan dessert,” kataku pada karyawan itu.“Siap Mbak. Minumnya berarti jus melon, Mbak? Bukan amerikano?” tanyanya yang kubalas anggukan saja.“Mas, pesan apa?” tanyaku pada Arlan

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status