Share

94: Cuti?

Author: Lavendulaaa
last update publish date: 2026-10-08 05:44:26

Dua hari ini, Karin tinggal di rumah Arlan bersama dengan Farin. Karin membantu Farin menyiapkan acara tujuh bulanan yang akan diselenggarakan pada akhir minggu ini. Karin pun banyak membantu anaknya itu untuk menjaga kandungannya selama tinggal bersama dengan anaknya.

Farin turun dari lantai dua dan melihat suaminya yang sudah duduk bersama dengan Karin di meja makan. Wanita itu menenteng tas dan jas suaminya sebelum mendekati kedua manusia yang menjaganya.

“Pag
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Setelah Semua Luka Pulang   96: Anak Pertama

    Farin membuka matanya, sudah dua bulan dia tidak berangkat ke kantor dan menyelesaikan pekerjaannya dari rumah. Itu pun dibatasi oleh suaminya. Wanita itu menatap suaminya yang terlelap dengan mendekapnya. Perlahan, Farin bangkit dari tidurnya. Dia masuk kamar mandi untuk membersihkan dirinya. Setelah selesai, dia turun ke dapur. “Pagi, Nyonya.” Bi Yem menyapa Farin yang dibalas senyum. “Bi, tempenya dibikin tempe orek, ya,” pinta Farin yang langsung disetujui oleh Bi Yem. Farin membantu Bi Yem memotong tempe dan bahan lainnya. Bi Yem menyuruh majikannya untuk duduk saja, namun Farin menolaknya. Lauk sudah jadi, Farin mencuci tangannya dan kembali ke kamar untuk membangunkan suaminya. Farin duduk dan mengatur napasnya. Dia membangunkan suaminya dengan hati-hati. “Jam berapa?” tanya Arlan. “Jam tujuh. Kamu mandi, aku siapkan bajumu,” ujar Farin. Arlan bangkit

  • Setelah Semua Luka Pulang   95: Tujuh Bulan Kehamilan

    Matahari sudah mulai menyembunyikan sinarnya. Arlan sedang merapikan baju kokohnya dan sarungnya. Farin memoles wajahnya dan membenarkan hijab yang dia pakai. Arlan tersenyum melirik wanitanya yang sedang memakai hijab. Arlan mendekati istrinya dan memeluknya dari belakang. “Kamu semakin cantik memakai hijab seperti ini. Bagaimana aku bisa berpaling dari kamu kalau kaya gini,” puji Arlan yang menaruh dagunya ke bahu istrinya. Arlan mengusap lembut perut istrinya yang semakin membesar. Pria itu membalikkan tubuh istrinya dan memeluknya erat. Pria itu menyempatkan mencium kening istrinya. Farin memejamkan matanya merasakan kasih sayang Arlan. “I love you, Farina Azzalea da Costa,” bisik Arlan tepat di telinga istrinya. Farin membalas pelukan suaminya dan membisikkan balasan untuk suaminya. Mereka segera keluar dari kamar untuk melakukan acara pengajian tujuh bulanan yang diadakan di rumah mereka sendiri. Farin duduk di sampin

  • Setelah Semua Luka Pulang   94: Cuti?

    Dua hari ini, Karin tinggal di rumah Arlan bersama dengan Farin. Karin membantu Farin menyiapkan acara tujuh bulanan yang akan diselenggarakan pada akhir minggu ini. Karin pun banyak membantu anaknya itu untuk menjaga kandungannya selama tinggal bersama dengan anaknya. Farin turun dari lantai dua dan melihat suaminya yang sudah duduk bersama dengan Karin di meja makan. Wanita itu menenteng tas dan jas suaminya sebelum mendekati kedua manusia yang menjaganya. “Pagi Bun,” sapa Farin pada Karin sambil duduk di samping suaminya. Arlan ikut tersenyum saat istrinya duduk di sampingnya.“Pagi juga, Kak. Kamu niat cuti kapan, Kak?” tanya Karin. “Farin gak sepenuhnya cuti, paling Farin kerjakan dari rumah, tapi nanti delapan bulanan aja Bun,” jawab Farin.“Tapi jangan maksa, Sayang. Kalau bisa cuti aja,” sahut Arlan yang dibalas dengan anggukan oleh istrinya.Mereka mulai sarapan dan segera pamit berangkat

  • Setelah Semua Luka Pulang   93: Tidak Terduga

    PLAAKKKTangan Farin tiba-tiba mendarat di pipi Arlan membuat pria itu terkejut dan memegang pipinya. Arlan menatap istrinya dengan wajah bingungnya, Farin hanya menurunkan tangannya. “Sayang?!” kaget Arlan sembari memegang bekas tamparan istrinya. “Sayang, ngomong aja apa salahku. Aku akan jelaskan semua dan intropeksi diri.” Arlan mencoba sabar menghadapi istrinya. “Kamu pernah tidur sama mantanmu ‘kan, Mas,” ujar Farin membuat Arlan terkejut. Farin yang melihat respons Arlan semakin menangis.“Sayang, dengarkan aku. Aku gak tahu kamu dengar dari mana, aku gak seperti yang kamu pikirkan.” Arlan memeluk erat tubuh istrinya meski ditolak. “Maaf, aku memang pernah tidur sama dia, tapi bukan seperti itu. Maaf,” kata Arlan masih memeluk istrinya.“Lalu kenapa dia bilang, dia rindu ‘barang’mu?!” bentak Farin dalam pelukan suaminya. Arlan terkejut mendengarnya, Farin tidak pernah sampai

  • Setelah Semua Luka Pulang   92: Apa Yang Kamu Lakukan?

    Farin membuka matanya dan menatap sisi tempat tidurnya sudah kosong dan pria yang selalu mendekap tubuhnya sudah tidak ada. Wanita itu memilih untuk ke kamar mandi dan membuka tirai sebentar. Malam sudah menyapa dan wanita ini memutuskan untuk pergi ke luar kamar mencari suaminya. Farin membuka pintu kamar dan melihat apartemennya sangat sepi seperti tidak ada kehidupan lain selain dirinya. Farin menghidupkan lampu ruang tengah dan mencari suaminya di berbagai sudut, namun tetap tidak dia temukan. Farin mulai duduk di sofa dan terdiam, Arlan tidak pernah pergi tanpa pamit atau meninggalkannya begitu saja seperti ini. Farin berpikir, suaminya itu masih marah karena kejadian kemarin. Farin menunggu satu jam hingga jam dinding di ruang tengah menunjukkan jam delapan malam waktu sekitar. Wanita itu mulai ragu Arlan kembali lagi. Tanpa disadari, Farin menangis dalam diam menunggu suaminya yang tidak kunjung datang. Tangisan Farin semakin menjadi bahkan pintu

  • Setelah Semua Luka Pulang   91: Babymoon

    Usia kehamilan Farin yang kini sudah menginjak lima bulan, membuat Arlan ingin mengajak Farin berlibur karena akhir-akhir ini wanitanya itu terlihat sibuk dengan pekerjaannya hingga tidak akan tidur jika Arlan tidak menegurnya. Farin baru selesai mandi dan menggunakan skincarenya. Wanita itu menyusul suaminya yang sudah duduk di tempat tidur.Arlan baru saja menegurnya dengan kesal karena tetap bertahan di depan laptop di saat jam dinding sudah menunjukkan pukul sembilan malam. Farin memeluk pinggang Arlan yang sedang menatap TV dan tidak menghiraukannya. Farin merasa bersalah karena akhir-akhir ini dia membuat Arlan kesal. “Mas Arlan,” panggil Farin dengan lembut yang hanya dibalas dengan dehaman oleh Arlan. Farin masih berusaha mengalihkan perhatian suaminya itu dari TV. Beberapa kali Farin memanggil hanya dibalas dengan dehaman hingga akhirnya Arlan membuka suara.“Ambil libur sebentar. Kita pergi liburan sebentar.” Arlan melepaskan pelu

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status