Mag-log inCahaya matahari bersinar lembut, menerpa kesibukan di ibu kota Varelis. Liriel bersandar di tepi jendela memperhatikan semua itu.
Sampai akhirnya deritan pintu terbuka, mengalihkan perhatiannya. Seekor rubah kecil berlari dan melompat-lompat sebelum berdiri di samping gadis itu. "Kak Liriel bagaimana lukamu? Apa masih sakit." Gadis itu mengulurkan tangan, membelai lembut kepala rubah kecil. "Tidak apa-apa." "Pakai ini," ucap seorang pria saat berjalan mendekat. Liriel menoleh. "Ini..." "Obat penghilang rasa sakit milik Klan Varelis, obat ini sangat efektif," jawab rubah kecil. Dengan senyum lembut, Liriel menerima obat itu. "Baiklah, terima kasih." Reiji ikut tersenyum, lalu memandang keluar jendela. "Ibu kota masih sesibuk biasanya. Ngomong-ngomong ini pertama kalinya kau datang kemari, kan?" Gadis berkedip perlahan. "Bagaimana kau—" "Warna rambut dan matamu terlihat unik. Untuk Klan Varelis yang didominasi suku rubah, mereka memiliki warna menyerupai daun maple," potong Reiji segera. Refleks Liriel menyentuh ujung rambutnya, ia memainkannya sebentar. "Mm, aku ingin menerapkan obat, bisakah kau...." "Tentu," jawab pria itu, lalu ia meraih Seliora dan keluar ruangan. Sistem yang sedari tadi diam, akhirnya berbicara. [Host, aku merasa kamu terus linglung sejak tadi.] "Aku hanya... kamu tahu aku selalu merasa di ujung jalan itu harusnya ada toko camilan enak yang terbuat dari berbagai jenis bunga," kata gadis itu, tatapannya mengarah ke bawah. [Apa ingatanmu sudah kembali?] "Tidak, itu hanya perasaan samar." Gadis itu menggelengkan kepala. [Host—] "Ahhhh." Teriakan dari bawah menarik perhatian mereka. Dia buru-buru turun untuk melihat apa yang terjadi. Di sana beberapa orang mencoba menenangkan seorang pria yang tengah meronta-ronta sambil menangis. "Lepaskan aku! Aku harus pergi, Belia sudah menunggu." Pria itu berteriak, berusaha melepaskan diri. Perkataannya membuat gempar kerumunan. Salah satu dari mereka berbisik tak percaya pada orang di sebelahnya. "Belia? Tapi bukannya gadis itu..." Orang lain segera menimpali. "Ya, kau benar sudah lima tahun sejak hari itu." "Viner memang sudah gila, dia selalu mengoceh bertemu Belia. Tapi tidak pernah segila ini, apa yang terjadi?" kata seorang pria bingung. "Entahlah...," jawab yang lain. Liriel diam memperhatikan semua itu, pria bernama Viner itu memang terlihat aneh. Matanya linglung, langkahnya goyah seperti habis mabuk. "Ahhh, lepas!" Viner memukul orang yang menahannya. Bergegas lari menjauh sebelum kembali tertangkap. Dibutuhkan lima prajurit untuk menahan pria itu. Namun mereka juga kewalahan dengan pukulan dan tendangan yang Viner berikan. Tepat saat keadaan semakin panas, Reiji mendekat lalu memukul belakang kepala Viner yang membuatnya pingsan seketika. "Tuan Muda!" seru salah satu prajurit di sana. Reiji melambaikan tangan. "Bawa dia ke tempat aman." "Baik Tuan," jawab mereka serempak. Pandangan Liriel menyapu sekeliling sejenak, melihat kerumunan tadi sudah bubar. Tapi masih banyak pasang mata menatap ke arah Reiji. Reiji menghela napas, memijat pangkal hidungnya. Lalu menoleh dan melihat gadis itu berjalan mendekat. "Maaf sudah memperlihatkan hal seperti ini." "Tidak apa-apa." Liriel buru-buru menggeleng kepala. "Sebenarnya apa yang sedang terjadi?" Pria itu mendesah. "Aku juga tidak begitu paham." "Kita akan tahu setelah Viner sadar," tambahnya. "Ayo pergi." ...... Liriel kembali ke penginapan tempatnya tadi. Duduk menyantap makanan, di restoran lantai bawah penginapan. Di seberang meja, Reiji menyandarkan dagunya ke telapak tangan. Memperhatikan gadis itu melahap makanan dengan nikmat. "Kau suka?" Liriel mengangguk, matanya berbinar sementara mulutnya sibuk mengunyah. "Enak (kunyah) kamu tidak makan? (Kunyah) oh ya (kunyah) di mana Seliora? (Kunyah)." Sudut mata Reiji berkedut. "Habiskan dulu baru bicara." Setelah itu, Liriel fokus menikmati makanan. Rasa makanan Klan Varelis dominan oleh rasa asam dan manis. Di antara semua makanan ini, yang paling Liriel suka pai buah rasberi mereka. Baru setelah menelan potongan terakhir, gadis itu mendesah puas. "Puh... aku kenyang! Terima kasih Reiji atas makanannya." "Jangan sungkan," ujarnya sambil tersenyum. "Aku lupa bertanya, kau dari Klan mana? Ini pertama kalinya aku melihat kombinasi warna seperti rambut dan matamu." "Aku dari laut," jawab gadis itu. "Hei, bertarunglah denganku." "Bertarung?" tanya Reiji memastikan, sedikit bingung dengan perkataan gadis itu. Gadis itu mengiyahkan. "Ya dan hadiahnya–" "Tuan Muda, Viner sudah bangun." Seorang prajurit berlari mendekat. Mereka berdua saling memandang lalu berdiri dan mengikuti prajurit itu ke kamar tempat Viner berada. "Belia... Belia..." Viner terus menggumamkan nama seorang gadis. Matanya masih tidak fokus, dengan jejak air mata kering di pipi. Liriel berjalan mendekat, menusuk bekas air mata itu dengan jarinya. "Siapa Belia?" "Kekasihnya," jawab prajurit itu. "Namun gadis itu sudah lama meninggal." Gadis itu kembali bertanya, "Lalu mengapa dia bilang Belia menunggunya?" "Ini..." Prajurit tidak tahu harus menjawab apa, tanpa sadar ia menatap Reiji. Reiji mengulurkan tangan, menyentuh kening pria itu. Tangannya bersinar kemerahan sesaat sebelum kembali meredup. "Ilusi," kata pria itu, keningnya menyerit erat. "Cari tahu kapan Viner memasuki hutan." "Baik Tuan Muda," seru prajurit dengan nada tegang. Prajurit itu bergegas keluar, meninggalkan mereka berdua. Liriel duduk di kursi dekat tempat tidur, mengamati sekeliling. Sementara Reiji berjalan mendekati jendela, bersandar dengan tangan terlipat. "Apa yang kamu ketahui? Mengapa prajurit tadi begitu tegang mendengar hutan?" Gadis itu memiringkan kepala, penasaran dengan apa yang terjadi. Masih dengan senyum tipis, pria itu merenung sejenak. "Hutan di sini memiliki ilusi yang aneh, banyak orang yang mati karenanya. Jadi warga di sini sangat menghindari hutan." "Maksudmu, semua orang yang masuk hutan terkena ilusi itu?" Keheranan terlihat di mata gadis itu. "Ya." Reiji mengangguk singkat. "Beliaku, oh sayang. Uhuk, di mana kamu sayangku." Viner terbatuk-batuk saat mencoba bangun. Air mata kembali menetes, matanya tak lagi linglung, ada kejernihan di dalam dengan rasa sakit tercampur. Gadis itu menopang tubuh Viner membantunya duduk. "Pelan-pelan." Sepuluh menit berikutnya diisi dengan tangisan pilu Viner meratapi kekasihnya. Liriel hanya diam, tidak tahu harus berbuat apa. Kerinduan dan rasa sakit yang pria itu rasakan membuat dadanya terasa sesak. Liriel tidak tahu mengapa dia merasa begitu, denyut aneh di dadanya tak kunjung mereda. Saat itu sebuah pikiran melintas, ia ingin membantu pria ini bertemu kembali dengan kekasihnya. "Aku akan membantumu." Perkataan itu mengejutkan kedua pria. Viner terdiam, pupil matanya bergetar. "K-kau akan membantu? Benarkah? Kau akan membawaku bertemu Belia?" "Ya, aku akan membantu. Jangan menangis," katanya menegaskan. Senyum bahagia merekah di wajah Viner, dia terus mengangguk sambil menyeka air matanya. Reiji mendekat, berbisik pada gadis itu. "Kau yakin? Belia sudah lama mati. Bagaimana kau ingin mempertemukan mereka?" Liriel hanya berkata, "Jangan khawatir, aku pasti menemukan caranya." Reiji memandang gadis itu, melihat kesungguhannya ia tak lagi bertanya. Aku menantikan bagaimana kau akan melakukannya.Theron berjalan dengan waspada di samping Lucian. Mengawasi setiap gerakan di sekelilingnya.Baju zirahnya sebagian terkoyak dengan balutan perban yang terlihat menempel di kulit. Di depannya, Lucian tampak tidak terganggu di hutan ini.Pakaiannya masih bersih tak ternoda. Dia tampak santai di tengah ilusi yang terkadang bisa menjebak Theron.Keheningan yang damai ini mendadak pecah akibat suara napas kacau disertai langkah kaki tergesa-gesa.Theron mengeratkan genggaman pedangnya, menatap tajam ke arah asal suara. Beberapa detik kemudian, bulu oranye kemerahan menyala melompat keluar dari semak-semak.Seekor rubah kecil menabrak pohon terdekat. Rubah itu mengerang pelan sambil menggumamkan sesuatu.“Sungguh sial, ini ketiga kalinya aku menabrak...”“Aduh, kepalaku sakit,” tambahnya sambil mengusap kepala berbulunya.Dia menguap lebar, rasa kantuk menyerbu. Dari kemarin Seliora tak sempat tidur, untuk anak 5 tahun, sepanjang waktu itu cukup berat.Seliora merentangkan tubuh, lalu menj
"Hapus pandangan iba itu dari matamu. Mereka tidak butuh dikasihani, baik Viner maupun Belia jauh lebih kuat dari yang kau kira. Dan—" Suara Reiji mendadak terhenti, tatapannya melihat kejauhan ke tempat Viner berada.Refleks, Liriel menoleh, memelototi pria itu tidak senang sambil mendengus. "Aku tidak merasa kasihan!""Aku hanya... ingin memastikan dia baik-baik saja. Itu bukan kasihan!” Gadis itu memalingkan wajah, dengan tangan terlipat di dada dan wajah tertekuk.Reiji diam memperhatikan gadis itu berjalan pergi meninggalkannya dengan marah. Bibir merahnya terbuka dan menutup, melontarkan semua omelan.Tanpa sadar, sekilas senyum melintas di wajahnya. Reiji melirik ke belakang sejenak sebelum bergegas mengikuti Liriel, mencegah gadis itu tersesat di hutan ilusi ini.“Hati-hati, jika terus cemberut nanti cepat tua." Pria itu menusuk pipi Liriel dengan ujung jarinya, terkekeh pelan saat ia merasakan tubuh gadis itu sedikit kaku.Liriel menepis tangan Reiji, mendengus sekali lagi. N
Kelopak mata Viner perlahan terbuka. Cahaya samar jingga dari sela-sela dedaunan menampakkan kilau keemasan di ujungnya. Matahari perlahan bangkit untuk menyinari hari baru.Dia berkedip beberapa kali, menyipitkan mata menyesuaikan pandangannya. Perlahan dia menengadah, mencoba mencari tahu di mana ia berada sekarang.Seketika itu juga, dia membeku saat melihat gadis yang selama ini ia rindukan tengah menatapnya dengan senyum manis.Viner bisa merasakan bagaimana jari-jemari gadis itu mengusap lembut rambutnya. Ia tak kuasa menahan napas, tanpa sadar air mata merembes keluar.Namun, Viner tak sedetik pun berkedip seolah takut kekasihnya akan hilang bagai malam-malam biasa saat ia merindukannya dulu."Kenapa menatapku begitu? Ada sesuatu di wajahku? Atau..." Gadis itu berhenti sejenak, lalu dengan wajah cemberut ia kembali berkata, "Aku sudah tidak cantik lagi?""Hah? Tidak!" sangkal Viner tegas. Dia buru-buru bangkit ingin menjelaskan. Namun, rasa sakit di tubuhnya membuat pria
Setiap detik yang berlalu suhu di sini semakin menurun. Liriel memeluk dirinya, tubuhnya bergetar. Dia mendekati Reiji lalu memeluk erat lengan pria itu, mencari kehangatan di sana. "Bukannya kau itu makhluk laut, ya? Suhu segini saja sudah menggigil," ejeknya sambil melepaskan Liriel dan menghindar kesamping. Kedua alis Liriel berkerut erat, kesal dengan gerakan menghindar pria itu. Dia menggertakan gigi sebelum menerkanya. "Jangan bergerak! Sebagai rubah dengan banyak bulu, kamu tidak berhak menghakimiku." Dengan lihai Reiji mundur selangkah, membiarkan gadis itu terhuyung dan menggeram marah. Seringai tersungging di wajahnya. "Sigh... sekarang seorang pria harus pandai menjaga diri, apalagi dari gadis aneh yang selalu ingin memanfaatkannya," desahnya tak berdaya. "Hei!" Teriak Liriel tak terima. "Jangan mencuri dialogku! Dan... berhenti bergerak Reiji, biarkan aku merasakan kehangatanmu~" Sudut mata Reiji terkedut mendengar kata ambigu itu. Dia tidak bisa menahan diri untuk m
Tatapan Liriel berhenti beberapa detik di punggung Reiji, sebelum ia mengalihkannya."Reiji."Jika saja pria itu tidak memiliki pendengaran yang baik, mungkin ia akan melewatkan panggilan samar yang gadis itu bisikkan.Tanpa menoleh, Reiji mengeluarkan "Mm" pelan, menjawab panggilannya.Liriel menghentikan langkahnya menatap lurus ke arah pria itu. "Bukannya sekarang waktu yang tepat untuk menjelaskannya padaku?"Kibasan kipasnya terhenti sesaat, sebuah emosi melintas sekilas di matanya. Reiji tetap diam tanpa berbalik namun dia menghentikan langkahnya. "Menjelaskan apa? Ah, maksudmu tentang Seliora? Dia hanya—""Bukan itu," potong Liriel. "Ini tentang semua upaya yang kamu lakukan untuk memikatku agar masuk ke dalam hutan."Melihat pria itu membuka mulutnya lagi untuk kembali mengalihkan perhatiannya. Tak akan Liriel biarkan, ia segera menyela."Jangan mengelak Reiji, sejak awal aku sudah merasakan ada yang aneh tentang semua ini," ujarnya dengan percaya diri.Melihat pria itu diam t
Liriel menarik napas, matanya berkedip pelan, setengah wajahnya terangkat dari air setengahnya lagi ia biarkan tetap di dalam. Gadis itu diam mengamati Reiji di sisi sungai yang tengah berbincang dengan Seliora. Tanpa sadar secuil senyum tipis terukir di bibirnya, tatapan gadis itu melembut. "Kamu pintar sekali membuatku bingung, mana dirimu sebenarnya?" bisiknya samar terbawa arus sungai.Ia kembali membenamkan wajahnya ke dalam air. Membiarkan tubuhnya terombang-ambing oleh arus sungai. Sementara di tepi sungai, tatapan Reiji menajam melihat kekeraskepalaan rubah kecil di hadapannya. Ia memijat pangkal hidungnya sambil mendesah pelan. "Kau tahu jelas, aku tidak bisa membantu lebih dari ini.""Aku tahu! Aku tidak akan meminta lebih. Jadi..." Rubah kecil itu terus menatap pria di depannya. "Aku mohon Reiji. Hanya satu hari lagi— Tidak setengah hari atau satu jam juga tidak apa-apa.""Aku hanya..." Suaranya bergetar, ia menundukkan kepala. Dengan mata memerah menahan air mata, Seli
"Mau sampai kapan kamu di sana? Cepat turun," kata gadis itu sambil menatap tajam satu pohon tak jauh darinya. Keheningan menyelimuti hutan, hanya suara dedaunan bergesekan dan hembusan angin lembut yang terdengar. Matanya menyipit, senyum penuh makna merekah di wajah cantiknya. "Masih tidak mau
Suara langkah kaki panik memecah keheningan hutan. Seorang gadis berlarian di antara semak dan pohon, keringat bercucuran di wajah cantiknya. [BERHENTI!] Langkah gadis itu seketika terhenti, mengakibatkan gadis itu hampir terpental. "Apa lagi kali ini?" Dia terengah-engah, menyeka keringat di pi
"Kamu masih marah? Reiji~" Liriel mengetuk pelan punggung pria itu dengan jarinya. "Tidak," ketus Reiji tanpa menoleh. Pipi Liriel mengembung, melihat ketidakpeduliannya. Gadis itu terus mengetuk punggungnya dengan kekuatan yang semakin besar. Tepat saat Reiji berbalik dan ingin marah, ia tidak
"Jadi cara yang kau maksud dengan mencari tahu tentang Belia dan..." Reiji berhenti, sejenak tak tahu harus berkata apa. "Menyamar menjadi gadis itu?" "Kalau tidak? Memangnya ada cara lain?" Liriel menyesuaikan lipatan gaun. "Aku tidak masalah dengan cara itu hanya–" Reiji memandang gadis yang si







