LOGINAmber Star, a journalist with an easygoing life, had everything turned upside down when she stumbled upon a dark secret and in turn got her life entwined with something darker, leaving no room for an escape. Damian Stormborn, CEO of Starline Entertainment with a prestigious reputation as a sex god and every woman’s crazy dream man, had everything at his beck and call including a dirty secret that could ruin it all. Sadly, he had not counted on the fateful encounter that would reel a little rabbit into his dark lair. They had a problem. A sweet love tugging at his heartstrings and a dangerous romance ready to engulf her, changing all of her morals. With bigger problems and demons lurking in the dark, waiting to destroy all that he held dear, including her, how would the sex god survive this ordeal? Would both of them succumb or would they be determined to break the weak link, giving into the darkness?
View MoreDave mencengkeram sloki berisi vodka miliknya kuat. Entah kenapa perasaan tidak senang itu memusat di kepalanya kala menyaksikan kemesraan di antara sepasang anak manusia yang tengah berdansa diiringi alunan merdu saksofon. Suasana yang harusnya terdengar romantis malah membuatnya menyunggingkan senyuman sinis.
Iri? Tentu saja tidak! Hanya saja matanya sedikit perih disuguhi pemandangan menjijikan di depan sana. Keintiman mereka sungguh tidak layak dipertontonkan kepada siapa pun. Membuat seisi perutnya bergejolak mual."Memalukan," cibir Dave tatkala kedua sejoli itu kembali berciuman di tengah gemerlapnya ruang dansa.Pemandangan pantai lepas yang kapal pesiar ini suguhkan tidak sedikit pun membuat Dave bisa menikmatinya. Terlebih saat penampakkan sepasang kekasih tidak tahu malu tersebut mengisi tujuh puluh persen retina matanya.Embusan angin laut pun seakan tidak mampu mendinginkan seisi kepala Dave yang terbakar.Daripada memandangi sepasang insan tidak tahu malu itu saling berbagi saliva lebih baik dia menenggak minumannya sampai tandas.Entahlah, dia butuh melampiaskan perasaan tidak senang itu sekarang juga dan hanya alkohol inilah yang dapat menolongnya. Meski gerak-gerik mereka serta bayangan masa lalu menjijikan itu terus berdesakan di kepala."Aku pikir Tuhan telah benar-benar mengirim kalian ke neraka." Untuk sekali lagi Dave mengepalkan tangannya sembari tersenyum miring. Rasa kesalnya meningkat berkali-kali lipat.Mau sekesal dan sebenci apa pun dia terhadap sepasang sejoli itu tetap saja tatapannya terus tertuju ke sana.Katakanlah dia munafik, terlihat seperti seseorang yang belum bisa melupakan masa lalunya. Sangat menyedihkan memang. Manivestasi rasa sakit yang telah menumpuk bertahun-tahun lalu.Di antara kerumunan pasangan yang saling memuja lewat tatapan itu cumaDave yang tidak tertarik untuk berdansa. Ikut mengobrol dengan tamu lain pun rasanya dia enggan. Anggaplah, dia seorang manusia gua yang sengaja menepi di keramaian.Kalau bukan karena Andreas yang mengajaknya kemari mana sudi dia membuang-buang waktu melihat pemandangan sok romantis yang mereka tunjukkan.Jangan tanya sudah berapa banyak wanita yang menghampirinya, menawarkan tangan mereka untuk digenggam. Entah itu mengajak berdansa atau pun sekedar menghabiskan malam panas di tengah kemewahan kapal pesiar ini.Namun, semua itu langsung Dave tolak mentah-mentah. Seolah dia alergi akan wanita cantik. Benar-benar pria dingin yang tidak tersentuh. Akhirnya demi mempertahankan harga diri, wanita-wanita itu menjauh dengan sendirinya.Tentu Dave senang lantaran tidak ada yang bisa mengganggunya. Beberapa pelayan laki-laki di kapal pesiar ini sampai melongo melihat tingkah jual mahal sang tamu.Namun, semua tidak berlaku bagi Dave. Dia sangat membenci wanita dan itulah faktanya. Menurut pria tampan bermata agak belo itu semua wanita sama saja. Selalu menyusahkan bak anjing peliharaan yang senang menggonggong."Tolong tambah satu gelas lagi." Dave menyodorkan slokinya yang telah kosongTanpa mempedulikan mereka, Dave meminta seorang pelayan menuangkan minuman ke slokinya. Rasanya vodka ini lebih manis dibanding mulut para jalang di luar sana. Minuman beralkohol tinggi tersebut terus-menerus membasahi kerongkongan Dave.Andreas yang tiba-tiba muncul lantas menghampiri sahabat masa kecilnya. Urusannya dengan relasi bisnis mereka sudah beres dengan ditandatanganinya kontrak puluhan dollar tadi.Hal tersebutlah yang menyebabkan wajah maskulin Andreas tersenyum sumringah. Sangat berbanding terbalik dengan muka Dave yang ditekuk kesal. Andreas sampai harus menepuk pundak pria tiga puluh tahun ini agak kuat."Kenapa wajahmu kelihatan kesal sekali. Apa pestanya semembosankan itu? Padahal aku sangat menikmati acara yang mereka buat," tutur Andreas tertawa kecil menilik ekspresi Dave yang terlalu berlebihan.Dave menoleh. Dia semakin sengit menatap Andreas. "Persetan dengan pesta. Kenapa kau mengajakku kalau tahu ada mereka juga di sini. Kau sengaja mempertemukan kami? Sampai mati pun aku tidak sudi memandang wajahnya."Andreas otomatis mengikuti arah pandang Dave. Sekarang dia tahu alasan sahabatnya bersikap demikian. Sumpah demi Tuhan, dia pun tidak tahu ada 'mereka' di sini.Kesibukannya mengurus kerjasama bersama kolega bisnis mereka mengakibatkan feelingnya sedikit tidak peka akan keadaan sekitar.Setelah berbulan-bulan kembali ke Indonesia agaknya momen inilah yang mempertemukan Dave dengan masa lalunya."Kau tidak perlu mempedulikan mereka. Anggap saja angin lalu. Mungkin mereka juga salah satu kolega Mr. Chou," jelas Andreas agar Dave bisa sedikit santai berada di tengah-tengah pesta yang tentu dibalas tatapan bengis ala hitler.Tidak mungkin ini cuma kebetulan semata. Sangat tidak masuk akal. Selain tidak mempercayai Tuhan, Dave juga tidak gampang menelan kata-kata yang disebut sebagai takdir.Andreas tidak lagi berani buka mulut. Dia sadar akan kilatan kebencian yang Dave perlihatkan. Dari jutaan manusia di muka bumi ini memang dialah yang paling mengetahui kepahitan di balik kisah masa lalu sang sahabat.Bukannya puas, Dave semakin menjadi-jadi. Dia menenggak puluhan kali cairan bening itu tanpa takut apa pun. Saat mencegah pun tangan Andreas berkali-kali ditepis.Terlalu sesak menatap kemesraan sepasang anak manusia itu di sudut ruangan membuat Dave memilih pergi meninggalkan Andreas."Kau mau kemana, Dev.""Jangan ikuti aku," teriak Dave di antara kerumunan tamu kapal pesiar ini. Langkah kakinya mengarah ke area luar kapal, menjumpai beberapa staf yang berjaga di sana."Boleh aku menumpang boat yang akan berlabuh di pinggir pantai nanti?" Otomatis Dave bertanya. Si penjaga pun terdiam sesaat. Dia meneliti Dave dari ujung kepala hingga kaki."Oalah, penumpangnya udah full, Mas. Untuk boat berikutnya datang 5 menit lagi tapi harga sewanya lebih mahal dari yang ini.""Saya gak masalah sama uang. Yang penting bisa turun dari sini.""Baik, Mas. Silakan tunggu ya. Sebentar lagi boatnya datang." Dave mengangguk saja. Jujur, dia sangat ingin cepat-cepat beranjak dari kapal berkapasitas 50 penumpang ini.Lima menit menunggu akhirnya boat itu datang. Dave lekas bersiap-siap turun. Dari kejauhan terlihat Andreas mengikutinya. Berkat pergerakannya yang lincah dia bisa satu boat dengan Dave."Harusnya kau tidak meninggalkan pesta begitu saja. Mr. Chou pasti akan bertanya padaku nanti kemana kau pergi.""Katakan saja aku sedang tidak enak badan." Usai mengatakan sebaris kalimat template itu Dave menjauh. Dia membakar sebatang rokoknya di area belakang boat ini.Meski sadar telah mencemari udara sekitar, Dave seakan tidak peduli. Mulutnya juga butuh hiburan selain menenggak cairan semacam vodka, akan tetapi perhatiannya segera teralihkan tatkala menilik sesosok wanita yang berdiri di dekat jembatan.Dave melebarkan pupilnya. Bukan, jelas sosok itu bukan hantu. Dave yakin sekali. Namun, semakin lama diperhatikan, makin janggal pula gerak-gerik wanita tersebut.Detik demi detik berjalan barulah jantungnya dibuat mencelos. Wanita itu benar-benar mendekat ke tepian jembatan, membungkukkan badannya seolah akan bunuh diri di sana.****Amber thought it would be an easy night. She was soon drifting far into nirvana when all of her worries was over; all she had to do was lay her head down. However, when she reopened her eyes, she was on the bed. She was sure she had slept on the ground yesterday. She had been too exhausted to get into the large king-sized bed in her room, which was another issue because she didn't believe she had benefited from any of the luxury he bestowed on her. She slowly forced her eyes open to the invasive ray of sunlight before sitting up in bed. She gave the entire room a quick glance, noting its features, which she had neglected to do the day before. He had essentially kidnapped her and dumped her in this room to get dressed. Her belongings included a fresh pair of clothing. Not wanting to be seen naked and seduced by Damian any longer, she changed into a basic set of fitting white shorts and a black huge t-shirt.The only furniture in her sparsely furnished room was a comfortable chair
************* CHAPTER 13 He had seen and been with beautiful women, more enchanting than Amber was but, something about how determined she was to run away from him, made him wish to prove to her he was in control. And that something was stirring something else inside of him. “Not until I say so,” Damian voiced challengingly as he pulled her by the waist, pressing their bodies to each other. Amber felt her heart leap into her mouth from the sudden gesture he made. As much as she knew what was coming next, she felt her brain abandon her. His eyes stared deeply into hers, daring her to break the stare if she could while searching for something unknown in her eyes. He had not planned to do so but the second he looked he was drawn to her. Sadly, for Amber, her eyelids fluttered, failing miserably to her dismay. She had hoped to last long but now, she barely held a minute. While her mind contemplated her next move, Damian helped her in finalizing matters. Leaning forward, he pre
**************CHAPTER 12 Walking into the brightly lit big chambers, Raphael’s lips held a knowing smile the second he looked at Serling. The sinfully handsome man leaned back against the black carved throne-like chair, with an elbow on the handrest while his hand supported his chin. His eyes were closed, revealing the long black lashes that accentuated his handsomeness even more in his sleeping state. “My Lord, it appears Lord Serling is…”‘Sleeping?” Raphael held his palm to silence him and scoffed. “Then you do not know whom you serve. He is not asleep. He knows all that is happening now.”Both men exchanged glances but did not say anything.“Hmm.” Right before their eyes, Raphael lifted his right hand and immediately a dark purple crystal with sharp ends appeared between his two fingers. Alarmed, they called out in protest, wanting to stop him, “My Lord.”Swoosh!Carrying a force they could not comprehend at a speed that left them to blink, the crystal rushed at its target.
************* CHAPTER 11 ~9 pm that day~ Kyle had been overly bothered about what he was going to say to Damian. After his call, when he closed from work, he personally located Amber’s house to plead with her. It was either he found a way to get her or he suffered and that was not a plan for him. However, when he arrived, the latter was shocked to see the evacuation process and after asking, no one saw Amber leave the house or see her around. He drew in a long deep breath, releasing it slowly to help calm his nerves. The action was repeated a few more times and finally, he took out his phone from his pocket. “Let’s do this.” His fingers tapped on his phone, brought out Damian’s number and dialled it. Seconds passed before a voice was heard from the other end of the phone. “Evening sir.” “Yes?” Damian’s bored voice responded. He could tell what Kyle wanted to say but he wanted to taunt him first. Next time when he gave him a task to handle, he would learn to do it fast. Thinkin
Welcome to GoodNovel world of fiction. If you like this novel, or you are an idealist hoping to explore a perfect world, and also want to become an original novel author online to increase income, you can join our family to read or create various types of books, such as romance novel, epic reading, werewolf novel, fantasy novel, history novel and so on. If you are a reader, high quality novels can be selected here. If you are an author, you can obtain more inspiration from others to create more brilliant works, what's more, your works on our platform will catch more attention and win more admiration from readers.