Home / Young Adult / Si Lesung Pipi / Awal Perang Batin

Share

Awal Perang Batin

Author: Mayht
last update publish date: 2021-05-14 11:00:03

Menurutmu, jika seandainya jadi aku, tahu bahwa pada akhirnya akan mengalami cinta pertama ini, apakah kau akan bersyukur dengan jari yang terangkat itu? Sebab jari yang teracung itulah gerbangnya.

Satu hal yang tidak kusadari sejak awal adalah apakah semua cinta itu harus indah? Cinta pertama, kedua, dan seterusnya. Maksudku, adakah cinta yang pasti benar-benar indah tanpa menyisakan luka? Karena yang aku rasakan untuk benar-benar yakin itu adalah jatuh cinta, perlu beberapa langkah asing yang kadang-kadang sangat mengganggu.

Untuk bisa yakin bahwa "Ya, aku jatuh cinta!" ternyata tidak semudah menarik dan menghembuskan napas.

Kadang, malah sampai susah bernapas.

***

Beberapa hari berikutnya, sekolah pulang lebih cepat. Semua siswa yang terdaftar sebagai pengisi acara berkumpul di lapangan. Perkenalan panitia, jadwal, dan lain-lain pun dijelaskan di tengah terik matahari. Saat siswa lain berdiri berpanas-ria mendengar arahan, aku dan Shaniar sengaja memilih barisan paling belakang. Kami agak menjauh dan jongkok menopang kepala di lutut. Pemandangan indah taman aula menyejukkan raga saat matahari tepat di atas kepala. Bayangan siswa lain menjadi peneduh yang menangkal sinarnya.

Kami mulai berbicara tentang apa saja yang terlintas di kepala. Sekilas, saat menoleh ke arah lain, aku melihat David alias si Lesung Pipi sedang tertawa bersama temannya dan wajah cemberut kakak kelas lain yang mereka kerjai. Mungkin karena hanya sekilas, tidak ada kesan apa pun selain lesung pipi yang sepertinya memang tidak akan bisa ditutupi. Sudah jadi ciri khas, hal pertama yang langsung terlihat saat melihat wajahnya.

"Drew, kau yakin mau ikut drama?"

"Sebenarnya setengah yakin, tapi mau gimana lagi. Nggak ada pilihan lain, Shan. Tari dan paduan suara sudah overload. Kalau solo, duet atau trio, big no! Nehi nehi babuji. Tahu sendirilah kualitas suaraku."

"Ck! Lagian kenapa nggak langsung daftar paduan suara aja? Kan, kita bisa latihan sama-sama."

"Ya udahlah, yang berlalu biarlah berlalu. Lebih baik sekarang fokus latihan supaya nggak malu-maluin nanti," tukasku, mengalihkan pembicaraan. Jangan sampai ketahuan, akulah yang menolak masuk paduan suara.

"Yup, setuju. Berarti kita nggak bisa latihan bareng."

"Yup."

"Pulangnya juga."

"Sesekali mungkin bisa. Siapa tahu latihannya sama-sama selesai. Pasti ada peluang seperti itu."

"Yup. Walaupun peluangnya keciiil. Eh, kenapa sepi ya, Drew?

"Yup."

Seketika kami saling pandang lalu mengangkat kepala dari lutut. Suasana yang tadi riuh dan sempit kini sepi. Tanpa kami sadari, barisan telah bubar dan siswa lain sudah bergabung dengan tim acara masing-masing. Sebagian malah sedang berjalan ke ruangan. Tinggallah kami berdua, berwajah pucat, ditemani tatapan tajam Ibu Silaban. Entah dari mana datangnya, angin berembus menegakkan bulu roma. Suasana horor di acara paranormal yang tayang di salah satu stasiun TV swasta segera terlintas di benakku. Akhirnya, kami disuruh berdiri menghadap tiang bendera sambil menghormat Sang Saka Merah Putih. Tak lupa ditemani backsound tawa dari murid-murid lain. Sesekali terdengar backsound berlogat Batak kental dan kencang yang semakin menggetarkan kotak tawa mereka. Apes!.

Belum sempat bangkit dari rasa duka dan luka karena insiden itu, aku masih harus menghadapi satu kenyataan yang pahit. Ibu Silaban ternyata adalah guru pembimbing drama. Tentu saja siang itu aku jadi bahan olok-olokan di sesi perkenalan naskah. Namu untung saja hanya sebentar, tak sampai satu jam. Kalau tidak, mungkin wajahku ini akan memerah pekat seperti kepiting rebus.

Sampai akhir sesi, aku lebih banyak tertunduk malu. Perang batin dengan Ibu Silaban pun ... dimulai.

***

Mayht

Akhirnya, kami disuruh berdiri menghadap tiang bendera sambil menghormat Sang Saka Merah Putih. Tak lupa ditemani backsound tawa dari murid-murid lain.

| Like
Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Si Lesung Pipi   Tidak Ada Epilog

    Di dalam kafe Halaman Pertama, sebuah kafe aesthethic di Jakarta Timur, Sri gelisah menunggu kedatangan Hanna. Di meja outdoor berlatar belakang bar minuman dan langit sore oranye, tangan kanannya menggaruk-garuk lengan kiri yang sama sekali tidak gatal. Kakinya di bawah meja bergerak-gerak cepat.Dua botol air mineral, 1 gelas Te'Alla Fragolla yang hampir habis, dan 1 gelas Bonbon Noir yang masih utuh berkumpul di atas meja, teronggok begitu saja. Dua slice pizza pepperoni masih tersisa di atas nampan berbentuk talenan kayu bulat dengan gagang yang tidak terlalu panjang.Gw udh di parkiranReadPesan Hanna masuk ke dalam ponselnya dan semakin bergetarlah kaki Sri di bawah meja."Mas," dia mengangkat tangan untuk memanggil waitress. "Saya mau pesan Churros dan Hot Matcha Latte satu, ya. Dan tolong ini diangkutin aja, tapi air mineralnya jangan," ucapnya segera setelah waitress menghampiri."Sri ... Sri Indah Wahyuni." Hanna dari kejauhan memanggil sembari melambaikan tangan.Mendengar

  • Si Lesung Pipi   Klarifikesyen guyss

    Mungkin ini nggak penting-penting amat, tapi mungkin juga nggak penting sama sekali (Hapaseehhh ....) Jadi, sebenarnya selama 2 bulan lebih ini saya sedang menenangkan badai-badai yang silih berganti. Eh, silih berganti datang. Ih! Yang mana sih yang bener? Tau ah … jadi begitulah. Badai-badai itu datang menenggelamkan jiwaku dan akhirnya menyeret ke palung gelap bernama "Aku Sedang Tidak Baik-baik Saja". Akhirnya hanya bisa rebahan … rebahan … dan rebahan dengan tatapan kosong, jiwa yang kosong juga. Pas buka Goodnovel lagi tadi, ada banyak yang jadi pelanggan. Angka yang membaca juga bertambah, dan yang bikin seneng lagi sudah ada yang ngasih kontribusi dan vote. I'm just like ... woooooow. Semangatnya bertambah lagi. Thank you untuk kalian semuanya.:* :* :* . Tuh...triple kiss buat kalian semua. Cukup kan? Cukup? Cukup? Ya cukuplah ye kaaan. Tungguin update-an selanjutnya yaaaa.... :* ***04 Oktober 2026Nggak nyangka di tahun 2026 saya datang lagi ke akun dan novel ini den

  • Si Lesung Pipi   Sesi Terakhir

    Menangis itu perlu. Sebab dalam linangan air mata dan usaha mengeluarkannya, ada takut, ragu, juga sesak hati ikut mengalir. Entah untuk perempuan atau laki-laki. Sebab luka bisa saja menghampiri semua orang, tiada terikat oleh gender, harkat dan martabat, termasuk rupa diri dan keadaan.Cinta harus diungkapkan. Valid bagi perempuan maupun laki-laki. Dari masih berjalan tertatih hingga sudah harus memakai tongkat, sebab cinta mengintervensi setiap individu tanpa filter kategorisasi. Mengungkapkan cinta bukan hanya untuk menunjukkan hati, tetapi juga untuk menyentuh hati yang membalas cinta.Sekalipun hati dipatahkan, setidaknya tiada luka yang terpendam. Bangkit lagi. Langkah selanjutnya lebih pasti tanpa ada yang mengendap dalam hati. Terlukalah dengan lega. Terlukalah dengan ringan. Terlukalah dengan pasti.Baiklah kiranya memahami posisi diri saat menunjukkan cinta. Sebab terkadang membebaskan rasa lewat kata sudah lebih dari cukup. Terkadang, cinta hanya menuntut aksara untuk dieja

  • Si Lesung Pipi   Percayakan Semua Suka dan Dukamu Padaku

    "Andrewi ..." panggil Dani, setelah tangis mereda. Dilepaskan dekapan untuk menghapus air mata Andrewi dan menuntunnya berdiri. Lagi-lagi, sama seperti saat tragedi nasi goreng di Olimpiade dulu, ia sungguh tak sampai hati melihat gadis itu menangis. Issano dengan sigap membawa kursi untuk tempat Andrewi duduk, sementara Agitha dan Shaniar memapah Adam ke sisi lain untuk membersihkan luka-lukanya."Aku tahu ini bukan waktu yang tepat, Drew, tapi aku harus mengungkapkan sekarang," lanjut Dani setelah suasana tenang. Ia kini berlutut dengan satu kaki sembari menggenggam tangan Andrewi. "Kafe ini tadinya kami hias spesial untukmu. Maaf, keadaannya jadi seperti ini.""Dani bolak-balik Jakarta-Bandung untuk semua ini, Drew. Bucin banget dia," celetuk Shaniar dengan sedikit logat Jerman. Andrewi, yang tadinya masih kebingungan, tersentak halus, kehilangan kata-kata. Dani pun tersenyum malu-malu."Dari dulu," ucap Dani lagi. "Dari pertama kali melihatmu di perpustakaan, aku sudah menyukaimu,

  • Si Lesung Pipi   Katarsis Agresi dan Duka

    Nafasnya memburu. Kerah kemeja ia longgarkan. Dani tergesa-gesa keluar dari apartemen Andrewi, tak sabar untuk sampai ke kafe milik Issano. Di sana ada seseorang yang sangat ingin sekali ia minta konfirmasi.Git, Adam sudah di sana?SendKirimnya pada Agitha sebelum memasuki lift.Sudah kak. Semuanya sudah ada di sini.Dancer dan dekorasi belum siap.Drewi tahan sebentar ya di sana.ReadPesan balasan masuk setelah ia berada di dalam mobil. Begitu mesin menyala, tanpa membalas pesan, Dani menginjak kencang pedal gas. Suara decit memekakkan telinga terdengar bergema di basement apartemen. Darahnya sudah di ujung ubun-ubun. "Sialan!!! Sialan!" bentaknya pada setir, lalu memukul sekuat tenaga untuk menyalurkan emosi....Kafe milik Issano terlihat di ujung ruko setelah 30 menit melewati macet di beberapa jalan besar kota Bandung. Agitha dan Shaniar sedang berada di teras merapikan pita berwarna-warni. Dani memarkir mobil tanpa arah dan keluar dengan wajah memerah menahan gelegak murka."K

  • Si Lesung Pipi   Detik Penentu dan Efeknya

    "Aku kira Kakak sudah ngomong sama mereka. Soalnya, tadi pagi, Kak Adam minta aku ngajakin Shaniar dan Andrewi ikut ke Puncak. Mau nginep di vila keluarganya yang ada di sana," ujar Agitha membela diri. Di jalan ke rumah Dani, sepulang dari Pensi, David memprotes keputusan sepihak Agitha."Mau ngapain ke sana?""Mau bikin acara perpisahan buat kita. Andrewi diajak sekalian supaya Kakak bisa nembak dia. Biar nanti di Bandung, Kakak bisa fokus sama perawatan aja, gitu. Ini pesannya," Agitha menunjukkan pesan F******k Adam yang berderet ke bawah. Isinya kegiatan yang akan mereka lakukan di puncak seperti bakar-bakaran, menyanyi, games, nembak Andrewi, dll."Ck! Bodoh-bodoh." David memukul-mukul kening. Pantas saja Adam marah besar tadi, pikirnya. Sahabatnya itu hanya ingin yang terbaik untuknya. "Nanti di Bandung aja aku jelaskan. Dia masih terlalu marah kalau aku jelaskan sekarang. Iya kan, Git? Aku benar, kan?"Agitha menggenggam erat tangannya dan berkata, "Iya, aku setuju. Nggak usah

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status