เข้าสู่ระบบMenurutmu, jika seandainya jadi aku, tahu bahwa pada akhirnya akan mengalami cinta pertama ini, apakah kau akan bersyukur dengan jari yang terangkat itu? Sebab jari yang teracung itulah gerbangnya.
Satu hal yang tidak kusadari sejak awal adalah apakah semua cinta itu harus indah? Cinta pertama, kedua, dan seterusnya. Maksudku, adakah cinta yang pasti benar-benar indah tanpa menyisakan luka? Karena yang aku rasakan untuk benar-benar yakin itu adalah jatuh cinta, perlu beberapa langkah asing yang kadang-kadang sangat mengganggu.
Untuk bisa yakin bahwa "Ya, aku jatuh cinta!" ternyata tidak semudah menarik dan menghembuskan napas.
Kadang, malah sampai susah bernapas.
***
Beberapa hari berikutnya, sekolah pulang lebih cepat. Semua siswa yang terdaftar sebagai pengisi acara berkumpul di lapangan. Perkenalan panitia, jadwal, dan lain-lain pun dijelaskan di tengah terik matahari. Saat siswa lain berdiri berpanas-ria mendengar arahan, aku dan Shaniar sengaja memilih barisan paling belakang. Kami agak menjauh dan jongkok menopang kepala di lutut. Pemandangan indah taman aula menyejukkan raga saat matahari tepat di atas kepala. Bayangan siswa lain menjadi peneduh yang menangkal sinarnya.
Kami mulai berbicara tentang apa saja yang terlintas di kepala. Sekilas, saat menoleh ke arah lain, aku melihat David alias si Lesung Pipi sedang tertawa bersama temannya dan wajah cemberut kakak kelas lain yang mereka kerjai. Mungkin karena hanya sekilas, tidak ada kesan apa pun selain lesung pipi yang sepertinya memang tidak akan bisa ditutupi. Sudah jadi ciri khas, hal pertama yang langsung terlihat saat melihat wajahnya.
"Drew, kau yakin mau ikut drama?"
"Sebenarnya setengah yakin, tapi mau gimana lagi. Nggak ada pilihan lain, Shan. Tari dan paduan suara sudah overload. Kalau solo, duet atau trio, big no! Nehi nehi babuji. Tahu sendirilah kualitas suaraku."
"Ck! Lagian kenapa nggak langsung daftar paduan suara aja? Kan, kita bisa latihan sama-sama."
"Ya udahlah, yang berlalu biarlah berlalu. Lebih baik sekarang fokus latihan supaya nggak malu-maluin nanti," tukasku, mengalihkan pembicaraan. Jangan sampai ketahuan, akulah yang menolak masuk paduan suara.
"Yup, setuju. Berarti kita nggak bisa latihan bareng."
"Yup."
"Pulangnya juga."
"Sesekali mungkin bisa. Siapa tahu latihannya sama-sama selesai. Pasti ada peluang seperti itu."
"Yup. Walaupun peluangnya keciiil. Eh, kenapa sepi ya, Drew?
"Yup."
Seketika kami saling pandang lalu mengangkat kepala dari lutut. Suasana yang tadi riuh dan sempit kini sepi. Tanpa kami sadari, barisan telah bubar dan siswa lain sudah bergabung dengan tim acara masing-masing. Sebagian malah sedang berjalan ke ruangan. Tinggallah kami berdua, berwajah pucat, ditemani tatapan tajam Ibu Silaban. Entah dari mana datangnya, angin berembus menegakkan bulu roma. Suasana horor di acara paranormal yang tayang di salah satu stasiun TV swasta segera terlintas di benakku. Akhirnya, kami disuruh berdiri menghadap tiang bendera sambil menghormat Sang Saka Merah Putih. Tak lupa ditemani backsound tawa dari murid-murid lain. Sesekali terdengar backsound berlogat Batak kental dan kencang yang semakin menggetarkan kotak tawa mereka. Apes!.
Belum sempat bangkit dari rasa duka dan luka karena insiden itu, aku masih harus menghadapi satu kenyataan yang pahit. Ibu Silaban ternyata adalah guru pembimbing drama. Tentu saja siang itu aku jadi bahan olok-olokan di sesi perkenalan naskah. Namu untung saja hanya sebentar, tak sampai satu jam. Kalau tidak, mungkin wajahku ini akan memerah pekat seperti kepiting rebus.
Sampai akhir sesi, aku lebih banyak tertunduk malu. Perang batin dengan Ibu Silaban pun ... dimulai.
***
Akhirnya, kami disuruh berdiri menghadap tiang bendera sambil menghormat Sang Saka Merah Putih. Tak lupa ditemani backsound tawa dari murid-murid lain.
Aku pernah melakukan satu kesalahan kecil. Umurku pun masih terlalu muda saat itu. 16 tahun.Katanya, makna hidup sering kali berasal dari hal-hal kecil. Bagiku, hal kecil itu hanyalah beberapa kata saja dan ... aku melewatkannya. Dengan harapan masih ada hari esok, beberapa kata dan efeknya itu kusimpan saja. Malah berubah menjadi monster yang diam-diam menyergap relung jiwa. Siapa sangka lesung pipi itu menjadi titik awal gelisah cerita panjang ini. Sebenarnya, ada faktor-faktor lain mengapa saat itu adalah waktu yang sempurna untuk jatuh cinta. Tapi lesung pipinya itu memicu debaran jantung, hingga terjadilah kisah tanpa nama dan tanpa kata-kata ini....Aku masih ingat apa yang membuatku masuk ke dalam cerita cinta Tanpa Kata-Kata. Tanganku teracung tinggi menunjuk langit-langit kelas, sekaligus menunjuk takdir cinta pertama masa SMA."Ee ... siapa saja yang belum berpartisipasi di Pensi kita ini? Tunjuk tangan dulu." Logat Batak Ibu Silaban alias Ibu Gempal (nama panggilan di cir
Menurutmu, jika seandainya jadi aku, tahu bahwa pada akhirnya akan mengalami cinta pertama ini, apakah kau akan bersyukur dengan jari yang terangkat itu? Sebab jari yang teracung itulah gerbangnya.Satu hal yang tidak kusadari sejak awal adalah apakah semua cinta itu harus indah? Cinta pertama, kedua, dan seterusnya. Maksudku, adakah cinta yang pasti benar-benar indah tanpa menyisakan luka? Karena yang aku rasakan untuk benar-benar yakin itu adalah jatuh cinta, perlu beberapa langkah yang asing maupun yang tidak asing yang kadang-kadang sangat mengganggu. Sesuatu yang datang tiba-tiba atau bahkan mudah diprediksi.Untuk bisa yakin bahwa "Ya, aku jatuh cinta!" ternyata tidak semudah menarik dan menghembuskan napas.Kadang, malah sampai susah bernapas.***Beberapa hari berikutnya, sekolah pulang lebih cepat. Semua siswa yang terdaftar sebagai pengisi acara berkumpul di lapangan. Perkenalan panitia, jadwal, dan lain-lain pun dijelaskan di tengah terik matahari. Saat siswa lain berdiri be
Becandaaa ... ternyata stok kesabaran ini masih diuji lagi dan lagi.Aku masih tertahan di kelas bersama pemeran Raja Sisingamangaraja, Adam Witjaksono, kakak kelas yang juga ketua OSIS. Semua orang sudah pulang, termasuk David yang jadi salah satu tentara Belanda. Dari perkenalan naskah itu juga aku baru tahu banyak murid perempuan yang menyukainya."Nama saya David Ginandjar Bara berperan sebagai tentara Belanda," ucapnya biasa saja, tapi membuat mereka histeris. Aku senyum sambil menggelengkan kepala melihat para geniters itu. Walau pun memang dalam hati ikut berteriak sedikit hehe. Melihat dia berdiri apa adanya menarik rasa penasaran meski masih bisa kutepis saat itu.Ibu Silaban meminta aku dan Adam untuk membahas naskah kami yang memang termasuk panjang dan rumit. Mendiskusikan cara agar naskah panjang itu tidak menghambat proses latihan. Selain naskah, kami pun banyak membahas kegiatan sekolah. Aku bertanya tentang kegiatannya yang termasuk sibuk untuk ukuran anak SMA. Apalagi,
Aku sadar olokan adalah sesuatu yang sangat tidak menyenangkan. Mengolok-olok Agitha adalah tindakan yang tidak terpuji meski kami melakukannya diam-diam. Maka, saat giliranku yang diolok-olok, sungguh sangat terasa efek negatifnya. Apalagi, olokan itu dilontarkan tepat di depan seseorang yang entah kenapa tiba-tiba ada dalam pikiranku. Sangat memalukan.Saat mengolok-olok seseorang, memang seperti ada muncul sensasi tersendiri. Entah itu merasa hebat karena menemukan kekurangan seseorang yang kita olok-olok, atau merasa senang karena mendapatkan perhatian dari orang-orang di sekitar kita saat mengolok-olok. Bahkan mungkin mendapatkan kepuasan tersendiri setelah melampiaskan sesuatu yang terpendam dalam hati.Aku menyadari bahwa menjadikan seseorang bahan olokan tidak otomatis membuatku jadi sempurna. Bahkan secara langsung menampakkan warna atau nilai diri sendiri yang sebenarnya ... negatif.Aku pun tak pernah bisa menyebutkan itu tepat di hadapan orang yang mengolok-olokku saat itu.
Mungkin ini nggak penting-penting amat tapi mungkin juga nggak penting sama sekali (Hapaseehhh....) Jadi, sebenarnya selama 2 bulan lebih ini saya sedang menenangkan badai-badai yang silih datang berganti eh silih berganti datang....ihh....yang mana sih yang bener? Tau ah... jadi begitulah. Badai-badai itu datang menenggelamkan jiwaku dan akhirnya menyeret ke palung gelap bernama "Aku Sedang Tidak Baik-baik Saja". Akhirnya hanya bisa rebahan....rebahan...dan rebahan dengan tatapan kosong, jiwa yang kosong juga. Pas buka Goodnovel lagi tadi, ada banyak yang jadi pelanggan. Angka yang membaca juga bertambah dan yang bikin seneng lagi sudah ada yang ngasih kontribusi dan voted. I'm just like...Woooooow. Semangatnya bertambah lagi. Thank you untuk kalian semuanya.:* :* :* . Tuh...triple kiss buat kalian semua. Cukup kan? Cukup? Cukup? Ya cukuplah ye kaaan. Tungguin update-an selanjutnya yaaaa.... See you next bab. Bab yah saudara-saudara. Bab novel yah. Bukan Bab yang itu. Dahlah. U
.........From : Epilogue (Gadis Bermata Coklat) Bagian 3 " "Kak Adam, bantuin Drewi dong. Dia sampai ga semangat gitu, coba. Mata Bu Gempal tadi benar-benar kaya elang buas tahu nggak sih, kak. Ya, namanya gladi resik ya tempatnya yang salah-salah di perbaiki. Aku kalau jadi Andrewi udah pasti nangis tuh digituin" "Iya, aku juga liat kok, Shan. Tadi juga dia udah hampir nangis" "Makanya, mumpung dia masih latihan sama Bu Gempal, ayo kita Bujuk kak David, ya, kak. Kasih tahu kalau itu bukan salah dia. Kasih tahu kalau Andrewi butuh di semangatin" "Udah, Shan. Masalahnya, dia ngeliat langsung Dani di bentak-bentak waktu itu" "Ya, namanya juga orang tua, kak. Ayolaah...kasihan Andrewi" "Ya, kita coba bujuk lagi aja deh" "Halo, Dave dimana?" "Kesini sebentar. Di depan Aula. Ada Shaniar mau ngomong sesuatu" "Iya, mau ngomong penting"







