Share

Drew ....

Author: Mayht
last update publish date: 2021-05-14 11:04:51

Becandaaa ... ternyata stok kesabaran ini masih diuji lagi dan lagi.

Aku masih tertahan di kelas bersama pemeran Raja Sisingamangaraja, Adam Witjaksono, kakak kelas yang juga ketua OSIS. Semua orang sudah pulang, termasuk David yang jadi salah satu tentara Belanda. Dari perkenalan naskah itu juga aku baru tahu banyak murid perempuan yang menyukainya.

"Nama saya David Ginandjar Bara berperan sebagai tentara Belanda," ucapnya biasa saja, tapi membuat mereka histeris. Aku menggeleng kepala melihat para geniters itu, walaupun memang dalam hati ikut berteriak sedikit hehe. Melihat dia berdiri apa adanya menarik rasa penasaran meski masih bisa kutepis saat itu.

Ibu Silaban meminta aku dan Adam untuk membahas naskah kami yang memang termasuk panjang dan rumit. Mendiskusikan cara agar naskah panjang itu tidak menghambat proses latihan. Selain naskah, kami pun banyak membahas kegiatan sekolah. Aku bertanya tentang kegiatannya yang termasuk sibuk untuk ukuran anak SMA. Apalagi, dia sudah kelas tiga yang harus fokus UN.

Hari sudah sore saat kami selesai membahas isi naskah dan cara-cara praktis menghafal dialog. Kami berpisah di teras kelas lalu saling menyemangati. Sungguh tak menyangka bisa berdekatan dengan siswa keren seperti dia. Shaniar yang sangat mengidolakan Adam pasti akan menagih banyak cerita.

Kakiku ringan melangkah di jalan setapak taman kelas. Di ujung jalan, aku melihat si Lesung Pipi sedang berdiri sambil bersandar ke tiang pagar. Tangannya menggerakkan handphone ke kanan dan ke kiri. Sepertinya dia sedang asyik bermain game. "Kenapa dia belum pulang? Pemain lain sudah pulang sejak satu jam lalu," pikirku.

Mendadak aku kikuk tanpa alasan yang jelas. Malu, segan, atau entah kata apa yang tepat untuk menggambarkan. Padahal, sudah beberapa kali melihat bahkan berpapasan. Di MOS (Masa Orientasi Siswa), saat dia sedang bermain basket (waktu itu aku dan Shaniar izin ke kamar mandi karena sudah sangat bosan mendengar Pak Tarigan membahas kehebatan ilmuwan Marie Curie berulang-ulang), saat membeli pulpen di kantin, dan mungkin masih ada momen lain. Tak ada yang spesial karena ya ... melihat biasa aja.

Kali ini, ragu aku untuk lanjut melewatinya atau berbalik arah. Belum sempat memilih, dia bangkit dari sandaran lalu menoleh padaku.

Dia tersenyum.

Saat itulah, untuk pertama kalinya, aku merasa ada sesuatu yang bergerak tiba-tiba di hati ini. Aneh. Napas pun seketika berat.

"Hei ..." sapanya sambil memasukkan handphone ke kantong celana.

Malah semakin kikuk aku disapa begitu. Apa aku harus menjawabnya? Apa itu sapaan untukku? Apa mungkin dia ingin menyapa bunga-bunga di taman? Tidak Mungkin, Drew!

"Halo, Kak," jawabku ragu.

"Semangat ya, Drew."

Alisku terangkat. Well, kenapa jadi tiba-tiba menyemangati? Sengajakah berdiri di situ hanya untuk mengatakan 'semangat'? Dan dari mana dia tahu nama panggilanku? Di sesi perkenalan tadi jelas-jelas yang terucap adalah nama lengkap tanpa embel-embel nama panggilan. Adam saja sempat memanggil nama depanku sebelum kuminta memanggil Drewi saja.

"Drewi?"

"I ... iya, terima kasih, Kak."

"Sudah mau pulang?"

"Kak Dave ...."

Belum sempat menjawab, seseorang memanggil David dari kejauhan. Seorang siswa perempuan berlari dari arah lapangan menuju tempat kami berdiri. Bisa aku terka saat itu raut wajahnya terlihat kesal. Semakin dekat, semakin aku mengenali siapa perempuan itu.

Agitha Aristia. Si Nenek Tapir Bermoncong Biru. Aku pun ikut kesal.

...

Sekilas tentang hubungan disharmoni kami.

Sejak peristiwa kurang menyenangkan di ruang tunggu olimpiade, kami jadi musuh bebuyutan. Padahal kami sekelas dan tergabung dalam tim Biologi yang akan berangkat ke olimpiade tingkat kecamatan. Lima anggota tim dipilih melalui 3 tahap seleksi serta terbuka untuk semua siswa tanpa melihat nilai rapor. Aku, yang memang menyukai pelajaran biologi, terobsesi untuk memenangkan satu kursi.

Hawa yang tidak menyenangkan dari Agitha sudah tercium sejak hari pertama latihan. Sering aku menangkap basah tatapan sinisnya. Beberapa kali memancing debat seperti ingin menendangku keluar dari tim. Selalu timbul prasangka bahwa mungkin dia takut tersaingi, tapi segera kutepis karena kami adalah tim. Lagi pula, dia murid populer. Guru-guru pembimbing sering memuji sebab tak hanya cantik, tetapi juga pintar.

Maka, menghindari konflik adalah jalan terbaik. Aku hanya ingin menjalani apa yang kusuka, lulus tepat waktu, kuliah jurusan biologi di universitas impian, dan bekerja di bidang yang sama. Kegiatanku saja hanya berulang dari kelas ke perpustakaan, ke kantin, dan sesekali ke ruang guru untuk membantu administrasi. Itu saja. Jadi, sungguh tak ada celah untuk menyaingi. Mungkin begitulah sifat mainstream anak populer. Tidak perlu alasan untuk memusuhi orang lain. Jadi, ya, kuhalau saja jauh-jauh segala prasangka buruk, lalu menjalani hari seperti biasa.

Agresi pasif itu pun memuncak beberapa puluh menit sebelum Olimpiade dimulai.

Setiap sekolah punya ruang tunggu khusus masing-masing. Aku yang tidak sempat sarapan di rumah hendak memakan bekal nasi goreng udang, masakan andalan ibuku. Dia, si Nenek Tapir itu, tiba-tiba saja mendekat dan ingin mencoba satu suap. Walau kaget, aku masih mencoba berpikir positif. Mungkin dia juga tak sempat sarapan. Perutnya begiiitu melilit hingga terpaksa meminta bekal orang yang 'sepertinya' dibenci.

Berbekal 'sedikit' rasa kasihan, kupersilakan ia memakan duluan. Melihatnya makan dengan ceria, lunaklah segala negatif thinking. Mungkin memang aku yang harus lebih peduli lagi pada orang lain dan mengurangi curiga. Namun di atas semua itu, aku sungguh tidak tahu kalau ternyata dia alergi udang. Badannya demam, bibir bengkak, muncul bercak merah di tangan dan kaki. Sontak saja satu ruangan heboh. Agitha pun dilarikan ke rumah sakit dan gugur otomatis. Guru pendamping memanggil, lalu kujelaskan sambil menangis hingga sempat ingin mengundurkan diri. Namun beliau berhasil menenangkan keadaan sehingga tim tetap solid sampai akhir.

Agitha pun semakin terang-terangan menunjukkan 'sifat mainstream anak populer' dan sesekali kubalas jika bertindak keterlaluan. Untung saja di tahun berikutnya kami beda kelas. Terbebaslah diri ini dari wajah sinis itu. Entah terinspirasi dari mana, aku dan Shaniar sepakat memberinya gelar Nenek Tapir Moncong Biru. Panggilan spontan antara kami berdua saja.

...

Agitha menatapku jengkel begitu sampai di tempat kami berdiri, lalu bergelenjot manja di lengan David. Ugh! Seandainya si Lesung Pipi tidak ada, ingin rasanya melempar batu ke wajah tak tahu malu itu.

"Kak Dave ... Kakak mau pulang, nggak? Bareng, yuk. Kita mampir ke kafe Dian dulu. Laper. Latihannya bikin capek."

"Masih ada urusan, Git. Pulang duluan aja," jawab David, menyingkirkan gelenjotan itu. "Duluan ya, Drew," ucapnya sambil tersenyum manis.

Lagi-lagi aku gugup. Bingung sebab sudah dua kali dia tersenyum manis. Mungkin karena sangat tiba-tiba, aku pun kewalahan. Hati berdesir-desir ....

"Iiih Kak Dave ...." rengek Agitha tiba-tiba.

Momen desir pun berhenti seketika. Suara manja yang dibuat-buat itu membuat kuping sakit dan berdenging. "Ckckck." Aku mendecak jengkel.

Dia melayangkan tatapan sinis dari atas sampai bawah sebelum melenggang pergi. Aku menghentak kaki kesal lalu pulang sambil merutuk.

***

Mayht

Aku menggelengkan kepala melihat para geniters itu, walaupun memang dalam hati ikut berteriak sedikit hehe.

| Like
Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Si Lesung Pipi   Tidak Ada Epilog

    Di dalam kafe Halaman Pertama, sebuah kafe aesthethic di Jakarta Timur, Sri gelisah menunggu kedatangan Hanna. Di meja outdoor berlatar belakang bar minuman dan langit sore oranye, tangan kanannya menggaruk-garuk lengan kiri yang sama sekali tidak gatal. Kakinya di bawah meja bergerak-gerak cepat.Dua botol air mineral, 1 gelas Te'Alla Fragolla yang hampir habis, dan 1 gelas Bonbon Noir yang masih utuh berkumpul di atas meja, teronggok begitu saja. Dua slice pizza pepperoni masih tersisa di atas nampan berbentuk talenan kayu bulat dengan gagang yang tidak terlalu panjang.Gw udh di parkiranReadPesan Hanna masuk ke dalam ponselnya dan semakin bergetarlah kaki Sri di bawah meja."Mas," dia mengangkat tangan untuk memanggil waitress. "Saya mau pesan Churros dan Hot Matcha Latte satu, ya. Dan tolong ini diangkutin aja, tapi air mineralnya jangan," ucapnya segera setelah waitress menghampiri."Sri ... Sri Indah Wahyuni." Hanna dari kejauhan memanggil sembari melambaikan tangan.Mendengar

  • Si Lesung Pipi   Klarifikesyen guyss

    Mungkin ini nggak penting-penting amat, tapi mungkin juga nggak penting sama sekali (Hapaseehhh ....) Jadi, sebenarnya selama 2 bulan lebih ini saya sedang menenangkan badai-badai yang silih berganti. Eh, silih berganti datang. Ih! Yang mana sih yang bener? Tau ah … jadi begitulah. Badai-badai itu datang menenggelamkan jiwaku dan akhirnya menyeret ke palung gelap bernama "Aku Sedang Tidak Baik-baik Saja". Akhirnya hanya bisa rebahan … rebahan … dan rebahan dengan tatapan kosong, jiwa yang kosong juga. Pas buka Goodnovel lagi tadi, ada banyak yang jadi pelanggan. Angka yang membaca juga bertambah, dan yang bikin seneng lagi sudah ada yang ngasih kontribusi dan vote. I'm just like ... woooooow. Semangatnya bertambah lagi. Thank you untuk kalian semuanya.:* :* :* . Tuh...triple kiss buat kalian semua. Cukup kan? Cukup? Cukup? Ya cukuplah ye kaaan. Tungguin update-an selanjutnya yaaaa.... :* ***04 Oktober 2026Nggak nyangka di tahun 2026 saya datang lagi ke akun dan novel ini den

  • Si Lesung Pipi   Sesi Terakhir

    Menangis itu perlu. Sebab dalam linangan air mata dan usaha mengeluarkannya, ada takut, ragu, juga sesak hati ikut mengalir. Entah untuk perempuan atau laki-laki. Sebab luka bisa saja menghampiri semua orang, tiada terikat oleh gender, harkat dan martabat, termasuk rupa diri dan keadaan.Cinta harus diungkapkan. Valid bagi perempuan maupun laki-laki. Dari masih berjalan tertatih hingga sudah harus memakai tongkat, sebab cinta mengintervensi setiap individu tanpa filter kategorisasi. Mengungkapkan cinta bukan hanya untuk menunjukkan hati, tetapi juga untuk menyentuh hati yang membalas cinta.Sekalipun hati dipatahkan, setidaknya tiada luka yang terpendam. Bangkit lagi. Langkah selanjutnya lebih pasti tanpa ada yang mengendap dalam hati. Terlukalah dengan lega. Terlukalah dengan ringan. Terlukalah dengan pasti.Baiklah kiranya memahami posisi diri saat menunjukkan cinta. Sebab terkadang membebaskan rasa lewat kata sudah lebih dari cukup. Terkadang, cinta hanya menuntut aksara untuk dieja

  • Si Lesung Pipi   Percayakan Semua Suka dan Dukamu Padaku

    "Andrewi ..." panggil Dani, setelah tangis mereda. Dilepaskan dekapan untuk menghapus air mata Andrewi dan menuntunnya berdiri. Lagi-lagi, sama seperti saat tragedi nasi goreng di Olimpiade dulu, ia sungguh tak sampai hati melihat gadis itu menangis. Issano dengan sigap membawa kursi untuk tempat Andrewi duduk, sementara Agitha dan Shaniar memapah Adam ke sisi lain untuk membersihkan luka-lukanya."Aku tahu ini bukan waktu yang tepat, Drew, tapi aku harus mengungkapkan sekarang," lanjut Dani setelah suasana tenang. Ia kini berlutut dengan satu kaki sembari menggenggam tangan Andrewi. "Kafe ini tadinya kami hias spesial untukmu. Maaf, keadaannya jadi seperti ini.""Dani bolak-balik Jakarta-Bandung untuk semua ini, Drew. Bucin banget dia," celetuk Shaniar dengan sedikit logat Jerman. Andrewi, yang tadinya masih kebingungan, tersentak halus, kehilangan kata-kata. Dani pun tersenyum malu-malu."Dari dulu," ucap Dani lagi. "Dari pertama kali melihatmu di perpustakaan, aku sudah menyukaimu,

  • Si Lesung Pipi   Katarsis Agresi dan Duka

    Nafasnya memburu. Kerah kemeja ia longgarkan. Dani tergesa-gesa keluar dari apartemen Andrewi, tak sabar untuk sampai ke kafe milik Issano. Di sana ada seseorang yang sangat ingin sekali ia minta konfirmasi.Git, Adam sudah di sana?SendKirimnya pada Agitha sebelum memasuki lift.Sudah kak. Semuanya sudah ada di sini.Dancer dan dekorasi belum siap.Drewi tahan sebentar ya di sana.ReadPesan balasan masuk setelah ia berada di dalam mobil. Begitu mesin menyala, tanpa membalas pesan, Dani menginjak kencang pedal gas. Suara decit memekakkan telinga terdengar bergema di basement apartemen. Darahnya sudah di ujung ubun-ubun. "Sialan!!! Sialan!" bentaknya pada setir, lalu memukul sekuat tenaga untuk menyalurkan emosi....Kafe milik Issano terlihat di ujung ruko setelah 30 menit melewati macet di beberapa jalan besar kota Bandung. Agitha dan Shaniar sedang berada di teras merapikan pita berwarna-warni. Dani memarkir mobil tanpa arah dan keluar dengan wajah memerah menahan gelegak murka."K

  • Si Lesung Pipi   Detik Penentu dan Efeknya

    "Aku kira Kakak sudah ngomong sama mereka. Soalnya, tadi pagi, Kak Adam minta aku ngajakin Shaniar dan Andrewi ikut ke Puncak. Mau nginep di vila keluarganya yang ada di sana," ujar Agitha membela diri. Di jalan ke rumah Dani, sepulang dari Pensi, David memprotes keputusan sepihak Agitha."Mau ngapain ke sana?""Mau bikin acara perpisahan buat kita. Andrewi diajak sekalian supaya Kakak bisa nembak dia. Biar nanti di Bandung, Kakak bisa fokus sama perawatan aja, gitu. Ini pesannya," Agitha menunjukkan pesan F******k Adam yang berderet ke bawah. Isinya kegiatan yang akan mereka lakukan di puncak seperti bakar-bakaran, menyanyi, games, nembak Andrewi, dll."Ck! Bodoh-bodoh." David memukul-mukul kening. Pantas saja Adam marah besar tadi, pikirnya. Sahabatnya itu hanya ingin yang terbaik untuknya. "Nanti di Bandung aja aku jelaskan. Dia masih terlalu marah kalau aku jelaskan sekarang. Iya kan, Git? Aku benar, kan?"Agitha menggenggam erat tangannya dan berkata, "Iya, aku setuju. Nggak usah

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status