登入
Aku pernah melakukan satu kesalahan kecil. Umurku pun masih terlalu muda saat itu. 16 tahun.
Katanya, makna hidup sering kali berasal dari hal-hal kecil. Bagiku, hal kecil itu hanyalah beberapa kata saja dan ... aku melewatkannya. Dengan harapan masih ada hari esok, beberapa kata dan efeknya itu kusimpan saja, malah berubah menjadi monster yang diam-diam menyergap relung jiwa.
Siapa yang menyangka lesung pipi itu menjadi titik awal gelisah cerita panjang ini? Sebenarnya, ada banyak hal yang menjadi alasan mengapa saat itu adalah waktu yang sempurna untuk jatuh cinta. Namun, lesung pipinya itu memicu debaran jantung, hingga terjadilah kisah tanpa nama dan tanpa kata-kata ini.
...
Aku masih ingat apa yang membuatku masuk ke dalam cerita cinta Tanpa Kata-Kata. Tanganku teracung tinggi menunjuk langit-langit kelas, sekaligus menunjuk takdir cinta pertama masa SMA.
"Ee ... siapa saja yang belum berpartisipasi di Pensi kita ini? Tunjuk tangan dulu." Logat Batak Ibu Silaban alias Ibu Gempal (nama panggilan di circle murid) benar-benar sekental kopi Sidikalang.
Tau kopi Sidikalang, kan? Kopi khas yang berasal dari salah satu daerah di Indonesia yang hutannya masih asri. Kalau tidak percaya, coba saja googling Kecamatan Sidikalang, Kabupaten Dairi, Sumatera Utara. Lihat betapa masih banyak pohon-pohon di sana. Jaraknya kira-kira 4-5 jam dari kota Medan.
Aku dan beberapa siswa lain mengacungkan jari telunjuk ke udara. Suasana siang yang terik di jam terakhir pelajaran membuat kami kurang bersemangat. Ibu Silaban datang ke kelasku, 11-A, untuk mendata siswa yang ingin bergabung dalam drama perjuangan pahlawan Sisingamangaraja. Drama yang akan dipertunjukkan di pensi HUT RI di SMA kami, SMA Dharma Bangsa.
"Ai na boha do halakkon!1" (Ada apa dengan kalian ini?) Masih muda pun sudah lemas. Mana semangatnya ... mana!" bentaknya sambil menghentak kaki (ciri khas bila sedang emosi atau bersemangat) dan sukses membuat seluruh murid tertawa terpingkal-pingkal.
"Malah ketawa lagi kalian ini. Sudah-sudah, siapa yang mau ikut kegiatan drama?"
"Dramanya tentang apa, Bu?" celetuk si Botak Sahat.
"Ya, tentang perjuangan pahlawan, anakku Botak. Acara ini untuk memperingati hari kemerdekaan. Masa kita mau buat drama tentang Cinderella?"
Kelas pun kembali riuh dengan suara tawa yang membuat pipi Sahat memerah.
"Sudah ... sudah," Ibu Silaban menenangkan lagi. "Drama yang akan ditampilkan nanti akan menceritakan perjuangan pahlawan kita, Raja Sisingamangaraja, dalam mempertahankan tanah Bakkara. Kebetulan pemain-pemain yang lain sudah lengkap. Tinggal 1 orang pemeran Putri Lopian, 3 orang pemeran tentara Belanda, dan 1 pemeran warga Bakkara. Nah, sekarang, siapa yang mau memerankan Putri Lopian? Ayo, tunjuk tangan dulu."
Sampai saat ini pun aku tidak tahu dari mana dorongan itu. Jari telunjukku teracung ke atas menunjuk langit-langit kelas.
"Iya, yang tunjuk tangan namanya siapa?"
Aku yang masih setengah sadar dan setengah tak percaya hanya bisa bingung sesaat, tak menyadari hanya tanganku yang terangkat. Sampai akhirnya, Shaniar, teman semejaku, menyikut lenganku.
"Oh ... eh ... nama ... nama saya Mefia Andrewi, Bu."
"Yakin kau bisa memerankan Putri Lopian?"
"Mmm ...." Sempat ragu, Shaniar meyakinkan lewat anggukannya. "Yakin, Bu," sahutku pada akhirnya.
"Ok. Boru apa kau, Mefia?"
"Saya tidak punya marga, Bu."
"Oooh ... boru Jawa atau Sunda?"
"Jawa, Bu."
"Bukan apa-apa, Mefia. Takutnya kau tidak bisa dengar suara kencang seperti suaraku ini. Jangan kaget nanti kalau suaraku seperti petir, ya. Memang beginilah caraku ngomong. Bukan lagi marah atau gimana-gimana. Paham kan, Mefia?"
"Paham, Bu."
"Bagus. Selanjutnya, siapa yang berminat jadi pemeran tentara? Angkat tangan dulu. Butuh tiga orang lagi ini."
Tidak ada tanda-tanda tangan teracung. Ibu Silaban mengulang pertanyaan dan hasilnya nihil. Maka setelah ia meninggalkan kelas, aku resmi jadi satu-satunya dari kelas 11-A yang bergabung dengan drama pensi. Well, at least aku tak perlu ikut paduan suara seperti yang ditawarkan ketua kelas beberapa hari sebelumnya. Jauh lebih baik menghafal naskah drama daripada mengeluarkan suara sumbangku ini.
***
Namun, lesung pipinya itu memicu debaran jantung, hingga terjadilah kisah tanpa nama dan tanpa kata-kata ini.
Di dalam kafe Halaman Pertama, sebuah kafe aesthethic di Jakarta Timur, Sri gelisah menunggu kedatangan Hanna. Di meja outdoor berlatar belakang bar minuman dan langit sore oranye, tangan kanannya menggaruk-garuk lengan kiri yang sama sekali tidak gatal. Kakinya di bawah meja bergerak-gerak cepat.Dua botol air mineral, 1 gelas Te'Alla Fragolla yang hampir habis, dan 1 gelas Bonbon Noir yang masih utuh berkumpul di atas meja, teronggok begitu saja. Dua slice pizza pepperoni masih tersisa di atas nampan berbentuk talenan kayu bulat dengan gagang yang tidak terlalu panjang.Gw udh di parkiranReadPesan Hanna masuk ke dalam ponselnya dan semakin bergetarlah kaki Sri di bawah meja."Mas," dia mengangkat tangan untuk memanggil waitress. "Saya mau pesan Churros dan Hot Matcha Latte satu, ya. Dan tolong ini diangkutin aja, tapi air mineralnya jangan," ucapnya segera setelah waitress menghampiri."Sri ... Sri Indah Wahyuni." Hanna dari kejauhan memanggil sembari melambaikan tangan.Mendengar
Mungkin ini nggak penting-penting amat, tapi mungkin juga nggak penting sama sekali (Hapaseehhh ....) Jadi, sebenarnya selama 2 bulan lebih ini saya sedang menenangkan badai-badai yang silih berganti. Eh, silih berganti datang. Ih! Yang mana sih yang bener? Tau ah … jadi begitulah. Badai-badai itu datang menenggelamkan jiwaku dan akhirnya menyeret ke palung gelap bernama "Aku Sedang Tidak Baik-baik Saja". Akhirnya hanya bisa rebahan … rebahan … dan rebahan dengan tatapan kosong, jiwa yang kosong juga. Pas buka Goodnovel lagi tadi, ada banyak yang jadi pelanggan. Angka yang membaca juga bertambah, dan yang bikin seneng lagi sudah ada yang ngasih kontribusi dan vote. I'm just like ... woooooow. Semangatnya bertambah lagi. Thank you untuk kalian semuanya.:* :* :* . Tuh...triple kiss buat kalian semua. Cukup kan? Cukup? Cukup? Ya cukuplah ye kaaan. Tungguin update-an selanjutnya yaaaa.... :* ***04 Oktober 2026Nggak nyangka di tahun 2026 saya datang lagi ke akun dan novel ini den
Menangis itu perlu. Sebab dalam linangan air mata dan usaha mengeluarkannya, ada takut, ragu, juga sesak hati ikut mengalir. Entah untuk perempuan atau laki-laki. Sebab luka bisa saja menghampiri semua orang, tiada terikat oleh gender, harkat dan martabat, termasuk rupa diri dan keadaan.Cinta harus diungkapkan. Valid bagi perempuan maupun laki-laki. Dari masih berjalan tertatih hingga sudah harus memakai tongkat, sebab cinta mengintervensi setiap individu tanpa filter kategorisasi. Mengungkapkan cinta bukan hanya untuk menunjukkan hati, tetapi juga untuk menyentuh hati yang membalas cinta.Sekalipun hati dipatahkan, setidaknya tiada luka yang terpendam. Bangkit lagi. Langkah selanjutnya lebih pasti tanpa ada yang mengendap dalam hati. Terlukalah dengan lega. Terlukalah dengan ringan. Terlukalah dengan pasti.Baiklah kiranya memahami posisi diri saat menunjukkan cinta. Sebab terkadang membebaskan rasa lewat kata sudah lebih dari cukup. Terkadang, cinta hanya menuntut aksara untuk dieja
"Andrewi ..." panggil Dani, setelah tangis mereda. Dilepaskan dekapan untuk menghapus air mata Andrewi dan menuntunnya berdiri. Lagi-lagi, sama seperti saat tragedi nasi goreng di Olimpiade dulu, ia sungguh tak sampai hati melihat gadis itu menangis. Issano dengan sigap membawa kursi untuk tempat Andrewi duduk, sementara Agitha dan Shaniar memapah Adam ke sisi lain untuk membersihkan luka-lukanya."Aku tahu ini bukan waktu yang tepat, Drew, tapi aku harus mengungkapkan sekarang," lanjut Dani setelah suasana tenang. Ia kini berlutut dengan satu kaki sembari menggenggam tangan Andrewi. "Kafe ini tadinya kami hias spesial untukmu. Maaf, keadaannya jadi seperti ini.""Dani bolak-balik Jakarta-Bandung untuk semua ini, Drew. Bucin banget dia," celetuk Shaniar dengan sedikit logat Jerman. Andrewi, yang tadinya masih kebingungan, tersentak halus, kehilangan kata-kata. Dani pun tersenyum malu-malu."Dari dulu," ucap Dani lagi. "Dari pertama kali melihatmu di perpustakaan, aku sudah menyukaimu,
Nafasnya memburu. Kerah kemeja ia longgarkan. Dani tergesa-gesa keluar dari apartemen Andrewi, tak sabar untuk sampai ke kafe milik Issano. Di sana ada seseorang yang sangat ingin sekali ia minta konfirmasi.Git, Adam sudah di sana?SendKirimnya pada Agitha sebelum memasuki lift.Sudah kak. Semuanya sudah ada di sini.Dancer dan dekorasi belum siap.Drewi tahan sebentar ya di sana.ReadPesan balasan masuk setelah ia berada di dalam mobil. Begitu mesin menyala, tanpa membalas pesan, Dani menginjak kencang pedal gas. Suara decit memekakkan telinga terdengar bergema di basement apartemen. Darahnya sudah di ujung ubun-ubun. "Sialan!!! Sialan!" bentaknya pada setir, lalu memukul sekuat tenaga untuk menyalurkan emosi....Kafe milik Issano terlihat di ujung ruko setelah 30 menit melewati macet di beberapa jalan besar kota Bandung. Agitha dan Shaniar sedang berada di teras merapikan pita berwarna-warni. Dani memarkir mobil tanpa arah dan keluar dengan wajah memerah menahan gelegak murka."K
"Aku kira Kakak sudah ngomong sama mereka. Soalnya, tadi pagi, Kak Adam minta aku ngajakin Shaniar dan Andrewi ikut ke Puncak. Mau nginep di vila keluarganya yang ada di sana," ujar Agitha membela diri. Di jalan ke rumah Dani, sepulang dari Pensi, David memprotes keputusan sepihak Agitha."Mau ngapain ke sana?""Mau bikin acara perpisahan buat kita. Andrewi diajak sekalian supaya Kakak bisa nembak dia. Biar nanti di Bandung, Kakak bisa fokus sama perawatan aja, gitu. Ini pesannya," Agitha menunjukkan pesan F******k Adam yang berderet ke bawah. Isinya kegiatan yang akan mereka lakukan di puncak seperti bakar-bakaran, menyanyi, games, nembak Andrewi, dll."Ck! Bodoh-bodoh." David memukul-mukul kening. Pantas saja Adam marah besar tadi, pikirnya. Sahabatnya itu hanya ingin yang terbaik untuknya. "Nanti di Bandung aja aku jelaskan. Dia masih terlalu marah kalau aku jelaskan sekarang. Iya kan, Git? Aku benar, kan?"Agitha menggenggam erat tangannya dan berkata, "Iya, aku setuju. Nggak usah







