LOGINPukul 15.45 WIB. Bukannya menuju rumah sakit atau pulang, Zhui berdiri di tepi jalan raya utama, menyetop sebuah taksi. "Ke mana, Non?" tanya sopir taksi begitu Zhui naik ke kursi belakang. "Ke kawasan industri lama Blok Guanjo, Pak. Tepatnya di dekat gedung tua bekas pabrik," jawab Zhui tegas, walau dadanya berdegup kencang seperti genderang perang. Sopir taksi melirik lewat spion tengah dengan raut cemas. "Blok Guanjo? Daerah sana rawan dan sepi, Non, apalagi jam-jam menjelang sore begini." "Nggak apa-apa, Pak. Ada urusan penting. Tolong cepat ya," desak Zhui. Mobil melaju membelah kemacetan sore. Sinar matahari mulai membias merah keemasan, melempar bayang-bayang panjang yang terkesan dingin dan mencekam. Semakin mendekati Blok Guanjo, pemandangan kota yang modern berganti menjadi deretan bangunan terbiarkan dengan dinding terkelupas dan semak belukar yang liar. Pukul 15.58 WIB. Taksi berhenti beberapa puluh meter dari sebuah gedung tua berlantai tiga yang b
BAB 19 Ting... Tang... Tung... Denting bel tiga nada bergema nyaring menyusuri koridor, memotong riuh rendah perbincangan pagi dan memaksa para siswa XI IPA 2 bergegas merapikan tempat duduk. Namun, sebelum guru mata pelajaran jam pertama melangkahkan kaki ke dalam kelas, pintu kayu terdorong terbuka lebih dulu. Miss Clara melangkah masuk. Raut wajah wali kelas itu nampak berawan, menyimpak rasa duka yang mendalam. Kehadirannya yang tak biasa seketika menyedot seluruh keriuhan di dalam ruangan hingga menyisakan keheningan yang kaku. "Selamat pagi, anak-anak," sapa Miss Clara dengan intonasi berat, berdiri tegap di balik meja guru. "Pagi, Miss..." sahut para siswa serempak, mengindera atmosfer tak biasa yang menyelimuti wali kelas mereka. Miss Clara menarik napas panjang, menatap satu per satu anak didiknya sebelum pandangannya tertahan sejenak pada bangku kosong di samping Zhui. "Sebelum kita memulai pelajaran hari ini, ada berita duka yang harus Miss sampaikan,"
Memakai gaun steril dan masker melingkar di wajah, Zhui melangkah perlahan mendekati brankar Sean. Suara bip... bip... alat pemantau detak jantung terasa begitu nyata di telinganya. Zhui duduk di kursi kecil samping ranjang. Jemarinya yang gemetar pelan-pelan meraih telapak tangan Sean yang dingin dan kaku. Ia menggenggam jemari cowok itu, membawanya ke pipinya yang basah oleh air mata. "Sean..." bisik Zhui, suaranya pecah di tengah kesunyian ruangan. "Bangun, Sean... Tolong..." Tak ada jawaban. Hanya deru halus mesin ventilator yang menyalurkan udara ke paru-paru Sean. "Maafin aku..." air mata Zhui menetes, membasahi punggung tangan Sean yang diinfus. "Maafin aku yang udah bohong sama kamu... Maafin aku yang udah bikin kamu marah dan berubah. Kalau aku tahu bakal kayak gini, aku nggak akan pernah sembunyiin apa pun dari kamu..." Zhui menundukkan kepalanya, menyandarkan keningnya di tepi ranjang, tepat di samping tangan Sean yang tak bergerak. Untuk pertama kalinya dalam hid
Pintu kaca berbingkai besi itu mendadak terdorong kencang. Roda brankar berderit nyaring saat beberapa perawat berpacu memindahkannya keluar dari ruang tindakan UGD. "Suster, kita harus segera bawa pasien ke ruang ICU secepatnya!" seru dokter utama yang melangkah cepat di samping brankar. "Baik, Dokter!" Seorang perawat setengah berlari mendekati Bu Maria yang tubuhnya gemetar hebat. "Ibu selaku keluarga pasien boleh ikut mendampingi, tapi sesampainya di pintu masuk ICU nanti, Ibu tidak boleh masuk, ya." "I-iya, Sus... Dok, tolong anak saya, Dok. Tolong..." rintih Bu Maria dengan suara serak yang menyayat hati. "Baik, Bu. Saya akan usahakan yang terbaik. Tolong bawa pasien sekarang, saya akan menyusul," ucap dokter itu cepat sebelum berbelok menuju ruang sterilisasi. Saat brankar itu melintas cepat melewati Zhui, waktu seolah berhenti berputar. Untuk sejurus, Zhui melihat wajah Sean dari dekat—pucat bagai porselen, pelipisnya terbebat perban tebal yang mulai bernoda
Drt... Drt... Drt... Zhui berkedip kaget. Jemarinya yang gemetar membuka kunci layar dan membaca pesan beruntun dari Stevani yang masuk hanya dalam hitungan detik. Stevani: ZHUI! Kamu di mana sekarang?! Stevani: Jawab teleponku, Zhui! Ini gawat banget! Stevani: Sean... Sean dihajar preman di pasar dekat taman kota! Dia pendarahan parah dan sekarang dibawa pakai ambulans ke Rumah Sakit Umum! Deg. Seluruh pasokan udara di dalam mobil serasa diisap habis seketika. Tubuh Zhui membeku total. Lidahnya kufur kata, sementara darah di dalam pembuluh darahnya serasa berubah menjadi es. Ninu... ninu... ninu... Bayangan mobil ambulans yang baru saja melesat kencang di depan kedai kopi—sirine raungan yang sempat ia anggap seperti adegan di dalam film—mendadak berputar hebat di dalam kepalanya. Ambulans itu... adalah mobil yang membawa Sean yang sedang bertaruh dengan nyawa. "Zhui? Kenapa, Sayang? Kok muka kamu mendadak pucat gitu?" tegur Pak Djarot cemas, melirik wajah
Bab 14 Ninu... ninu... ninu... Suara sirine meraung nyaring membelah kebisingan jalan raya. Deru mesin mobil ambulans yang dipacu kencang beriringan dengan dua mobil patroli polisi melesat cepat di balik kaca besar kedai kopi tempat Zhui dan Queen duduk. Kilatan lampu darurat berwarna merah dan biru memantul sesaat di permukaan meja kayu mereka, menciptakan garis-garis cahaya yang bergerak liar sebelum akhirnya menghilang di tikungan jalan. Zhui menghentikan gerakan jemarinya di cangkir minuman. Matanya terpaku pada kaca jendela, memperhatikan deretan kendaraan darurat itu hingga tak lagi terlihat. "Kenapa, Zhu?" tegur Queen, menyadari fokus lawan bicaranya teralihkan. Zhui tersentak pelan, mengalihkan pandangannya kembali ke wajah Queen seraya menyunggingkan senyum tipis. "Ah... enggak apa-apa, Kak. Tumben aja ada mobil ambulans sama polisi lewat kencang banget. Rasanya mencekam, udah kayak adegan di film-film." Zhui sama sekali tidak menyadari ironi pahit yang baru saja me







