LOGIN“Yakin, aku juga nggak mau kalah dong dari kamu.”
“Tapi… ini bahaya, sayang. Kamu nggak bisa lakuin ini hanya karena alesan itu.”
“Aku bisa dan aku akan buktiin. Lagipula ada kamu ini di sini, seenggaknya kamu bisa jadi navigator aku." Ucapnya, membuat Diandra seketika mengangguk dan tersenyum.
“Di depan nanti ada tikungan, kurangi kecepatan dan ambil bagian kiri jalan sebelum belok ke kanan,” Kata Diandra saat mobil mereka
Saat matahari mulai terbenam, perayaan berpindah ke Loggia Segre untuk resepsi yang lebih intim dan romantis. Cahaya senja yang lembut menambah keanggunan vila dan menciptakan suasana hangat dan magis untuk makan malam dan pesta.Kara mengangkat gandengan tangan Diandra tinggi-tinggi. Memamerkan istrinya yang tampak luar biasa dengan balutan dress warna merah marun yang pekat dengan kilau khas kain satin yang jatuh mengikuti lekuk tubuh. Gaun itu memiliki tali bahu yang sangat tipis dengan potongan square neck, memberikan kesan minimalis namun tetap seksi.Bagian pinggngnya terdapat kerutan artistik yang memberikan dimensi pada kain, sebuah potongan sempurna untuk menonjolkan siluet tubuh Diandra. Gaun itu juga memilki belahan tinggi di satu sisi, menampilkan kaki jenjang Diandra yang tampak cantik dibalut sepatu hak tinggi berwarna senada.Sementara Kara, tetap setia dengan stelan serba hitamnya. Menurut Diandra, Kara tidak memiliki warna lain
Diandra berdiri!Benar-benar berdiri.Ia bahkan mulai melangkah pelan ke arahnya.Kara refleks hendak melangkah maju, namun lengannya segera ditahan oleh Seno yang berdiri tak jauh darinya, berperan sebagai groomsmen untuknya. Lelaki itu menoleh dan mendapati Seno menggeleng pelan padanya. Kara berdeham sekali, membenarkan letak jasnya, dan kembali berdiri tegak di posisinya semula.Matanya tak luput dari memandangi Diandra yang berjalan seorang diri dengan anggun menuju ke arahnya. Gadis itu sangat cantik dengan balutan gaun pengantin berwarna off-white yang menampilkan kesan romantis dan klasik. Gaun itu memiliki potongan A-line yang memberikan siluet ramping pada bagian pinggang dan melebar secara anggun ke bawah.Bagian atasnya menggunakan desain kerah V-neck yang rendah dengan ilusi kain transparan pada bagian bahu dan lengan panjang, yang mana seluruh bagiannya dihiasi bordir renda floral, memberik
“Baru deket,” ucap Gavin akhirnya.“Baru?” Diandra bertanya lagi.Gavin mengangguk.“Cepet juga ya progressnya,” semua orang menatap Lavie dengan penasaran.“Maksudnya?” Gavin bertanya.“Nggak… bukan apa-apa,” Laviena menolak jujur.“Arena balap, seminggu yang lalu, di parkiran,” Kata Seno asal.Deg.Tidak ada yang tahu itu suara jantung siapa. Yang pasti, ada empat orang yang sadar diri tengah dibicarakan di sana.“Lo… liat?” Tanya Gavin gugup.Seno dan Laviena mengangguk bersamaan.Gavin mengusap wajahnya gusar, merasa malu karena tertangkap basah oleh sahabat beserta pacarnya juga.“Ya udah sih, nggak perlu malu juga. Kayak sama siapa aja.”“Sejak kapan?” Tanya Diandra penasaran.“Udah dong, kok malah jadi bahas gue sih. Harusnya kan sekarang kita seneng-seneng bareng, dan mungkin juga kita bisa bantuin Diandra buat persiapan pernikahannya. Iya, kan?” Kata Claudia, berusaha berbicara dengan normal.“Iyaaaa.” Jawab mereka semua bersamaan.Sementara Miranda, Marcel, dan juga Lucyana
“Kayaknya sih iya. Balapannya udah selesai juga,” sahut Seno yang berdiri di sampingnya.“Mereka ciuman,” lanjut Lavie.“Mungkin buat ngerayain kemenangan,” Seno mengedikkan bahunya acuh.“Di tempat kayak gini?”“Kayak baru pertama liat aja. Bukannya mereka emang sering kayak gitu, ya? Kita bahkan liat mereka ciuman pertama kali di tempat pesta.”Laviena dengan cepat menatap ke arah kekasihnya. Merasa ada kesalahpahaman dalam obrolan mereka.“Ini kita lagi ngomongin orang yang sama, kan?” Tanya Lavie.“Emangnya enggak?" Seno menggaruk lehernya, tersenyum canggung bahkan tanpa ia tahu alasannya.“Kamu lagi ngomongin siapa kutanya?”“Tuh, Diandra sama Kara, kan?” Seno menunjuk Kara dan Diandra yang tengah berciuman di dalam mobil, dengan dagunya.Laviena mengarahkan pandangannya ke arah mobil Diandra. Dan benar, ked
“Yakin, aku juga nggak mau kalah dong dari kamu.”“Tapi… ini bahaya, sayang. Kamu nggak bisa lakuin ini hanya karena alesan itu.”“Aku bisa dan aku akan buktiin. Lagipula ada kamu ini di sini, seenggaknya kamu bisa jadi navigator aku." Ucapnya, membuat Diandra seketika mengangguk dan tersenyum.“Di depan nanti ada tikungan, kurangi kecepatan dan ambil bagian kiri jalan sebelum belok ke kanan,” Kata Diandra saat mobil mereka baru saja melaju di tengah arena.Kara menambah kecepatan, mengatur ritme, dan melaju kencang di lintasan. Beberapa kali bahkan lelaki itu tampak bersorak bahagia saat berhasil melampaui satu orang lawannya. Kemudian menambah kembali kecepatannya untuk menyalip lawan yang lainnya.Setelah melewati dua tikungan panjang, akhirnya mereka berhasil mencapai finish di urutan kedua. Kara refleks berteriak sambil memukul kemudi di depannya, ekspresi kepuasan jelas sekali terlihat
“Kamu! Kamu alasannya. Karena aku mau jaga perasaan kamu, aku nggak mau kamu sampe mikir kalau aku masih punya perasaan ke Diandra.”Claudia menggeleng, air matanya mengalir begitu saja di pipinya.“Aku nggak nyangka kamu sejahat ini menilai aku. Jadi selama ini, kamu selalu mikir kalo aku orang yang kayak gitu? Iya?”“Clau…” Gavin kehilangan kata-kata.Melihat Claudia semarah ini, cukup membuatnya panik juga.“Jangan sentuh aku, Vin!” Claudia menepis kedua tangan Gavin yang hendak mendarat di lengannya.“Kita udah temenan lama. Aku, kamu, Diandra dan Laviena. Kita semua punya komitmen untuk saling jaga dan saling sayang sampe kapanpun. Jadi nggak ada alasan buat aku berubah sikap ke Diandra hanya karena kamu pernah punya perasaan ke dia. Kamu pernah mikir nggak, kalo emang aku sepicik itu, aku pasti udah punya niat jahat ke Diandra dari dulu. Dari saat kamu masih cinta banget sama
“Selama dia nggak ada, lo keliatan deket banget sama Gavin. Gue kira kalian ada affair selain temen deket, jadi gue sengaja pake itu buat memprovokasi Sangkara. Gue pikir, kalo gue nggak bisa bikin lo jauhin dia, gue bisa bikin Sangkara yang jauhin lo. Tapi ternyata sama aja.&rdquo
“Kamu nggak mau turun?” Bukannya menjawab, Kara malah bertanya balik, dengan alis yang bergerak naik turun seolah menggoda gadis itu.“Turun… balapan?”“Sure.”Diandra menutup mulut dengan kedua tangannya. Ia ingin berteriak
“Gue udah jujur… ke Diandra. Soal perasaan gue,” Claudia melihat Gavin yang tengah menarik napas panjang dan kasar. Seolah membuang semua energi negatif dari dalam tubuhnya.“Terus?”“Dengan Diandra yang sebegitu cinta matinya sama Sangkara, apa
Laki-laki yang namanya disebut itu maju beberapa langkah untuk sampai di hadapan gadisnya.“I’m back,” ucapnya dengan senyum cerah, membuat lesung pipitnya semakin cekung di pipi kirinya.“How come?” Suara Diandra terbata tak percaya.







