MasukJantung Kara mencelos. Rasanya menyakitkan mendengar seseorang yang ia cintai mengucapkan kata-kata seperti itu tepat di depan wajahnya
“Kara, aku…” Diandra menggigit bibirnya sendiri, lalu meremas tangannya, gelisah.
Ia sadar telah salah bicara, dan sekarang ia sedang mencari kalimat yang tepat untuk memperbaikinya.
“Oke.” Satu kata itu diucapkan Kara dengan berat.
Senyumnya kecut, sorot matanya dalam, dan mengandung…
Kara dan Diandra menatap nisan putih di depannya. Masing-masing dari mereka menggendong satu orang buah hatinya. Garistha bersama Kara, sedangkan Gestara bersama Diandra. Mereka tersenyum saat memperkenalkan anggota baru Keluarga Adhiyatsa itu pada Sandy.“Sandy, hari ini kakak dateng sama keluarga kecil kakak,” ucap Kara.“Halo, Aunty Sandy. Kenalin… aku Gestara dan Garistha. Dua ponakan aunty yang lucu, imut, dan menggemaskan,” lanjut Diandra, dengan suara imut yang dibuat-buat seolah dirinya adalah kedua bayi kembar itu.“Mereka lucu, kan? Kakak inget banget kalo kamu suka anak kecil. Dan kalo kamu masih ada, kamu juga pasti bakal suka dan sayang banget sama mereka. Garistha cantik, menyenangkan, dan suka menyapa siapa pun, persis kayak maminya. Sedangkan Gestara, dia ganteng, lucu, dan gampang bikin orang jatuh cinta, persis juga sama maminya. Tapi nggak apa-apa, kakak seneng kalo kedua anak kakak ini mirip maminya semua. Karena rumah akan jadi lebih rame, kan?” Kata Sangkara panj
“Aku… nggak… kuat…”Kalimat itu membuat lutut Kara melemah. Ia hampir runtuh, namun tetap menahan dirinya agar tetap bisa berdiri di sisi ranjang. Berusaha tetap kuat, demi istrinya, dan calon anak mereka.Dokter kembali memberi instruksi, “Once again Mrs. Adhiyatsa. Kepala bayi sudah terlihat.”Kara menutup mulutnya dengan tangan, tangisnya nyaris pecah.Sedikit lagi.Kontraksinya datang lagi. Diandra mencengkeram tangannya sendiri sampai buku jarinya memutih. Ia mengumpulkan sisa tenaga dan mendorong sekali lagi. Seluruh tubuhnya menegang. Punggungnya terangkat ke atas, napasnya pendek-pendek, seperti setiap udara yang masuk rasanya selalu kurang.Teriakannya pecah, menggema ke seluruh ruangan, namun ia tak peduli.Kara ikut gemetar, namun tetap mencoba menopang Diandra dari samping. Suara erangan berat keluar lagi dari mulut Diandra. Wajahnya sudah pucat sempurna, namun kontraks
“Mas Vincent kapan dateng?” Tanya Diandra setelah melihat Vincent sudah duduk tenang di sofa ruang tamunya.Vincent meletakkan cangkir kopi dari tangannya ke atas meja di depannya sebelum menjawab, “Baru satu jam yang lalu, mba.”Diandra mengangguk dengan mulut membentuk seperti huruf O.“Personal Assistant buat aku udah dapet?” Kali ini Diandra duduk di sofa di seberang Vincent.“Sudah, mba. Ada beberapa kandidat yang menurut saya sudah oke. Saya juga sudah kasih tahu mereka kalau hari ini Mba Diandra akan melakukan wawancara online dengan mereka.”“Aku mau liat portofolionya dulu, dong. Wawancaranya masih satu jam lagi, kan?” Diandra menengadahkan tangan dan mengambil Ipad dari tangan Vincent. Menggeser krusor untuk melihat-lihat portofolio calon PA-nya nanti.“Cuma ada tiga?”“Betul, mba. Dari 150 email yang masuk, hanya tiga it
“Seneng, ya, akhirnya bisa liat mereka sama-sama kayak gini,” Seno berbicara setengah berbisik, wajahnya menempel erat di leher Laviena.Mereka tengah mengamati dari salah satu balkon rumah Diandra, dengan Seno yang berdiri sambil memeluk Laviena dari belakang, dan meletakkan wajahnya di ceruk leher gadis itu.Istirahat lebih awal hanya menjadi alasan saja, karena mereka ingin memberikan waktu untuk Gavin dan Claudia agar bisa mengobrol dan menyelesaikan masalah mereka. Baik Lavie maupun Seno, merasa tak nyaman dengan sikap canggung yang selama ini ditunjukkan oleh keduanya.Gavin yang selalu menempel pada Claudia, namun Claudia selalu berusaha menjaga jarak. Tapi pada akhirnya masalah mereka bisa diselesaikan baik-baik, hingga Lavie dan Seno bisa melihat pemandangan indah itu sekarang. Dimana kedua sahabatnya itu saling menatap penuh cinta, memeluk, bahkan berciuman.Meskipun keduanya tidak dapat mendengar apa yang sedang dibicarakan oleh mer
Sepasang nama terbesit di otak jenius Kara tanpa aba-aba, “Gestara Adhiyatsa dan Garistha Adhiyatsa,” ucapnya dengan bangga.Nama itu muncul begitu saja, indah dan tentunya penuh makna.“Bagus, artinya apa?” Tanya Marcel yang lebih dulu, merasa penasaran dengan pemilihan nama putranya.“Nggak tau, nanti coba aku cari di internet,” Kara mengedikkan bahu.“Kebiasaan ngomong dulu baru mikir,” Seno memutar bola matanya kesal.“Kebalik, justru gue mikir dulu baru ngomong,” sahut Kara tak mau kalah.“Gestara, memiliki arti seseorang yang memiliki pemikiran luas dan jiwa seni tinggi. Garistha, sering diartikan sebagai seseorang yang unggul, terhormat, dan terbaik. Adhiyatsa, of course karena mereka keturunan Adhiyatsa,” ucap Gavin, menafsirkan arti nama calon anak Kara setelah melakukan pencarian panjang di internet.“Good job, gue bilang juga apa. Artinya pasti bagus. Secara penyebutan dan kedengerannya di kuping gue aja bagus,” Kara menarik ujung kaos atasnya, memamerkan kejeniusannya bahka
“Bukan tidak boleh sama sekali. Tidak ada yang melarang, hanya saja intensitasnya perlu dikurangi dan juga… jangan terlalu keras,” lanjut Dokter Kenneth, merasa tak tega juga melihat wajah memelas Sangkara.“It’s oke, dok. Asalkan istri dan anak saya sehat dan selamat sampai proses kelahiran nanti, saya akan melakukan apapun untuk mereka.”“Sounds good. Once again, congratulation Mr. and Mrs. Adhiyatsa.”Selesai berkonsultasi, Kara dan Diandra meninggalkan rumah sakit dengan mobil mereka. Kara menyetir sendiri setelah sebelumnya ia menjemput Diandra lebih dulu di rumah mereka. Baginya tidak ada kata lelah jika itu menyangkut istri dan juga calon anaknya. Kara serius saat ia mengatakan akan melakukan apapun untuk mereka.“Mau langsung pulang atau makan dulu?” Tanya Kara setelah ia membantu Diandra memasangkan seatbelt.“Makan dulu, ya. Aku laper banget. Ngi
“Aku nggak akan pergi. Aku akan selalu di sini. Di samping kamu, nemenin kamu.” Katanya dengan penuh kelembutan.Kara menariknya ke dalam pelukan. Memberikan kehangatan dan kenyamanan yang dibutuhkan gadis itu. Tidak membiarkan Diandra merasa bersalah untuk sesuatu yang memang
“Gue nggak akan pernah maafin lo. Bahkan nyebut nama lo aja, gue nggak sudi. Kesalahan lo itu fatal, lo bikin gue ketrigger atas luka lama gue yang udah sembuh. Kelakuan lo ini udah ngalah-ngalahin setan tau, nggak?” Kara berteriak di depan Falisha.Kalau saja Falisha
Kara menatap mata Diandra dalam, membuat gadis itu tak berkutik.“Aku cinta sama kamu, dan aku ngejalanin hubungan ini bukan untuk coba-coba, main-main, atau iseng semata. Aku mau serius, dan jadiin kamu satu-satunya perempuan aku. Satu-satunya yang akan selalu aku usahakan kebahagia
“Sangkara, apa-apaan kamu ini? Nyelonong masuk begitu saja, tidak sopan.” Pak Dekan memarahinya, namun Kara tidak peduli.“Testpack bukan cara penyelesaian yang tepat. Itu bisa menjatuhkan mental seseorang.” Lanjut Kara tanpa takut.“Kenapa kam







