MasukJantung Kara mencelos. Rasanya menyakitkan mendengar seseorang yang ia cintai mengucapkan kata-kata seperti itu tepat di depan wajahnya
“Kara, aku…” Diandra menggigit bibirnya sendiri, lalu meremas tangannya, gelisah.
Ia sadar telah salah bicara, dan sekarang ia sedang mencari kalimat yang tepat untuk memperbaikinya.
“Oke.” Satu kata itu diucapkan Kara dengan berat.
Senyumnya kecut, sorot matanya dalam, dan mengandung… luka.
Setelah itu ia pergi begitu saja, meninggalkan Diandra seorang diri, tenggelam dalam rasa bersalah yang besar.
Diandra menghela napas kasar, sambil dalam hati mengumpati diri sendiri, ‘Diandra bodoh! Bodoh! Kok bisa sih lo ngomong kayak gitu ke Sangkara. Lo itu manusia! Bukan setan!’
***
Sudah satu minggu Kara dan Diandra kembali ke stelan awal.
Jauh. Asing. Seperti orang yang tidak saling mengenal sebelumnya.
Diandra beberapa kali men
“Kenapa? Nggak suka?”“Enggak. Karena officially, dia cewek gue sekarang.” Ujar Kara penuh kemenangan.“Nggak mungkin” Gavin menggeleng tak mau percaya.“Dia belom cerita ke elo? Bukannya lo sahabatnya?” Kara tersenyum meremehkan.Gavin menarik napas dalam, kedua tangannya mengepal di sisi tubuhnya. Dadanya terasa panas menahan gejolak emosi yang membakar seluruh hatinya.“Dia selalu cerita apa pun ke gue. Ke Lavie, dan Claudia juga.”“Kalo gitu lo tanya sama Lavie dan Claudia, harusnya sih mereka udah tau sekarang,” ucapan Kara disertai dengan tatapan teduhnya ke arah Diandra yang tengah mengobrol santai bersama kedua temannya.“Maksud lo?”“Gue nggak tau, lo sengaja dikecualikan karena lo cowok atau gimana. Tapi gue udah kasih tau kenyataannya kalo gue dan Diandra udah official. Jadi stop manggil dia dengan seb
“Tas lo cuma ketumpahan minuman, tapi sikap lo ini seolah-olah kayak dunia mau kiamat besok!” ucap Diandra sarkas.“Cuma, lo bilang? Lo nggak liat tas gue ini merk apa? Chanel! Harganya 50 juta! Dan sekarang tas ini kotor karena ulah lo. Bisa ganti lo?” gadis itu mendongak penuh kesombongan.Tatapannya sinis dan terlihat sekali dirinya tidak ingin kalah dari Diandra.Diandra mendengus pelan, menyilangkan tangan di dada, lalu menatap remeh pada tas putih yang sudah kotor itu.“Tas palsu gitu… bisa bikin lo semarah ini?” Diandra menyeringai remeh.“Elo, ya—”“Tulis nomor rekening lo,” Kara menyerahkan ponselnya pada gadis berambut merah itu.Membuatnya membelalak terkejut, tidak siap dengan sikap Kara yang tiba-tiba menyodorkan ponsel dengan tampilan layar i-banking miliknya. Sedari tadi lelaki itu tidak mengatakan apa pun, namun sekalinya buka mulut, Sang
“With Sangkara,” jawab Seno memvalidasi.Sama-sama tak percaya dengan apa yang sedang mereka lihat saat ini.“Kok bisa? Kok bisa Diandra sama Sangkara—”“Udah ayok,” sebelum Lavie selesai dengan keterkejutannya, Seno lebih dulu merangkul bahunya dan mengajaknya menjauh dari tempat itu menuju kelas.“Seno, kamu tau sesuatu?”Lelaki itu menggeleng.“Kok bisa Diandra dan Sangkara pagi-pagi… mereka…” Lavie kehabisan kata-kata untuk mendeskripsikan keduanya.“Kenapa? Kamu mau juga? Ayok sini kalo iya.”“Sembarangan banget kalo ngomong,” Lavie mencubit pinggang Seno hingga lelaki itu berteriak kesakitan.“Sakit tau, Vie.”“Biarin. Sukurin. Siapa suruh otaknya mesum.”“Kok jadi aku yang mesum? Kan, temen kamu tuh yang pagi-pagi ciuman dalem mobil.”“Diem,
Suaranya lirih tapi menusuk, sebelum akhirnya bibir Kara menempel kembali dengan ganas di bibir Diandra.“Akh… Eungh…” Diandra berusaha menahan, tapi Kara lebih cepat.Kedua tangannya mengunci pergelangan tangan Diandra di belakang tubuh gadis itu, membuat Diandra tak berdaya.Ciuman itu panas, rakus. Tak ada celah untuk bernapas. Lidah Kara menyapu lembut, lalu menuntut masuk. Diandra berusaha menolak, menepis, tapi tubuhnya mulai melemah. Perlahan, ia terbuai.Dan di saat itulah, lidah mereka bertemu. Saling beradu, saling menyerang. Desahan napas bercampur, panas tubuh menular. Mereka berdua hanyut dalam ciuman dan sentuhan yang panas membara, mengabaikan Vincent yang tampak gugup dan tegang saat tanpa sengaja menyaksikan perbuatan mereka di kursi belakang melalui kaca spion di depannya.Ya, Kara memang sengaja membawa Vincent bersamanya untuk berjaga-jaga kalau dirinya mabuk dan tidak bisa menyetir sendiri.***
“Nggak… nggak mungkin,” Diandra menggeleng sambil sesekali memukul pelan kepalanya.Ia nyaris tidak memercayai telinganya sendiri.“Diandra?” suaranya makin jelas, membuat Diandra semakin yakin kalau telinganya memang tidak salah.“Kara? Sangkara?”Diandra berdiri dari sofa, mendongak untuk menatap wajah Kara yang menjulang tinggi di depannya. Diandra mencoba menajamkan pengelihatannya untuk memastikan kalau laki-laki di hadapannya saat ini memang Sangkara.“Ck, berani banget minum sendirian kayak gini. Dasar ceroboh,” Kara berkacak pinggang, dan menatap kesal pada Diandra yang sedang sempoyongan sambil sesekali berpegangan pada tubuhnya agar tetap bisa berdiri tegak.Di tengah gejolak hati yang meronta-ronta bahagia dan di antara degup jantung yang nyaris melompat keluar, Diandra memberanikan diri untuk berdiri lebih dekat pada Sangkara. Ia berjinjit dan melingkarkan tangannya di leher
Gavin dan Claudia menatap fokus pada Diandra, menunggu jawaban yang akan ia berikan pada Devano.“Sorry, tapi gue nggak bisa.” Jawab Diandra akhirnya.“Kenapa?”“Karena gue nggak punya perasaan yang sama ke lo. Maaf.”“Apa karena ada cowok lain?”Diandra diam, tidak menjawab. Sekalipun iya, Diandra juga tidak akan memberitahukannya.“Sangkara?” Diandra mendongak saat nama itu disebut.“Lo nggak serius naksir dia, kan?”“Kenapa emangnya?”“Ya, semua orang juga tau kalo dia deketin lo itu karena ada maunya doang.”“Semua orang? Siapa?”“Ya… banyaklah. Secara cewek kayak lo gini, cowok mana yang nggak naksir coba? Apalagi buat orang kayak Sangkara gitu, udah pasti dia cuma nyari untung doang dengan deketin lo.”“Bentar deh. Bukannya waktu awal ospek, lo bilang kal







