LOGIN‘Kamu ngapain?’ Tanyanya to the point, khas Sangkara sekali.
“Apanya?”
‘Aku udah bilang kalo aku nggak suka kamu jadi model untuk sportcar itu. Kenapa bandel banget, sih?’
“Kan, aku udah jawab lewat teks tadi alasannya apa. Maaf ya, sayang, kalo udah bikin kamu kepikiran,” jawabnya dengan nada manja yang dibuat-buat.
‘Nggak usah manja-manjaan dulu, ini
Sepasang nama terbesit di otak jenius Kara tanpa aba-aba, “Gestara Adhiyatsa dan Garistha Adhiyatsa,” ucapnya dengan bangga.Nama itu muncul begitu saja, indah dan tentunya penuh makna.“Bagus, artinya apa?” Tanya Marcel yang lebih dulu, merasa penasaran dengan pemilihan nama putranya.“Nggak tau, nanti coba aku cari di internet,” Kara mengedikkan bahu.“Kebiasaan ngomong dulu baru mikir,” Seno memutar bola matanya kesal.“Kebalik, justru gue mikir dulu baru ngomong,” sahut Kara tak mau kalah.“Gestara, memiliki arti seseorang yang memiliki pemikiran luas dan jiwa seni tinggi. Garistha, sering diartikan sebagai seseorang yang unggul, terhormat, dan terbaik. Adhiyatsa, of course karena mereka keturunan Adhiyatsa,” ucap Gavin, menafsirkan arti nama calon anak Kara setelah melakukan pencarian panjang di internet.“Good job, gue bilang juga apa. Artinya pasti bagus. Secara penyebutan dan kedengerannya di kuping gue aja bagus,” Kara menarik ujung kaos atasnya, memamerkan kejeniusannya bahka
“Bukan tidak boleh sama sekali. Tidak ada yang melarang, hanya saja intensitasnya perlu dikurangi dan juga… jangan terlalu keras,” lanjut Dokter Kenneth, merasa tak tega juga melihat wajah memelas Sangkara.“It’s oke, dok. Asalkan istri dan anak saya sehat dan selamat sampai proses kelahiran nanti, saya akan melakukan apapun untuk mereka.”“Sounds good. Once again, congratulation Mr. and Mrs. Adhiyatsa.”Selesai berkonsultasi, Kara dan Diandra meninggalkan rumah sakit dengan mobil mereka. Kara menyetir sendiri setelah sebelumnya ia menjemput Diandra lebih dulu di rumah mereka. Baginya tidak ada kata lelah jika itu menyangkut istri dan juga calon anaknya. Kara serius saat ia mengatakan akan melakukan apapun untuk mereka.“Mau langsung pulang atau makan dulu?” Tanya Kara setelah ia membantu Diandra memasangkan seatbelt.“Makan dulu, ya. Aku laper banget. Ngi
“Kamu serius?” Tanya Miranda lagi.“Iya mama, sayang.”“Wah, gacor amat temen gue. Baru nikah udah langsung hamil aja!” Seru Seno tanpa filter.“Iyalah, Kara,” Kara mengangkat ujung atas kaosnya dengan sikap angkuh yang dibuat-dibuat.“Good, hebat… hebat…” Seno menggelengkan kepala, mengakui kehebatan sahabatnya.“Wah, congratulation Diandra sayang, mama akan punya cucu sebentar lagi,” Miranda mendekap Diandra erat. Merasa bahagia bukan main dengan kabar kehamilan menantunya itu.“Selamat ya, Di. Gue seneng banget dengernya. Gue bakal jadi young aunty yang kece badai nanti. Selamat juga ya, tante, karena sebentar lagi akan jadi oma muda,” Lavie memeluk Diandra dan Miranda bergantian.“Selamat, Diandra. Semoga lo dan calon bayi lo sehat terus, ya. Gue seneng banget denger kabar kehamilan lo ini,” lanj
“So… how’s my wife? What’s wrong with her?” Tanya Kara setelah Dokter Kenneth selesai memeriksa Diandra.“Congratulation, Mr. Adhiyatsa. She’s pregnant,” ucapnya lugas.Kara tidak tahu harus bereaksi seperti apa. Informasi ini mengejutkannya, membuatnya mematung di depan dokter Kenneth, namun detik berikutnya ia berteriak kegirangan. Lalu berbalik menuju Diandra dan memeluknya erat, juga menciumi wajahnya berkali-kali.Dokter Kenneth menggeleng dengan senyum, lalu berbalik meninggalkan kamar pasangan suami istri itu. Membiarkan keduanya merayakan kebahagiaan mereka atas kehadiran buah hati di dalam perut Diandra.“Kamu hamil, sayang. Kita akan punya anak,” ucapnya dengan getar kebahagiaan.Diandra mengangguk, senyumnya lebar dengan air mata yang mengalir tanpa bisa ia tahan.“Makasi, sayang. Makasi,” Kara tak berhenti menciumi Diandra untuk menunjukkan kebahagiaan serta kasih sayangnya.Dari semua hal yang membahagiakan dalam pernikahan mereka, kehamilan Diandra ada di daftar nomor du
Napas Diandra tercekat. Sejak menikah, Kara memang tidak pernah menyaring apapun. Semua yang ia pikirkan di kepalanya, itu juga yang keluar dari mulutnya.“K-kenapa buru-buru? Kita, kan, baru aja sampe?” Diandra merasa gugup, namun sebisa mungkin mengontrol ekspresi wajah dan tone suaranya tetap tenang.“Nggak sabar denger kamu mendesah panjang,” ucapnya lirih.“Kara!” Seru Diandra spontan, wajahnya memerah sampai ke telinga.Ia menepuk bahu Kara pelan, tapi suaminya itu hanya terkekeh kecil, seolah menikmati setiap reaksi istrinya.“Kamu harus kerja keras malem ini, sayang.” Gumam Kara dengan nada usil, sudut bibirnya terangkat nakal.“Kamu lupa, ya, kemaren dokter bilang apa? Aku masih proses recovery dan butuh banyak waktu buat istirahat,” balas Diandra cepat, berusaha terdengar tegas meski suaranya goyah.“Kita nggak bisa ngelakuin itu—”“Nggak bisa ngelakuinnya dengan kasar dan terlalu sering,” potong Kara cepat.Ia menatap mata Diandra sambil mengusap ujung rambutnya yang jatuh
Diandra menggeleng, “Enggak sama sekali. Aku malah bersyukur, karena dengan begitu, kita jadi semakin deket, pacaran, sampe menikah kayak sekarang. Makasi ya karena udah berjuang.”“Selalu, sayangku.”Kara yang memulai, ciuman itu yang awalnya lembut dan pelan. Kemudian berubah menjadi panas dan liar. Lagi. Kara kesusahan menahan dirinya sendiri untuk tidak mencumbu Diandra di sembarang tempat. Yang mana orang lain bisa saja melihat perbuatannya. Namun sisi otaknya yang lain mengacuhkanya.Diandra adalah istrinya, jadi ia merasa berhak untuk mencium dan mencumbunya di mana saja.***Kara berbaring dalam gelap, terjaga sementara Diandra tidur. Istrinya itu merapat manja kepadanya dan sekarang lengan ramping Diandra memeluk pinggang Kara. Kepala Diandra terbenam pada bahunya sambil bernapas lembut.Aroma tubuh Diandra masuk ke benak dan mengaburkan pikirannya. Wangi yang sangat disukainya itu selalu berhasil membuatnya lupa diri. Udara malam i
“Gue aja,” ucapnya singkat, namun tatapannya lurus tajam ke arah Devano yang tiba-tiba merasa kikuk dan ciut.Devano bingung pada dirinya sendiri, bagaimana bisa ia merasa segan dengan lelaki itu. Sejak kapan?“Akh, Kara! Aku bukan karung!” Serunya sambil beb
Arseno, selain sebagai mantan pacar Lavie, lelaki itu juga adalah satu-satunya sahabat Kara sejak dulu. Ia tampan, memesona dan kaya raya tentu saja. Seno suka olah raga, ramah, namun sedikit bermasalah dengan temperamennya. Ia gampang tersulut emosi dan suka memukul orang saat suasana hatinya se
Diandra dan kedua temannya mengangguk, lalu menunggu dengan sabar hingga wanita muda nan cantik itu muncul kembali ke hadapan mereka.“Dibayar menggunakan American Express atas nama Sangkara Adhiyatsa.”Laviena dan Claudia saling pandang sambil menutup mulut tak percaya, se
“Emang gitu dia tuh. Cemburuan, posesif, untung anak sendiri, jadi yaaa gimana.”Mereka semua tertawa, kecuali Kara yang memilih membuang muka ke mana saja karena menahan malu.“Mama nih ah, anak sendiri bisa-bisanya diroasting.”“Helena







