مشاركة

82. Istri Kedua?

مؤلف: Renata Respati
last update تاريخ النشر: 2026-03-06 21:00:00

“Diandra,” Diandra menyambut dengan sedikit enggan.

“Tante ini, istri kedua daddy kamu.” Ucapnya kemudian.

Rasanya, Diandra seperti baru saja disambar petir. Otaknya seolah beku untuk mencerna informasi dadakan itu. Bibirnya kelu sehingga ia tidak dapat mengatakan apa pun setelahnya.

Ia masih berduka. Kesedihannya juga belum hilang. Bahkan makam kedua orang tuanya pun belum kering.

Tapi ini apa? Tiba-tiba saja ada wanita asing datang ke ruma

استمر في قراءة هذا الكتاب مجانا
امسح الكود لتنزيل التطبيق
الفصل مغلق

أحدث فصل

  • Si Tampan yang Posesif   142. Epilog 1

    Kara dan Diandra menatap nisan putih di depannya. Masing-masing dari mereka menggendong satu orang buah hatinya. Garistha bersama Kara, sedangkan Gestara bersama Diandra. Mereka tersenyum saat memperkenalkan anggota baru Keluarga Adhiyatsa itu pada Sandy.“Sandy, hari ini kakak dateng sama keluarga kecil kakak,” ucap Kara.“Halo, Aunty Sandy. Kenalin… aku Gestara dan Garistha. Dua ponakan aunty yang lucu, imut, dan menggemaskan,” lanjut Diandra, dengan suara imut yang dibuat-buat seolah dirinya adalah kedua bayi kembar itu.“Mereka lucu, kan? Kakak inget banget kalo kamu suka anak kecil. Dan kalo kamu masih ada, kamu juga pasti bakal suka dan sayang banget sama mereka. Garistha cantik, menyenangkan, dan suka menyapa siapa pun, persis kayak maminya. Sedangkan Gestara, dia ganteng, lucu, dan gampang bikin orang jatuh cinta, persis juga sama maminya. Tapi nggak apa-apa, kakak seneng kalo kedua anak kakak ini mirip maminya semua. Karena rumah akan jadi lebih rame, kan?” Kata Sangkara panj

  • Si Tampan yang Posesif   141. Adhiyatsa's New Generation

    “Aku… nggak… kuat…”Kalimat itu membuat lutut Kara melemah. Ia hampir runtuh, namun tetap menahan dirinya agar tetap bisa berdiri di sisi ranjang. Berusaha tetap kuat, demi istrinya, dan calon anak mereka.Dokter kembali memberi instruksi, “Once again Mrs. Adhiyatsa. Kepala bayi sudah terlihat.”Kara menutup mulutnya dengan tangan, tangisnya nyaris pecah.Sedikit lagi.Kontraksinya datang lagi. Diandra mencengkeram tangannya sendiri sampai buku jarinya memutih. Ia mengumpulkan sisa tenaga dan mendorong sekali lagi. Seluruh tubuhnya menegang. Punggungnya terangkat ke atas, napasnya pendek-pendek, seperti setiap udara yang masuk rasanya selalu kurang.Teriakannya pecah, menggema ke seluruh ruangan, namun ia tak peduli.Kara ikut gemetar, namun tetap mencoba menopang Diandra dari samping. Suara erangan berat keluar lagi dari mulut Diandra. Wajahnya sudah pucat sempurna, namun kontraks

  • Si Tampan yang Posesif   140. Kontraksi

    “Mas Vincent kapan dateng?” Tanya Diandra setelah melihat Vincent sudah duduk tenang di sofa ruang tamunya.Vincent meletakkan cangkir kopi dari tangannya ke atas meja di depannya sebelum menjawab, “Baru satu jam yang lalu, mba.”Diandra mengangguk dengan mulut membentuk seperti huruf O.“Personal Assistant buat aku udah dapet?” Kali ini Diandra duduk di sofa di seberang Vincent.“Sudah, mba. Ada beberapa kandidat yang menurut saya sudah oke. Saya juga sudah kasih tahu mereka kalau hari ini Mba Diandra akan melakukan wawancara online dengan mereka.”“Aku mau liat portofolionya dulu, dong. Wawancaranya masih satu jam lagi, kan?” Diandra menengadahkan tangan dan mengambil Ipad dari tangan Vincent. Menggeser krusor untuk melihat-lihat portofolio calon PA-nya nanti.“Cuma ada tiga?”“Betul, mba. Dari 150 email yang masuk, hanya tiga it

  • Si Tampan yang Posesif   139. Cinta Lama Pemenangnya

    “Seneng, ya, akhirnya bisa liat mereka sama-sama kayak gini,” Seno berbicara setengah berbisik, wajahnya menempel erat di leher Laviena.Mereka tengah mengamati dari salah satu balkon rumah Diandra, dengan Seno yang berdiri sambil memeluk Laviena dari belakang, dan meletakkan wajahnya di ceruk leher gadis itu.Istirahat lebih awal hanya menjadi alasan saja, karena mereka ingin memberikan waktu untuk Gavin dan Claudia agar bisa mengobrol dan menyelesaikan masalah mereka. Baik Lavie maupun Seno, merasa tak nyaman dengan sikap canggung yang selama ini ditunjukkan oleh keduanya.Gavin yang selalu menempel pada Claudia, namun Claudia selalu berusaha menjaga jarak. Tapi pada akhirnya masalah mereka bisa diselesaikan baik-baik, hingga Lavie dan Seno bisa melihat pemandangan indah itu sekarang. Dimana kedua sahabatnya itu saling menatap penuh cinta, memeluk, bahkan berciuman.Meskipun keduanya tidak dapat mendengar apa yang sedang dibicarakan oleh mereka, namun setidaknya Lavie dan Seno merasa

  • Si Tampan yang Posesif   138. Cinta Baru Pemenangnya

    Sepasang nama terbesit di otak jenius Kara tanpa aba-aba, “Gestara Adhiyatsa dan Garistha Adhiyatsa,” ucapnya dengan bangga.Nama itu muncul begitu saja, indah dan tentunya penuh makna.“Bagus, artinya apa?” Tanya Marcel yang lebih dulu, merasa penasaran dengan pemilihan nama putranya.“Nggak tau, nanti coba aku cari di internet,” Kara mengedikkan bahu.“Kebiasaan ngomong dulu baru mikir,” Seno memutar bola matanya kesal.“Kebalik, justru gue mikir dulu baru ngomong,” sahut Kara tak mau kalah.“Gestara, memiliki arti seseorang yang memiliki pemikiran luas dan jiwa seni tinggi. Garistha, sering diartikan sebagai seseorang yang unggul, terhormat, dan terbaik. Adhiyatsa, of course karena mereka keturunan Adhiyatsa,” ucap Gavin, menafsirkan arti nama calon anak Kara setelah melakukan pencarian panjang di internet.“Good job, gue bilang juga apa. Artinya pasti bagus. Secara penyebutan dan kedengerannya di kuping gue aja bagus,” Kara menarik ujung kaos atasnya, memamerkan kejeniusannya bahka

  • Si Tampan yang Posesif   137. Gender Reveal

    “Bukan tidak boleh sama sekali. Tidak ada yang melarang, hanya saja intensitasnya perlu dikurangi dan juga… jangan terlalu keras,” lanjut Dokter Kenneth, merasa tak tega juga melihat wajah memelas Sangkara.“It’s oke, dok. Asalkan istri dan anak saya sehat dan selamat sampai proses kelahiran nanti, saya akan melakukan apapun untuk mereka.”“Sounds good. Once again, congratulation Mr. and Mrs. Adhiyatsa.”Selesai berkonsultasi, Kara dan Diandra meninggalkan rumah sakit dengan mobil mereka. Kara menyetir sendiri setelah sebelumnya ia menjemput Diandra lebih dulu di rumah mereka. Baginya tidak ada kata lelah jika itu menyangkut istri dan juga calon anaknya. Kara serius saat ia mengatakan akan melakukan apapun untuk mereka.“Mau langsung pulang atau makan dulu?” Tanya Kara setelah ia membantu Diandra memasangkan seatbelt.“Makan dulu, ya. Aku laper banget. Ngi

  • Si Tampan yang Posesif   42. Diandra Jadi Model?

    “Emang gitu dia tuh. Cemburuan, posesif, untung anak sendiri, jadi yaaa gimana.”Mereka semua tertawa, kecuali Kara yang memilih membuang muka ke mana saja karena menahan malu.“Mama nih ah, anak sendiri bisa-bisanya diroasting.”“Helena

    last updateآخر تحديث : 2026-03-24
  • Si Tampan yang Posesif   43. Party (1)

    “Apaaaa?” Suaranya pelan disertai desahan, sepertinya Diandra sadar kalau Kara sedang berjuang sekuat tenaga menahan diri, jadi ia sengaja menggodanya.“Berani banget kamu?”“Berani apa?” Tanyanya pura-pura polos.“Please.&rd

    last updateآخر تحديث : 2026-03-24
  • Si Tampan yang Posesif   40. CLBK?

    “Nggak mau,” katanya tegas.Namun bukannya luluh, Lavie justru tertawa terbahak, sampai nyaris tersedak oleh salivanya sendiri.“Jadi aku ditolak lagi nih?” Tanyanya dengan wajah cemberut yang dibuat-buat.“Iya.”“Tega banget e

    last updateآخر تحديث : 2026-03-24
  • Si Tampan yang Posesif   36. Spotlight Part Kesekian

    “Udah dijodohin dari lama,” lanjut Diandra, tak sabar menunggu Falisha menyelesaikan kalimatnya.“Lo ngomong gitu, Fal?”“Itu… aku…”“Falisha.” Suara Kara meninggi dan semakin tegas.Membuat nyali Falisha ci

    last updateآخر تحديث : 2026-03-23
فصول أخرى
استكشاف وقراءة روايات جيدة مجانية
الوصول المجاني إلى عدد كبير من الروايات الجيدة على تطبيق GoodNovel. تنزيل الكتب التي تحبها وقراءتها كلما وأينما أردت
اقرأ الكتب مجانا في التطبيق
امسح الكود للقراءة على التطبيق
DMCA.com Protection Status