LOGINDiandra merasa lega dan sangat terberkati. Ia tidak tahu bagaimana harus berterima kasih. Marcel dan Kara benar-benar menunjukkan kalau mereka selalu ada untuknya dan tidak pernah meninggalkannya. Diandra jadi bertanya-tanya dalam hati, bagaimana cara mereka merencanakan semuanya dalam waktu sesingkat ini.
Tapi mengingat jam terbang Kara dan papanya di dunia bisnis, Diandra menyadari, kalau semua ini bisa menjadi mungkin, sangat mungkin.
Diandra tersenyum, namun sedetik kemudian
“Kamu kenapa nanya gitu?” Alis Kara berkerut kasar.“Mau make sure aja, mas. Secara, kan, jumlahnya nggak sedikit. Kalo ditotal semuanya, ada sekitar 60% dari keseluruhan asset Mas Kara yang akan diberikan ke Mba Diandra.”“Kamu kenal aku berapa lama?”“Maaf, mas. Saya nggak bermaksud apa-apa, cuma mau mastiin aja, karena menurut saya, 60% dari total asset itu sangat besar nilainya.”“Semua asset itu nggak berarti apa-apa dibanding Diandra. Selama dia mau nikah sama aku, asset berapapun nggak masalah. Lagian dengan sisa 40% juga nggak bikin aku langsung jatuh miskin.”“Beruntung sekali ya Mba Diandra, dicintai ugal-ugalan sama Mas Kara.”“Ralat. Aku yang beruntung, karena dapetin dia di hidup aku.”“Kalo gitu, kalian pasangan yang sama-sama beruntung. Saya jadi terharu sekaligus seneng liatnya. Semoga hubungan kalian langgeng sampe kakek
Claudia menggeleng.“Gue udah coba buat lupain dan kubur dalem-dalem perasaan gue ke lo, tapi semakin kita deket, perasaan itu justru tumbuh semakin besar. Maaf, kalo gue udah bikin lo nggak nyaman.”“Kok bisa lo nyembunyiin hal ini selama bertahun-tahun dari gue. Hati lo itu terbuat dari apa? Lo bahkan selalu ada dan menjadi pendengar yang baik tiap kali gue curhat soal Diandra, soal perasaan gue ke dia. Padahal lo tau kalo hal itu pasti nyakitin hati lo, tapi lo lebih milih diem dan ngerasain sakitnya sendiri.” Ucap Gavin panjang lebar.“Because you were too busy loving someone else to notice me.”Gavin terdiam, ucapan Claudia ada benarnya.“I’m so sorry, Clau. Because I never knew before.”“It’s okay, I’m fine. Even loving you was a torture, but I enjoyed it all too much. But, can I convince you to stay?”Gavin
Claudia merutuki kebodohannya yang telah berani melempar pertanyaan seperti itu pada Gavin.“Masih.” Gavin mengangguk kecil.Deg.“Sebagai temen, rasa sayang gue ke dia nggak berubah. Tapi sebagai laki-laki yang pernah melihat dia sebagai seorang perempuan, kayaknya enggak, udah cukup sekali aja gue ditolak. Lagipula mereka juga akan segera nikah. Bodoh banget gue kalo masih ngarepin cintanya Diandra yang jelas-jelas nggak pernah ada buat gue.”“Eh, kok lo malah nangis?” Kepanikan menyelimuti Gavin saat melihat Claudia meneteskan air mata tanpa alasan.“Gue terharu, ngeliat lo bisa menghadapi perasaan lo sedewasa itu.”“Yaelah, Clau. Gue kira kenapa. Biasa aja kali, gue juga masih belajar, kok.” Gavin menghela napas lega.“Kalau misalnya, suatu saat nanti Diandra dateng ke lo, di saat lo udah move on, apa yang bakal lo lakuin?” Claudia menatap dengan hara
“Kamu itu spesial, kamu punya segalanya. Kehidupan kamu normal dan jauh dari hal-hal toxic. Sementara aku… my life totally different from you. Kamu terbiasa berada di tempat yang tinggi, rasanya mustahil buat aku menggapai kamu.”“Apanya yang mustahil?” Seno menurunkan tone suaranya begitu mendengar suara Lavie bergetar dan tampak emosional.Ia tahu, gadis itu sedang berada di mode survivalnya.“Aku tau kamu takut, aku tau kamu bingung, tapi please, kasih aku kesempatan untuk bawa kamu keluar dari lingkaran toxic itu.”“Tapi aku banyak kurangnya,” Lavie menghapus air matanya lagi.“Kamu percaya sama aku?” Lavie menatap ke dalam mata Seno, lalu mengangguk sekali.Hal itu membuat Seno yakin, kalau gadis itu masih memiliki perasaan yang sama untuknya, sejak bertahun-tahun yang lalu.“Terus? Kenapa selama ini sela
“Enggak,” Kara menggeleng tegas.“Kamu aja ini masih belom sembuh, berani-beraninya minta ujan-ujanan.” Tolaknya.“Sekali aja, Karaaaa.”“Enggak, Diandra.” Kara masih bertahan dengan penolakannya.Entah apa lagi yang akan dilakukan gadis itu kalau Kara terus menerus menolaknya seperti ini.“Kamu masih sakit, dan aku nggak mau kamu kenapa-napa.”“Kara…”“Sorry, kali ini aku nggak akan tergoda,” ucapnya, mengabaikan panggilan Diandra yang terdengar manja.“Hm, susah deh. Ya udah kalo gitu aku mau balik ke kampus aja.”“Ngapain?” Alis Kara berkerut sambil tetap mendorong kursi roda Diandra.“Mau liat pertandingan soccer, emangnya kamu nggak mau support sahabat kamu apa?”“Kalo yang itu boleh, karena nggak bahaya,” Kara mengangguk setuju.**
“Karena kalo sampe lo ngapa-ngapain dia, atau kalo lo sampe bikin Diandra nangis dan patah hati. Gue akan jadi orang pertama yang nyari dan hajar lo habis-habisan. Bukan cuma itu, gue juga akan langsung rebut dia dari lo saat itu juga,” ucapnya penuh penekanan.“Oh, waw. Serem juga ya ancaman lo. Agak merinding nih gue. Tapi lo tenang aja, tanpa lo kasih tau pun, gue tetep akan ngelakuin semua yang terbaik buat Diandra. Itu janji gue ke mendiang orang tuanya.”“Good, seenggaknya gue tenang karena ngelepas sahabat terbaik gue sama lo.”“Yeah, thank’s. Satu lagi, gue harap lo akan selalu siap buat jadi groomsman di acara nikahan gue sama Diandra nanti.”“Hah? Nikah? Kapan?” Gavin melongo tak percaya.“Setelah lulus, di Itali.”“Wow, kenapa buru-buru banget, sih? Diandra oke? Nikah setelah lulus? Nggak kemudaan tuh?” Gavin tak bisa menahan diri untuk tidak banyak bertanya.Kara menggeleng acuh, “Enggak sama sekali. Dan funfact-nya, lo adalah orang pertama yang gue kasih tau… kayaknya.”‘
Arseno, selain sebagai mantan pacar Lavie, lelaki itu juga adalah satu-satunya sahabat Kara sejak dulu. Ia tampan, memesona dan kaya raya tentu saja. Seno suka olah raga, ramah, namun sedikit bermasalah dengan temperamennya. Ia gampang tersulut emosi dan suka memukul orang saat suasana hatinya se
“Emang Kara di mana?”“Di rumah sakit, mba.”“Apa?” Debaran jantung Diandra semakin menjadi-jadi saat mendengar jawaban Vincent yang singkat-singkat itu.“Nanti biar Mas Kara yang cerita sendiri ke Mba Diandra,” ada kelegaan men
“Gue aja,” ucapnya singkat, namun tatapannya lurus tajam ke arah Devano yang tiba-tiba merasa kikuk dan ciut.Devano bingung pada dirinya sendiri, bagaimana bisa ia merasa segan dengan lelaki itu. Sejak kapan?“Akh, Kara! Aku bukan karung!” Serunya sambil beb
“Can you guys, stop it doing noisy?” Mereka menoleh dan mendapati Laviena yang baru saja bergabung lagi dengan mereka.“Lo ke toiletnya lama bener. Gue sampe habis cupcake satu sama orange juice satu.” Ucap Diandra.“Biasalah







