登入
Aroma bunga dan tanah basah tercium jelas seolah menusuk indra penciuman. Rosalyn Anderson, perempuan berusia 26 tahun itu hanya berdiri kaku di depan liang lahat mendiang ibunya.
Prosesi pemakaman telah usai, kerumunan pelayat mulai menipis, menyisakan keheningan yang menyesakkan dan hanya menyisakan kerabat dekat. Di samping gundukan tanah merah yang baru, Rosalyn berdiri tegak. Mengenakan gaun hitam khas pemakaman, wajah cantik Rosalyn masih terlihat sempurna, hanya saja wajahnya begitu datar, tanpa setetes pun air mata yang menetes. "Keluarga suaminya tidak ada yang datang." "Suaminya tidak datang? Bahkan ibu mertuanya pun juga tidak ada." "Tapi dia sendiri tidak menangis... aneh sekali." Rosalyn mendengar semua bisikan itu, namun ia tidak bergeming. Ia hanya menatap dingin batu nisan yang kini menancap kokoh di atas gundukan tanah. Nama ibunya terukir jelas di sana, seolah memberikan fakta bahwa ibunya sudah terkubur di bawah sana. Bahkan sampai akhir, William tidak juga datang. Tiba-tiba, sudut bibir Rosalyn terangkat membentuk senyum tipis, nyaris tak terlihat, namun penuh ejekan yang kejam. Ia menunduk, matanya menatap tajam ke arah nisan sang ibu. "Jadi, apakah ini yang Ibu inginkan?" bisiknya pelan, suaranya sedingin angin yang berembus. Seketika ingatannya terlempar ke masa lalu, suara-suara tajam ibunya memenuhi kepalanya seperti kaset rusak. "Jadilah perempuan yang penurut Rosalyn, maka ibu akan menyayangimu." "Kamu harus jadi perempuan yang lemah lembut dan penurut, Rosalyn." "Rosalyn, jangan pernah membangkang, atau ibu tidak akan menyayangimu lagi!" Ia teringat lagi bagaimana ibunya selalu mengancam. Wajah ibunya yang mengeras, tatapan tajamnya yang seolah mampu membunuh putri satu-satunya jika tidak menurut. Tapi sekarang, Ibu sudah mati. Tidak ada lagi alasan untuk tetap menjadi wanita penurut yang bodoh itu. Tidak ada alasan lagi untuk tetap menjadi wanita sempurna seperti yang diinginkan ibunya. Tekad membaja mengisi hati Rosalyn yang kosong. Senyum sinis itu semakin mengembang. "Aku tidak akan diam lagi setelah ini, Ibu," bisiknya, sebuah janji yang disematkan di atas pusara. "Aku akan membalas semua orang yang sudah menginjak-injakku selama ini." Setelah pemakaman selesai, Rosalyn akhirnya kembali ke mansion keluarga Collin. Langkah kakinya terdengar hampa di lantai marmer yang mengilap, namun di dalamnya tersimpan kekuatan yang tak terduga. Baru saja ia membuka pintu utama, suara tawa riuh, denting gelas, dan musik yang ceria menyambutnya. Pesta di ruang tamu, yang sudah dimulai sebelum ia berangkat ke pemakaman, ternyata belum selesai. Ibu mertuanya, Hanna, dan adik iparnya, Clara, sedang asyik bergosip ria dengan kumpulan ibu-ibu sosialita lainnya. Mereka tertawa lepas, menikmati hidangan dan minuman mahal, seolah sedang merayakan pesta alih-alih datang ke pemakaman besan mereka. "Oh, itu si mandul sudah pulang," bisik salah satu wanita, cukup keras hingga Rosalyn bisa mendengarnya. Tapi Rosalyn mengabaikan. Ia terus melangkah melewati mereka, namun pandangannya tertuju pada sebuah guci antik tinggi yang berdiri kokoh di sudut ruangan. Guci itu adalah warisan keluarga Collin yang bernilai fantastis. Rosalyn tersenyum sinis; tanpa peringatan, ia meraih guci itu. Dalam sekejap, ia membanting guci mahal itu ke lantai marmer di tengah-tengah kerumunan. PRANGG! Suara pecahan guci itu menggema memecah keheningan, menghentikan tawa riuh Hanna dan teman-temannya seketika. Serpihan keramik berserakan dimana-mana, memantulkan cahaya lampu gantung yang mewah. Suasana seketika kacau. Para wanita sosialita menjerit kaget, dan Hanna dan Clara menatap Rosalyn dengan mata terbelalak, syok dengan tindakan yang sama sekali tidak mereka duga. Rosalyn tidak peduli. Wajahnya tetap datar, tanpa ekspresi, seolah yang ia pecahkan hanyalah segelas air biasa. "Rosalyn! Apa yang kau lakukan?! Kau sudah gila?!" teriak Hanna dengan suara yang melengking tinggi. Ia tak menyangka menantu yang selama ini diam dan lemah tiba-tiba melakukan hal gila seperti ini. Tapi Rosalyn tidak menjawab. Ia hanya terus melangkah, melewati pecahan-pecahan guci itu. Berjalan menuju koridor panjang tempat ruang kerja suaminya berada. Pikirannya yang kalut, tanpa sadar membawa langkahnya menuju ruang kerja William dengan cepat. Tapi sampai di sana, ia hanya diam saat kembali melihat pemandangan menyakitkan itu. Pintu ruang kerja William sedikit terbuka, dan dari celah itu, terdengar desahan-desahan yang familiar. Rosalyn berhenti di ambang pintu. Sebuah adegan vulgar terpampang jelas di hadapannya. William, tengah bercumbu mesra dengan selingkuhannya, Irene Angel, artis papan atas yang karirnya kini sedang merangkak naik. Sofa berantakan, pakaian berserakan, aroma parfum murahan Irene seketika menusuk hidungnya. Melihat itu, napas Rosalyn tak bergeming. Wajahnya tetap datar, tanpa ekspresi, seolah yang ia lihat hanyalah dua patung tak bernyawa. Perasaannya terhadap William seolah sudah mati, terkubur di bawah tumpukan kekecewaan dan penindasan selama bertahun-tahun. "William," panggil Rosalyn dengan suara yang datar, nyaris tanpa emosi. Ia bergerak masuk dengan santai. Melihat kedatangan Rosalyn, William, dan Irene sontak terlonjak kaget. Mereka tak sempat menyembunyikan apa pun, hanya sebuah baju yang ia tarik asal untuk menutupi tubuh telanjang keduanya. "K-kamu sudah pulang?" Tanya William dengan kaget, ia tak berpikir pemakaman selesai secepat itu. "Bagaimana dengan pemakaman ibu?" Tanyanya lagi sambil bergerak bangkit menuju Rosalyn. Tapi saat ia ingin memegang tangan Rosalyn, tubuh Rosalyn mundur seolah jijik dengan tatapan aneh yang tak pernah ia lihat sebelumnya. Rosalyn hanya diam sambil menatap dingin William; tatapannya beralih ke belakang, di mana Irene tersenyum kemenangan seolah mengejek dirinya. "Aku ingin cerai." Dua kata itu meluncur lugas dari bibirnya; dia menatap William tajam penuh kebencian.DOR!DOR!DOR!!Suara tembakan bergema satu per satu, peluru tajam yang ditembakkan itu merangsek masuk ke dalam papan skor yang sudah disiapkan. Saat tembakan terakhir dilepaskan, peluru itu tepat masuk sempurna di tengah angka 10, sontak teriakan penuh kegembiraan terdengar.“YEAY BUNDA HEBAT!”Rosalyn sontak tersenyum saat mendengar pujian anaknya. Ia langsung mengamankan pistolnya saat bocah laki-laki itu berlari ke arahnya.“Jangan berlari, nanti kamu jatuh-!“Varo!”Rosalyn berteriak panik saat melihat anaknya tersandung, dan hampir saja menghantam tanah. Beruntung sebuah tangan besar meraihnya dan mengangkatnya dengan mudah.Wajah bocah yang sebelumnya dipenuhi ketakutan itu sontak tersenyum cerah saat merasakan aman, apalagi saat melihat siapa yang sudah menyelamatkan dirinya.“HEHE AYAH!!” Teriak bocah itu senang dan langsung memeluk leher dan mengecup pipi ayahnya singkat.“Kapan ayah pulang? Varo kira hari ini ayah nggak pulang lagi.” Tanya bocah itu dengan lucu.“Ayah tent
Rosalyn kembali linglung, ia tidak mengerti lagi yang dikatakan Sean.Menyadari kebingungan Rosalyn, Sean kembali merangkul Rosalyn dan menuntun nya pelan ke arah tempat duduk taman yang tak jauh dari mereka berdiri sekarang.“Aku akan ceritakan semuanya, tapi janji kau harus mendengarkan tanpa memotong sedikitpun.” Ucap Sean serius sambil mendudukkan Rosalyn pada kursi taman.Sean duduk disamping Rosalyn, tangannya tak lepas sedikitpun menggenggam tangan dingin Rosalyn.“Kamu menyelamatkanku Rose, tanpamu mungkin aku sudah kehilangan nyawaku waktu itu.” Ucap Sean dengan pandangan yang menerawang jauh.FlashbackDRAP .. DRAP.. DRAP..Suara langkah kaki bergema keras di lorong gang sempit yang gelap. Seorang pria berlari dengan penuh luka ditubuhnya, pakaian yang dikenakannya hampir robek dan kotor terkena darah. Wajahnya yang dipenuhi lebam dan darah terlihat menyeramkan tanpa pencahayaan di gang yang gelap, meskipun kakinya pincang, ia tetap berlari sekuat tenaga.Di Belakangnya, beb
"Apa maksudmu, Ros?" Sean mengernyit dan menatap Rosalyn dengan kerutan bingung di dahinya. "Kenapa kamu masih ada di sini?" ulang Rosalyn lirih. Seolah tak mampu menatap wajah Sean, ia kini menunduk dan menatap lantai yang dingin dengan mata berair. “Kamu sudah tahu aku yang sebenarnya, kau sudah melihat semuanya Sean.” “Rosaly-” “Pergilah. Aku bisa mengurus anakku sendiri.” Ucap Rosalyn mantab sambil berbalik pergi, meskipun langkahnya masih tertatih-tatih namun hatinya tetap tegar. Ini adalah resiko yang harus ia tanggung sendiri, dia adalah wanita yang rusak, seorang monster yang tidak layak untuk ditemani. Wanita rusak.. Iblis ya… Semua orang akan jijik kepadanya. Tapi meskipun begitu, ia masih memiliki bayinya sekarang. Setidaknya ia tidak akan sendiri lagi di dunia ini. Bayiku.. bayiku yang paling berharga. “Rosalyn!-” Rosalyn terkejut saat tangannya tiba-tiba ditarik kuat dan tubuhnya yang langsung berbalik dan masuk kedalam sebuah pelukan hangat. P
Sean akhirnya memanggil Rosalyn dengan keras dan mendekapnya erat -erat saat Rosalyn terus memberontak tanpa mendengarkan kata-katanya. Meskipun Rosalyn masih memberontak, tapi Sean tak melepaskan pelukannya sama sekali.“Tenanglah Ros.”“Lepas! Lepaskan aku!” Teriak Rosalyn masih berusaha memberontak “Anakku… anakku….”“Tenanglah Ros, anak kita aman.”Saat mendengar kata anak keluar dari mulut Sean, barulah Rosalyn berhenti memberontak.“Anak kita aman.” Bisik Sean lagi tanpa henti menenangkan Rosalyn.Perlahan napas Rosalyn mulai stabil seperti semula, ia mendongak dan menatap Sean dengan penuh harapan.“Dimana anakku?” Tanya dengan tak sabaran.“Aku akan membawamu melihat anak kita, tapi kau harus diperiksa terlebih dahulu.” Ucap Sean dengan tegas sambil melepaskan pelukannya.Barulah saat itu Rosalyn sadar bahwa di ruangan itu tidak hanya Sean saja, melainkan dokter dan beberapa perawat ada disana.“Periksa istri saya dok,” ucap Sean yang langsung diangguki oleh dokter.Selama pe
"Uh hewan jelek ini begitu menjijikan-""Rosalyn! Apa yang sedang kau lakukan?"Teriakan melengking itu hanpir membuat gempar seluruh rumah, tapi sang ibu tak perduli, ia begitu terkejut saat melihat apa yang sudah dilakukan putri kecilnya itu.Seekor ular remuk hampir tak terbentuk lagi dibawah kaki putrinya itu. Tidak, lebih tepatnya tubuh ular itu sudah terpotong-potong menjadi bagian kecil yang mengerikan. Darah ular yang merembes kemana-mana, Sang ibu hampir pingsan saat melihat pisau kecil tajam di tangan putrinya yang berlumuran darah."Ibu, kenapa?"Tapi bocah berusia 5 tahun itu hanya bertanya dengan tatapan polosnya."Nyonya?!Ada apa?"Mendengar teriakan dari arah luar, sang ibu sontak tersadar dan buru-buru menutup pintu kamar Rosalyn dan menguncinya. Beberapa langkah kaki terdengar mendekat, tak lama suaa kepala pelayan datang dengan nada khawatir."Nyonya, apa ada masalah?""Tidak, aku hanya takjub dengan lukisan putriku." Jawab ibu Rosalyn dari balik pintu, meskipun dala
Sean mengendarai mobilnya seolah orang kesetanan. Jalanan lurus yang penuh akan daun kering seketika terbang tertiup angin saat mobil yang dikendarai Sean melaju dengan cepat.Tanah kering dan pohon-pohon kaku yang tetap berdiri kokoh di sepanjang jalan menjadi salah satu bukti betapa mengerikannya perang yang terjadi hampir setengah abad yang lalu. Tapi Sean tanpa ragu melakukan kendaraannya cepat menuju tempat bekas peperangan itu.Distrik pinggir bekas perang, daerah yang sudah sangat jarang dikunjungi bahkan hampir tidak ada seorangpun disana. Tapi meskipun ada larangan untuk kesana, tapi Sean tetap nekat melakukan mobilnya.Demi Rosalyn… demi istrinya…“Hah.”Desahan kasar terdengar penuh dengan penyesalan. Andai saja ia mengerahkan lebih banyak anak buahnya untuk menjaga Rosalyn, Rosalyn pasti tidak akan mengalami hal seperti ini.“Agam sialan!” geram Sean sambil memukul stir mobilnya emosi.Ia sudah tahu bahwa dalang dari ini semua ada Agam. Bajingan tengik itu berpura-pura pol
William memanggil Rosalyn dengan suaranya parau dan putus asa. Ia berusaha melangkah maju dengan susah payah, tangannya terentang, seolah ingin meraih satu-satunya tali penyelamatnya. "Rosalyn," "Rosalyn, aku mohon! Dengarkan aku!" "Rosalyn!" Tapi meskipun ia memanggilnya dengan sangat putus as
"Berani kau datang ke sini?" William langsung tersungkur saat sebuah bogem mentah menghantam wajahnya saat ia baru saja menginjakkan kaki ke dalam mansion Anderson. Ia bahkan belum sempat membuka mulut untuk berbicara atau hanya sekadar menyapa. William yang terkejut merasakan tubuhnya ambruk
Sebuah mobil hitam mewah melaju jauh meninggalkan hiruk-pikuk kota, menembus area perbukitan yang diselimuti kabut tipis sore hari. Setelah perjalanan yang terasa membebaskan, mobil itu akhirnya melambat dan berbelok memasuki gerbang besi tempa tinggi yang terkesan kuno. Di ujung jalan, rumah me
Ruang kerja William seketika terasa dingin, jauh lebih dingin dari marmer yang baru saja dipecahkan Rosalyn di ruang tamu. Kata-kata Rosalyn yang meminta cerai seolah masih menggantung di udara, mengukir keheningan yang mematikan. "Apa kau bilang?" tanya William, suaranya tercekat. Ia mengira teli







