Share

Bab 5

Author: Neby_an
last update Petsa ng paglalathala: 2025-10-17 16:54:06

William memanggil Rosalyn dengan suaranya parau dan putus asa. Ia berusaha melangkah maju dengan susah payah, tangannya terentang, seolah ingin meraih satu-satunya tali penyelamatnya.

"Rosalyn,"

"Rosalyn, aku mohon! Dengarkan aku!"

"Rosalyn!"

Tapi meskipun ia memanggilnya dengan sangat putus asa, Rosalyn tak menoleh sedikitpun; ia bahkan seolah tak melihat keberadaan dirinya yang penuh luka saat ini.

Ia sungguh tak percaya, perempuan yang begitu mencintainya kini berubah menjadi dingin seperti itu. Tapi ditengah kalut pikirannya, Rosalyn tiba-tiba berhenti membuat matanya seketika berbinar.

Rosalyn berhenti tepat di depan pintu utama Mansion Anderson. Tapi ia hanya melirik sekilas ke arah William.

Hanya sekilas. Tatapan matanya begitu dingin, nyaris kosong, tanpa sedikit pun emosi iba atau kasihan. Ia melihat William yang penuh luka, namun seolah melihat sebongkah batu yang tak berarti.

Tanpa berkata apa-apa, Rosalyn melanjutkan langkahnya dan menghilang di balik pintu. Meninggalkan William yang hanya bisa melihat kepergian Rosalyn dengan nanar.

Harapannya yang sempat melambung tinggi seketika musnah, remuk tak bersisa. Ia ditinggalkan begitu saja.

Rasanya sakit di tubuhnya tidak sebanding dengan rasa sakit di hatinya. Wanita yang dulu begitu mencintainya, yang selalu menuruti setiap perkataannya, kini berubah menjadi seseorang yang begitu dingin dan tak peduli.

"Rosalyn! ROSALYN!" teriak William, masih berusaha mengejar Rosalyn.

Ia berlari terhuyung-huyung, namun rasa sakit di kakinya seolah ingin menghentikannya.

Tiba-tiba, dua orang satpam yang menjaga gerbang bergegas mendekatinya. Wajah mereka terlihat jengkel.

"Tuan Collin, Anda harus pergi dari sini," ujar salah satu satpam dengan nada tegas, sama sekali tanpa rasa hormat.

"Tidak! Aku harus bicara dengan istriku! Dia istriku!" Teriak William meronta.

"Status Anda bukan lagi suami Nyonya Muda kami," balas satpam lainnya, lalu tanpa basa-basi mereka mencengkeram lengan William yang babak belur dengan kejam.

"Pergi sebelum kami memanggil polisi!" Ancam saat itu dan dengan paksa menyeret William agar pergi, mengabaikan teriakan kesakitan William dan penuh pemberontakan yang tak berarti apa-apa.

Sebelum benar-benar dilempar masuk ke dalam mobil, ia menatap pintu mansion Anderson yang tertutup rapat dengan penuh kebencian; rasa gusar dan amarah membakar hatinya.

Rosalyn Anderson, kau akan menyesali ini!

Sedangkan di sisi lain, Irene Angel berjalan berlenggak-lenggok memasuki mansion mewah Collin dengan percaya diri. Saat menemukan seorang pelayan, dia bertanya dengan nada congkak.

"Apa William sudah berangkat ke kantor?"

Pelayan yang tiba-tiba mendapatkan pertanyaan itu sontak menunduk sopan saat melihat siapa lawan bicaranya.

Irene Angel, artis terpopuler sekaligus selingkuhan tuannya.

"Heh! Ditanya tuh jawab!" Bentak Irene kesal saat pelayan itu malah hanya diam.

"Mm, maaf, Nona, tuan sudah berangkat dari tadi." Jawab pelayan itu tanpa mengangkat wajahnya.

Irene hanya mengangguk sekilas; setelahnya, ia melenggang pergi dengan santai, membuat pelayan yang tadi sedang bertugas sontak mendengus.

"Masih selingkuhan aja lagaknya seperti nyonya rumah," gumamnya dengan kesal.

Tapi meskipun pelayan itu mendumel, Irene jelas tak mendengar karena dia sudah sampai di ruang tengah. Saat melihat Hanna dan Clara ada di sana, seketika matanya berbinar penuh.

"Tante…"

Hanna dan Clara sontak saling lirik saat melihat kedatangan Irene. Mereka yang tengah asyik menonton film seketika menghentikan aktivitas mereka.

"William sudah berangkat ke kantor," ucap Hanna langsung saat Irene ikut duduk di sofa ruang tengah.

"Tidak apa-apa, Tante, Irene kesini untuk bertemu dengan Tante. Ini Irene bawakan kue kesukaan Tante," jawab Irene tersenyum ramah sambil menaruh sebuah kotak kue besar di meja dan mendekatkannya pada Hanna.

Melihat apa yang dibawa Irene, sontak Hanna berwajah cerah. Dia dengan segera mengambil kotak itu dan membukanya. Clara yang ada disebelahnya juga sama, ia dengan semangat mengambil kue itu dan memakannya.

"Ini enak, Kak Irene," ucap Clara sambil mengunyah kue itu dalam mulutnya.

"Terimakasih, Irene, kamu repot-repot segala." Ucap Hanna sambil tersenyum.

"Ah, tidak apa-apa, Tante," jawab Irene sambil tersenyum malu.

"Oh iya, lalu kenapa kamu kesini, Ren?"

"Irene ingin bertanya tentang William, Tante. Akhir-akhir ini William sulit sekali untuk dihubungi, dan dia sedikit berbeda." Jawab Irene dengan nada sedih.

Mendengar itu, Clara dan Hanna sontak menaruh kue mereka. Perhatian mereka langsung terfokus kepada Irene, yang kini terlihat begitu sedih.

"Bersabarlah, Irene; itu karena William sedang menghadapi perceraiannya sekarang."

"Apa benar?" Tanya Irene dengan wajah terkejutnya yang begitu alami.

"Iya, Kak Irene, tenang saja, sebentar lagi kakak akan bercerai dengan perempuan mandul itu!" Ucap Clara dengan begitu menggebu-gebu. Hari-hari perasaannya begitu tenang karena tahu kakaknya akan bercerai dengan Rosalyn busuk itu. Dan akhirnya ia akan memiliki kakak ipar yang begitu cantik dan keren seperti Kak Irene!

"Ya jadi, biarkan dulu William menyesuaikan keadaannya. Jika keadaan sudah membaik, dia pasti akan kembali seperti biasanya." Ucap Hanna dengan tenang, ia yakin William masih membutuhkan waktu sekarang.

"Tapi kalau William bercerai dengan Rosalyn, bagaimana keadaan wanita itu, Tante? Dia kan begitu mencintai William." Ucap Irene dengan sedih.

"I-Irene tidak bermaksud membuat mereka bercerai."

"Tidak! Ini bukan salah Kak Irene; wanita itu yang memang tidak pantas untuk kakakku!" Jawab Clara dengan cepat.

"Benar Irene, mereka bercerai bukan karena mu. Wanita sialan itu yang memutuskan untuk keluar dari rumah ini, jadi jangan merasa bersalah."

"Lagipula aku tidak menyukai menantu cacat yang bahkan tidak bisa memberiku cucu," gumam Hanna dengan sinis saat teringat wajah Rosalyn yang begitu ia benci.

Mendengar pembelaan itu, Irene berusaha keras untuk menyembunyikan senyum kemenangannya saat ini. Dalam hati ia begitu puas melihat Hanna dan Clara sudah berpihak kepadanya.

"Ah, tunggu saja, Rosalyn, setelah kau resmi bercerai, aku yang akan menggantikanmu menjadi nyonya Collin berikutnya, haha," batin Irene penuh kemenangan.

Patuloy na basahin ang aklat na ito nang libre
I-scan ang code upang i-download ang App

Pinakabagong kabanata

  • Siapa Sang Kekasih   Bab 99 - End

    DOR!DOR!DOR!!Suara tembakan bergema satu per satu, peluru tajam yang ditembakkan itu merangsek masuk ke dalam papan skor yang sudah disiapkan. Saat tembakan terakhir dilepaskan, peluru itu tepat masuk sempurna di tengah angka 10, sontak teriakan penuh kegembiraan terdengar.“YEAY BUNDA HEBAT!”Rosalyn sontak tersenyum saat mendengar pujian anaknya. Ia langsung mengamankan pistolnya saat bocah laki-laki itu berlari ke arahnya.“Jangan berlari, nanti kamu jatuh-!“Varo!”Rosalyn berteriak panik saat melihat anaknya tersandung, dan hampir saja menghantam tanah. Beruntung sebuah tangan besar meraihnya dan mengangkatnya dengan mudah.Wajah bocah yang sebelumnya dipenuhi ketakutan itu sontak tersenyum cerah saat merasakan aman, apalagi saat melihat siapa yang sudah menyelamatkan dirinya.“HEHE AYAH!!” Teriak bocah itu senang dan langsung memeluk leher dan mengecup pipi ayahnya singkat.“Kapan ayah pulang? Varo kira hari ini ayah nggak pulang lagi.” Tanya bocah itu dengan lucu.“Ayah tent

  • Siapa Sang Kekasih   Bab 98

    Rosalyn kembali linglung, ia tidak mengerti lagi yang dikatakan Sean.Menyadari kebingungan Rosalyn, Sean kembali merangkul Rosalyn dan menuntun nya pelan ke arah tempat duduk taman yang tak jauh dari mereka berdiri sekarang.“Aku akan ceritakan semuanya, tapi janji kau harus mendengarkan tanpa memotong sedikitpun.” Ucap Sean serius sambil mendudukkan Rosalyn pada kursi taman.Sean duduk disamping Rosalyn, tangannya tak lepas sedikitpun menggenggam tangan dingin Rosalyn.“Kamu menyelamatkanku Rose, tanpamu mungkin aku sudah kehilangan nyawaku waktu itu.” Ucap Sean dengan pandangan yang menerawang jauh.FlashbackDRAP .. DRAP.. DRAP..Suara langkah kaki bergema keras di lorong gang sempit yang gelap. Seorang pria berlari dengan penuh luka ditubuhnya, pakaian yang dikenakannya hampir robek dan kotor terkena darah. Wajahnya yang dipenuhi lebam dan darah terlihat menyeramkan tanpa pencahayaan di gang yang gelap, meskipun kakinya pincang, ia tetap berlari sekuat tenaga.Di Belakangnya, beb

  • Siapa Sang Kekasih   Bab 97

    "Apa maksudmu, Ros?" Sean mengernyit dan menatap Rosalyn dengan kerutan bingung di dahinya. "Kenapa kamu masih ada di sini?" ulang Rosalyn lirih. Seolah tak mampu menatap wajah Sean, ia kini menunduk dan menatap lantai yang dingin dengan mata berair. “Kamu sudah tahu aku yang sebenarnya, kau sudah melihat semuanya Sean.” “Rosaly-” “Pergilah. Aku bisa mengurus anakku sendiri.” Ucap Rosalyn mantab sambil berbalik pergi, meskipun langkahnya masih tertatih-tatih namun hatinya tetap tegar. Ini adalah resiko yang harus ia tanggung sendiri, dia adalah wanita yang rusak, seorang monster yang tidak layak untuk ditemani. Wanita rusak.. Iblis ya… Semua orang akan jijik kepadanya. Tapi meskipun begitu, ia masih memiliki bayinya sekarang. Setidaknya ia tidak akan sendiri lagi di dunia ini. Bayiku.. bayiku yang paling berharga. “Rosalyn!-” Rosalyn terkejut saat tangannya tiba-tiba ditarik kuat dan tubuhnya yang langsung berbalik dan masuk kedalam sebuah pelukan hangat. P

  • Siapa Sang Kekasih   Bab 96

    Sean akhirnya memanggil Rosalyn dengan keras dan mendekapnya erat -erat saat Rosalyn terus memberontak tanpa mendengarkan kata-katanya. Meskipun Rosalyn masih memberontak, tapi Sean tak melepaskan pelukannya sama sekali.“Tenanglah Ros.”“Lepas! Lepaskan aku!” Teriak Rosalyn masih berusaha memberontak “Anakku… anakku….”“Tenanglah Ros, anak kita aman.”Saat mendengar kata anak keluar dari mulut Sean, barulah Rosalyn berhenti memberontak.“Anak kita aman.” Bisik Sean lagi tanpa henti menenangkan Rosalyn.Perlahan napas Rosalyn mulai stabil seperti semula, ia mendongak dan menatap Sean dengan penuh harapan.“Dimana anakku?” Tanya dengan tak sabaran.“Aku akan membawamu melihat anak kita, tapi kau harus diperiksa terlebih dahulu.” Ucap Sean dengan tegas sambil melepaskan pelukannya.Barulah saat itu Rosalyn sadar bahwa di ruangan itu tidak hanya Sean saja, melainkan dokter dan beberapa perawat ada disana.“Periksa istri saya dok,” ucap Sean yang langsung diangguki oleh dokter.Selama pe

  • Siapa Sang Kekasih   Bab 95

    "Uh hewan jelek ini begitu menjijikan-""Rosalyn! Apa yang sedang kau lakukan?"Teriakan melengking itu hanpir membuat gempar seluruh rumah, tapi sang ibu tak perduli, ia begitu terkejut saat melihat apa yang sudah dilakukan putri kecilnya itu.Seekor ular remuk hampir tak terbentuk lagi dibawah kaki putrinya itu. Tidak, lebih tepatnya tubuh ular itu sudah terpotong-potong menjadi bagian kecil yang mengerikan. Darah ular yang merembes kemana-mana, Sang ibu hampir pingsan saat melihat pisau kecil tajam di tangan putrinya yang berlumuran darah."Ibu, kenapa?"Tapi bocah berusia 5 tahun itu hanya bertanya dengan tatapan polosnya."Nyonya?!Ada apa?"Mendengar teriakan dari arah luar, sang ibu sontak tersadar dan buru-buru menutup pintu kamar Rosalyn dan menguncinya. Beberapa langkah kaki terdengar mendekat, tak lama suaa kepala pelayan datang dengan nada khawatir."Nyonya, apa ada masalah?""Tidak, aku hanya takjub dengan lukisan putriku." Jawab ibu Rosalyn dari balik pintu, meskipun dala

  • Siapa Sang Kekasih   Bab 94

    Sean mengendarai mobilnya seolah orang kesetanan. Jalanan lurus yang penuh akan daun kering seketika terbang tertiup angin saat mobil yang dikendarai Sean melaju dengan cepat.Tanah kering dan pohon-pohon kaku yang tetap berdiri kokoh di sepanjang jalan menjadi salah satu bukti betapa mengerikannya perang yang terjadi hampir setengah abad yang lalu. Tapi Sean tanpa ragu melakukan kendaraannya cepat menuju tempat bekas peperangan itu.Distrik pinggir bekas perang, daerah yang sudah sangat jarang dikunjungi bahkan hampir tidak ada seorangpun disana. Tapi meskipun ada larangan untuk kesana, tapi Sean tetap nekat melakukan mobilnya.Demi Rosalyn… demi istrinya…“Hah.”Desahan kasar terdengar penuh dengan penyesalan. Andai saja ia mengerahkan lebih banyak anak buahnya untuk menjaga Rosalyn, Rosalyn pasti tidak akan mengalami hal seperti ini.“Agam sialan!” geram Sean sambil memukul stir mobilnya emosi.Ia sudah tahu bahwa dalang dari ini semua ada Agam. Bajingan tengik itu berpura-pura pol

  • Siapa Sang Kekasih   Bab 4

    ​"Berani kau datang ke sini?" ​William langsung tersungkur saat sebuah bogem mentah menghantam wajahnya saat ia baru saja menginjakkan kaki ke dalam mansion Anderson. Ia bahkan belum sempat membuka mulut untuk berbicara atau hanya sekadar menyapa. William yang terkejut merasakan tubuhnya ambruk

  • Siapa Sang Kekasih   Bab 3

    Sebuah mobil hitam mewah melaju jauh meninggalkan hiruk-pikuk kota, menembus area perbukitan yang diselimuti kabut tipis sore hari. Setelah perjalanan yang terasa membebaskan, mobil itu akhirnya melambat dan berbelok memasuki gerbang besi tempa tinggi yang terkesan kuno. Di ujung jalan, rumah me

  • Siapa Sang Kekasih   Bab 2

    Ruang kerja William seketika terasa dingin, jauh lebih dingin dari marmer yang baru saja dipecahkan Rosalyn di ruang tamu. Kata-kata Rosalyn yang meminta cerai seolah masih menggantung di udara, mengukir keheningan yang mematikan. "Apa kau bilang?" tanya William, suaranya tercekat. Ia mengira teli

  • Siapa Sang Kekasih   Bab 1

    Aroma bunga dan tanah basah tercium jelas seolah menusuk indra penciuman. Rosalyn Anderson, perempuan berusia 26 tahun itu hanya berdiri kaku di depan liang lahat mendiang ibunya. Prosesi pemakaman telah usai, kerumunan pelayat mulai menipis, menyisakan keheningan yang menyesakkan dan hanya menyis

Higit pang Kabanata
Galugarin at basahin ang magagandang nobela
Libreng basahin ang magagandang nobela sa GoodNovel app. I-download ang mga librong gusto mo at basahin kahit saan at anumang oras.
Libreng basahin ang mga aklat sa app
I-scan ang code para mabasa sa App
DMCA.com Protection Status