Masuk"Berani kau datang ke sini?"
William langsung tersungkur saat sebuah bogem mentah menghantam wajahnya saat ia baru saja menginjakkan kaki ke dalam mansion Anderson. Ia bahkan belum sempat membuka mulut untuk berbicara atau hanya sekadar menyapa. William yang terkejut merasakan tubuhnya ambruk di lantai marmer yang dingin. Rasa sakit seketika menjalar dari rahangnya ke seluruh kepala. Tapi sepertinya Alexander tidak memberinya waktu untuk bangkit. Ia melangkah maju dengan sorot matanya tajam dan dipenuhi kemarahan yang membabi buta. "Kau pikir kau siapa?!" teriak Alexander dengan nada yang bergetar penuh luapan emosi. Ia menarik kerah kemeja William dan memaksa pria itu menatapnya, lalu tanpa basa-basi kembali melayangkan tinju kedua ke perut William. BUGH! "Arghhh" William mengerang kesakitan, tubuhnya meringkuk. "Alexander... tunggu..." "Tunggu?! Kau bilang tunggu?!" Alexander membentaknya, tidak memedulikan permohonan itu. Ia menarik William berdiri, lalu menghajarnya lagi di wajah. BUAGH! "Selama ini aku diam Sialan! Aku menahan diri! Demi adikku," "Tapi kau dan keluargamu menginjak-injak perasaannya, menghinanya mandul, bahkan selingkuh di depan matanya bangsat! Lalu kau pikir kau bisa lolos begitu saja?!" Teriak Alexander penuh dengan makian, setiap pukulannya adalah luapan amarah yang terpendam. Ia sudah menahan ini selama bertahun-tahun karena Rosalyn melarang dirinya, tapi sekarang ia akan membalas bajingan ini! Tidak dapat menahan pukulan Alexander, William kembali ambruk, darah segar mulai mengalir dari sudut bibirnya. Ia berusaha melindungi kepalanya dengan tangan, rasa sakit yang luar biasa membuatnya sulit bernapas. Tapi Alexander menendang kakinya dan memaksa William untuk berlutut. "Kau bajingan tidak tahu diri! Kau dan keluargamu tidak datang ke pemakaman ibuku! Kau asyik berpesta dengan jalangmu kan sementara adikku berduka sendirian?" Teriak Alexander tak mampu lagi menahan amarahnya. Ia kembali menghujami William dengan pukulan-pukulan penuh amarah. Mendengar semua makian dan pukulan itu, William hanya bisa menunduk sambil mengerang kesakitan. Ia tahu ia pantas menerima semua ini. Rasa sakit itu adalah risiko yang harus ia tanggung. "Aku... aku minta maaf, Alexander..." Gumam William berusaha bersuara di sela-sela napasnya yang tersengal. "Aku tahu aku salah... Aku akan berubah... Kumohon, katakan di mana Rosalyn. Perusahaanku... kita akan bangkrut. Aku harus bicara dengannya." Ucapnya lagi dengan susah payah karena rasa sakit yang terus meningkat. "Perusahaanmu?! Sampai sekarang pun, yang kau pikirkan hanya uang dan perusahaan busukmu itu?!" Bentak Alexander semakin marah. Karena amarah yang menguasai kepalanya, Ia meraih vas bunga besar di meja terdekat, berniat menghantamkannya ke kepala William yang tidak tahu malu itu. Namun seolah tersadar, ia mengurungkan niatnya. Meskipun ia sangat ingin membunuh bajingan ini, tapi ia tak mau William mati sia-sia sebelum Rosalyn membalaskan dendamnya. Tak puas dengan itu, Alexander kembali menendang William dengan keras. "Jawab aku! Kau pikir aku akan membiarkan adikku kembali pada sampah sepertimu?! Jangan harap, William! Jangan harap!" William terbatuk keras, darah menyembur dari mulutnya. Tapi ia memaksakan tubuhnya merangkak sedikit, memohon dengan putus asa kepada Alexander. "Tolong, Alexander. Aku harus menemukannya. Di mana dia? Aku bersumpah akan berubah! Aku mencintai Rosalyn!" Mohon William dengan berlinang air mata, bukan karena penyesalan melainkan rasa sakit yang mendera tubuhnya. Tapi meskipun sudah memohon, Alexander hanya menatap William dengan sorot mata penuh jijik dan penghinaan. Ia tahu, William tidak akan pernah berubah. Pria di depannya ini hanya takut kehilangan kekayaan. "Sampai kapanpun aku tidak akan memberi tahu di mana Rosalyn berada. Sekarang, pergi dari sini! Sebelum aku benar-benar membunuhmu di tempat ini!" Usir Alexander dengan tatapan yang seakan menahan diri untuk benar-benar membunuh William sekarang. William, yang sudah tidak memiliki tenaga lagi, akhirnya memilih menyerah. Ia takut Alexander akan benar-benar membunuhnya jika ia tak pergi sekarang. Tapi rasa sakit pada seluruh tubuhnya tak mampu lagi membuatnya bisa berdiri tegak. Pada akhirnya ia merangkak mundur dengan menyedihkan, melewati lantai marmer yang dingin. Dengan susah payah, ia bangkit dan berjalan terhuyung-huyung keluar dari Mansion Anderson. Wajahnya babak belur, tubuhnya sakit luar biasa, dan harapannya hancur, ia bahkan pulang dengan tangan kosong. Saat ia berhasil keluar dan berjalan pincang menuju mobilnya, sebuah mobil hitam mewah lain melaju perlahan memasuki halaman. Seketika, William berhenti. Pandangannya yang kabur karena lebam dan darah terfokus pada siluet tak asing wanita yang turun dari mobil. Rosalyn... Seperti melihat oase di tengah-tengah gurun, secercah harapan melambung tinggi. William menatap Rosalyn dengan penuh harap. Rosalyn yang ia kenal adalah wanita yang lembut dan penuh belas kasihan. Ia yakin jika melihatnya babak belur seperti ini, hati Rosalyn akan luluh. Dia tidak akan tega. Dia begitu mencintai dirinya kan. Dia pasti akan luluh dan membatalkan perceraian ini. "Ros.." "Rosalyn!" Gila! Kamu gila, Rosalyn!Mau berapa kalipun ia memikirkan, hal ini benar-benar gila. Bagaimana ia bisa menyetujui lamaran dari Sean?!"Dasar tidak waras!" Gumam Rosalyn meraup wajahnya dengan frustrasi. Ingatan tentang semalam menyusup di kepalanya dan menusuk otaknya dengan kejam.'Menikahlah denganku, Rose.'Ucapan lirih Sean itu seperti bisikan setan yang begitu menyesatkan; ia ingin menolak, tapi sebuah benda kenyal lebih dulu membungkam mulutnya.Aroma rokok bercampur dengan rasa mint yang kuat membuat kepalanya pusing, belum dengan rasa wine yang masih terasa jelas di mulutnya.Seolah ia ikut mabuk, ciuman sepihak itu membuatnya linglung. Lidah yang membawa rasa wine itu merangsak masuk dengan kejam, menjelajahi seluruh dinding mulutnya seolah sedang membagi rasa alkohol yang sudah lama tidak ia konsumsi itu.Dibawah tatapan matanya yang intens, bahkan mata tajam itu tak bergeser sedikitpun. Rosalyn tenggelam dalam obsidian gelap itu dan tanpa sadar membuka mulutnya seolah memp
"Minggir." Rosalyn dengan kejam mendorong Sean menjauh. Tidak, bahkan itu hampir seperti pukulan kuat, tapi anehnya bahkan tubuh Sean yang besar tidak bergeser sedikitpun.Seolah memukul batu, ia diam-diam merasa begitu kesal saat pria itu tak merasa kesakitan sama sekali. Bukannya mundur, Sean malah semakin maju dan mengapit tubuhnya diantara pintu."Kenapa kau begitu kasar, Rose?" bisik Sean, menunduk dan menatap Rosalyn sambil menyeringai."Media pasti akan terkejut saat tahu malaikat yang sering mereka beritakan ternyata adalah wanita yang begitu kasar."Rosalyn hampir menahan napas; netranya bergetar halus saat sadar betapa dekatnya ia dengan Sean sekarang, bahkan ia bisa mencium aroma mint segar yang begitu identik dengan pria ini.Tapi sekalipun ia mulai gugup, ia dengan berani menatap tajam ke arah tepat bola mata Sean, tak ingin memperlihatkan kelemahannya sedikitpun."Aku kesini untuk berbicara hal penting kepadamu, Tuan Harris; tolong jadilah pria sejati dan bersikaplah so
Gedung besar perusahaan Adinata yang megah hampir lumpuh dimakan kobaran api. Perusahaan yang baru saja berdiri dan begitu melesat itu kehilangan hampir 70% gedung utamanya, hanya menyisakan lantai atas kecil yang tidak tersambar api. Seolah keamanan dan pembangunan ruangan penting yang begitu diperhitungkan, lantai khusus direktur tetap aman tanpa tersentuh kobaran api sedikitpun; berkat itu, Agam bisa menyelamatkan dokumen-dokumen penting yang ia simpan di ruang kerjanya. Beruntung tidak ada korban jiwa. Saat malam tiba, tidak ada satupun karyawan yang sedang bekerja lembur, namun kerusakan gedung hampir bernilai ratusan miliar. Penyebab sementara diduga karena salah satu aliran listrik yang konslet dan menyebabkan ledakan besar kemudian mulai menyebarkan api. Tapi Rosalyn tidak percaya dengan itu. Dia dengan perasaan gelisah mondar-mandir di dalam ruang kerjanya sendirian. Langit sudah menjadi gelap; cahaya cerah yang selalu tampil di dalam kaca jendelanya kini berubah menjad
'Tolong lepaskan anak ini, aku mohon.'"Brengsek."Sean meneguk cepat satu botol alkohol di tangannya; rasa terbakar yang kuat saat cairan itu melewati tenggorokannya membuatnya menggerang pelan. Namun seolah tak puas, ia kembali menegak cairan asam itu seperti seseorang yang sedang kehausan.Namun seberapa banyakpun ia menegak cairan keras itu sampai menghabiskan beberapa botol sendirian, rasa haus yang menjengkelkan tak kunjung hilang.Ia hanya ingin mabuk dan melupakan semua hal sialan yang terus mengganggu kepalanya itu. Tapi seolah tuhan tidak merestui, ia masih sangat terjaga dan pikirannya tetap waras.'Tolong, Sean, kumohon.'"Sialan!"Bayang-bayang wajah Rosalyn yang sedang memohon memunuhi kepalanya. Wajah cantik yang selalu menunjukkan sorot dingin dan tajam itu rela memohon kepadanya?Matanya yang dipenuhi sorot keputusasaan begitu mengganggu pikirannya. Apa wanita itu setidak mau itu dengan dirinya?"haha,"Sean tertawa garing seolah menertawakan dirinya yang tampak meny
Seharusnya berhasil, tapi kenapa jadi begini?"Apa yang sedang kau lakukan di sini, Tuan Harris?"Rosalyn nyaris kehilangan ketenangannya saat mengetahui Sean yang kembali datang ke kantornya. Seolah tidak pernah terjadi apa-apa semalam, ia dengan santai duduk di dalam ruang kerjanya dengan makanan penuh di hadapannya.Ia pikir pria itu akan menyerah atau malah marah, tapi dia tampak biasa saja. Bahkan ia sibuk mengontak-atik tabletnya dengan serius, tanpa mengindahkan ucapannya sama sekali."Kembalilah ke kantormu sendiri; kenapa kau bekerja di kantor orang lain?" Ucap Rosalyn tajam sambil melemparkan tubuhnya di kursi dengan kesal.Pertemuannya dengan Tuan Marcus hari ini berjalan alot; ia harus berusaha keras untuk menyakinkan pria tua itu. Tapi begitu kembali, ia malah disambut dengan pemandangan Sean lagi. Perasaannya sudah begitu buruk, namun ia harus menghadapi salah satu pemicu perasaan buruk itu sendiri."Oh, kau sudah pulang?" Tanya Sean akhirnya menaruh tabletnya; kacamata
"Apa ini?"Rosalyn seketika tersadar saat Agam menarik lembut tangannya. Namun seolah tak ingin melepaskan, Sean malah semakin erat menarik tangan kanannya."Jangan ikut campur," ucap Sean menatap Agam dengan tajam.Tapi Agam juga tampak tidak menyerah; ia kembali menarik lembut tangan kiri Rosalyn, berusaha menarik Rosalyn kembali di sisinya.Rosalyn berkedip pelan saat kedua tangannya ditarik di kedua sisi. Menatap Agam dan Sean secara bergantian, mereka saling melempar tatapan tajam tanpa berniat melepaskan tangannya sedikitpun.Esensi itu menarik perhatian semua orang; dengan cermat mata-mata penuh rasa ingin tahu itu menggelayangi bayang-bayang Rosalyn, yang kini diperebutkan oleh kedua pria paling populer di kota.Tak betah dengan tatapan mereka, Rosalyn dengan kesal menghentakkan kedua tangannya. Entah karena kekuatannya yang lebih besar daripada pria itu atau karena mereka yang lemah karena dirinya, tangannya dengan mudah terlepas. Ia menatap kedua pria itu bergantian sambil m







