LOGINDOR!DOR!DOR!!Suara tembakan bergema satu per satu, peluru tajam yang ditembakkan itu merangsek masuk ke dalam papan skor yang sudah disiapkan. Saat tembakan terakhir dilepaskan, peluru itu tepat masuk sempurna di tengah angka 10, sontak teriakan penuh kegembiraan terdengar.“YEAY BUNDA HEBAT!”Rosalyn sontak tersenyum saat mendengar pujian anaknya. Ia langsung mengamankan pistolnya saat bocah laki-laki itu berlari ke arahnya.“Jangan berlari, nanti kamu jatuh-!“Varo!”Rosalyn berteriak panik saat melihat anaknya tersandung, dan hampir saja menghantam tanah. Beruntung sebuah tangan besar meraihnya dan mengangkatnya dengan mudah.Wajah bocah yang sebelumnya dipenuhi ketakutan itu sontak tersenyum cerah saat merasakan aman, apalagi saat melihat siapa yang sudah menyelamatkan dirinya.“HEHE AYAH!!” Teriak bocah itu senang dan langsung memeluk leher dan mengecup pipi ayahnya singkat.“Kapan ayah pulang? Varo kira hari ini ayah nggak pulang lagi.” Tanya bocah itu dengan lucu.“Ayah tent
Rosalyn kembali linglung, ia tidak mengerti lagi yang dikatakan Sean.Menyadari kebingungan Rosalyn, Sean kembali merangkul Rosalyn dan menuntun nya pelan ke arah tempat duduk taman yang tak jauh dari mereka berdiri sekarang.“Aku akan ceritakan semuanya, tapi janji kau harus mendengarkan tanpa memotong sedikitpun.” Ucap Sean serius sambil mendudukkan Rosalyn pada kursi taman.Sean duduk disamping Rosalyn, tangannya tak lepas sedikitpun menggenggam tangan dingin Rosalyn.“Kamu menyelamatkanku Rose, tanpamu mungkin aku sudah kehilangan nyawaku waktu itu.” Ucap Sean dengan pandangan yang menerawang jauh.FlashbackDRAP .. DRAP.. DRAP..Suara langkah kaki bergema keras di lorong gang sempit yang gelap. Seorang pria berlari dengan penuh luka ditubuhnya, pakaian yang dikenakannya hampir robek dan kotor terkena darah. Wajahnya yang dipenuhi lebam dan darah terlihat menyeramkan tanpa pencahayaan di gang yang gelap, meskipun kakinya pincang, ia tetap berlari sekuat tenaga.Di Belakangnya, beb
"Apa maksudmu, Ros?" Sean mengernyit dan menatap Rosalyn dengan kerutan bingung di dahinya. "Kenapa kamu masih ada di sini?" ulang Rosalyn lirih. Seolah tak mampu menatap wajah Sean, ia kini menunduk dan menatap lantai yang dingin dengan mata berair. “Kamu sudah tahu aku yang sebenarnya, kau sudah melihat semuanya Sean.” “Rosaly-” “Pergilah. Aku bisa mengurus anakku sendiri.” Ucap Rosalyn mantab sambil berbalik pergi, meskipun langkahnya masih tertatih-tatih namun hatinya tetap tegar. Ini adalah resiko yang harus ia tanggung sendiri, dia adalah wanita yang rusak, seorang monster yang tidak layak untuk ditemani. Wanita rusak.. Iblis ya… Semua orang akan jijik kepadanya. Tapi meskipun begitu, ia masih memiliki bayinya sekarang. Setidaknya ia tidak akan sendiri lagi di dunia ini. Bayiku.. bayiku yang paling berharga. “Rosalyn!-” Rosalyn terkejut saat tangannya tiba-tiba ditarik kuat dan tubuhnya yang langsung berbalik dan masuk kedalam sebuah pelukan hangat. P
Sean akhirnya memanggil Rosalyn dengan keras dan mendekapnya erat -erat saat Rosalyn terus memberontak tanpa mendengarkan kata-katanya. Meskipun Rosalyn masih memberontak, tapi Sean tak melepaskan pelukannya sama sekali.“Tenanglah Ros.”“Lepas! Lepaskan aku!” Teriak Rosalyn masih berusaha memberontak “Anakku… anakku….”“Tenanglah Ros, anak kita aman.”Saat mendengar kata anak keluar dari mulut Sean, barulah Rosalyn berhenti memberontak.“Anak kita aman.” Bisik Sean lagi tanpa henti menenangkan Rosalyn.Perlahan napas Rosalyn mulai stabil seperti semula, ia mendongak dan menatap Sean dengan penuh harapan.“Dimana anakku?” Tanya dengan tak sabaran.“Aku akan membawamu melihat anak kita, tapi kau harus diperiksa terlebih dahulu.” Ucap Sean dengan tegas sambil melepaskan pelukannya.Barulah saat itu Rosalyn sadar bahwa di ruangan itu tidak hanya Sean saja, melainkan dokter dan beberapa perawat ada disana.“Periksa istri saya dok,” ucap Sean yang langsung diangguki oleh dokter.Selama pe
"Uh hewan jelek ini begitu menjijikan-""Rosalyn! Apa yang sedang kau lakukan?"Teriakan melengking itu hanpir membuat gempar seluruh rumah, tapi sang ibu tak perduli, ia begitu terkejut saat melihat apa yang sudah dilakukan putri kecilnya itu.Seekor ular remuk hampir tak terbentuk lagi dibawah kaki putrinya itu. Tidak, lebih tepatnya tubuh ular itu sudah terpotong-potong menjadi bagian kecil yang mengerikan. Darah ular yang merembes kemana-mana, Sang ibu hampir pingsan saat melihat pisau kecil tajam di tangan putrinya yang berlumuran darah."Ibu, kenapa?"Tapi bocah berusia 5 tahun itu hanya bertanya dengan tatapan polosnya."Nyonya?!Ada apa?"Mendengar teriakan dari arah luar, sang ibu sontak tersadar dan buru-buru menutup pintu kamar Rosalyn dan menguncinya. Beberapa langkah kaki terdengar mendekat, tak lama suaa kepala pelayan datang dengan nada khawatir."Nyonya, apa ada masalah?""Tidak, aku hanya takjub dengan lukisan putriku." Jawab ibu Rosalyn dari balik pintu, meskipun dala
Sean mengendarai mobilnya seolah orang kesetanan. Jalanan lurus yang penuh akan daun kering seketika terbang tertiup angin saat mobil yang dikendarai Sean melaju dengan cepat.Tanah kering dan pohon-pohon kaku yang tetap berdiri kokoh di sepanjang jalan menjadi salah satu bukti betapa mengerikannya perang yang terjadi hampir setengah abad yang lalu. Tapi Sean tanpa ragu melakukan kendaraannya cepat menuju tempat bekas peperangan itu.Distrik pinggir bekas perang, daerah yang sudah sangat jarang dikunjungi bahkan hampir tidak ada seorangpun disana. Tapi meskipun ada larangan untuk kesana, tapi Sean tetap nekat melakukan mobilnya.Demi Rosalyn… demi istrinya…“Hah.”Desahan kasar terdengar penuh dengan penyesalan. Andai saja ia mengerahkan lebih banyak anak buahnya untuk menjaga Rosalyn, Rosalyn pasti tidak akan mengalami hal seperti ini.“Agam sialan!” geram Sean sambil memukul stir mobilnya emosi.Ia sudah tahu bahwa dalang dari ini semua ada Agam. Bajingan tengik itu berpura-pura pol
"Berani kau datang ke sini?" William langsung tersungkur saat sebuah bogem mentah menghantam wajahnya saat ia baru saja menginjakkan kaki ke dalam mansion Anderson. Ia bahkan belum sempat membuka mulut untuk berbicara atau hanya sekadar menyapa. William yang terkejut merasakan tubuhnya ambruk
Sebuah mobil hitam mewah melaju jauh meninggalkan hiruk-pikuk kota, menembus area perbukitan yang diselimuti kabut tipis sore hari. Setelah perjalanan yang terasa membebaskan, mobil itu akhirnya melambat dan berbelok memasuki gerbang besi tempa tinggi yang terkesan kuno. Di ujung jalan, rumah me
Ruang kerja William seketika terasa dingin, jauh lebih dingin dari marmer yang baru saja dipecahkan Rosalyn di ruang tamu. Kata-kata Rosalyn yang meminta cerai seolah masih menggantung di udara, mengukir keheningan yang mematikan. "Apa kau bilang?" tanya William, suaranya tercekat. Ia mengira teli
Aroma bunga dan tanah basah tercium jelas seolah menusuk indra penciuman. Rosalyn Anderson, perempuan berusia 26 tahun itu hanya berdiri kaku di depan liang lahat mendiang ibunya. Prosesi pemakaman telah usai, kerumunan pelayat mulai menipis, menyisakan keheningan yang menyesakkan dan hanya menyis







