Short
Kebaikan yang Tersirat Hanyalah Sandiwara

Kebaikan yang Tersirat Hanyalah Sandiwara

Oleh:  ElevenTamat
Bahasa: Bahasa_indonesia
goodnovel4goodnovel
19Bab
0Dibaca
Baca
Tambahkan

Share:  

Lapor
Ringkasan
Katalog
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi

Setelah memergoki suaminya, Danica, menindih seorang wanita asing enam bulan lalu, Vega pun mengidap misofobia parah. Bahkan disentuh sedikit saja olehnya sudah membuat Vega mual! Sejak saat itu, rumah pernikahan yang luas berubah menjadi penjara dingin. Selama enam bulan ini, demi mengakomodasi dirinya, Danica harus mensterilkan apa pun yang dia lakukan. Bahkan saat berhubungan, dia harus memakai tiga lapis kondom dan tidak boleh melebihi batas waktu yang telah ditentukan. Begitu melewati batas itu, rasa mual akan muncul dalam hati Vega. Dia akan langsung menyuruh Danica keluar tanpa peduli apa pun. Namun, Danica tetap tidak pernah mengeluh. "Vega, aku yang telah berbuat salah. Aku akan menebusnya dengan baik ...." Mereka hidup damai selama setengah tahun. Tepat ketika Vega mengira gejala misofobianya sudah mulai berkurang dan ingin berdamai dengan Danica, dia malah mendengar suara keluhan Danica yang sengaja direndahkan dari ruang kerja. "Kamu belum pernah merasakannya. Sekadar mengantarkan buah saja harus pakai sarung tangan. Menyentuh sofa sedikit langsung harus dilap tiga kali pakai disinfektan." "Aku benar-benar muak sama dia!"

Lihat lebih banyak

Bab 1

Bab 1

"Bu Vega, kondisi tubuh Anda kurang baik. Kalau kandungan ini digugurkan, kemungkinan besar Anda nggak akan bisa hamil lagi. Anda yakin tetap mau jalani operasi ini?"

Vega tidak ragu sedikit pun. "Ya. Tolong jadwalkan operasinya satu minggu dari sekarang."

Para wanita hamil yang kebetulan lewat di sana, sontak berbisik-bisik mengatakan bahwa dirinya kejam. Namun Vega hanya tersenyum, lalu meninggalkan rumah sakit.

Setelah memergoki suaminya, Danica, menindih seorang wanita asing enam bulan lalu, Vega pun mengidap misofobia parah. Bahkan disentuh sedikit saja olehnya sudah membuat Vega mual!

Sejak saat itu, rumah pernikahan yang luas berubah menjadi penjara dingin.

Selama enam bulan ini, demi mengakomodasi dirinya, Danica harus mensterilkan apa pun yang dia lakukan. Bahkan saat berhubungan, dia harus memakai tiga lapis kondom dan tidak boleh melebihi batas waktu yang telah ditentukan.

Begitu melewati batas itu, rasa mual akan muncul dalam hati Vega. Dia akan langsung menyuruh Danica keluar tanpa peduli apa pun.

Namun, Danica tetap tidak pernah mengeluh.

"Vega, aku yang telah berbuat salah. Aku akan menebusnya dengan baik ...."

Mereka hidup damai selama setengah tahun. Tepat ketika Vega mengira gejala misofobianya sudah mulai berkurang dan ingin berdamai dengan Danica, dia malah mendengar suara keluhan Danica yang sengaja direndahkan dari ruang kerja.

"Kamu belum pernah merasakannya. Sekadar mengantarkan buah saja harus pakai sarung tangan. Menyentuh sofa sedikit langsung harus dilap tiga kali pakai disinfektan."

"Bahkan sebelum tidur denganku, dia masih memaksaku mandi di kamar mandi selama setengah jam. Seolah-olah menyentuhku sedikit saja bisa tertular penyakit kotor."

Entah apa yang dikatakan orang di seberang telepon, Danica mencibir.

"Dulu memang aku bajingan yang melakukan kesalahan. Tapi aku sudah minta maaf dan juga sudah memutuskan semuanya. Dia tetap bersikeras nggak mau merelakannya, malah memperlakukanku seperti pembawa wabah dan selalu berjaga-jaga sama aku."

"Aku benar-benar sudah muak. Setiap hari hidup kayak dikendalikan terus. Mau lakukan apa pun harus pertimbangkan reaksinya dulu."

"Aku masih cinta sama dia, tapi cinta itu rasanya sudah terkikis habis sama sikapnya yang gila ini."

Dunia seketika menjadi sunyi.

Hanya kalimat "Aku sudah muak" yang terus berdengung di telinga Vega.

"Gila" ....

Begitulah Danica menggambarkannya.

Vega menunduk melihat tangannya sendiri. Bersih, ramping, tetapi memutih dan berkerut karena terlalu lama terpapar cairan disinfektan.

Bukankah dirinya yang "gila" ini adalah karena ulah Danica?

Vega bahkan sempat berpikir, begitu kondisinya membaik, dia akan memberitahukan kabar tentang anak mereka, lalu benar-benar melepaskan masa lalu dan menjalani hidup yang baik bersamanya.

Sekarang, tampaknya itu hanya perasaan sepihak belaka.

Vega menarik sudut bibirnya, tetapi tidak bisa tersenyum. Yang dia rasakan hanyalah hawa dingin yang terus menjalar.

Ding dong ....

Suara bel pintu yang tiba-tiba berbunyi memecah kesunyian yang mencekam di dalam rumah.

Vega berjalan mendekat dan membuka pintu.

Di luar berdiri seorang wanita dengan riasan yang rapi dan anggun. Dia mengenakan setelan rok kerja profesional, memeluk sebuah map dokumen di tangannya, lalu tersenyum lembut dan sopan.

"Halo, Bu Vega. Nama saya Anisa, sekretaris Pak Danica. Saya datang untuk mengantarkan dokumen penting yang mendesak."

Pupil mata Vega tiba-tiba menyusut.

Dia ....

Enam bulan lalu, wanita inilah yang berada di bawah tubuh Danica dan bercinta dengan penuh gairah bersamanya.

Benar-benar lucu.

Jadi yang dimaksud Danica dengan "sudah memutuskan semuanya" ternyata hanya memindahkan wanita itu ke tempat lain untuk dijadikan simpanan.

Anisa tampaknya tidak menyadari keanehan pada dirinya dan tetap mempertahankan senyum sempurnanya.

Saat itu, Danica keluar dari ruang kerja. Ketika melihat Anisa di depan pintu, wajahnya sama sekali tidak menunjukkan keterkejutan.

"Anisa, sini kasih aku dokumennya."

Danica menerima dokumen itu dengan wajar, melirik arlojinya, lalu berkata, "Terima kasih atas kerja kerasmu. Kebetulan sudah jam makan. Tinggallah dan makan sama kami."

Vega tidak mengatakan apa-apa. Dia hanya berbalik dan kembali ke ruang makan.

Di meja makan, suasana di antara mereka bertiga terasa aneh.

Danica tampaknya ingin mencairkan suasana. Dia mengambil sepotong daging ikan yang sudah dibersihkan dari durinya, lalu meletakkannya ke piring Anisa.

"Makan yang banyak. Bukannya kamu suka ikan? Aku sengaja minta bibi dapur masakkin untuk kamu."

Anisa tampak tersanjung. Dia melirik Vega lalu berkata pelan, "Terima kasih, Pak Danica. Nggak perlu seramah ini."

Sendok di tangan Vega berhenti bergerak. Dia mengangkat pandangannya dan menatap Danica.

"Pak Danica benar-benar perhatian asma bawahannya. Bahkan sampai ingat dengan jelas kalau Bu Anisa suka makan ikan."

Gerakan Danica langsung mematung. Alisnya sedikit berkerut.

Seolah tidak melihatnya, Vega melanjutkan dengan santai, "Ngomong-ngomong, aku malah sudah lupa kamu suka makan apa. Selama enam bulan ini aku cuma berurusan sama cairan disinfektan, jadi otakku sudah nggak terlalu berfungsi dengan baik."

"Lagian, kalau suatu hari proses disinfeksinya nggak bersih, lalu tanpa sengaja menyentuh sesuatu yang seharusnya nggak disentuh dan ketularan penyakit kotor, bukankah itu akan jadi masalah besar?"

Dia berhenti sejenak.

Tatapannya perlahan berpindah dari wajah Danica yang kaku ke wajah cantik Anisa yang seketika memucat. Sudut bibirnya terangkat membentuk senyum dingin. "Bukankah begitu, Pak Danica?"

Tampilkan Lebih Banyak
Bab Selanjutnya
Unduh

Bab terbaru

Bab Lainnya

To Readers

Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.

Tidak ada komentar
19 Bab
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status