Share

Miris

Penulis: Naffa Aisha
last update Terakhir Diperbarui: 2022-11-24 15:40:42

Siapa yang Menghamili Muridku

 

Bab 2 : Miris

 

Bayangan akan penderitaan Diyya masih saja berkelebat di kepalaku. Entah kenapa, aku terus memikirkannya. Padahal ini bukan kali pertama ada siswa dikeluarkan dari sekolah karena ketahuan hamil.

 

Kasus Diyya berbeda, dia hamil tanpa diketahui siapa ayahnya. Setahun yang lalu juga ada siswa kelas IX yang ketahuan hamil, tapi langsung dinikahkan sebab dia melakukan perbuatan haram itu bersama pacarnya yang beda sekolah. Lalu ada kasus juga beberapa tahun silam, dia hamil sama suami orang dan dinikahi tapi jadi istri kedua.

 

Lamunanku buyar kala melihat Mas Bilal memasuki kamar. Buru-buru kuhapus air mata yang ternyata sudah menggenang tanpa sadar.

 

"Ada apa, Dek?" tanya Mas Bilal sambil membuka kemejanya.

 

"Gak ada apa-apa. Mas udah makan belum? Biar Adek siapkan makanan," jawabku sambil beranjak dari tempat tidur.

 

"Gak usah, Mas udah makan di luar."

 

"Oh, ya sudah." Aku kembali duduk di tempat tidur.

 

Setelah berganti pakaian, Mas Bilal berbaring di sampingku. Lalu kceritakan masalah Sandiyya kepadanya dan seperti biasa tanggapan pria suka memelihara kumis dan jambang itu selalu datar.

 

"Ya sudah, jangan terlalu dipikirkan. Ayo, tidur!" ucapnya sembari memelukku.

 

***

 

Diantara tidur dan terjaga, terdengar suara ketukan pintu. Kubuka mata dan memindahkan tangan Mas Bilal dengan hati-hati, agar ia tak terbangun. Aku bangkit dari tempat tidur dan membuka pintu kamar.

 

"Bu Endang, hiks .... " Terdengar suara isakan pelan dari depan pintu.

 

Kusibak tirai jendela, tampaklah Sandiyya di luar sana dengan daster selutut. Wajahnya pucat sambil memegangi perut. Segera kubuka pintu.

 

"Sandiyya ... kamu kenapa, Nak?" tanyaku sembari membawanya masuk.

 

"Maaf, Bu, Diyya ganggu malam-malam begini, soalnya gak tahu lagi harus ke mana .... " ujarnya sembari menangis dengan tubuh gemetar.

 

Kulirik jam di dinding yang sudah  menunjukkan pukul 01.17, segera kututup pintu dan mengajaknya duduk di sofa ruang tamu.

 

"Apa yang terjadi?" tanyaku dengan perihatin melihat anak seusia dia berkeliaran malam-malam begini, dengan pakaian tipis dan tanpa alas kaki pula.

 

"Ibuk ngamuk, Bu. Dia ... mau membunuh Diyya .... " jawab anak belia itu di tengah isak tangisnya.

 

"Ya allah .... " Kudekap Sandiyya dengan air mata yang tak tertahan lagi.

 

Kenapa ada orangtua yang seperti itu? Anaknya sudah tertimpa masalah begini, bukannya diberi support tapi malah disiksa dan mau dibunuh. Memangnya masalah akan selesai dengan membunuh gadis kecil ini? Tidak, itu hanya akan menambah permasalahan dengan terjadinya kasus krimimal.

 

"Kenapa Ibumu mau melakukan itu, Diyya?" tanyaku pelan sambil membenarkan rambutnya yang berantakan.

 

"Diyya gak mau bilang ayah dari anak ini, Bu. Ibuk marah dan hampir saja mau menggorok leher saya." Sandiyya menangis sesegukkan.

 

Kusibak rambut panjang gadis itu, darah segar mengalir dari bagian leher sebelah kiri.

Astaga, aku segera berlari mengambil kotak obat dan langsung mengobati luka goresan senjata tajam itu.

 

"Dek .... " panggil Mas Bilal sembari membuka pintu kamar.

 

Sandiyya langsung ketakutan melihat suamiku yang berjalan mendekat ke arah kami. Mas Bilal memang terlihat menyeramkan bagi orang yang baru pertama kali melihatnya. Tubuhnya tinggi berisi dengan kulit hitam, dan rambut ikal yang dipotong tipis.

 

"Jangan takut, dia suami Ibu," ujarku melihat Sandiyya yang tiba-tiba bersembunyi di belakangku.

 

Sandiyya menutup wajahnya dengan tubuh gemetar, ia duduk meringguk di sofa.

 

"Dia siapa, Dek?" tanya Mas Bilal.

 

Melihat Sandiyya yang ketakutan, segera kuhampiri Mas Bilal dan menariknya masuk ke kamar. Kuceritakan permasalahan mantan anak didikku itu kepadanya dan memohon izin agar anak itu boleh menginap di sini.

 

"Dek, jangan terlalu ikut campur dengan urusan orang lain!" Mas Bilal menatapku tajam.

 

"Kasian, Mas. Sandiyya murid Endang, izinkan dia menginap di sini, ya!" bujukku pada pria bertubuh tegap itu.

 

"Terserah kamu saja! Ingat, jangan terlalu ikut campur! Mas gak mau kamu sampai stres hanya karena memikirkan permasalahan orang lain," jawabnya sambil menutupi seluruh tubuhnya dengan selimut.

 

Aku menelan ludah, Mas Bilal memang begitu, jiwa sosialnya memang kurang. Ia terlalu cuek dan tidak perduli dengan urusan orang lain. Ya sudah, yang terpenting dia sudah memberi izin walau terlihat tidak ikhlas.

 

Segera kuhampiri Sandiyya yang masih duduk meringkuk.

 

"Diyya, jangan duduk seperti ini! Kasian bayimu. Malam ini kamu tidur di rumah Bu Endang saja. Ayo, Ibu antar ke kamar." Kupapah tubuhnya masuk ke kamar tamu yang sudah kussiapkan.

 

Setelah menyelimuti gadis malang itu dan menyuruhnya tidur, aku keluar dari kamar dengan hati yang pilu. Hatiku semakin teriris dengan masalah yang dihadapi Sandiyya. Nasibnya semakin miris, ibunya juga tidak mau mengerti dengan keadaan anaknya. Aku harus bagaimana? Semalaman mata ini enggan terpejam, otakku terus berkelana mencari solusi untuk masalah yang dihadapi Diyya.

 

bersambung ....

 

 

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Siapa yang Menghamili Muridku?   Tamat

    Siapa yang Menghamili MuridkuBab 59 : Tamat“Selama, Sandiyya, kamu berhak atas nilai ‘A’ dalam skripsimu ini.” Dosen pembimbing menyalamiku.Ya Allah, air mata kebahagiaanku jatuh tak tertahan, aku tak menyangka kalau akan mendapatkan nilai terbaik. Aku langsung melakukan sujud syukur.“Selamat, ya, Sandiyya. Semoga gelar Sarjana Pendidikan ini bisa kamu manfaatkan sebagai mana mestinya!” Kepala Jurusa Prodi Matematika memasangkan tanda lulus yang bertuliskan “Sandiyya, S,Pd” di bahuku, seperti putri Indonesia tampilanku saat ini, senang tak terkira hatiku.Air mata masih tak dapat kutahan, aku tersenyum senang dan menyalami dua dosen penguji, dosen pembimbing juga Kepala jurusan.“Sayang, selamat, ya.” Om Egi menyalamiku saat ruangan mulai sepi, para dosen sudah keluar dari ruangan sidang.“Makasih, ya, Mas, semua ini tak lepas dari dukungan kamu, Bu Endang, Ibuk juga anak-anak. Aku persembahkan keberhasilan ini kepada kalian,” jawabku sambil menerima uluran tangannya.“Kita pulan

  • Siapa yang Menghamili Muridku?   Lega

    Siapa yang Menghamili Muridku?Bab 58 : LegaSaat membuka mata di pagi hari, aku merasa semua drama yang terjadi semalam adalah mimpi. Akan tetapi, pria yang masih terlelap di sampingku ini membuatku yakin kalau hal semalam adalah nyata adanya.Aku segera bangkit dari tempat tidur dan menarik napas lega, hati ini terasa berbunga-bunga saat ini. Nggak nyangka saja, kalau kini aku telah resmi menjadi istri Om Egi. Melani, dia wanita tegar, yang rela mundur dari pernikahannya. Aku berhutang budi kepadanya, kalau bukan karena dia, aku tak yakin bisa menikah Papa dari putraku itu.“Selamat pagi, Sayang.” Sebuah pelukan serta ciuman mendarat di dahiku.Aku menoleh dan menahan senyum, sedikit malu juga sebab pagi status kami tak lagi seperti kemarin lagi.“Saya mau mandi dulu,” ujarnya sambil melepaskan pelukannya dariku lalu turun dari tempat tidur.Aku mengangguk lalu melipat selimut juga merapikan bantal. Jadi kangen dengan anak-anak, sedang apa mereka dan di mana? Kuraih ponsel dan melak

  • Siapa yang Menghamili Muridku?   Trauma

    Siapa yang Menghamili MuridkuBab 57 : Trauma“Terima kasih, ya, Tante Melani. Diyya janji akan selalu mengingat pesan ini, terima kasih juga atas—“ Aku tak bisa melanjutkan kata-kata ini, hanya air mata yang kembali menjawab semua ini.“Iya, sama-sama, saya mengerti, semoga kalian selalu bahagia.” Melani melepaskan pelukannya.Bu Endang menghampiri Melani dan memeluknya, mereka sedikit menjauh dan terlihat berbicara. Om Egi dan aku mendekat kepada Ibuk lalu salim kepadanya.“Jaga putri Ibuk yang masih kekanak-kanakan ini ya, Egi, cinta dan sayangi dia. Tuntun dan bimbinglah dia menjadi istri yang sholeha dan berbakti kepada suami. Ibuk sangat senang kalian bisa berjodoh,” ujar Ibuk dengan sambil menepuk pundak Om Egi.“Insyallah, Buk,” jawab Om Egi.Aku langsung memeluk Ibuk dan menangis di pundaknya, dan Ibuk mulai mengeluarkan nasihat-nasihatnya untuk kami.“Bu Melani, terima kasih, telah menikahkan putri saya dengan pria yang ia sayangi tapi tak berani ia ungkapan karena masa lalu

  • Siapa yang Menghamili Muridku?   Pergantian Mempelai

    Siapa yang Menghamili Muridku?Bab 56 : Pergantian Mempelai“Maafkan aku, Melani!” Om Egi menundukkan kepalanya.“Semua ini tak cukup hanya dengan meminta maaf saja, Egi! Kamu kenapa sih? Kalau memang tak mau nikah denganku, kenapa nggak bicara terus terang saja!” Melani menatap tajam Om Egi dan mengangkat wajah pria bertubuh tinggi itu hingga mereka bertatapan.“Semua terjadi tanpa kuasaku, bukan mauku seperti ini, Melani!” jawab Om Egi dengan suara parau, wajahnya terlihat kacau saat ini.“Jadi maumu apa?!” Melani berteriak marah yang membuat aku memegangi dada karenanya. “Apa maumu menikah dengan gadis muda ini? Bilang dong sama dia, jangan menjadikanku korban begini!”Om Egi terdiam.“Lalu kamu ... Sandiyya ‘kan namamu? Kenapa kamu menolak Egi kalau kamu tak ikhlas melihat dia menikah denganku?!” Melani kini menatapku tajam.“I—iya ... nggak gi—gitu, Tante ... Diyya i—ikhlas kok kalian me—menikah .... “ jawabku dengan terbata-bata, mati kutu rasanya dimarahkan calon istrinya Om

  • Siapa yang Menghamili Muridku?   Menghitung Hari

    Siapa yang Menghamili Muridku?Bab 55 : Menghitung HariSejak malam itu, aku mulai menghitung hari. Om Egi juga tak pernah datang atau juga mengirimkan chat. Aku juga enggan menangis sebab air mata suka jatuh dengan sendirinya walaupun aku tak mau menangis.Bu Endang, dia sangat senang mengetahui Om Egi akan menikah walau ada hati yang terluka atas hal itu. Guru tersayangku itu tak tahu kalau ada sesuatu diantara kami yang memang tak diketahui oleh siapa pun, kecuali hati kami berdua.Bu Endang itu sudah sibuk mengurusi anak kembarnya yang sedang aktif-aktifnya, jadi wajar saja kalau dia takkan sempat memantau hubunganku dengan Om Egi. Kalau dia tahu ada apa-apa diantara kami, dia pasti takkan membiarkan Abangnya mau menikahi wanita lain. Ah, sudahlah, ini sudah keputusanku dan mungkin saja sudah takdir dari Yang Maha Kuasa.Hari ini, tanggal di kalender yang kulingkari sudah berjumlah 6, dan itu tandanya kalau besok adalah yang paling menyedihkan akan tiba. Aku harus kuat, kebaya unt

  • Siapa yang Menghamili Muridku?   Mencoba Ikhlas

    Siapa yang Menghamili Muridku?Bab 54 : Mencoba IkhlasHari ini kondisiku sudah semakin membaik, mungkin karena bubur dan obat yang diberikan langsung oleh orang yang kusayangi tapi takkan lama lagi dia tidak akan bisa seperhatian ini lagi jika sudah menikahi Melani nanti. Melani akan menjadi wanita paling beruntung karena memiliki pria sebaik dan perhatian seperti Om Egi, hanya aku yang akan menangis sepanjang jalan atas isi hati yang tak bisa tersampaikan kepadanya.[Bagaimana keadaan Mamanya Dio? Apa perlu saya bawa ke dokter hari ini?]Itu chat dari Om Egi yang membuat suasana hati semakin membaik, apalagi saat membayangkan senyum juga tatapannya, aku jadi tersenyum sendiri.[Udah sembuh, Om, terima kasih, ya.]Kubalas chat dan berharap ia tak kembali membalasnya, sebab aku harus bisa membiasakan diri tanpa perhatiannya walau sebenarnya aku senang akan semua sikap manisnya selama ini. Om Egi, aku sayang sama Om tapi maaf ... aku belum bisa menjadi pendamping terbaik untukmu. Aku a

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status