MasukSebelum melangkah lebih jauh menembus kegelapan, barisan para Hunter tertahan di depan perimeter yang dijaga ketat oleh barikade Tentara. Beberapa tentara dengan seragam loreng taktis lengkap bergerak efisien, membagikan sebuah perangkat sirkular logam ke pergelangan tangan setiap anggota tim penaklukan. Perangkat itu adalah gelang Magitech resmi.
"Aku tidak pernah bosan melihat gelang ini." Ucap seorang Hunter sambil memainkan fitur-fitur canggih pada gelangnya. Fungsi utamanya bertindak sebagai alat pelacak posisi real-time sekaligus pemantau tanda-tanda vital kondisi tubuh. Di era baru ini, teknologi tersebut menjadi standar wajib demi meminimalkan angka kematian yang sia-sia di Dungeon. Selain memantau detak jantung, gelang itu juga memuat berbagai macam fitur digital sekunder; mulai dari buku panduan portabel tentang ekologi Dungeon, hingga mesin pencari mini terintegrasi yang mampu memindai inisial kata dengan cepat layaknya browser modern. Khusus untuk Hanan yang memegang peran sebagai 'porter', gelangnya mendeteksi kode bar pada ransel raksasanya dan memunculkan fitur tambahan otomatis. Layar holografis biru tipis mengapung di atas pergelangan tangannya, menampilkan katalog digital berisi ruang inventaris barang serta nomor urut peletakan material monster yang nantinya akan dia angkut. "Wah, teknologi sekarang sudah secanggih ini rupanya..." Gumam Hanan heran. Dia belum pernah melihat hal seperti itu sebelumnya karena dia berasal dari desa yang masih terjebak di zaman kayu. teknologi yang paling hebat cuma smartphone, dan kendaraan seperti motor dan mobil pickup. Setelah mengunci klik gelang Magitech-nya dengan pas, Hanan menarik napas panjang. Dia melangkah maju, berjalan di baris paling belakang mengikuti para Hunter yang langsung berbondong-bondong memasuki mulut Dungeon setelah mengenakan perangkat mereka. Whoomm.... Sejauh sepuluh meter pertama, langkah mereka hanya ditemani oleh keheningan lorong gelap gulita dari gedung tua yang hampir runtuh. Namun, tepat setelah mereka berjalan maju sejauh lima meter lagi, atmosfer di sekitar mereka mendadak berubah secara ekstrem. Tidak ada sensasi berjalan turun atau meniti tangga curam, namun secara spasial, mereka tiba-tiba sudah berada jauh di dalam perut bumi. Struktur dinding semen berganti menjadi formasi bebatuan purba yang menganga sangat luas, membentuk sebuah goa bawah tanah raksasa yang menentang hukum logika ruang normal. "Woaahhh!" Hanan yang baru pertama kali seumur hidupnya menyaksikan fenomena distorsi dimensi ini langsung terkesima. Matanya membelalak, melirik ke sekeliling langit-langit goa yang dipenuhi kristal sihir redup dengan rasa takjub yang murni. Berbeda dengannya, para Hunter peringkat D dan E di barisan depan tampak berekspresi biasa saja, berjalan santai dengan senjata terhunus seolah sudah terbiasa melihat anomali tersebut setiap hari. "Lihat si peringkat F itu," Gumam seorang Hunter kemudian cekikikan bersama temannya karena Hanan terlihat sangat kampungan. Setelah berjalan dalam formasi siaga selama sekitar enam menit menembus kelembapan goa, pergerakan tim mendadak terhenti. Indra pendengaran mereka menangkap suara geraman rendah yang menggema di bebatuan. Di depan mereka, sekelompok predator berdarah dingin telah memblokade jalan. Itu adalah kawanan monster yang memiliki anatomi mirip seperti serigala, namun berukuran dua kali lebih besar dari binatang normal. Jumlahnya tidak main-main, sekitar lima puluh ekor, dan yang paling mengerikan adalah bagian ekor mereka yang menyala-nyala oleh kobaran api magis berwarna biru pekat. "Formasi standar! Vanguard maju, lindungi baris belakang!" Seru sang Kapten peringkat D memberikan aba-aba tegas. Dalam sekejap, seluruh Hunter langsung menerjang masuk ke dalam pertempuran dengan koordinasi yang telah ditentukan sebelumnya. Suara dentingan logam, rapalan mantra elemen tingkat rendah, dan lolongan serigala langsung pecah memenuhi ruangan goa. Setiap Hunter peringkat D mengambil tanggung jawab berat dengan menahan dua sampai tiga monster sekaligus secara agresif, sementara para Hunter peringkat E bergerak berpasangan untuk mengatasi satu sampai dua ekor serigala sejauh kapasitas yang mereka mampu. "Hei, jangan terlalu menarik perhatian!" "Perhatikan musuhmu, jangan lengah!" "Itu bagianku!" Hebatnya, para Hunter peringkat D itu tidak kesulitan dan malah saling berebut monster, seolah-olah itu adalah sebuah permainan. Hanan sendiri langsung mengambil posisi aman. Sifat penakutnya secara refleks menuntun tubuhnya untuk berdiri merapat di dekat dinding goa dari jarak yang cukup jauh. Sembari mendekap tali ransel raksasanya yang menempel di punggung, sepasang mata hitamnya bergerak cepat, memperhatikan jalannya pertarungan dengan saksama. Slashh!! Whushh!! Srakkk!! Pandangannya tidak terdistraksi oleh kilatan sihir penyihir; fokusnya tertuju penuh pada setiap Hunter yang menggunakan sebilah Pedang Besar (Greatsword) sebagai senjata utama mereka. Saat mengamati ayunan-ayunan masif tersebut dari kejauhan, sebuah pencerahan mendadak menghantam kepala Hanan. Otot-ototnya mengingat kembali sensasi kebas saat dia bertarung nekat melawan monster banteng di desanya tempo hari, dan perlahan dia mulai menyadari setiap kesalahan fatal yang dia lakukan saat itu. "Hebatnya..." 'Greatsword' sama sekali tidak bisa diperlakukan seperti belati, pedang biasa, ataupun pedang panjang standar. Senjata itu terlalu panjang, masif, berbobot berat, dan memiliki momentum yang lambat. Hanan menganalisis bahwa cara paling efektif untuk menggunakannya adalah dengan menjaga jarak konstan dari tubuh musuh, memanfaatkannya sebagai pemukul jarak menengah layaknya menggunakan tombak. Namun, jika situasi mendesak dan musuh berhasil merangsek masuk ke zona buta yang terlalu dekat, gaya bertarung harus berubah total secara instan. Alih-alih memaksakan tebasan yang membutuhkan ruang, seorang pengguna 'Greatsword' harus mengandalkan kombinasi tinjuan fisik murni, hantaman bagian tumpul bilah pedang, atau sodoran kuat menggunakan gagang pedang untuk menciptakan jarak kembali. "Jadi seperti ini, lalu... seperti ini-?!" Gumamnya sambil menirukan gaya bertarung para Greatswordman. Cara mengayunkannya pun tidak boleh asal menggunakan kekuatan otot lengan belaka. Agar daya hancurnya maksimal tanpa mematahkan pergelangan tangan sendiri, semua poros tenaga harus berpusat kokoh pada pijakan kaki di tanah, mengalir naik melewati pinggul, disalurkan ke otot punggung dan tangan, sebelum akhirnya meledak pada ujung bilah 'Greatsword' yang sedang terayun. Hasil analisis spontan di dalam kepala Hanan ini terhitung sangat akurat bagi seorang pemula tanpa dasar berpedang, meskipun tentu saja dia masih memiliki beberapa kesalahan kecil dalam penilaian taktisnya karena belum pernah mengecap pelatihan formal. Setelah setengah jam pertempuran yang melelahkan berlalu, seluruh kawanan serigala berekor api itu akhirnya berhasil dibasmi total hingga menjadi serpihan batu mana. Setelah para 'porter' termasuk Hanan mengumpulkan beberapa material berharga, penjelajahan kembali berlanjut menembus labirin bawah tanah. Pola yang sama kembali berulang. Sepanjang perjalanan menelusuri goa yang bercabang, mereka kembali bertemu dengan sekawanan monster dalam interval waktu tertentu. Pertarungan demi pertarungan kembali pecah, dan dalam tujuh kali insiden pertempuran berturut-turut itu, mulai dari menghadapi kawanan serigala ekor api, koloni Lizardman yang tangguh, hingga gerombolan Goblin yang licik, Hanan tidak pernah mengalihkan pandangannya dari pergerakan para pengguna 'Greatsword'. Otaknya merekam, mengoreksi, dan mengasimilasi setiap teknik ayunan visual itu ke dalam memori ototnya. Hingga akhirnya, langkah kaki regu penaklukan itu membawa mereka keluar dari celah sempit, sampai di sebuah ruangan internal yang luasnya berkali-kali lipat dari lorong goa yang mereka lalui sebelumnya. Area itu menyerupai sebuah aula teater alami yang masif. "Hah? Kenapa bosnya–?!" Gumaman tertahan penuh keterkejutan mendadak lolos dari mulut salah seorang Hunter di barisan depan. Kalimatnya menggantung di udara saat sepasang matanya menangkap siluet mahluk raksasa yang sedang terduduk, tertidur pulas di tengah ruangan. Makhluk itu adalah seekor Gorila berkepala banteng dengan otot-otot legam yang masif. Ukuran, bentuk fisik, dan aura tekanannya sama persis seperti monster humanoid raksasa yang memporak-porandakan desa Hanan dan melukai Tuan Rin beberapa hari lalu. Saat pandangannya jatuh pada makhluk itu, kilasan ingatan buruk mendadak membuat darah Hanan berdesir. Niat bertarung di dalam dirinya sempat terpacu hebat untuk beberapa detik; ada dorongan emosional yang menuntutnya untuk membalas dendam atas hancurnya desa dan luka-luka yang dia terima. Namun, rasionalitasnya segera menampar kesadarannya kembali. Pertarungan ini bukanlah miliknya, dia hanyalah seorang 'porter' berperingkat F di sini. Lagipula, sifat penakutnya yang dominan langsung menjerit, melarangnya untuk maju senekat itu menghadapi monster humanoid raksasa yang pernah membuat seorang Elf penyihir tak berdaya. Meski begitu, ada hal aneh yang tertangkap oleh indra pengamatan Hanan. Di depan sana, entah kenapa tidak ada satu pun Hunter peringkat D atau E yang bergerak maju untuk menginisiasi serangan kejutan pada monster yang sedang lengah tersebut. Atmosfer di barisan depan mendadak menjadi sangat kaku dan sunyi. Saat Hanan memperhatikan ekspresi wajah sang Kapten dan para Hunter senior yang mendadak memucat dengan keringat dingin yang mengucur deras, dia akhirnya mengerti segalanya. Situasi ini sama sekali tidak normal. Ini adalah Dungeon peringkat E, yang seharusnya hanya dihuni oleh Bos Monster dengan tingkat ancaman serupa. Keberadaan gorila kepala banteng, yang merupakan Bos Monster Peringkat C, di tempat ini adalah sebuah anomali fatal dalam sistem deteksi Magitech. 'Pasti ada yang salah dengan Dungeon ini,' pikir Hanan cemas. kemudian, Kapten penaklukan mengangkat tangannya ke atas, dalam sekejap menarik perhatian semua Hunter kepadanya.Panggilan telepon itu tersambung hanya dalam satu kali nada panggil."Kaelen," panggil Hanan santai, menyenderkan Greatsword raksasanya di bahu kiri. "Aku butuh sedikit bantuan di jalan raya distrik luar. Ada sepuluh orang asing yang tiba-tiba melompat menyergapku."Di ujung telepon, suara Kaelen yang biasanya tenang dan penuh wibawa seketika berubah drastis."Apa?! Sepuluh orang menyergapmu?!" teriak Kaelen dengan nada panik yang tidak bisa disembunyikan. "Hanan, bertahanlah! Jangan ambil tindakan nekat! Aku dan Albert akan segera meluncur ke lokasimu sekarang juga!"TUT... TUT... TUT...Panggilan diputus sepihak dari seberang sebelum Hanan sempat menyuarakan penjelasannya bahwa situasi di lapangan sudah sepenuhnya terkendali.Hanan menghela napas pasrah menatap layar ponselnya. "Dasar... mereka bahkan tidak mau mendengarkanku sampai selesai."Sambil menunggu kedatangan bantuan, Hanan menatap sepuluh penyerang yang masi
"Tua Bangka, Ikut aku ke ruang rapat utama. Kita harus membahas pergerakan kelompok ini lebih mendalam bersama divisi intelijen," ujar Kaelen seraya berbalik arah, melangkah keluar dari ruangan latihan yang hancur berantakan tersebut. Albert menepuk-nepuk celananya, mengibaskan debu logam yang menempel. "Bocah, lanjutkan latihannya sendirian. Jangan malas-malasan!" serunya pada Hanan sebelum mengekor di belakang Kaelen tanpa sepatah kata pun untuk berpamitan lagi. Hanan yang ditinggalkan sendirian di tengah ruangan lapang hanya menghela napas panjang. Ia sama sekali tidak berniat memikirkan isu kelompok pemburu itu. Prinsip hidupnya sederhana: politik agensi dan ancaman di luar sana adalah urusan para perwira tinggi. Selama ia terus mengasah kekuatan fisiknya, bahaya apa pun yang datang menghampiri akan sanggup ia ratakan. Hanan kembali menegakkan tubuhnya, memegang gagang Greatsword dengan erat. Selama be
Ruang latihan privat lantai bawah tanah Agensi Saint membisu dalam suasana serba canggih. Dinding-dindingnya dilapisi lembaran logam paduan khusus yang dirancang dengan teknologi Magitech paling mutakhir. Menurut standar agensi, struktur ini dibuat sedemikian rupa hingga digadang-gadang sanggup menahan guncangan ledakan nuklir skala sedang. Di era modern yang distopis ini, dunia bergerak murni di atas roda sistem kekuatan fantasi: 'Mana' untuk menyalurkan Sihir, serta 'Aura' untuk memperkuat fisik dan tebasan Pedang. Dunia ini sama sekali tidak mengenal apa yang disebut sebagai 'skill' layaknya cerita di komik-komik zaman dulu. Komik bergenre seperti itu sudah dianggap Ketinggalan zaman dan hampir dihentikan total produksinya oleh para penerbit. Satu-satunya alasan mengapa beberapa judul komik kuno itu masih terus digambar adalah keberadaan kolektor fanatic, dan Albert adalah salah satu dari sedikit orang kaya yang secara p
Proses pengumpulan material dan pembersihan area 'Dungeon' minimarket berlangsung jauh lebih cepat dari perkiraan semula. Bau amis darah monster yang sempat memenuhi aura ngarai perlahan sirnah saat kristal-kristal bercahaya dan bangkai 'Middle Boss' diangkut secara bertahap oleh barisan 'porter'. Begitu kaki terakhir anggota tim menapak kembali di atas aspal parkiran yang retak, suasana gembira langsung meledak di antara para Hunter. Hasil penaklukan itu dicatat secara resmi oleh Asosiasi Hunter: tidak ada korban jiwa dan tidak ada satu pun yang menderita luka berat. Hanya beberapa cedera gores ringan pada Hunter yang kurang waspada saat menghadapi sergapan 'Gargoyle'. Sebuah rekor yang amat jarang dalam sejarah penumpasan 'Dungeon' tingkat D ke atas, yang biasanya selalu memakan korban patah tulang atau luka bakar serius. "Pencapaian luar biasa untuk misi perdanamu sebagai perwira lini tengah, Hana
"Gunakan penutup mata atau pejamkan mata kalian!" seru Clara cepat. "Pancaran di ruangan ini bisa merusak saraf mata secara permanen!" Seluruh Hunter terpaksa memejamkan mata rapat-rapat, mengandalkan pendengaran mereka yang terbatas. Hanya Hanan seorang yang berdiri tegap di tengah bukaan aula, menatap lurus ke dalam pendar kristal tanpa rasa takut sedikit pun. Indranya yang telah ditempa oleh 'Divine Energy' membuat sihir ilusi tingkat menengah itu membalas tumpul. Di tengah ruangan, sesosok bayangan monster raksasa samar-samar terlihat bertengger. "Mundur ke lorong gua!" perintah Hanan kepada seluruh anggota tim di belakangnya. "Kalian fokus berikan serangan jarak jauh dari luar aula saja. Jangan masuk ke ruangan ini agar tidak menjadi beban!" Clara sempat ragu, namun menyadari bahwa masuk ke ruangan bertabur ilusi tanpa penglihatan sama saja menyerahkan nyawa, ia akhirnya mema
Kepulan asap dari masakan hangat menyambut kedatangan Hanan begitu ia menggeser pintu kayu rumah sederhananya. Bau rempah-rempah yang akrab seketika meluluhkan seluruh kelelahan fisik dan beban mental yang menumpuk di pundaknya selama dua bulan terakhir."Hanan? Ya Tuhan, kamu sudah pulang, Nak!"Ibunya bergegas keluar dari dapur dengan celemek yang masih terikat di pinggang. Matanya berkaca-kaca saat memeluk erat tubuh anak tunggalnya. Ayahnya yang baru saja meletakkan perkakas kayu di sudut ruang tamu ikut mendekat, menepuk-nepuk bahu Hanan dengan binar bangga yang tak bisa disembunyikan.Selama satu minggu penuh, Hanan benar-benar memutuskan hubungan dengan dunia Hunter, perang kasta, dan intrik politik agensi. Ia menghabiskan hari-harinya membantu ibunya memasak, mendampingi ayahnya memperbaiki atap rumah yang bocor, serta menikmati hidangan sederhana di meja makan tanpa perlu memikirkan ancaman kematian di dalam Dungeon.Bagi Hanan, senyuman







