LOGINSetelah menempuh perjalanan menggunakan transportasi umum selama beberapa belas menit, dia akhirnya sampai di titik koordinat. Lokasi Dungeon itu berada tepat di sebelah sebuah kompleks taman kanak-kanak yang untungnya sudah dikosongkan dan dipasang garis pengaman.
Setibanya di sana, Hanan dapat melihat sebuah gedung kecil berlantai satu yang terbengkalai. Area sekitarnya telah disterilkan dan sedang dijaga ketat oleh beberapa petugas tentara bersenjata lengkap. Pintu masuk utama gedung itu tampak hancur berantakan, menyisakan sebuah sebuah lubang besar. Jika seseorang mencoba mengintip ke dalam lorong gelap tersebut, ada sensasi tidak alami yang membuat bulu kuduk berdiri. Itu adalah Dungeon. Sebuah sarang monster temporal yang terkadang muncul secara acak di tempat-tempat tak terduga, baik di tengah hiruk-pikuk kota modern maupun di luar area pemukiman warga. Untungnya, peradaban manusia modern telah beradaptasi. Sebelum kemunculan sebuah Dungeon, biasanya akan terjadi lonjakan energi sihir laten di sekitar area tersebut yang dapat dideteksi dengan akurat oleh alat-alat pemindai Magitech milik Agensi Hunter manapun. Dengan begitu, tindakan pencegahan dan evakuasi dini dapat segera dilakukan oleh Agensi terdekat tanpa adanya korban jiwa dari kecelakaan yang tidak disengaja. Hanan berjalan mendekati perimeter garis polisi. Di halaman gedung tua itu, dia melihat ada sekitar dua puluh orang Hunter yang sedang bersiaga dan memeriksa perlengkapan mereka. Berdasarkan warna pin yang mereka kenakan, komposisi tim ini terdiri dari Hunter peringkat E(ungu) hingga beberapa peringkat D(biru) yang bertindak sebagai pemimpin sub-regu. Begitu langkah kaki Hanan memasuki area berkumpul, semua orang langsung menyadari kehadirannya. Pandangan mereka secara serentak tertuju pada dada kiri Hanan. Namun, begitu melihat pin nama berwarna perunggu yang menandakan peringkat F, seluruh Hunter di sana langsung membuang muka dan mengabaikannya seketika sambil mendesah malas. Bagi mereka, kedatangan seorang rank F tidak lebih dari sekadar menambah beban yang harus diawasi di dalam Dungeon nantinya. Hanan sama sekali tidak memedulikan sikap dingin mereka. Baginya, diabaikan adalah skenario terbaik agar dia tidak perlu terlibat dalam konflik internal. Dia lebih memilih untuk berjalan lurus menghampiri seorang pria bertubuh kekar dan tegap yang sedang duduk di balik meja lipat tak jauh dari lubang pintu masuk Dungeon. Pin namanya berwarna biru terang, menunjukkan statusnya sebagai Hunter peringkat D sekaligus kapten untuk penaklukan kali ini. "Permisi, selamat pagi, Pak," sapa Hanan dengan sangat sopan, membungkukkan tubuhnya sedikit. "Saya Hanan, 'porter' yang ditugaskan untuk misi hari ini." Dia kemudian menyerahkan lembar kertas misinya kepada pria kekar itu. Pria itu mendongak, menerima kertas tersebut, dan membacanya sekilas dengan dahi berkerut. Tanpa mengucapkan sepatah kata pun, dia mengambil pena digital dan segera menuliskan nama Hanan di dalam daftar hadir anggota ekspedisi. Setelah selesai, dia menunjuk ke arah sudut tenda darat di belakangnya dengan dagunya. "Namamu sudah terdata. Sekarang kamu tunggu saja di sana bersama yang lain. Kita masih harus menunggu beberapa Hunter dari tim medis dan penyihir yang masih dalam perjalanan ke sini," ujar pria peringkat D itu dengan suara berat yang monoton. Hanan mengangguk patuh. Sebelum dia melangkah ke area tunggu, pria kekar itu kembali bersuara, "Oh, satu lagi. Porter, tinggalkan semua barang bawaanmu. Atau, jika kamu mampu mengangkat keduanya tidak masalah. Karena kamu adalah porter, lihat tas besar disana? Itu adalah barang yang akan kamu bawa bersama kami nanti." Hanan menoleh ke arah yang ditunjuk. Di sudut tenda, terletak sebuah tas ransel taktis berukuran sangat besar, tingginya mencapai manusia dewasa dan terbuat dari bahan serat sintetis tebal yang dirancang untuk menampung batu mana serta sisa-sisa bagian tubuh monster bernilai tinggi. Ukurannya yang masif tampak mengerikan bagi ukuran manusia biasa. "Baik, Pak. Terima kasih," jawab Hanan. Dia melangkah mendekati tas ransel raksasa itu. Mengingat penampilannya yang tinggi namun cenderung kurus, beberapa Hunter peringkat E yang menonton dari jauh mulai menyeringai, bersiap menertawakan si peringkat F saat dia kesulitan mengangkat tas tersebut. Hanan menarik napas pendek, mencengkeram kedua tali pengikat tas, lalu mencoba mengangkatnya dari atas tanah. Set... Hanan berkedip lambat. Siapa sangka, ternyata tas besar itu sama sekali tidak seberat yang ia pikirkan sebelumnya. Berkat kekuatan fisik masif warisan genetik yang sanggup menahan hantaman monster kelas berat, bobot tas kosong ini terasa seringan tas sekolah biasa di lengannya. Dengan satu gerakan santai yang mulus, Hanan menyampirkan tas ransel raksasa itu ke punggungnya, menyesuaikan posisi tali pengikat tanpa menunjukkan gurat kelelahan sedikit pun di wajahnya. Tindakan santai itu sontak membuat beberapa Hunter yang berniat mengejeknya terbungkam, menatapnya dengan tatapan heran. Mereka mulai berdiskusi betapa tidak masuk akalnya itu. Sebab, porter rank D sekalipun akan kesulitan membawa tas tersebut, namun porter rank D itu dapat mengangkatnya dengan mudah seolah-olah tidak membawa apapun di punggungnya. Hanan kemudian memeriksa semua barang bawaannya, tidak ada yang tertinggal. Obat sakit kepala, buku catatan kecil, pulpen, bahkan beberapa camilan yang muat di dalam saku. Selain pengecut, Hanan merupakan orang yang mudah sakit. Meskipun kekuatan fisiknya luar biasa, resistensinya terhadap penyakit sepele seperti sakit kepala benar-benar lemah. Alasannya membawa camilan juga karena hal itu. Jika dia merasa lapar dan tidak makan dalam beberapa jam setelahnya, kepalanya akan langsung terasa sakit. Semua barang bawaannya benar-benar persiapan matang untuk menjaga kondisi tubuhnya tetap stabil selama bekerja. Beberapa menit kemudian, suara deru kendaraan taktis terdengar berhenti di luar perimeter. Para Hunter yang tersisa akhirnya telah sampai di lokasi. Kapten peringkat D segera berdiri dari kursinya, memberikan instruksi tegas melalui pengeras suara portabel agar seluruh anggota regu berkumpul membentuk formasi baris depan dan belakang. Layaknya tentara, mereka disuruh membentuk barisan yang rapi dan tampak profesional. Kapten kelompok kemudian memberikan beberapa arahan, saran dan peringatan. Sederhananya, ketika berada di dalam dungeon, mereka harus selalu mengikuti perintah kapten dan beberapa pemimpin regu. Jika terjadi kecelakaan diluar perintah kapten dan pemimpin regu, maka para Hunter harus bertanggungjawab secara pribadi karena tidak mengikuti perintah. Setelah diberikan pengarahan, semua orang mulai mempersiapkan diri mereka. Melihat lorong gelap Dungeon di depan mata yang kadang terdistorsi, Hanan merasakan sensasi dingin kembali merayapi tengkuknya. Sifat penakutnya bergejolak kecil, membuat tangannya sedikit gemetar saat dia menggenggam erat tali tas ranselnya. Namun, dia selalu meyakinkan dirinya sendiri bahwa ini hanyalah Dungeon peringkat E yang aman. Bersama dengan dua puluh Hunter bersenjata di depannya, Hanan melangkah maju, bersiap memasuki Dungeon pertamanya hari itu.Panggilan telepon itu tersambung hanya dalam satu kali nada panggil."Kaelen," panggil Hanan santai, menyenderkan Greatsword raksasanya di bahu kiri. "Aku butuh sedikit bantuan di jalan raya distrik luar. Ada sepuluh orang asing yang tiba-tiba melompat menyergapku."Di ujung telepon, suara Kaelen yang biasanya tenang dan penuh wibawa seketika berubah drastis."Apa?! Sepuluh orang menyergapmu?!" teriak Kaelen dengan nada panik yang tidak bisa disembunyikan. "Hanan, bertahanlah! Jangan ambil tindakan nekat! Aku dan Albert akan segera meluncur ke lokasimu sekarang juga!"TUT... TUT... TUT...Panggilan diputus sepihak dari seberang sebelum Hanan sempat menyuarakan penjelasannya bahwa situasi di lapangan sudah sepenuhnya terkendali.Hanan menghela napas pasrah menatap layar ponselnya. "Dasar... mereka bahkan tidak mau mendengarkanku sampai selesai."Sambil menunggu kedatangan bantuan, Hanan menatap sepuluh penyerang yang masi
"Tua Bangka, Ikut aku ke ruang rapat utama. Kita harus membahas pergerakan kelompok ini lebih mendalam bersama divisi intelijen," ujar Kaelen seraya berbalik arah, melangkah keluar dari ruangan latihan yang hancur berantakan tersebut. Albert menepuk-nepuk celananya, mengibaskan debu logam yang menempel. "Bocah, lanjutkan latihannya sendirian. Jangan malas-malasan!" serunya pada Hanan sebelum mengekor di belakang Kaelen tanpa sepatah kata pun untuk berpamitan lagi. Hanan yang ditinggalkan sendirian di tengah ruangan lapang hanya menghela napas panjang. Ia sama sekali tidak berniat memikirkan isu kelompok pemburu itu. Prinsip hidupnya sederhana: politik agensi dan ancaman di luar sana adalah urusan para perwira tinggi. Selama ia terus mengasah kekuatan fisiknya, bahaya apa pun yang datang menghampiri akan sanggup ia ratakan. Hanan kembali menegakkan tubuhnya, memegang gagang Greatsword dengan erat. Selama be
Ruang latihan privat lantai bawah tanah Agensi Saint membisu dalam suasana serba canggih. Dinding-dindingnya dilapisi lembaran logam paduan khusus yang dirancang dengan teknologi Magitech paling mutakhir. Menurut standar agensi, struktur ini dibuat sedemikian rupa hingga digadang-gadang sanggup menahan guncangan ledakan nuklir skala sedang. Di era modern yang distopis ini, dunia bergerak murni di atas roda sistem kekuatan fantasi: 'Mana' untuk menyalurkan Sihir, serta 'Aura' untuk memperkuat fisik dan tebasan Pedang. Dunia ini sama sekali tidak mengenal apa yang disebut sebagai 'skill' layaknya cerita di komik-komik zaman dulu. Komik bergenre seperti itu sudah dianggap Ketinggalan zaman dan hampir dihentikan total produksinya oleh para penerbit. Satu-satunya alasan mengapa beberapa judul komik kuno itu masih terus digambar adalah keberadaan kolektor fanatic, dan Albert adalah salah satu dari sedikit orang kaya yang secara p
Proses pengumpulan material dan pembersihan area 'Dungeon' minimarket berlangsung jauh lebih cepat dari perkiraan semula. Bau amis darah monster yang sempat memenuhi aura ngarai perlahan sirnah saat kristal-kristal bercahaya dan bangkai 'Middle Boss' diangkut secara bertahap oleh barisan 'porter'. Begitu kaki terakhir anggota tim menapak kembali di atas aspal parkiran yang retak, suasana gembira langsung meledak di antara para Hunter. Hasil penaklukan itu dicatat secara resmi oleh Asosiasi Hunter: tidak ada korban jiwa dan tidak ada satu pun yang menderita luka berat. Hanya beberapa cedera gores ringan pada Hunter yang kurang waspada saat menghadapi sergapan 'Gargoyle'. Sebuah rekor yang amat jarang dalam sejarah penumpasan 'Dungeon' tingkat D ke atas, yang biasanya selalu memakan korban patah tulang atau luka bakar serius. "Pencapaian luar biasa untuk misi perdanamu sebagai perwira lini tengah, Hana
"Gunakan penutup mata atau pejamkan mata kalian!" seru Clara cepat. "Pancaran di ruangan ini bisa merusak saraf mata secara permanen!" Seluruh Hunter terpaksa memejamkan mata rapat-rapat, mengandalkan pendengaran mereka yang terbatas. Hanya Hanan seorang yang berdiri tegap di tengah bukaan aula, menatap lurus ke dalam pendar kristal tanpa rasa takut sedikit pun. Indranya yang telah ditempa oleh 'Divine Energy' membuat sihir ilusi tingkat menengah itu membalas tumpul. Di tengah ruangan, sesosok bayangan monster raksasa samar-samar terlihat bertengger. "Mundur ke lorong gua!" perintah Hanan kepada seluruh anggota tim di belakangnya. "Kalian fokus berikan serangan jarak jauh dari luar aula saja. Jangan masuk ke ruangan ini agar tidak menjadi beban!" Clara sempat ragu, namun menyadari bahwa masuk ke ruangan bertabur ilusi tanpa penglihatan sama saja menyerahkan nyawa, ia akhirnya mema
Kepulan asap dari masakan hangat menyambut kedatangan Hanan begitu ia menggeser pintu kayu rumah sederhananya. Bau rempah-rempah yang akrab seketika meluluhkan seluruh kelelahan fisik dan beban mental yang menumpuk di pundaknya selama dua bulan terakhir."Hanan? Ya Tuhan, kamu sudah pulang, Nak!"Ibunya bergegas keluar dari dapur dengan celemek yang masih terikat di pinggang. Matanya berkaca-kaca saat memeluk erat tubuh anak tunggalnya. Ayahnya yang baru saja meletakkan perkakas kayu di sudut ruang tamu ikut mendekat, menepuk-nepuk bahu Hanan dengan binar bangga yang tak bisa disembunyikan.Selama satu minggu penuh, Hanan benar-benar memutuskan hubungan dengan dunia Hunter, perang kasta, dan intrik politik agensi. Ia menghabiskan hari-harinya membantu ibunya memasak, mendampingi ayahnya memperbaiki atap rumah yang bocor, serta menikmati hidangan sederhana di meja makan tanpa perlu memikirkan ancaman kematian di dalam Dungeon.Bagi Hanan, senyuman







