Share

Bab 7

Author: Ratu As
last update Last Updated: 2025-12-22 12:18:24

"Ya, selama di sini... Saya tidak pernah melihat ada yang menjengukmu."

Anara tersenyum getir, respon dari gadis itu menunjukkan kalau pertanyaan Rey cukup menyinggungnya.

"Aku masih punya Ibu dan adik. Tapi mereka tidak mungkin kuberi tahu tentang ini," kata Anara lirih. Tidak seperti biasa yang selalu bicara dengan semangat, dia terlihat lesu.

"Akan sangat miris jika Ibu tahu aku menjual ginjal hanya untuk uang--" Anara kembali mendongak, dia menatap Rey dengan wajah sendu.

"Aku punya hutang dua ratus juta karena dituduh menghancurkan patung antik. Jika aku tidak membayarnya dalam tiga minggu, mereka akan menyeretku ke penjara."

"Aku tidak mau di penjara. Dulu Kakakku meninggal di sana, itu mengerikan. Sementara Ibu dan adik, hidup mereka pun sedang susah. Aku satu-satunya harapan mereka, jika tahu aku terlibat banyak masalah, tentu saja akan jadi beban pikiran."

Mendengarnya saja sudah sangat sesak, tapi Rey tidak kaget. Biasanya orang yang paling terlihat ceria, justru mereka punya beban yang jauh lebih berat untuk disembunyikan.

Rey tersenyum tipis, menunjukkan sedikit empatinya. Dia bahkan tidak menghakimi sedikit pun tindakan Anara yang terpaksa bekerja di club dan berani menjual ginjalnya.

Semua dilakukan gadis itu hanya karena terpaksa dan tidak memiliki satu pun sandaran. Gadis itu berjuang keras sendirian, bahkan mungkin justru dia yang menjadi sandaran Ibu dan adiknya sehingga harus kuat atau pura-pura kuat dalam situasi apapun.

"Jadi begitu ... awal mula ada malaikat penolong untuk Zavi-ku," kata Rey dengan sikapnya yang tenang dan tatapannya yang teduh.

Anara tertegun, dia tidak menyangka Rey akan berkata semanis itu. Dia bilang Anara malaikat penolong untuk Zavi?! Senyum Anara kembali terbit.

“Sebenarnya … mungkin terbalik, Zavi-lah malaikat kecil yang membuatku bisa terlepas dari hutang dan bayang-bayang jeruji besi–”

“Yah, apa pun itu … Terima kasih ya, besok kamu sudah diperbolehkan pulang.”

“Benarkah?” Anara berdecak senang, tidak disangka masa pemulihan akan lebih cepat dari dugaannya.

Semua fasilitas, tenaga medis, juga obat-obatan yang dipakai untuk Anara dan Zavi adalah yang terbaik. Rey mengeluarkan uang tanpa perhitungan asal putranya bisa sembuh dan punya masa depan cerah setelah ini.

Rey mengangguk.

“Terimakasih, Pak Rey. Semoga kita bisa berjumpa lagi di masa depan, karena setelah ini … mungkin kita akan sama-sama sibuk.”

Anara mengulas senyumnya, entah kenapa tiba-tiba dia mengucapkan kata-kata perpisahan yang aneh.

***

Hari yang cerah, Anara berdiri di jalan depan rumah sakit. Dia mendongak ke arah langit sambil menyipitkan matanya, melihat sinar mentari pagi yang hangat. Seulas senyuman terlukis di wajahnya.

Rasanya segar dan semangat seperti baru terlahir kembali. Dia sudah benar-benar pulih, bahkan jahitan di perut seolah tidak lagi terasa nyeri.

Tempat pertama yang Anara tuju adalah tempat lamanya bekerja, galeri barang antik. Dia menemui Cipto.

“Uang dua ratu juta yang Anda minta sudah saya transfer. Ini bukti transfernya.” Anara menunjukan kertas bukti tranfer pada Cipto.

Lelaki paruh baya itu tersenyum semringah, dia percaya karena setengah jam yang lalu ada notifikasi yang masuk ke ponselnya. Yang sedikit dia tidak percayai adalah bagaimana gadis miskin itu bisa mendapatkan uang banyak dalam waktu singkat?

“Bagus. Terima kasih Anara.” Cipto menatap Anara dengan senyum menyeringai. “Saya dengar kamu bekerja di club malam, apa uang ini hasil … jual–”

“Pak Cipto!” sentak Anara paham dengan tuduhan yang akan Cipto lontarkan. “Lebih baik Anda tidak usah banyak bicara lagi. Andalah yang membuat hidup saya susah. Sudah baik saya segera melunasi uang itu!”

Anara berani, sekarang bahkan membalas tatapan Cipto tak kalah tajam sesuatu yang belum pernah dia lakukan.

Cipto tertawa keras. “Baiklah. Saya kan hanya menebak. Jika pun benar, saya tidak akan menghakimi, justru saya mau nawarin kamu. Gimana kalo temani saya juga malam ini?”

‘Cuih!’ Anara membatin najis, dibayar puluhan juta pun Anara tidak akan mau melayani Cipto. Dia tahu betul bagaimana istri lelaki gendut itu. Ketahuan jadi selingkuhan, bisa matilah Anara.

“Maaf Pak Cipto, saya tidak mau lagi berurusan dengan Anda. Urusan kita sudah selesai. Saya pamit.”

Tanpa basa-basi Anara keluar dari galeri itu. Langkahnya terasa ringan saat membayangkan masalahnya selesai dengan sempurna dan dia masih punya sisa tabungan, dia juga sudah ikut berinvestasi pada temannya.

Sekarang dia berniat menghubungi sang adik dan memberi jatah bulanan, siapa sangka Anara lebih dulu ditelepon.

“Wah, bocah ini bakal panjang umur. Baru juga mau kuhubungi,” gumam Anara dengan senyum iseng. Dia mengangkat telepon adiknya.

“Halo, Kak … Kak Nara–” Suara di seberang berasal dari adik pertama Anara yang masih duduk di bangku sekolah menengah atas.

“Ya, ini aku, Arlo. Ada apa?” Anara mendengar suara adiknya yang serak dan parau, juga tergesa-gesa saat bicara.

“Kak, cepatlah kemari. Ibu dan Amel ada di rumah sakit. Mereka kritis.”

“Tunggu? Kamu jangan bercanda, apa yang terjadi pada Ibu dan Lula?”

Pikiran Anara langsung kacau, perasaannya pun sama runyamnya. Kabar dari Arlo seperti sambaran petir di siang bolong. Siapa sangka ibu dan adiknya yang kemarin sehat dan sempat berkirim kabar lewat pesan, sekarang kritis di rumah sakit?

***

Anara berjalan gontai, setelah mendapat kabar dari adiknya dia langsung pergi ke rumah sakit yang ada pinggiran kota tempat ibu dan adiknya tinggal. Mereka mengalami luka akibat ledakan kompor gas.

“Bagaimana ini, Kak? Lula harus segera dioperasi–”Arlo bicara dengan suara gemetar. “Pemilik kontrakan juga menuntut ganti rugi. Apa yang harus kita lakukan?”

Anara terdiam dengan mata nanar. Ujung matanya sudah basah sejak tadi.

“Kamu tenang saja ya, Arlo. Kakak punya tabungan, Kakak akan berusaha agar Ibu dan Lula bisa segera ditangani.”

Gadis itu mengepalkan tangannya, menahan gemetar yang hampir membuat kesadarannya hilang dihantam kenyataan menyakitkan bertubi-tubi.

Ibunya mengalami luka bakar yang cukup serius, kondisinya pun masih kritis. Adiknya jauh lebih parah, selain luka bakar Lula juga mengalami cidera kepala dan luka serius di bagian organ dalam yang harus segera mendapat tindakan operasi.

“Pak, aku mohon… Aku akan bayar setengahnya hari ini. Sisanya aku akan segera melunasi semua secepatnya.” Anara memohon pada pihak rumah sakit. “Tolong segera lakukan tindakan untuk adikku-–”

Gadis itu bahkan bersimpuh. Dunia ini sungguh kejam, belum sampai Anara menikmati uang yang dia miliki dari hasil jual ginjal, kini dia butuh dengan jumlah jauh lebih banyak.

Sisa uangnya tinggal enam puluh juta lebih sedikit, sementara yang dia butuhkan bahkan mungkin ratusan juta untuk biaya rumah sakit dan ganti rugi pemilik kontrakan. Karena ledakan tabung gas yang berasal dari kecerobohan ibunya menghanguskan hampir satu deret rumah di sebelahnya.

***

“Aku butuh uangnya, tolong kembalikan. Aku tidak bisa berinvestasi saat ini.” Anara menemui temannya.

Dia meminta kembali uang yang sebelumnya dia transfer sebanyak tiga puluh juta untuk berinvestasi. Anara tidak punya pilihan selain memunguti kembali uangnya dan mengumpulkannya demi pengobatan Ibu dan adik.

“Anara, uang yang sudah masuk tidak bisa ditarik begitu saja. Kamu harus menunggunya paling tidak satu bulan, kamu bisa mengambil keuntungan dari investasimu. Tenang saja jumlahnya akan terus bertambah,” jelas Evi, teman Anara. Dia meyakinkan.

Anara menggeleng, dia tetap memohon meski akhirnya tidak bisa mendapatkan uangnya kembali. Temannya itu justru mengusirnya.

Anara dilempar oleh seorang satpam keluar gerbang sampai tersungkur jatuh di aspal. Kasar dan menyakitkan.

“Kau jangan menipuku, Brengsek! Uangnya baru kutransfer pagi ini! Bagaimana mungkin tidak boleh kutarik?!” teriak Anara putus asa. Dia tidak lagi peduli dengan rasa malu atau pun sopan santun. Dia hanya butuh uang!

“Kembalikan uangku sekarang! Aku membutuhkannya!”

Anara mengguncang-guncangkan pagar besi itu membuat suara gaduh namun tidak ada yang menghiraukannya.

Dia tidak menyangka temannya akan setega itu. Anara mengenal Evi saat bekerja di galeri, temannya itu sering kali membeli barang antik yang cukup mahal. Jadi Anara percaya jika dia memang orang berpunya.

Tidak ada yang bisa Anara lakukan dengan uang investasi itu sekarang, dia hanya bisa menunggu bulan depan semoga saja Evi tidak benar-benar menipunya.

***

Beberapa waktu berlalu, Anara sudah berusaha ke sana-kemari hanya untuk mencari pinjaman. Namun tidak ada satu pun yang memberinya, bahkan keluarga dari ibunya hanya bisa merendahkan dan menghinanya.

Sedangkan kondisi Ibunya dan Lula belum membaik, mereka dipindahkan ke rumah sakit pusat dekat dengan tempat tinggal Anara agar dia bisa sering menjenguk. Sementara Arlo yang harus sekolah terpaksa tinggal di asrama.

“Hampir satu bulan lebih kamu tidak terlihat. Saya pikir benar-benar ingin berhenti dari tempat ini.” Mega bicara dengan lirikan sinis pada Anara.

“Bu Mega, aku butuh pekerjaan. Tolong bantu aku–” Anara menekuk lututnya di hadapan Mega. “Kali ini, tidak hanya pemandu karoke. Kenalkan aku pada Mommy Giselle,” pinta Anara dengan wajahnya yang sendu dan matanya yang memerah.

Mega menatap Anara tak percaya, gadis itu sebelumnya tidak pernah mau ditawari untuk tidur dengan lelaki hidung belang. Tapi kali ini justru memohon-mohon. Mega mendekat, di club ini dia bekerja sebagai supervisor LC.

Selama ini Mega yang selalu membantu Anara, beberapa minggu bekerja di club Anara masih aman karena dia juga menjaganya diam-diam. Tapi kali ini Anara sendiri yang ingin melempar dirinya pada Mommy Giselle–mucikari.

“Anara, apa kamu yakin? Waktu itu kamu bilang sudah punya uang untuk menebus hutangmu?”

Raut sinis Mega seketika berubah iba dan rumit. Tidak ada yang tahu jika Anara sempat menjual ginjal untuk mendapatkan uang.

Anara menunduk dalam, pundaknya merosot tak berdaya. Dia terlihat kuyu, jauh dari Anara yang biasanya ceria dan optimis. Gadis itu menangis, ini pertama kalinya dia terlihat sangat kacau dan rapuh.

Dunia ini kejam, setidaknya itu yang ada dalam benak Anara sekarang. Hanya orang kaya dan orang licik yang mampu bertahan di dunia seperti ini. Sementara manusia sepertinya hanya jadi mainan takdir.

Mega yang tak tega memberi Anara pelukan, membiarkannya terisak dan mengeluarkan segala rasa sesak dan beban yang menggelayuti dadanya.

***

Di kamar hotel, wangi aromaterapi menguar lembut di udara, yang seharusnya menenangkan tetapi justru membuat dada Anara semakin berdebar. Dia terduduk dengan punggung menegang seolah aromaterapi itu tidak berefek apa pun.

Anara menatap kosong ke arah nakas dimana ada segelas minuman dan obat yang harus dia konsumsi agar performanya malam ini sempurna. Anara meminumnya tanpa ragu, obat yang akan membuat diri jalang dalam tubuhnya bekerja dengan baik.

Saat dia melihat pintu akan terbuka, Anara buru-buru memasang ikatan kain seperti pita untuk menutupi matanya. Dia tidak tahu apa fungsi itu selain agar dia tidak bisa melihat, tapi Mega bilang ini keinginan klien untuk melindungi privasinya juga untuk memuaskan fantasinya.

Setelah terdengar langkah kaki mendekat, Anara tidak mendengar apa pun. Dia hanya merasa ada orang yang berdiri di depannya. Cukup lama. Tanpa melakukan apa pun.

“Kamu sudah menunggu lama?” bisik suara lelaki yang terdengar berat dan sedikit serak di telinga Anara.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Siasat Menggoda Duda Kaya   Bab 46

    Anara memijat pelipisnya, lalu menggeleng pelan. "Mama cuma enek, kayaknya gara-gara tadi makan sesuatu deh," ujar Anara mencari alasan. "Kalau begitu pagi ini biar Zavi berangkat sama aku saja. Kamu jemput siang nanti." Rey, meski terlihat tak acuh namun masih punya kemanusiaan. Setidaknya dia tidak memaksa Anara untuk tetap menjalankan tugasnya di saat seperti itu. Anara mengangguk, dia memaksakan senyumnya lalu memilih beristirahat. *** Sepanjang perjalanan Zavi terus mengoceh, anak itu mulai aktif dan pandai berceria. Dia tidak murung, bahkan pada Rey yang biasanya bicara seperlunya. "Ayah, Mama selain pinter gambar, pinter nyanyi, Mama juga pinter nawar barang loh," celoteh Zavi tidak penting. Tapi anak itu tetap mengatakannya. "Oh ya? Barang apa yang berhasil dia tawar?" Zavi mengambil tasnya lalu menunjukkan gantungan kunci unik. "Ini, harganya mahal loh. Orang botak di toko antik bilang harganya lima ratus ribu, tapi Mama bisa mendapatkannya dengan han

  • Siasat Menggoda Duda Kaya   Bab 45

    Tangan Anara lembut memainkan kerah baju Rey dengan kerlingan menggoda dia masih terus berusaha. Rey berdecih, tangan yang tadi memegangi pinggang Anara kini terlepas dan beralih mencekal Anara agar tidak banyak ulah. "Malam pertama?" Rey tersenyum mencibir. "Kamu sudah tidak tahan? Kamu sangat mengagumi ketampanan dan kegagahanku?" Rey bicara dengan percaya diri dan tatapan mengejek. Ucapan Rey ada benarnya, dia memang tampan dan gagah, tapi sebenarnya Anara belum sampai terbuai karena itu. Apalagi tahu sifat Rey yang menyebalkan. Sepertinya akan sulit untuk Anara sungguhan menyukainya. Dia hanya butuh uang! Anara berdeham, tersenyum malu-malu. Ingin kembali beraksi, tapi Rey lebih dulu bergerak dengan berdiri sehingga Anara di pangkuannya terjatuh ke lantai. Buuuggh! "Aw!" Anara memekik, dia mungkin kaget dengan respon Rey yang menolaknya mentah-mentah, lebih kaget lagi karena tahu Rey sangat tega. Bokong Anara terasa ngilu dibuatnya. "Meski melayaniku menjadi salah satu tuga

  • Siasat Menggoda Duda Kaya   Bab 44

    Tidak ada supir yang mengantarkan obat alergi hingga sore. Dan anehnya Rey juga tidak merasakan ada yang bereaksi dalam tubuhnya. Anara mungkin menipunya! Wanita itu benar-benar susah ditebak dan menjengkelkan. *** Rey tidak melihat Anara sejak tadi meski dia pulang lebih awal. Dia juga tidak melihat Zavi bermain di ruang tengah. Mereka berdua ada di kamar sejak tadi. Rey yang baru menghabiskan makan malamnya sendiri berniat ke kamar Zavi. Terdengar suara cekikikan dari dalam."Mama, bagaimana jika kita buat Ayah jadi monster jahatnya? Peran itu sangat cocok untuknya." Tawa Anara pecah. "Boleh juga. Baiklah Mama akan gambar Monster Rey-Rey, wajahnya mirip Ayah Rey dengan badan laba-laba bagaimana?" Zavi mengangguk antusias. "Mama tambahkan ekor kalajengking di belakang! Monsternya akan terlihat makin menakutkan!" Tangan Anara lincah menggoreskan pensil di atas buku gambar. Rey dari pintu yang sedikit terbuka, menebak-nebak apa yang sedang keduanya lakukan. Seru sekali. Namun

  • Siasat Menggoda Duda Kaya   Bab 43

    Sontak saja tanpa panjang lebar Tiara langsung kicep. "Wah, beneran masih muda dan sangat tampan. Rupanya kamu pintar memilih suami, Nara. Kamu sangat beruntung!" Weny kali ini berdecak antusias. Dia ikut senang dan tersenyum semringah, merasa ikut mendapat berkah dari pernikahan Anara. Dia menyikut Tiara. "Kamu harus memberi selamat, bagaimana pun Anara kan keponakanmu." Anara masih menunggu repson wanita paruh baya itu, namun ternyata sikap Tiara tetap angkuh dan tidak mau melunak. "Mana uang untuk melunasi utang ibumu? Tadi kamu bilang akan membayarnya juga kan?" tagih Tiara tanpa tahu malu. Dia mau uangnya tapi enggan bersikap baik. "Tentu saja," Anara tetap tersenyum tidak gentar. Dia mengambil uang cash dari tasnya. Weny dan Tiara sama-sama melihat amplop yang terlihat tebal, lalu satu gepok uang ratusan ribu Anara keluarkan. "Ini lebih dari lima belas juta. Aku bayar lunas hutang ibuku beserta bunganya." Senyum Tiara terbit, matanya melebar, tangannya menodong hendak m

  • Siasat Menggoda Duda Kaya   Bab 42

    "Baiklah. Kalau begitu, Ibu mimpi saja," imbuh Anara dengan senyum manis dan kerlingan penuh arti. Sarah tahu apa maksudnya itu dan dia menggertakkan giginya. Benar apa yang Sarah pikiran, gadis miskin itu sejak awal memang menargetkan Rey! Dia pura-pura baik pada Zavi hanya untuk menarik perhatian putranya. Sungguh sialan, Rey masuk dalam jebakan wanita itu. Tangan Sarah mengepal, dia kesal tapi tidak tahu bagaimana harus melampiaskannya. "Ayah, Anara hanya gadis miskin, tidak berpendidikan, bukan dari keluarga terhormat. Semua yang ada pada dirinya hanya minus! Dia tidak pantas Ayah anggap sebagai cucu menantu, dia tidak pantas untuk Rey!" Erwin bisa melihat raut wajah Sarah yang tidak terima. Erwin berdiri, dia berniat masuk tanpa memedulikan ocehan putrinya. "Ayah tidak dengar? Anara itu--" "Kalau dia tidak pantas untuk Rey, apa menurutmu Rey pantas untuknya? Rey bahkan jauh tidak pantas." "Maksud Ayah apa! Rey punya segalanya!" "Ya. Orang luar akan melih

  • Siasat Menggoda Duda Kaya   Bab 41

    Anara mengusap wajahnya, dia jadi agak ragu tadi benar-benar merasakan ada yang mengecup bibirnya atau tidak? "Zavi, kamu mau apa?" Anara bertanya pada Zavi yang menatapnya polos. "Mau ambil drone," jawab Zavi lalu berlari ke arah ayahnya yang mengambil drone di mobil. "Ayah, sudah siap? Ayo terbangkan!" Rey membawa drone dan remot kontrol, keduanya kembali berjalan menjauh dari Anara yang duduk di tikar dekat mobil. Zavi sangat antusias dengan drone, jadi dia hanya menghiraukan ayahnya saja sekarang. Anara menyentuh bibirnya pelan. Apa dia sedang berhalusinasi? Ingatannya melayang pada malam kelam itu. Belakangan ini dia merasa semakin sensitif dan kerap teringat sentuhan-sentuhan lelaki tersebut. Mungkin karena saat itu matanya tertutup, yang paling jelas tertinggal dalam ingatannya adalah bagaimana lelaki itu menyentuhnya. “Mama, ayo lihat! Ternyata tidak jauh dari sini ada gembala sapi, loh!” teriak Zavi antusias sambil melambaikan tangan, mengajak Anara mendekat.

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status