MasukUsai kembali sadar, Zavi merengek ingin Anara berada di ruang rawat yang sama dengannya.
Anak itu memang cukup sensitif. Kelelahan mental pasca operasi membuatnya sempat pingsan, dan sejak itu dia jadi lebih mudah cemas jika Anara tidak berada di dekatnya. Anara berbaring di ranjang, kepalanya menoleh ke samping. Di ranjang sebelah, Zavi juga terbaring dengan selang infus menempel di tangan mungilnya. Wajahnya masih pucat, tapi sepasang mata itu berbinar, seolah ada semangat kecil yang tidak mau padam. “Kak Nara…” panggil Zavi lirih, suaranya sedikit serak. “Hm?” Anara tersenyum. Kondisinya belum memungkinkan untuk duduk, apalagi mendekat, jadi dia hanya bisa menoleh. “Kenapa, Zavi?” Zavi menggeleng pelan. “Tidak ada apa-apa,” jawabnya selalu memakai kata yang sedikit baku. Kadang terdengar aneh di telinga Anara, tapi mungkin itu ciri khasnya. Anara jadi sering terngiang suara Zavi. Setelah diam sebentar, Zavi bertanya lagi dengan wajah serius tapi polos. “Perut Kakak sakit?” Senyum Anara melebar, bercampur rasa geli. Tingkah Zavi selalu berhasil membuat hatinya hangat. “Masih agak nyeri sedikit, tapi Kakak kuat,” jawabnya lembut. Zavi terlihat khawatir. “Kalau sakit sekali bilang ya. Nanti aku pencet bel ini.” Jarinya menunjuk tombol nurse call di samping ranjang. “Atau aku akan berteriak memanggil dokter.” Anara terkekeh pelan, berusaha menahan tawa agar perutnya tidak ikut sakit. “Harusnya Kakak yang bilang begitu ke kamu. Kamu itu masih bocil, tapi gayanya sok paling kuat,” godanya. Tangan Anara meraih tangan mungil Zavi yang berada paling dekat dengannya, lalu menggenggamnya lagi. Zavi mendengus kecil. “Aku kan anak laki-laki, Kak. Kata Ayah harus kuat.” “Iya, iya. lelaki kecil,” balas Anara sambil tersenyum hangat. Saat keduanya masih asyik berbincang, Rey masuk ke dalam ruangan. Kehadirannya membuat suasana mendadak berubah. Zavi yang tadi cerewet, kini justru lebih fokus pada Anara, seolah Rey tidak ada di sana. Rey duduk di sofa tanpa berkata apa pun. Ketika dia masuk, ruangan yang tadi diisi suara pelan Anara dan Zavi mendadak sunyi. Dua pasang mata itu menoleh ke arahnya, tapi tak satu pun langsung menyapa. “Ayah…” Zavi akhirnya buka suara. “Ayah tidak usah nungguin di sini. Ayah kan capek. Pulang saja.” Rey membenarkan kacamatanya, menatap putranya dengan ekspresi tidak percaya. Dia merasa sedang diusir secara halus. “Kamu bilang apa?” Anara diam-diam menahan senyum. Interaksi ayah dan anak itu selalu terasa lucu. “Aku cuma bilang--” Zavi mengalihkan pandangan, suaranya mengecil, Zavi takut ayahnya tersinggung. “Ayah kan suka bilang jangan kecapekan.” “Sudahlah.” Rey berdiri lalu mendekat ke ranjang putranya. “Kamu yang harus istirahat sekarang. Jangan banyak bicara.” Dia membenarkan selimut di tubuh Zavi dengan gerakan hati-hati. “Tapi, Yah…” Zavi protes pelan. “Aku sama Kak Nara sedang mengobrol penting.” “Penting?” Rey mengangkat alis. “Iya,” jawab Zavi cepat. “Atau cuma ngobrol tidak jelas?” Rey menepuk pelan kepala putranya sambil terkekeh. “Jangan-jangan kalian membahas cara mengusir monster, hm?" Zavi langsung cemberut. “Ayah, jangan meledek.” Anara sudah tidak sanggup menahan senyum. Bahunya sedikit bergetar karena tawa yang ditahan. “Ish, Ayah--”Belum sempat Zavi melanjutkan protesnya, Rey sudah mencapit bibir anak itu dengan dua jarinya. “Tidur. Sudah malam.” Zavi mendengus, tapi akhirnya menurut. “Iya…” gumamnya sebelum memejamkan mata. Lampu utama diredupkan. Rey memastikan selimut menutup tubuh putranya dengan rapi, lalu menoleh ke arah Anara yang tanpa sadar sedang menatapnya. “Ehem.” Anara langsung tersadar dan berdeham cepat, memalingkan wajah dengan gugup. “Kamu juga harus istirahat,” kata Rey datar, tapi nadanya tidak dingin. “Jangan sungkan kalau butuh apa pun.” Anara tersenyum canggung. “Terima kasih, Pak Rey.” Rey mengangguk singkat, lalu kembali ke sofa. Dia memang tidak banyak bicara, tapi diamnya terasa berbeda—bukan dingin, melainkan penuh perhatian. Anara memejamkan mata, pikirannya melayang. Dalam benaknya, Rey adalah tipe lelaki yang kalem, tidak banyak kata, terlihat dingin tapi peduli. Dominan, tapi tidak mengintimidasi. Entah bagaimana, bayangan itu membuat dadanya terasa hangat. *** Uang tiga ratus juta dari Rey sudah masuk ke rekening Anara. Namun dia belum sempat mentransfernya pada Cipto karena kondisinya masih dalam masa pemulihan. Dia sudah bisa duduk dan bergerak perlahan, tapi dokter memintanya tetap dirawat dua atau tiga hari lagi. Zavi sendiri harus menjalani masa pemulihan yang lebih panjang. Pagi itu, keluarga Rey kembali datang menjenguk. Kali ini bukan hanya wanita paruh baya yang Zavi panggil Nenek, tapi juga seorang gadis muda bernama Dea. Dea masuk ke ruangan itu sendiri, sedangkan Sarah--neneknya Zavi, masih di luar. “Hai, Zavi!” Dea langsung mendekat dan memeluk anak itu. “Gimana kabarnya? Tante baru sempat jenguk, nih.” Dia hendak mencium pipi Zavi, tapi anak itu cepat-cepat memalingkan wajah. “Eh---” Dea tertahan, lalu tertawa kecil untuk menutupi rasa kikuk. “Ya sudah.” Pandangan Dea kemudian beralih pada Anara. “Kamu pasti Anara, ya? Pendonor ginjalnya Zavi?” katanya dengan nada sok akrab. “Kenalin, aku Dea.” Anara tersenyum ramah dan mengangguk. “Aku calon ibu sambungnya Zavi,” bisik Dea di telinga Anara dengan senyum bangga. Anara refleks memperhatikan Dea lebih saksama. Penampilannya glamor, mencolok, terkesan berlebihan. Sedikit di luar dugaan. Wanita seperti ini yang disukai Pak Rey? “Terima kasih ya,” lanjut Dea. “Kamu baik banget.” Dea memuji Anara, namun ekspresi wajahnya bertolak belakang dengan ucapan halusnya. Zavi melirik Dea dengan wajah tidak suka. Sejak dulu, dia memang tidak pernah dekat dengan wanita itu. "Bukan masalah, aku melakukan itu--" “Walaupun aku tahu kamu ngelakuin ini demi tiga ratus juta,” sambung Dea ringan, memotong ucapan Anara, “tapi tetap saja, kamu berjasa buat Zavi.” Dea tersenyum, kalimatnya mengandung sarkasme yang dibalut dengan ungkapan terima kasih. Sengaja untuk membuat gadis di depannya tersindir. Dia tidak suka mendengar ada pendonor untuk Zavi, apalagi itu wanita. Ucapan Dea membuat dada Anara terasa sesak, merasa direndahkan. Kata yang hendak Anara ucapkan tertahan di tenggorokan. Namun, Anara tetap memaksakan senyumnya. “Kamu benar,” jawabnya tenang, tanpa membantah. Zavi melihat raut wajah Ziana yang berubah, meski gadis itu selalu tersenyum tapi terlihat jelas binar mata yang meredup. “Tante Dea tidak boleh bicara seperti itu,” sela Zavi tiba-tiba, nadanya ketus khas anak kecil yang kesal. “Kata Ayah, uang tiga ratus juta tidak berarti apa pun. Tapi orang yang mau kasih ginjalnya buat Zavi ... dia adalah malaikat!" bela Zavi dengan tulus. Ucapannya yang polos bahkan mampu membungkam Dea sampai kehabisan kata-kata. Wanita itu jelas merasa tersindir, karena dia bahkan tak mampu berkorban untuk menjadi pendonor demi Zavi. "Iya kan, Ayah?" Zavi melemparkan pertanyaan pada ayahnya yang sejak tadi berdiri di ambang pintu tanpa Dea sadari dan memerhatikan setiap gerik dan ucapannya. Rey tersenyum, dia melangkah masuk dan berdiri di samping ranjang Zavi. "Kamu benar--" Rey mengusap rambut putranya. Dia tidak membantah perkataan putranya. "Tapi apa yang Tante Dea katakan juga tidak salah. Dia hanya ingin berterima kasih pada Kak Nara," ujar Rey meluruskan. Zavi mengerti kenapa ayahnya bicara seperti itu, dia hanya ingin membela wanita itu. Menyebalkan. Dea mengulas senyum, merasa Rey selalu berada di pihaknya. "Ayah! Tapi Ayah tadi dengar bagaimana Tante Dea bicara--" "Ayah dengar, dan tidak ada yang salah dengan ucapannya," ucap Rey lebih tegas. "Jadi, kamu tidak usah mencari-cari kesalahannya. Lebih baik sekarang kamu istirahat--" Zavi menyentak napasnya, dia melirik sinis pada Dea kemudian memalingkan wajahnya. Tidak tahu hubungan seperti apa yang mereka jalani, hanya saja melihat itu membuat Anara bingung. Mungkin Zavi tidak suka dengan calon ibunya? Tapi Rey tetap mau dengan Dea. "Ada apa ini?" Sarah masuk ke ruangan, dia merasa ada sesuatu yang tidak beres, apalagi melihat wajah cucunya yang cemberut. "Mama Sarah, tidak ada apa-apa." Dea lebih dulu buka suara. Sarah menatap Zavi. "Zavi, Tante Dea hanya ingin menjengukmu, kamu tidak berbuat ulah padanya kan?" Sarah bicara dengan halus, tapi tetap saja Zavi mendengarnya seperti sebuah tuduhan untuknya dan pembelaan untuk Dea. Semua orang menyukai Dea, semua memilih Dea untuk jadi ibu sambungnya. Tapi Zavi tidak mau. Anak itu tidak pernah merasa cocok meski Dea berusaha menjadi apa pun. Dea adalah gadis yang dijodohkan dengan Rey. Belakangan ini orang tua Rey dan Dea begitu keras mendekatkan mereka. Tidak suka dengan kehadiran Dea, Zavi memilih memejamkan matanya, bahkan sampai ketiduran dan Dea pulang bersama Sarah. Anara menghela napas lega, akhirnya bisa beristirahat. Saat ada Sarah dan Dea tadi dia tidak enak untuk tiduran, jadi tetap terjaga dan mengikuti obrolan, sampai tahu ternyata Dea memang calon istri Rey. Sarah terlihat sangat sayang pada Dea, dia juga memperlakukannya dengan baik. Sementara Rey, tidak ada yang aneh dari lelaki itu. Mungkin juga Rey menerima Dea dengan senang hati meski berawal dari perjodohan. Di sini cuma Zavi yang terang-terangan menolak. "Kamu, apa tidak punya keluarga?" tanya Rey memecah keheningan. Anara yang sempat melamun tersentak. "Apa? Keluarga--"Salma mengangguk dengan sisa rasa bersalah yang masih membekas di wajahnya. "Benar, dia ada di lantai atas, di ruang privat..." "Aku akan mencarinya," tegas Rey sembari bangkit berdiri secara refleks. Sebelum benar-benar melangkah pergi, dia menyempatkan diri berpamitan dengan raut wajah yang sangat serius. "Ibu, saya sungguh tulus terhadap putri Ibu. Saya dan anak saya sangat mencintainya. Tolong... beri kami restu," pinta Rey sungguh-sungguh. Kali ini, Salma tidak bisa menahan senyum tipisnya. Dia melihat binar ketulusan yang murni di mata pria itu. "Baiklah, Nak Rey. Karena pernikahan itu sudah terjadi, Ibu juga tidak mungkin meminta kalian berpisah. Ibu hanya bisa berdoa semoga kebahagiaan selalu menyertai rumah tangga kalian." "Terima kasih, Bu," Rey bernapas lega. "Sekali lagi, saya minta maaf." Setelah kembali berpamitan, Rey melangkah cepat menuju lift. Pikirannya berkecamuk, dia harus segera menemui Anara sebelum istrinya itu benar-benar ditaksir oleh lelaki lain.
Salma terlonjak kaget. Dia mengusap pipinya yang terasa panas dan mulai membiru akibat hantaman yang begitu mendadak. Dengan napas yang masih tersengal, dia menatap dua wanita di hadapannya dengan penuh tanda tanya."Apa maksud kalian?" Salma menatap bingung. Dia merasa tidak memiliki masalah apa pun dengan mereka. Terlebih, dia sudah lama tidak bertemu dengan Henry. Seharusnya Sophie tidak punya alasan untuk bersikap sekasar ini padanya.Sarah dan Sophie hanya melempar senyum sinis. Satu tamparan tentu belum cukup untuk melampiaskan amarah yang sedari tadi mereka bendung. Keduanya sama-sama geram oleh ulah Anara, namun mereka memilih memberikan pelajaran kepada Salma sebagai ibu kandungnya.Sarah, yang sudah terhasut oleh provokasi Sophie, tidak perlu berpikir panjang saat diajak melabrak Salma. Dia memiliki tujuan yang sama--mencari pelampiasan. Gara-gara Anara, suaminya sempat mendekam di penjara. Meski sekarang sudah bebas, karier suaminya hancur berantakan. Terlebih lagi, pu
"Sepertinya kamu sangat menikmati berita di internet akhir-akhir ini?" tegur Rey. Pria itu berdiri di dekat sofa sambil menenggak minuman dingin, matanya memperhatikan Anara yang tampak begitu santai memainkan ponsel dengan senyum puas yang tak tertutupi.Anara berdeham kecil. Dia mendongak, menatap Rey dengan binar kemenangan di matanya."Tentu saja. Anda sudah lihat beritanya, kan, Pak Rey? Saudara tirimu diserang habis-habisan oleh Mia. Sekarang dia kritis, dan Mia... gadis kebanggaan itu kini terancam mendekam di penjara. Sebenarnya aku tidak senang dengan musibah yang Aldo alami, hanya saja--""Dia juga pantas mendapatkannya. Kalau Mia dan Alex masuk penjara karena saling serang, mati akan lebih baik untuk manusia seperti Aldo," jawab Rey enteng.Dia terkekeh pelan. Berita tentang Aldo yang kritis dan Mia yang hancur sama sekali tidak mengusik ketenangannya. Sebaliknya, dia justru merasa terhibur melihat sisi lain istrinya yang ternyata cukup berbahaya."Pak Rey, apa kamu tah
"Zavi, apa kamu sedang membujuk Mama?" Anara tersenyum geli. Dia membungkukkan badan, lalu mencubit pelan pipi Zavi yang tembam."Nara, pada Zavi kamu mudah sekali luluh," suara bariton Rey tiba-tiba terdengar di dekat mereka. Pria itu menatap Anara dengan intensitas yang sulit diartikan. "Tapi kenapa padaku, tidak?""Zavi terlalu manis. Kalau Pak Rey?" Anara tersenyum miring, seolah sedang bercanda, padahal dia sedang melemparkan sindiran tajam."Ayah! Kenapa Ayah datang menjemput?" tanya Zavi riang, memecah ketegangan di antara kedua orang tuanya.Rey mengalihkan perhatian sejenak dari Anara. "Kebetulan tadi Ayah ada pekerjaan di sekitar sini. Kalian mau langsung pulang? Ayo, ikut mobil Ayah saja," ajak Rey tanpa ragu.Dia berjalan di samping Anara. Saat tangan Rey hendak meraih dan menggenggam jemari wanita itu, Anara dengan sigap menarik tangannya menjauh. Namun, refleks Rey tak kalah cepat. Gagal mendapatkan tangan, dia justru merengkuh pinggang Anara dengan posesif.Rey m
Foto-foto yang tercecer itu menunjukkan sisi gelap yang tak pernah mereka bayangkan sebelumnya. Bukan hanya Mia, kedua orang tuanya pun membeku di tempat dengan napas tertahan."Mia, apa yang sebenarnya terjadi?! Ini pasti foto editan, kan?" Henry bertanya dengan suara yang mulai meninggi, mencoba menyangkal kenyataan pahit yang terpampang di depan matanya.Mia hanya bisa tergagap. Lidahnya seolah lumpuh. Dia sendiri masih tidak percaya melihat kekasihnya, Aldo, tertangkap kamera dalam pose mesra bersama seorang lelaki."Mereka... bermain api? Astaga, apa Aldo sungguh seorang penyuka sesama jenis?" Sophie melotot, otaknya seolah sulit memproses pemandangan itu. "Mia! Selama ini hubungan kalian normal, kan? Tidak ada yang aneh dari perilaku Aldo selama ini?!"Sophie terus mendesak, menuntut penjelasan yang bahkan Mia sendiri tidak tahu jawabannya. Mia akhirnya ambruk, terduduk lemas di lantai sambil kembali menangis frustrasi. "Aku akan menanyakannya... aku harus tahu langsung d
"Anara, aku tahu kamu belum tidur--"Anara menarik napas panjang lalu mengembuskannya dengan kasar. Dia menyentak tangan Rey yang melingkar di pinggangnya sejak tadi, menciptakan jarak yang dingin di antara mereka."Untuk apa aku marah?" Anara mengubah posisinya menghadap Rey, memaksakan sebuah senyum yang jelas-jelas terlihat rapuh."Aku dan Adel tidak punya hubungan apa pun. Kami hanya sebatas orang tua untuk Zavi," jelas Rey berusaha membela diri."Kalau begitu, kita sama," potong Anara cepat. Dia tidak habis pikir dengan jalan pikiran pria di hadapannya ini. Jika Rey memang menganggapnya istri, bukankah seharusnya ada keterbukaan? Namun sejak awal, Rey tidak pernah melakukan itu. "Kita juga hanya sebatas orang tua untuk Zavi.""Maksudmu?" Kening Rey berkerut. Ekspresinya masih tampak datar, namun ada kilat kegelisahan di matanya.Anara kembali berbaring telentang, menatap langit-langit kamar. "Sejak awal kita menikah karena Zavi, bukan? Bukan pernikahan seperti orang lain
"Tidak Anara, itu tidak akan merubah apa pun. Aku menyentuhmu dengan tangan dan bibir, jadi untuk apa mataku yang ditutup?" kata Rey dengan senyum remeh. Ekspresinya yang enggan membuat Anara mengerucutkan bibirnya. "Atau, kamu menginginkanku tutup mata agar bisa lebih agresif?" tanyanya dengan s
"Ya. Orang yang duduk tepat di depanmu."Mata Erik membulat. Dari ekspresinya jelas dia tidak percaya pada ucapan Rey. Erik lebih percaya kuda bisa terbang daripada menerima bahwa Rey adalah suami Anara.Itu terasa mustahil. Bagaimana mungkin seseorang seperti Rey mau menikahi Anara?"Maksudnya kam
Sarah duduk dengan gelisah, setelah tahu Anara hamil, dia sampai tidak bisa tidur dan tidak tenang melakukan apa pun. "Tapi gadis miskin itu sudah hamil, Sayang. Bagaimana ini? Dia pasti akan gunakan anaknya untuk tetap menahan Rey? Padahal aku berharap Rey akan segera menceraikannya setelah Zavi
Anara tergagap. Panik, jelas terpancar di wajahnya. Dia sudah sering membayangkan momen ini, tapi saat benar-benar terjadi, dia tetap belum siap menjelaskan apa pun kepada Erik atau siapa pun. Apalagi Anara belum meminta pendapat Rey tentang ini. "Jadi… kamu dirawat karena sedang mengandung?" suar







