Share

46. Tante Runa

Penulis: Gincu Senja
last update Tanggal publikasi: 2026-09-28 23:28:00

Bel pulang sekolah telah lama berbunyi, meninggalkan koridor yang perlahan sepi dan hening. Di depan gerbang, Kirara berdiri sambil menengok ke jalanan, menunggu jemputan yang belum kunjung kelihatan.

Langkah kaki yang teratur dan berdentang halus mendekatinya dari belakang.

"Kirara? Belum dijemput, Sayang?" suara lembut Iruna menyapa dari atas.

Kirara menengadah, mendapati gurunya sudah mengenakan tas bahu yang anggun dengan payung terlipat rapi di tangannya. Anak kecil itu menggeleng pelan. "
Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Bab Terkunci

Bab terbaru

  • Siasat Nyonya yang Kesepian   52. Menepati Janji & Tatapan Menyelidik

    Di sudut kantor pimpinannya yang megah dan ber-AC dingin, Arlan mematikan layar laptop setelah memastikan laporan mingguan terakhir selesai terkirim. Jemarinya dengan gesit merapikan tumpukan dokumen di atas meja kerja, menyusunnya presisi sebelum menyambar jas hitam yang tergantung di sandaran kursi.Ia melirik jam tangannya—waktu berjalan terlalu cepat, dan tingkat kecemasannya makin memuncak.Saat Arlan berbelok menuju pintu keluar ruangannya, Ellie—sekretaris pribadinya—langsung berdiri dari balik meja kerja dengan raut wajah sedikit terkejut. Map tipis di tangannya belum sempat ia serahkan."Pak Arlan? Bapak sudah mau jalan?" tanya Ellie heran, menatap atasannya yang tampak begitu terburu-buru tak seperti biasanya. "Bukankah kau bilang—""Tolong alihkan apa pun tugas itu ke sore hari atau geser ke besok pagi, Ellie," potong Arlan cepat seraya mengenakan jasnya dan merapikan kerah kemejanya di depan cermin dinding. "Semua file yang butuh persetujuan sudah saya sign-off di sistem."

  • Siasat Nyonya yang Kesepian   51. Hari H Pentas Seni

    Suasana halaman sekolah pagi itu menjelma menjadi panggung perayaan yang megah. Umbul-umbul berwarna pastel berkibar tertiup angin pagi, berpadu dengan karpet merah yang terbentang melintasi selasar utama untuk menyambut para tamu undangan. Gelak tawa anak-anak bersahutan dengan lantunan musik instrumen yang menggema dari pengeras suara, menambah semarak perayaan ulang tahun sekolah.Di area serbaguna, para guru sibuk berseliweran memastikan setiap detail acara berjalan tanpa cela. Pak Daffin terlihat berlari-lari kecil membawa clipboard, merapikan barisan kursi VIP dengan kemeja yang sudah tampak sedikit kusut di bagian lengan—tetap dengan dedikasi tinggi dan raut wajah paniknya yang khas.Di tengah keriuhan itu, sosok Iruna melangkah keluar dari area ruang guru.Penampilannya seketika mencuri perhatian. Iruna mengenakan dress midi berwarna emerald green dengan potongan A-line yang anggun, dibalut blazer krem berpotongan tegas yang memberi kesan profesional sekaligus elegan. Pilihan

  • Siasat Nyonya yang Kesepian   50. Telepon di Malam Hari

    Arlan berdiri membeku di balik temaram kaca jendela, membiarkan puntung rokok yang masih menyala menggantung di antara jemarinya. Asap tipis mengalun perlahan, membiaskan pendar lampu jalan yang menyinari langkah Iruna.Wanita itu berjalan menyusuri trotoar dengan langkah yang teratur dan tenang. Ia mengenakan mantel panjang berwarna krem yang melambai halus setiap kali kakinya melangkah, memeluk tas bahu kulit dengan sebelah tangan. Tidak ada gurat tergesa-gesa di tubuhnya, seolah dingin malam yang merayap sama sekali tidak mengusiknya.Arlan menyipitkan mata. Dari sudut ini, dari balik perlindungan bayang-bayang rumahnya sendiri, ia bisa mengamati Iruna tanpa ketahuan.Ada keanggunan yang ganjil dari cara wanita itu bergerak—begitu rapi, terukur, dan terisolasi dari keriuhan dunia di sekitarnya. Saat melewati tiang lampu jalan, pendar kuning menyinari sisi wajah Iruna sejenak. Kacamata berbingkai tipisnya memantulkan cahaya, menyembunyikan ekspresi di balik matanya yang selalu tampa

  • Siasat Nyonya yang Kesepian   49. Belasan Malam & Satu Nama

    Keesokan harinya, suasana kelas satu berubah riuh dan penuh warna sejak jam pertama dimulai. Di atas meja masing-masing, tersaji berbagai bahan dekorasi—mulai dari tumpukan karton warna-warni, gulungan pita emas, hingga serangkaian ranting kering yang dibawa anak-anak laki-laki dengan bangga.Iruna berdiri di depan kelas, menggulung rapi lengan bajunya hingga siku agar memudahkan gerakan. Rona kepemimpinannya yang hangat dan terstruktur seketika menyedot perhatian seluruh murid."Nah, anak-anak, hari ini kita sulap kelas ini jadi Taman Kupu-Kupu yang paling indah," ujar Iruna lembut seraya membagikan kelompok kerja.Ia membagi kelas menjadi dua tim utama. Anak-anak laki-laki bertugas mengecat ranting-ranting pohon dengan warna perak dan hijau daun di sudut belakang, sementara anak-anak perempuan merangkai bunga dan melipat kertas karton di bagian depan.Kirara dengan sigap mengeluarkan hasil potongan karton pink dan pita emas yang ia kerjakan bersama Arlan semalam. Saat Iruna menghamp

  • Siasat Nyonya yang Kesepian   48. Dekorasi Kelas

    Pagi harinya, suasana kelas satu sudah bergemuruh dengan kehangatan khas anak-anak sekolah dasar. Cahaya matahari pagi menembus jendela kaca, menyinari Iruna yang berdiri anggun di depan papan tulis. Di tangannya, sebatang kapur atau spidol sudah bersiap."Anak-anak," puji Iruna membuka percakapan dengan suara merdunya yang langsung membuat seisi ruangan hening dan menatap ke depan. "Selain latihan menari buat panggung Pentas Seni nanti, sekolah kita juga bakal mengadakan Lomba Dekorasi Kelas."Seketika mata anak-anak berbinar. Kata 'lomba' selalu punya sihir tersendiri untuk membakar semangat mereka."Nanti, tamu-tamu penting dan Kepala Yayasan bakal keliling masuk ke kelas-kelas buat menilai," lanjut Iruna lembut. Ia memiringkan kepalanya sedikit, menyunggingkan senyum hangat yang memikat. "Ibu mau kelas kita kelihatan paling cantik dan seru. Ada yang punya ide, kira-kira kelas kita mau dihias pakai tema apa?"Sorakan riang bertubi-tubi menyahut. Jemari mungil terangkat tinggi-tingg

  • Siasat Nyonya yang Kesepian   47. Kisi-kisi Ulang Tahun Sekolah

    Pria itu sedang berdiri berbincang santai dengan Pak Maman, satpam sekolah yang sudah bersiap-siap untuk piket malam. Di lengan kirinya, Daffin mengapit setumpuk berkas tebal yang terikat rapi dalam map manila. Iruna mengenali bentuk format kertas itu—kertas soal simulasi ulangan matematika untuk anak-anak kelas 6 yang sebentar lagi menghadapi ujian akhir.Iruna mendengus halus, menyesap kopi hitamnya pelan.Ia teringat desas-desus di antara para guru senior sewaktu jam istirahat tadi siang. Konon, Daffin bukan hanya mengajar penuh waktu dan menempuh S2 di malam hari, tetapi pria itu juga membuka bimbingan belajar matematika khusus di luar jam sekolah untuk anak-anak yang kesulitan berhitung. Tanpa memungut biaya besar, tanpa banyak mengeluh.Seorang pekerja keras, batin Iruna datar.Ada ketulusan dan dedikasi yang begitu murni dari cara Daffin menjalani hidupnya. Pria itu adalah tipe manusia yang lurus, lugu, dan mengabdi penuh pada pekerjaannya. Sangat kontras dengan dirinya yang me

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status