Share

137. Rencana Licik Lilis

Author: Blue Rose
last update Petsa ng paglalathala: 2026-09-09 22:47:59
"Enggak usah ngeles, muka lu udah merah kayak kepiting rebus gitu," ledek Lilis dengan nada gemas. "Lu lupa ya, dulu kita segenk, kita tau banget tempat-tempat favorit anak-anak kampus. Dan sebagai orang yang punya insting detektif lebih tajam dari suami gue yang pengacara itu, gue bisa nebak kalau gerak-gerik lu akhir-akhir ini pasti enggak jauh-jauh dari lingkaran pergaulan lama."

Yura mendengus pelan, menyerah. Ia meletakkan ponselnya di atas meja, lalu menyandarkan punggungnya ke kursi denga
Blue Rose

Semoga syuka 💅

| 1
Patuloy na basahin ang aklat na ito nang libre
I-scan ang code upang i-download ang App
Locked Chapter
Mga Comments (1)
goodnovel comment avatar
Alfiah Ummi Hani
waaa...penasaran sm ceritanya yuraa..spesial bgt tu cowok ya..sampai segitunya yura ngebet wkwkwkw
Tignan lahat ng Komento

Pinakabagong kabanata

  • Silakan Ambil Suami Berengsekku, Dik!   140. Dukungan Moral

    Yura buru-buru menggeleng ribut, menolak uluran tangan Arya dengan gestur panik. "Eh, enggak usah, Ar! Serius, enggak usah! Ini cuma kena air mineral biasa, bukan air comberan. Sebentar lagi juga kering sendiri kena angin sore.""Yura, jangan keras kepala," tukas Arya lembut namun tegas, khas gaya orang yang terbiasa memimpin dan tidak suka ditolak. Tanpa menunggu persetujuan, Arya meletakkan jasnya begitu saja di pangkuan Yura. "Pakai aja. Kalau lu sakit, nanti ponakan lu siapa yang jaga? Mau dipulangkan ke emaknya dengan status 'tante dalam kondisi darurat medis'?"Yura terdiam kaku. Sentuhan tangan Arya yang sempat bersentuhan dengan kulitnya saat meletakkan jas tadi menyisakan sensasi hangat yang menggelitik perutnya. Aroma parfum maskulin yang menguar dari jas tersebut seketika mengurung indra penciumannya, membuat pertahanan mental yang sudah ia bangun susah payah mendadak runtuh berkeping-keping.Dari balik dinding kaca di dalam ruangan ber-AC, Lilis yang masih duduk bersama kl

  • Silakan Ambil Suami Berengsekku, Dik!   139. Gentleman Banget

    Yura refleks mengusap tengkuknya yang tidak gatal, sementara senyum canggung terukir kaku di bibirnya. Mau tidak mau, ia harus menghadapi kenyataan bahwa skenario karangan Lilis ini sukses membawanya masuk ke dalam perangkap yang paling ia takuti sekaligus harapkan."Ini ponakan gue, Ar. Anak dari... eh, sodara sepupu," dalih Yura setengah berbohong, berusaha mati-matian menata suaranya agar tidak terdengar seperti orang sakau. "Nyokapnya lagi repot, jadi sebagai Tante yang budiman dan berbakti, gue ditugaskan untuk jadi tukang jaga bayi hari ini."Arya mengangkat sebelah alisnya, senyum tipis di bibirnya melebar. "Tante yang budiman, ya? Wah, kemajuan besar buat ukuran lo yang dulu kalau denger tangisan bayi di kampus langsung lari ngibrit kayak dikejar zombi lo.""Eh, kampret, jangan buka kartu gue dong!" protes Yura spontan, lupa sejenak kalau dirinya sedang ingin menjaga imej di depan sang pujaan hati. Begitu sadar, ia langsung menutup mulutnya rapat-rapat sambil melotot. "Maksud

  • Silakan Ambil Suami Berengsekku, Dik!   138. Strategi Pertama

    Keesokan harinya, tepat pukul 13.45 siang, suasana kafe bergaya vintage di dekat taman kota tampak cukup lengang namun sangat nyaman untuk nongkrong. Sinar matahari siang menyusup lembut melalui celah-celah dedaunan pohon rindang di halaman luar, memantulkan bayangan estetik di atas meja-meja kayu jati tempat para pengunjung menghabiskan waktu santai mereka.Di salah satu meja sudut outdoor yang menghadap langsung ke arah air mancur buatan, Yura duduk dengan postur kaku bak patung pancoran di alun-alun kota. Ia mengenakan kaus polos berwarna sage green berpotongan longgar yang dipadukan dengan celana jeans boyfriend belel kesayangannya.Rambutnya tergerai rapi berkat sentuhan salon pagi tadi, namun ekspresi wajahnya benar-benar menyiratkan tingkat stres setara orang mau sidang skripsi.Di sebelah kanannya, Vivian duduk antusias di booster seat khusus bayi sambil sibuk mengetuk-ngetuk sendok plastik ke atas piring kosong, menghasilkan suara ketukan konstan yang sukses membuat kepala Yur

  • Silakan Ambil Suami Berengsekku, Dik!   137. Rencana Licik Lilis

    "Enggak usah ngeles, muka lu udah merah kayak kepiting rebus gitu," ledek Lilis dengan nada gemas. "Lu lupa ya, dulu kita segenk, kita tau banget tempat-tempat favorit anak-anak kampus. Dan sebagai orang yang punya insting detektif lebih tajam dari suami gue yang pengacara itu, gue bisa nebak kalau gerak-gerik lu akhir-akhir ini pasti enggak jauh-jauh dari lingkaran pergaulan lama."Yura mendengus pelan, menyerah. Ia meletakkan ponselnya di atas meja, lalu menyandarkan punggungnya ke kursi dengan bahu merosot lesu. "Iya... deh, iya. Lu emang paling enggak bisa dibohongi. Kenapa emangnya? Jangan bilang lu mau ikut campur urusan percintaan gue yang tragis ini?""Bukannya ikut campur, tapi bantuin," koreksi Lilis mantap. Matanya berbinar penuh semangat. "Lu pikir selama ini siapa yang ngebantu gue pas lagi hancur-hancurnya ngadepin mantan suami? Siapa yang nyeret Brandon buat ikut turun tangan pas gue nyerah? Giliran sekarang lu yang butuh dorongan, lu malah ciut."Yura terdiam. Bibirnya

  • Silakan Ambil Suami Berengsekku, Dik!   136. Sahabat Preman

    "Gue..."Lilis masih menunggu, namun Yura justru menutup mulutnya rapat-rapat. Ia mengibaskan tangan dengan salah tingkah, lalu meneguk sisa teh hangat di cangkirnya dalam sekali teguk."Nanti dululah, gue kan perlu mikir," elak Yura sambil nyengir lebar, berusaha menutupi rona merah yang telanjur menjalar hingga ke lehernya.Lilis tertawa kecil, memilih untuk tidak mendesak lebih jauh. Ia sangat paham bagaimana karakter sahabatnya itu. Di balik pembawaannya yang urakan, Yura sebenarnya menyimpan sisi rapuh dan gengsi yang luar biasa besar.Yura memang sosok yang unik. Terlahir sebagai anak orang kaya raya dari keluarga pebisnis terkemuka, ia sama sekali tidak memiliki ambisi menggebu-gebu untuk memimpin perusahaan seperti kebanyakan pewaris kekayaan lainnya. Yura tipe orang yang sangat santai, menikmati setiap jengkal privilege yang ia miliki tanpa merasa harus membuktikan apa pun pada dunia.Gaya berpakaian dan gerak-geriknya pun cenderung tomboy, seering kali berantakan, blak-blakan

  • Silakan Ambil Suami Berengsekku, Dik!   135. Sepupu Perusuh

    Lilis menenangkan, suaranya lembut namun tegas mengalirkan kekuatan. "Selama lo bukan jadi perusak hubungan orang, selama lo sama dia enggak pernah main serong atau selingkuh di belakang pacarnya, itu bukan salah lo, Yura."Yura mendongak, menatap Lilis dengan mata basah. "Tapi tetep aja, Lis...""Pernah enggak lo sengaja nyaranin dia buat putus dari pacarnya?" potong Lilis pelan. "Pernah enggak lo menghasut dia supaya ninggalin ceweknya demi lo?"Yura terdiam, lalu menggeleng pelan dengan jujur. "Enggak... sumpah, enggak pernah. Gue malah sering support mereka, dukung dia buat bertahan kalau lagi ada masalah. Orang gue juga tahu persis kalau hubungan yang udah panjang itu sayang banget kalau dibuang gitu aja.""Nah, itu dia!" Lilis tersenyum simpul, menghapus sisa air mata di pipi Yura dengan ibu jarinya. "Apa pun masalah yang mereka lalui, dan kalaupun pada akhirnya mereka harus berpisah, itu adalah keputusan murni dari mereka berdua. Bukan karena ulah lo, bukan juga salah lo. Kalau

Higit pang Kabanata
Galugarin at basahin ang magagandang nobela
Libreng basahin ang magagandang nobela sa GoodNovel app. I-download ang mga librong gusto mo at basahin kahit saan at anumang oras.
Libreng basahin ang mga aklat sa app
I-scan ang code para mabasa sa App
DMCA.com Protection Status