MasukTiga hari setelah Elvano meninggalkan Kota Astera, skandal Keluarga Mahendra akhirnya terungkap.Ravena News tidak pernah menayangkan wawancara mereka di Kediaman Mahendra.Sebaliknya, salah satu kru berita mulai mempertanyakan bagaimana mungkin salah satu siswa paling berprestasi di Negara Ardhana bisa menghilang tanpa keluarganya sendiri tahu ke mana dia pergi.Mantan teman-teman sekolahku pun mulai berbicara.Lalu, manajer kafe mengakui bahwa Ibu pernah mengambil gajiku dan menggantinya dengan uang palsu.Pengelola gedung juga mengonfirmasi bahwa aku telah tinggal sendirian selama setahun di salah satu gedung milik Keluarga Mahendra.Berita itu pun menyebar ke seluruh Kota Ravena.[Si Kembar Mahendra yang Dilupakan: Jenius Nasional Tinggal Sendirian Tanpa Perlindungan, Sementara Keluarganya Merayakan Saudarinya][Menang Olimpiade Sains, Menolak Universitas Cakrawala, dan Meninggalkan Keluarganya Demi Institut Teknologi Astera]Aku melihat berita itu saat sedang makan pizza bersama t
Dua minggu kemudian, Elvano menemukanku di Universitas Institut Astera.Aku baru saja keluar dari perpustakaan ketika melihatnya berdiri di kaki tangga.Elvano terlihat kelelahan. Pakaiannya memang rapi, tetapi bayangan gelap di bawah matanya menunjukkan betapa sedikitnya waktu yang dia habiskan untuk tidur.Begitu melihatku, wajahnya langsung dipenuhi kelegaan."Nad."Dia buru-buru menghampiriku."Aku sudah mencarimu ke mana-mana."Aku berhenti, tetapi tidak berlari ke dalam pelukannya.Dulu, semarah apa pun aku kepadanya, melihat wajahnya saja sudah cukup untuk meluluhkan hatiku.Sekarang, aku hanya bertanya, "Kamu mau apa?"Elvano terdiam sesaat.Lalu jemarinya semakin erat menggenggam sesuatu di tangannya."Aku salah," katanya pelan. "Seharusnya kita berada di Universitas Cakrawala bersama."Dia mengulurkan kartu pos yang dulu kusobek di apartemen.Seseorang telah menyatukan kedua potongannya dengan hati-hati menggunakan selotip, tetapi bekas sobekannya masih membelah gambar menara
Hujan membasahi kaca jendela ketika pesawatku mendarat di bandara Kota Astera.Tak ada seorang pun yang menungguku di luar area pengambilan bagasi.Selama bertahun-tahun, hal seperti itu pasti akan menyakitiku.Sebagian besar hidupku kuhabiskan dengan menunggu, menunggu Ibu untuk menepati janjinya, menunggu Ayah memandangku dengan bangga, menunggu Arvin memperlakukanku seperti seorang adik, dan menunggu Elvano kembali menjadi laki-laki yang dulu pernah berjanji akan menungguku di Universitas Cakrawala.Namun sekarang, untuk pertama kalinya, sendirian justru terasa seperti sebuah kebebasan bagiku.Begitu menyalakan ponsel, layarku langsung dipenuhi panggilan tak terjawab.Aku mengabaikan semuanya dan memesan kendaraan, lalu memberikan alamat Institut Teknologi Astera kepada supir taksi.Program riset musim panas universitas sudah menyiapkan tempat tinggalku di kampus. Begitu tiba, seorang koordinator pascasarjana sudah menungguku di lobi dengan membawa kartu identitas dan kunci kamar."
Sepuluh menit kemudian, kru berita dipersilakan masuk ke ruang tamu.Di mata publik, Keluarga Mahendra dikenal sebagai pengusaha yang sangat berkuasa. Namun di dalam rumah ini, tak seorang pun boleh melupakan siapa dirinya sebenarnya.Perempuan yang memimpin kru itu memperkenalkan diri sebagai reporter pendidikan dari Ravena News. Seorang kamerawan dan produser berdiri di belakangnya, keduanya tampak jelas tidak nyaman berada di bawah pengawasan para pengawal."Kami ke sini untuk mencari Nona Nadira Mahendra," kata reporter itu. "Apakah dia ada di sini?"Ekspresi Ibu langsung bingung. "Untuk apa kalian mencari Nadira?"Reporter itu melirik ke sekeliling ruangan, tampak terkejut mendengar pertanyaan tersebut."Bukankah kalian sudah mendengar tentang beritanya?"Mata Ayah menyipit. "Mendengar apa?""Nadira menjadi juara pertama dalam Olimpiade Sains Nasional Muda," kata reporter itu.Tak seorang pun di ruangan yang bergerak."Dia juga meraih medali emas untuk Tim Nasional Negara Ardhana
Kediaman Mahendra sedang sibuk dengan berbagai persiapan.Paket penyambutan mahasiswa Universitas Adikara milik Keisha memenuhi bagian tengah meja ruang keluarga. Map biru dan emas itu terbuka di samping bendera kampus, ada buku panduan mahasiswa baru, dan surat penerimaan yang sudah dibaca Ibu setidaknya enam kali."Keisha kita akan kuliah di Universitas Adikara," katanya, tak mampu menyembunyikan senyumnya. "Semua tutor dan konsultan selama ini, ternyata sepadan dengan hasilnya."Ayah duduk di seberangnya, memeriksa daftar tamu di tabletnya."Kita punya dua putri yang akan berangkat kuliah. Keluarga kita harus merayakannya dengan semestinya."Dia mulai menyebut nama para tokoh berpengaruh, keluarga sekutu, dan pejabat yang akan diundang."Kita buka ballroom saja," usul Ibu. "Kedua anak kita bisa masuk bersama."Arvin menggeleng sambil menggulir daftar kontaknya."Ballroom tidak akan cukup besar kalau kita mengundang semua keluarga Kota Ravena. Lebih baik gunakan halaman yang ada di s
Malam itu, aku kembali ke apartemen dengan keadaan perut kosong, sementara uang palsu tadi masih kusimpan di dalam tas.…Keesokan paginya, aku langsung pergi ke kafe. Begitu masuk, aku menghampiri meja kasir dan melemparkan amplop itu ke atasnya."Kenapa Anda membayarku dengan uang palsu?"Manajerku bahkan tidak terlihat terkejut."Aku nggak melakukannya.""Maksudnya?""Kemarin, ibumu datang bersama dua pengawal. Dia mengambil gajimu dan meninggalkan amplop itu sebagai gantinya."Lututku terasa lemas ketika mendengarnya."Gajiku diberikan kepadanya?""Ibumu itu istri kepala Keluarga Mahendra," katanya dengan bibir mengerucut pahit. "Menurutmu, apa yang bisa aku lakukan?"Aku berpegangan pada meja kasir untuk menjaga keseimbangan."Katanya, kamu perlu belajar kalau mencari uang sendiri itu nggak semudah yang kamu kira," lanjutnya. "Dan kalau kamu mengalami masalah, kamu akan ingat siapa yang seharusnya kamu andalkan."Aku menghela napas pelan sebelum akhirnya berbalik dan pergi meningg







